A Catastrophe

In Inscrutable I search for you *** I suddenly realized it has been a while since my last posts appeared on my website and it makes me feel sorry for my phenomenal brain. “I need to embrace you more often again”, I said it to myself. It was when I’m laying down on my bed, bored and…

Continue Reading

Bara

BARU aku ketahui masa lalu ternyata dapat membuat cengkeraman kepada mahluk hidup sebegitu hebatnya. “Maka dari itu kamu harus segera membebaskan diri dari itu, bukan?” begitu kata Laras sahabatku sejak kecil yang sedang menikmati kopinya.

Continue Reading

Puisi “di Bawah Sinar Rembulan”

Kuingat awal kali terkesima Di bawah sinar rembulan Berbalutkan suasana penuh romansa Bersamanya Kutatap lagi sinar rembulan itu Tetap nan indah merona Namun anehnya tak sanggup dibuatku terpana olehnya Yang ada malah nanar hinggap dipelupuk mata Berselimutkan rasa senyap di relung hati Karena tiada bersamanya Kini semuanya hanya fatamorgana Tak kunjung kau datang dalam maya…

Continue Reading

Puisi “Tentang Sanubari”

Wahai Maya ingin Aku berseteru. Menerobos sang waktu. Dengan berteriak walau terpasung asa. Dengan menjerit walau kala teringat jagal. Dengan Beperangai walau serupa lembu. Wahai Maya ingin Aku bertikai. Tatkala menyaksikan sanubarinya habis dimakan gelap. Tatkala memandang relung hatinya digerogoti muram temaram. Tatkala memandang kalbunya amblas diakhiri usia. Wahai Maya Tatkala……

Continue Reading

Segelas Kopi Kalosi Toraja

Oleh Kukuh Giaji Tiga puluh empat ribu lima ratus empat puluh lima rupiah adalah harga jual termurah kedua yang diberikan untuk segelas kopi hitam dengan tagline Indonesian’s Premium pada salah satu kedai kopi yang dikunjunginya. Kalosi Toraja namanya. Kopi dari Sulawesi Selatan itu sering diduga berasal dari Kabupaten Toraja padahal aslinya dari Kabupaten Enrekang. Sudah…

Continue Reading

Bara Tukang Anekdot yang Cantik

ANEKDOT Satu dua tiga… Jinjit-jinjit kecil diam-diam merayap dipinggir tembok. Takut merinding gelisah apabila ada suara terdengar sekecil pun. Lirik kanan lirik kiri melihat hal yang tak bisa terlihat. Tarik nafas panjang, jinjit-jinjit kecil lagi dipinggir tembok. Cahaya kecil datang diam-diam menarik nyawa si tukang jinjit pelan-pelan.

Continue Reading

Puisi “Mati Tertawa”

Bulan itu memancarkan sinar rembulan yang tiada aksaranya. Bara duduk termenung memandangi bulan yang tiada aksaranya. Burung rajawali diujung sana tengah melayang diangkasa tanpa tujuan. Bara duduk termenung sambil membayangi masa lalu tanpa arah tujuan. *

Continue Reading

Si Siti

Namanya siti. Siti ini remaja perempuan berusia 15 tahun yang berasal dari pedesaan pelosok jauh sana dia hendak berniat untuk mengubah hidupnya lantas setujulah ia untuk pergi ke negeri jiran mencari rezeki untuk keluarganya. Ditentang oleh keluarganya, si Siti lantas tak menyerah begitu saja kaburlah dia bersama dengan baju-bajunya tanpa uang seper sen pun.

Continue Reading

Rumah Bara

Sepi dulu rasanya hati menyayat hingga dikandung badan tak ayal hingga remuk hati tak terkandung badan. Bara kecil dulu suka mengkhayal punya rumah besar hingga tak bisa dikandung badan serasa mimpi tak ayal jatuh terbentang.

Continue Reading