Film A Quiet Place (2018) – Review

Keberadaan unsur suara dalam adegan horor selalu menjadi faktor penting bagi kebanyakan pembuat film untuk menakuti-nakuti penonton namun film A Quiet Place (2018) malah sebaliknya, ia menjadikan suara sebagai musuh dan penonton turut diajak untuk diam sepanjang menyaksikan perjuangan keluarga Abbot untuk bertahan hidup dari kejaran para monster yang telah menginvasi Bumi.

Di awal cerita kita tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Bumi? Mengapa keluarga Abbot berbicara secara berbisik-bisik serta menggunakan bahasa isyarat? Bahkan upaya keras mereka menghindari timbulnya suara tampak dari absennya alas kaki sepanjang mereka berduli. Maka ketika unsur suara membahana untuk pertama kalinya penonton tersadar ada monster yang mengintai mereka melalui suara.

Regan (Millicent Simmonds) dan Lee (Krasinki)

Pada paruh pertama film kita mulai paham bahwa keluarga Abbot menguasai bahasa isyarat karena memiliki anak perempuan yang tuna rungu, yaitu Regan (Millicent Simmonds), ini menjadi detail penting mengenai konsep dunia post-apocalyptic kreasi Bryan Woods dan Scott Beck dimana manusia masih menguasai bahasa verbal dan kejadian invasi belum berlangsung lama walau dampak kerusakan terlihat global. Selain itu, konflik utamanya mulai jelas, yaitu Evelyn (Emily Blunt) sedang mempersiapkan proses kelahiran anaknya. Maka siap-siap bergidik ngeri membayangkan Evelyn harus menahan rintihan dan jeritan selama proses melahirkan. Belum lagi mengakali suara tangisan bayinya yang baru lahir.

Di tangan John Krasinski, film A Quiet Place tidak hanya meneror namun juga menjelma menjadi drama yang sentimentil mengenai hubungan antara orang tua dan anak ditengah-tengah rasa bersalah dan kehilangan menghantui mereka.

Hubungan Lee (Krasinki) dan Regan serta putranya, Marcus (Noah Juppet) yang terkesan rumit tapi sederhana ini menjadi modal yang membuat penonton akan bersimpati terhadap Lee dan Regan juga mungkin akan sedikit dongkol dengan karakter Marcus yang perajuk. Evelyn memang sedikit terabaikan hingga di paruh kedua film dengan ditampilkan sebagai sosok ibu yang berusaha tegar agar tidak menjadi beban bagi suami dan kedua anaknya. Namun ketika film memasuki babak klimaks, ia berubah menjadi sosok heroik demi menyelamatkan bayi di dalam perutnya serta suami dan kedua anaknya yang tengah terancam oleh para monster.

Bila ditinjau dengan saksama, formula penceritaan yang dipakai dalam film A Quiet Place sangat-sangatlah umum, biasa-biasa saja dan tidak istimewa. Pola tiga babak dan tensi emosi yang dimainkan dalam naskah film ini sangat familiar ditemukan pada ratusan film horor sejenis. Lantas apa yang menjadikan A Quiet Place begitu popular, dikagumi bahkan sanggup menaklukan pendapatan film blockbusters sekelas Pacific Rim: Uprising (2018) dan Ready Player One (2018)?

Keluarga Abbot dalam A Quiet Place

First, we miss the old days. Menjamurnya film horor di bioskop bukan berarti bukti kualitas film terjamin. Fiilm sekelas The Conjuring (2013) sekalipun lagi-lagi masih menjual adegan-adegan ritual, hantu, iblis dan pengusiran setan. Padahal di era klasik kita bisa mendapati film The Shining (198) atau Suspiria (1977) yang absurd dan Let the Right One In (2008) yang mencekam atmosirnya tanpa perlu bersusah payah menakut-nakuti penontonnya.

Kedua, not engaged in any politics or social movements. Hollywood yang sedang diamuk massa karena gap gender, ras, dan orientasi seksual membuat banyak film tampak harus memiliki isu dan muatan yang berkaitan dengan masalah tersebut, bahkan sekaliber film horor yang ranahannya jauh dari kata drama atau kampanye sosial ikut juga ketarik. Seperti yang baru-baru ini saja terjadi kepada film fiksi ilmiah A Wrinkle in Time (2018) yang mempromosikan diri sebagai film diverse dan wajib ditonton karena tokoh utamanya orang kulit hitam. Atau Ghostbusters (2016) yang ingin menjadi film feminis namun berujung reverse sexism. Akhirnya, mereka malah gagal di box office.

Kehadiran film A Quiet Place seperti angin segar dalam dunia sinema yang tidak selalu melulu harus sarat akan pesan dan isu sosial. Kesuksesan film ini juga menjadi bukti bagi film horor yang menggunakan kesederhanaan dalam bercerita, yaitu The Babadok (2014), Don’t Breathe (2016) dan Get Out (2017). Terlepas dari isu rasial dalam Get Out mengenai diskriminasi yang diterima orang kulit hitam di Amerika, film besutan Jordan Peele ini tidak berlebihan atau menjual isu rasial dalam filmnya. Tata cara bertutur yang logis dan tidak memaksa memainkan peran penting untuk diterima oleh penonton.

Sekali lagi, film A Quiet Place menjadi tontonan yang cukup menghibur sekaligus mencekam dan membangkitkan nostalgia mengenai dunia sinema yang tidak rumit. Tapi kita memang masih jauh dari kata ‘ideal’ untuk masalah representasi dan masih banyak rintangan untuk melaluinya.

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment