Resensi Film “Ghostbusters (2016)” : Film Anti-Sexist yang Sexist dan Rasis

Ghosbusters (2016) seharusnya merupakan pesta perayaan bagi para feminist di dunia dimana Paul Feig selaku sutradara mengubah para aktor utamanya menjadi wanita dengan harapan membungkam sistem partiarki yang ada. Feig sebelumnya juga telah akrab dalam menyampaikan isu-isu demikian, seperti The Heat (2013) dan Spy (2015) yang menempatkan wanita sebagai karakter hero. Namun bertentangan dengan itu semua, Feig malah membuat film yang sangat politikal dan tampak menyerang ras tertentu dalam bentuk komedi yang menyerupai sindiran dan akhirnya dianggap serius oleh banyak kalangan bahkan semenjak penayangan trailer-nya, angka ketidaksukaan hampir mendekati satu juta dan menjadikannya sebagai trailer film paling banyak tidak disukai sepanjang sejarah Youtube berdiri.

Lantas, apa faktor utama yang menyebabkan reboot ini menjadi banyak perbincangan, perdebatan hingga kritik berkelanjutan yang tiada habisnya? tentu saja, agenda tersembunyi di dalamnya yang menjadikan film ini digadang-gadang sebagai ‘reverse-sexism’. Tapi tampaknya saya tidak terlalu setuju dengan penempatan kata film ini sebagai wujud ‘reverse-sexism’ karena sexism sendiri adalah tindakan atau perlakuan terhadap ketidakadilan pada kaum marjinal, terutama dalam permasalahan gender, baik itu perempuan maupun laki-laki. Sehingga akhirnya secara ironi, Ghosbusters (2016) yang seharusnya menjadi film serba anti-sexist malah menjadi sangat sexist.

Padahal film originalnya juga telah membawa isu ini, terutama mengenai permasalahan maskulinitas, oleh karena itulah mereka menempatkan laki-laki sebagai tokoh utama : Egon Spengler dengan karakter pria aneh (weirdo), Raymond Stantz dengan karakter kekanak-kanakannya (childish), dan Peter Venkman dengan karakter sarkastiknya yang tidak mempedulikan apakah kegiatan mereka adalah penipuan ataupun bukan asalkan menghasilkan keuntungan.

Selain itu, Ghostbusters (1984) juga wujud perayaaan terhadap era Ronal Reagen atas pasar konservatisme di USA, Enterpreneurship dan sektor pekerjaan swasta yang menempatkan penghasilan bisnis atas inisiatif individu yang terbukti lebih efektif dari kekuatan sektor publik. Dikarenakan itulah mereka membuat kisah mengenai sekumpulan empat pria yang berusaha membuat pasar sendiri ‘pembasmi hantu’ dan melawan berbagai regulasi dari pemerintah New York yang menempatkan mereka pada posisi tidak menguntungkan.

Maka sejatinya, film originalnya sukses karena berada pada setting yang tepat pula dan bermuatan kritik sosial terhadap pemerintah di masanya. Dan itulah yang mungkin dilupakan Feigh tentang apa itu Ghostbusters sesungguhnya dan malah menjadikannya sekedar film komedi murahan saja.

Bias Keterwakilan Gender dan Ras

Beberapa tahun ke belakang Hollywood kerap kali menempatkan perempuan sebagai tokoh utama yang merupakan platform baru gerakan feminisme, sebut saja Snow White and The Hunstman (2012), menempatkan Snow White sebagai pemimpin perang dengan menghilangkan karakter putri kerajaan yang cenderung bergantung pada sosok pangeran tampan nan gagah dan pemalu atau mengenakan pakaian serba cantik pada pesta ballroom. Atau yang baru-baru ini juga tidak luput dari perbincangan hangat adalah Star Wars VII – Force Awakens (2015) yang meletakkan posisi perempuan, Rey sebagai calon Jedi berikutnya hingga menjadikan film tersebut semacam agenda untuk political correctness di Amerika dalam bentuk penokohan.

Sialnya, resep yang telah dipakai berulang kali itu diimplikasikan oleh Feigh secara sangat buruk dalam Ghostbusters (2016). Pertama, permasalahan penokohan dengan kecenderungan sexist terlihat pada dominasi karakter wanita terhadap laki-laki. Wanita – wanita ini : Erin Gilbert, Abby Yates, Patty Tolan dan Jillian Holtzman disimbolkan sebagai heroes atau savior – karakter mereka adalah seorang scientist (tidak termasuk – Holtzman) dengan latar pendidikan yang baik namun bernasib sial karena percaya hantu. Sebenarnya sah saja apabila adegan ini dianggap seolah-olah mengkaitkan antara relasi wanita dengan lingkungan pekerjaannya yang tidak adil hingga memunculkan diskriminasi. Menempatkan perempuan sebagai scientist dan tidak diakui karya ilmiahnya karena organ reproduksi mereka walaupun berdasakan berdasarkan penjelasan Erin dan Abby – kemungkinan pengkaitan hantu dengan bukti ilmiah bisa demikian benar apa adanya. Namun, pernyataan ini bisa terbantahkan karena terbukti pada filmnya sendiri baik Erin dan Abby belum berhasil membuktikan keberadaan hantu itu hingga hanya berbentuk teori saja. Kelak setelah beberapa menit film ini berjalan kecenderungan sexist terlihat ketika tokoh Kevin muncul sebagai sosok pria tampan dengan muscle dan womanizer yang ternyata idiot. Inilah akar muakar wujud ‘reverse-sexism’ muncul untuk Ghostbusters (2016).

Padahal di film originalnya sosok laki-laki dan perempuan adalah adil atau tidak menyudutkan salah satu gender. Seperti tokoh Dana Barrett yang tidak kalah heroiknya dari para Ghostbusters.

Kedua, masalah rasisme. Dapat terlihat ketika Patty Tolan meminta agar dirinya dapat bergabung dengan para scientist dan dapat memberikan banyak kontribusi dengan mengatakan: “You guys are really smart about this science stuff, but I know New York.”. Dan dilanjutkan pada satu scene ketika Erin Gilbert mengatakan, “We are scientists… plus Patty.”. Hal ini lah yang menyebabkan film ini rasis terhadap ras kulit hitam dengan menempatkan tokohnya sebagai sosok ‘wanita jalanan’ (street-savvy black woman) sehingga seakan-akan Ghosbusters (2016) merasa perlu untuk menunjukkan wanita ras kulit hitam dapat menjadi atau bergabung sebagai seorang scientist juga. 

Tak elak, ledakan kecaman dan kritik atas muatan adegan tersebut terjadi ketika tidak lama film ini baru premiere dan ditujukan kepada Leslie Jones (pemeran Patty Tolan) dan Feigh.

Tapi dari segala kecacatan yang ada apakah tidak ada sama sekali daya tarik atau kelebihan dari film reboot ini? tentu, jelas ada.

Menghibur secara keseluruhan

Apabila kita bisa melepaskan seperangkat perspektif tentang sexism dan rasisme ketika menonton film ini sebenarnya Ghostbusters (2016) dapat begitu dinikmati dimulai dari pembukaan hingga penghujung ceritanya. Walau komedinya jelas tidak segar karena telah berulang kali digunakan oleh Feigh dalam setiap filmnya, seperti adegan ‘muntah memuntahkan’ ke tubuh seseorang yang dilakukannya pula pada film sebelumnya, Bridemaids (2011).

Tapi untuk beberapa pentonton yang hanya membutukan film untuk sekedar melepaskan kepenatan justru akan sangat terhibur: tertawa konyol atau mungkin terbahak-bahak melihat adegan-adegan yang sejatinya telah kadaluwarsa atau menikmati fan service melihat Chris Hemsworth yang bertelanjang dada dan memamerkan kekekaran otot bisepnya.

Harus saya akui pula kembali lagi karisma penampilan antara hubungan Kristen Wigg dan Melissa McCarthy tetaplah mempesona seperti di film mereka sebelumnya dengan sutradara yang sama. Feigh memang sudah seringkali mempercayai McCarthy untuk memerankan film-filmnya dan tentunya selalu menjadi pemeran utama.

Selebihnya saya tidak sedang sarkastik atau menyindir tetapi lebih kepada melihat pangsa pasar yang menjanjikan untuk film ini walau akan bersaing dengan Star Terk : Beyond (2016). Fun dan entertaining adalah salah satu bumbu resep untuk meraih pasar film secara global dengan pendapatan yang menjanjikan walau Sony sebenarnya telah memiliki prestasi buruk dalam hal reboot, sebut saja: The Amazing Spiderman yang akhirnya membawa mereka pada masa tersuram sepanjang sejarah dengan memberikan hak film kepada Marvel yang urung mereka lakukan selama bertahun-tahun. Sekarang kita tinggal menunggu apakah kali ini mereka melakukan kesalahan yang serupa atau memperbaiki reputasi yang telah tercatut selama ini.

Ghosbusters (2016) |  Durasi :116 menit | Sutradara : Paul Feigh | Produksi : SONY PICTURES | Negara : USA | Pemeran : Kristen Wiig, Melissa McCarthy, Kate McKinnon, Leslie Jones, Neil Casey, Chris Hemsworth, Zach Woods

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *