Festival Film Solo 2014 : Wacana dan Penghargaan Film Independen

Ini adalah awal kali tapak kaki saya melangkah ke sebuah ajang apresiasi film pendek berupa festival dan lebih menyenangkannya lagi festival pertama yang saya kunjungi adalah Festival Film Solo (FFS) yang diadakan pada tanggal 7 Mei 2014 s/d 10 Mei 2014 bertempatkan di Teater Besar ISI Surakarta dan Taman Budaya Jawa Tengah.

Keputusan saya untuk menghadiri FFS 2014 ini adalah dikarenakan kebutuhan akan saya yang sebagai seorang penikmat film dan pemerhati film kecil-kecilan yang tadinya hanya sekedar sok tahu tapi malah ingin menjadi tahu. Selain itu, alasan selanjutnya adalah karena saya telah dipercayai dengan ditunjuk sebagai delegasi dari sebuah komunitas film independen, yaitu Cinematography Club Fikom Unpad (CCFikomUnpad ) untuk menghadiri acara tersebut. Tentu ini sebuah kehormatan bagi saya untuk hadir dalam mengemban ilmu sebanyak-banyaknya agar dapat dibagikan kepada teman-teman lainnya di CCFikomUnpad.

Festival tentu adalah sebuah ajang apresiasi kepada para pembuat film dan merupakan sebuah ruang publik terbuka antara penikmat film, penonton film, pemerhati film, maupun komunitas film.

Sebuah festival tentu saja dirancang tidak dari ruang hampa. Ia memiliki kepentingan dan kebutuhannya, yang tercermin dari program-program yang disuguhkan kepada publik secara luas. Festival dengan sendirinya memiliki karakter, kekhasan dan kepentingannya masing-masing. Ia tak pernah berada pada objektivitas yang sejati. Toh memang tak pernah ada ruang-ruang bagi objektivitas sejati, yang ada adalah objektivitas versi.Catatan Direktur Program (Bayu Bergas).

Itulah gagasan awal mungkin bagaimana FFS bisa terwujud hingga sekarang yang bahkan telah memasuki tahunnya yang keempat dan tetap ramai dihadari oleh para penonton setianya yang bahkan rela untuk berdesak-desakan mengantri untuk menikmati film-film pendek yang tengah bertarung di Festival Film Solo ini. Sebanyak ratusan filmmaker telah mendaftarkan film-film pendeknya untuk mengikuti FFS 2014 ini.

Terdapat beberapa perbedaan pada FFS 2014 ini dibandingkan dengan FFS tahun-tahun sebelumnya, yaitu dengan diadakannya kelas apresiasi dan kelas kritik terhadap film pendek Indonesia. Kedua program tersebut diadakan dikarenakan atas kebutuhan dasar ‘bahwa telah sepi kritik terhadap film pendek Indonesia’ sehingga program ini diwujudkan untuk pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.

Sudah barangkali tentu sangat istimewa sekali FFS 2014 ini selain dengan mengadakan penayangan film-film pendek yang sangat terbatas aksesnya namun juga menyediakan wadah untuk melahirkan bakal calon kritikus-kritikus film pendek Indonesia. Disamping kedua program terbaru tersebut sisanya masih tetap sama, yaitu dengan terdapatnya ajang kompetisi: Tarung Solo 2014, Gayaman 2014, Ladrang 2014, dan Program Pendanaan Film Pendek 2014 serta Forum Temu Komunitas Film 2014.

…Film pendek adalah wilayah sinema kita yang mulai kehilangan kekhasannya…

…Film Pendek seharusnya menjadi garda terdepan sinema Indonesia. Medium ini tidak tersentuh oleh gunting sensor, tidak juga terbebani oleh kebutuhan pasar. belum lagi kebutuhan produksi film pendek yang jelas tidak sebanyak produksi film panjang, memungkinkan medium ini tumbuh merata diseluruh wilayah nusantara…

…film pendek kita haruslah menjadi perang yang tak berkesudahan melawan klise, konfrontasi yang krtitis terhadap masalah-masalah nyata, serta renungan yang intim tentang keseharian warga.Catatan Umum Kurasi Ladrang 2014 (oleh: Makbul Mubarak, Adrian Jonathan, dan Mikael Johani).

Itu adalah sepatah dua kata dari para kurator Ladrang 2014 yang menyadarkan kepada kita bahwa mungkin tanpa kita sadari sudah terkontaminasinya film-film pendek Indonesia dengan hal-hal berbau ke-barat-barat-an atau Hollywood-an dan bahkan ke-korea-an sehingga hilang sudah-lah khas dari film pendek Indonesia ini. Mungkin ini adalah sebuah renungan dari para kurator yang seharusnya kemudian kita renungkan bersama-sama dan merumuskannya ‘mau dibawa kemana film pendek Indonesia sekarang ini?’.

Lewat ajang Festival Film Solo kita diajak berdiskusi dan menciptakan ruang antara penonton – pembuat film – dan penggiat film dalam mencari jawaban atas kegelisahan-kegelisahan yang sudah terlampau hadir dan tidak mungkin diemban dalam hati terus menerus.

Dihadirkan lewat program Retrospeksi kita dipaksa untuk mengetahui tentang sejarah film pendek Indonesia dari masa ke masa hingga sekarang yang telah menjamurnya film-film pendek Indonesia namun justru malah kehilangan kekhasannya itu sendiri.

Lewat program Retrospeksi 1 kita tenggelam lewat film pendek Dua Nada (1990) karya Ravi Bharwani, Sonata Kampung Bata (1991) karya Riri Riza dan Happy Ending (1995) karya Harry Dagoe.

Dimasa tahun 1990’an tersebut tersadarlah saya ketika menontonnya terdapat sebuah kesamaan dalam ketiga film pendek tersebut, yaitu sama-sama berasal dari sebuah institusi pendidikan perfilman, yaitu Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pada saat itu, Film Indonesia bersifat eksklusif dan hanya sebatas pada institusi pendidikan maupun lewat dukungan dari pemerintah Indonesia dan industri. Karena pada saat itu, film-film pendek hanya berasal dari IKJ saja maka lewat film Dua Nada (1990) dan Sonata Kampung Bata (1991) sangat terasa sekali khas dari gaya penceritaan film-film eropa karena disaat itu sistem kurikulum dari IKJ sendiri berkiblat kearah eropa, terutama rusia maupun hollywood.

Mungkin diantara ketiga film tersebut yang paling terkenang untuk saya adalah Happy Ending (1995) karya Harry Dagoe yang menurut saya bisa dibilang tidak bepatokan kepada perfilman eropa atau dengan kata lain melakukan pertentangan terhadap sistem gaya penceritaan tersebut.

Happy Ending (1990) menguatkan sebuah cerita yang bertemakan sosial tentang efek penggunaan media massa yang menyebabkan pengaruh negatif terhadap anak-anak namun sesungguhnya dibalik itu semua masih terdapat pertanyaan-pertanyaan penting atas karya Harry Dagoe ini, yaitu kenapa di dalam film tersebut menggunakan tokoh sentral dua anak berkebangsaan berbeda dan mengapa dalam akhir cerita pertengakaran seorang anak si tokoh anak berkebangsaan barat lah yang menang hingga pada akhirnya apakah itu yang dinamakan ‘happy ending?’. Mungkin dibutuhkan sebuah diskusi lebih lanjut atas film pendek ini dan juga kedua film pendek lainnya dan pastinya tidak tertutup kemungkinan akan terdapat kejutan-kejutan menarik terkait isi dari film-film pendek ini yang bahkan sudah sangat langka dan tidak terdeteksi keberadaannya.

Ketika di Retrospeksi pertama kita berusaha sangat berjalan jauh mundur ke perfilman film pendek Indonesia maka lewat Retrospeksi kedua kita melihat film-film pendek yang berani bertutur kata lewat film akibat pasca reformasi Indonesia pada saat itu. Dan lebih menariknya lagi, pada masa itu di era tahun 1998-2000’an film pendek Indonesia non lembaga pendidikan perfilman maupun industri dan pemerintah telah hadir meramaikan perfilman film pendek Indonesia saat itu.

‘Kebebasan’ mungkin adalah kata kunci dari bisa berkembangnya sangat pesat film pendek Indonesia pada saat itu hingga sekarang.

Pada Retrospeksi kedua ini kita terbawa akan hal yang baru dan berani lewat film Sudah Sore, Sebentar Lagi Jam 5, Cepat Datang!! (1998) Karya Tendon, Radya, Mabro, dan Dennis Adhiswara, Kamar Mandi (1999) karya Rusli Eddy dan Violence Against Fruits (2000) karya Tintin Wulia.

Sudah Sore, Sebentar Lagi Jam 5, Cepat Datang!! (1998) merupakan film pendek yang dibuat bukan oleh institusi pendidikan perfilman, maupun industri dan pemerintah. Film pendek ini adalah murni sebuah film kreatif dari Dennis Adhiswara dan teman-temannya. Lucunya dalam film ini, sangat tersadarkan betapa audio – visual dan bahkan teknik serta penceritaan yang sangat kacau balau seperti kapal pecah. Namun bilamana kita melihat hanya dari situ saja itu adalah sebuah pemikiran positivistik belaka yang tidak berusaha bersikap kritis terhadap sesuatu. Sudah Sore, Sebentar Lagi Jam 5, Cepat Datang!! (1998) menawarkan hal yang cukup menarik sehingga menjadi sebuah film yang sangat penting pada sejarah film pendek Indonesia yaitu dengan membawa kedekatan personal antara penonton dengan filmnya sendiri melalui sebuah cara yang disadari maupun tidak disadari oleh pembuatnya, yaitu film ini sangat dekat dengan zamannya.

Selain itu, Kamar Mandi (1999) karya Rusli Eddy merupakan sebuah film pendek yang sangat berani dengan menceritakan kegiatan di dalam toilet yang sangat pribadi bagi seseorang. Dengan lantangnya film ini memperlihatkan kegiatan-kegiatan seperti onani atau masturbasi serta oral seks dan bahkan tersirat kegiatan seks secara incest d idalam kamar mandi tersebut. Tentunya, inilah yang menjadi sebuah contoh bagi kita bahwa dalam membuat sebuah film pendek kita seharunya membuatnya tanpa perlu takut akan konsekuensi dari konstruksi budaya yang telah berkembang di Indonesia.

Ketika lewat program Retrospeksi kita kembali lagi disadarkan tentang apa itu film pendek serta keberadaannya yang sangat penting dalam wajah sinema perfilman Indonesia. Festival Film Solo tidak hanya ingin melakukan hal itu saja, hadir pula sebuah obrolan malam yang menjadikan sebuah renungan tentang apa itu festival dan bagaimana sebuah kurasi film-film di FFS 2014 terjadi dan diceritakan secara jujur oleh para kuratornya sendiri kepada pembuat filmnya serta publik sendiri.

Festival Film Solo (FFS) telah menciptakan sebuah ruang dan interaksi antara pembuat film dengan penontonnya sehingga terjadi dialog interaktif berupa diskusi ringan setiap kali sesi pemutaran film. FFS sendiri dibuat atas dasar kebutuhan akan film pendek kita sendiri itu untuk apa dan pada akhirnya apresiasi dan interaksi didalam sebuah ruang lah yang mewujudkan FFS itu sendiri. Sehingga akhirnya Festival ini sendiri adalah sebagai wujud untuk perayaan bagi publik.

Sebuah rahasia akan proses kurasi film-pun kemudian juga dibongkar lewat obrolan malam:

Kurasi film adalah perkara pilihan. Dan setiap pilihan bisa bermacam-macam alasannya. Bisa karena selera, tuntutan, kebutuhan bahkan ideologi…

Setiap film harus ditinjau secara mendalam, harus ditempatkan secara rill dan kulturil dalam perkembangan sinema dan masyarakat Indonesia pada umumnya, sehingga dapat terpetakan dan tertuturkan kenapa suatu film layak disajikan kepada khalayak. – Obrolan Malam #2: Buka Dapur Kurasi Festival Film Solo.

…kurasi film di Festival Film Solo memakai patokan kesejarahan, ketidaksterilan, komitmen kritis, kekhasan budaya, dan keutuhan nalar film pendek. Catatan Umum Kurasi Ladrang 2014 (oleh: Makbul Mubarak, Adrian Jonathan, dan Mikael Johani).

 

Itulah hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam proses kurasi film di Festival Film Solo 2014 bahkan diakui oleh para kuratornya bahwa setiap film yang masuk mempunyai porsi yang sama dalam penjurian dan juga memiliki catatan-catatan khusus dari para kurator kenapa film pendek tersebut lolos maupun tidak.

Hingga pada akhirnya dengan berjalannya waktu Festival Film Solo (FFS) bukan hanya menjadi sebagai ajang apresiasi semata namun menjadi sebuah tempat bagi para publik dan penikmat film, serta pembuat film untuk berinteraksi lalu juga menjadi sebuah tempat untuk perkembangan film pendek dengan melahirkan bibit-bibit unggul pembuat film pendek. FFS pada akhirnya pula tidak hanya melakukan apresiasi namun melakukan kritik terhadap film-film yang ditayangkan kepada publik bahkan lebih dari itu bersedia untuk dikritik oleh publik untuk perkembangan festival selanjutnya.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *