Marlina The Murderer in Four Acts: Menyingkap Budaya Partiarki dibalik Panorama Pulau Sumba

Marlina The Murderer in Four Acts mempersembahkan kisah seorang janda yang ditinggal mati suaminya tiba-tiba, melalui empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession dan The Birth – yang membawa dirinya lebih jauh mengenal ketimpangan hubungan relasi kuasa atas gender. Mouly Surya, selaku sutradara menghadirkan kisah penuh dendam yang diselimuti budaya patriarki dibalik visual luas…

Continue Reading

Resensi Novel: My Heart and Other Black Holes

WACANA bunuh diri seringkali diperdebatkan, entah itu dikaitkan dengan moral, agama maupun pakem budaya yang kerap berujung malah mengadili si eksekutor tanpa sempat mempertanyakan hal terpenting: “Mengapa?” My Heart and Other Black Holes berusaha menjawab dilematis ini melalui sudut pandang dua remaja yang hendak bunuh diri bersama, Ayzel dan Roman yang dipertemukan melalui daring situs…

Continue Reading

Resensi Serial “13 Reasons Why” : Berbicara Menyoal Isu Bunuh Diri Pada Remaja

Manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial maka komunikasi merupakan kebutuhan fundamental yang tidak dapat dihindari. Lantas, apa jadinya bila kita teralienisasi dari lingkungan? Melalui serial 13 Reasons Why yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Jay Asher, kita akan melihat bagaimana sosok Hannah Baker (Katherine Langford) yang dipenuhi dengan beragam ekspektasi di masa remajanya terpaksa…

Continue Reading

Resensi Film Pendek “Sendiri Diana Sendiri”: Poligami Wujud Kuasa Laki-Laki

Diana hanya dapat menatap nanar pada sebuah layar yang sedang mempertunjukkan bagan-bagan romansa tentang pembagian gono-gini dimulai dari harta, waktu hingga cinta. Jari jemari kecilnya terus menekan simbol panah bawah sampai akhirnya mempertanyakan apa maksud presentasi power point di hadapannya itu, dengan santai sang suami, Ari menjawab hendak menikahi wanita lain. Mungkin saat itu hancur…

Continue Reading

Resensi Film “HEADSHOT” : Ada Apa Dengan THE MO BROTHERS?

Tujuh tahun telah berlalu sejak pertama kali Rumah Dara (2009) ditayangkan di layar sinema Indonesia, semenjak itu pula nama ‘The MO Brothers’ (sebutan duo sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel) semakin dikenal khalayak luas. Nuansa film mereka yang penuh darah dan ‘sakit jiwa’ adalah ciri khasnya. Maka, Headshot (2016) sudah jelas ditunggu-tunggu bagi mereka para…

Continue Reading

Resensi Buku “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” : Sufisme Seksual

Berahi manusia kerap kali dimaknai Eka Kurniawan sebagai perangai nafsu yang tidak hanya dalam konteks erotisme namun realisme juga, terbukti melalui dua bukunya, Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004). Setelah sepuluh tahun absen dalam dunia penulisan kini ia kembali menceritakan bagaimana aktivitas seksual sebagai perwujudan dari kemarukan manusia dalam buku terbarunya Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar…

Continue Reading

Resensi Film “Don’t Breath” : Jangan Main-Main dengan Orang Buta

Fade Alvarez sekali lagi membuktikkan bahwa ia seorang masterpiece untuk film bergenre thriller, setelah sebelumnya berkreasi dengan remake Evil Dead (2013) yang dipenuhi galonan darah. Kali ini, Alvarez membuat alterego dari Daredevil, sebagai wujud kakek tua renta veteran militer yang rumahnya dijadikan target perampokan oleh tiga orang ‘anak baru gede’. Cerita bermula tatkala Money (Daniel…

Continue Reading

Film Ghibli dan Lima Karakter Perempuan Terfavorit

Apa hal yang paling sering muncul dalam setiap film Ghibli? Menurut saya pribadi, kebanyakan semuanya sarat akan isu terutama masalah lingkungan dan kemanusiaan. Mereka menjadi fenomena yang terus dibicarakan karena permasalahan yang tidak kunjung selesai. Tentu saja barisan film yang memvisualisasikan seputar fenomena ini teramat banyak, tetapi Ghibli dengan animasinya memberikan sebuah nuansa tersendiri: cerita…

Continue Reading

Resensi Film “Tiga Dara”  : Memperdagangkan Film Idealis

Setelah Lewat Djam Malam, ada Tiga Dara yang berhasil direstorasi dan kembali dipertontonkan kepada publik. Keduanya adalah film Usmar Ismail, meski berada di tangan yang sama namun jauh dari kata serupa. Usmar Ismail sendiri menonjol sebagai pelopor film Indonesia dengan film pertamanya Darah dan Doa – yang diakui sebagai film pertama, diproduksi oleh Perusahaan Film…

Continue Reading