Jakarta Hari Ini Murung

This is not suprised me but still it hurts so much. After quick count results my best friend texted me, “Imma kill myself & rebith as a muslim to make things easier” but my muslim friends tweeted to me ” A big loss for people with conscience. I’m scared for all of us.”  So what happened? We stick for what we believe is humanity but we lose against hypocrisy. I’m really terrified about Jakarta’s future now. Today is not a great day even universe knows it.


CUACA JAKARTA hari ini tampak muram seakan mengerti kondisi yang tengah terjadi di bumi ibu pertiwi ini. Saya paham atau lebih tepatnya berusaha memahami bahwa Indonesia memang masih jauh dari kata ‘toleransi’ mendekati saja tidak. Dibilang sakit hati tentu sangat bahkan ada rasa marah hingga mendidih. Tapi bagaimana namanya juga minoritas maka sungguh sulit untuk menang dari mayoritas.

Saya beruntung berada di lingkaran yang kebanyakan memiliki pola pikir sama karena banyak dari kenalan saya bertikai satu sama lain akibat beda pandangan politik. Sekedar menulis kegalauan di Facebook saja bisa menimbulkan perang dingin di kolom komentar. Sejak itu rasanya jadi malas untuk sekedar berbicara mengenai pandangan politik di muka umum.

Padahal keperluan bertukar pikiran merupakan hal fundamental untuk mencari pemimpin yang baik. Namun beberapa tahun belakangan semenjak masa Pemilihan Umum Presiden 2014 semua berubah dengan muncul isu-isu sensitif dan mudah dipermainkan. Jokowi diberitakan sebagai keturunan Tionghoa bahkan sampai muncul konspirasi dia beragama kristen. Beragam kampanye gelap membanjiri dunia maya dan warganet dengan mudah terprovokasi.

Jokowi sesungguhnya cuman anak pinggiran bahkan sempat merasakan kegusuran tiga kali yang berkat kesabaran dan kegigihannya kini mampu duduk di kursi Presiden Indonesia. Kelihaiannya sebagai Wali Kota Surakarta membawanya mengarungi keganasan kota Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Melalui pendekatan membumi dan pragmatis banyak warga terpesona oleh kerja nyatanya.

Bayangkan warga Jakarta memiliki seorang pemimpin yang berasal dari kelompok minoritas. Saat itu walau saya bukan warga Jakarta ada satu perasaan teramat bangga bahwa Indonesia memiliki harapan untuk maju lebih baik. Terlebih ketika momen Pemilu dimana untuk pertama kalinya saya memberikan hak suara dan Jokowi menang. Entah mengapa ada secercah harapan bahwa Indonesia memang butuh waktu untuk menerima konsep keberagaman. Kenaikan Jokowi sebagai Presiden turut membawa nama Basuki Tjahaja Purnama, seorang keturunan Tionghoa dan pemeluk agama Kristen sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Gunjang Gunjing Soal Agama

AHOK panggilannya. Tokoh yang paling banyak dibicarakan beberapa bulan ini. Mulutnya kasar dan tingkahnya kerap dianggap arogan. Ternyata gini-gini Jakarta dihuni masyarakat santun maka jelas banyak sekali yang jengkel dengan kelakuan si Ahok ini. Belum lagi pemberitaan di media saat Ahok tengah melakukan sidak dadakan. Jangan kaget kalau bapak ganteng ini bisa memaki-maki orang tanpa belas kasihan meskipun tengah diliput televisi. Memang dia peduli?

Saya mengerti kenapa Ahok bisa memiliki watak sekeras itu. Jakarta memang membutuhkan mental orang yang keras bahkan nekat karena sudah mendarah daging rasa ‘toleransi’ terhadap tindakan para petugas sipil meminta ‘uang pelicin’, ‘uang damai’ atau ‘uang lelah’. Tanpa keberanian tidak mungkin mampu melawan ketidakadilan. Kita sebagai warga juga akhirnya capek ketika menerus dipersulit. Membuat SIM yang seharusnya tidak lebih dari ratusan ribu rupiah mendadak jadi jutaan rupiah.  Mental kita pun bergesar menjadi serba tidak mau susah. Semuanya mau serba instan walau harus merogoh kocek lebih. Ini yang salah dan beliau melihat itu maka ketimbang menjanjikan ini itu, Ahok memilih membangun karakter warganya melalui pemberdayaan fasilitas disana-sini. Apakah kita pernah berpikir akan memiliki banyak taman atau akses pejalan kaki yang luas? Terhindar dari banjir tahunan saja sudah bersyukur.

Kemacetan memang sulit ditangani akibat ruas jalan tidak seimbang dengan jumlah kendaraan akibat daya konsumtif masyarakat Jakarta akan transportasi pribadi begitu besar tetapi banjir merupakan bukti nyata kerja paling hebat yang dilakukan Ahok. Dari 2.200 titik banjir menjadi 80 titik. Bukankah itu pencapaian?

Sungguh sulit akhir-akhir ini untuk berbicara mengenai hasil kerja karena kebanyakan lebih banyak mengutamakan apa agamanya si dia. Imbasnya segala ucapan mengalir di mulutnya selalu salah. Ahok begitu mudah dikambing hitamkan setiap perkataannya dan agama menjadi murah karena dilelang. Saya tidak akan pernah mau mengakui Pilkada DKI 2017 ini sebagai kemenangan warga. Semua tidak lebih dari permainan politik dan kepentingan pihak sana sini.

SAYA tidak pernah mempermasalahkan pilihan orang apalagi menyangkut kepercayaannya. Setiap orang di muka bumi ini berhak memilih yang mereka percayai entah karena itu agama atau etos kerjanya. Saya mempermasalahkan barisan orang yang memanfaatkan agama sebagai alat untuk menindas orang lain. Ahok begitu tertindas karena apa yang dia percayai.

Ahok tidak pernah memilih untuk dilahirkan menjadi seorang tionghoa ataupun kristen.

Begitu pula sahabat saya juga tidak pernah memilih untuk dilahirkan menjadi hindu.

Saya pun tidak pernah juga memilih untuk dilahirkan menjadi islam.

Kita lahir di muka bumi karena digariskan demikian.

Maka setiap perubahan yang terjadi setelahnya adalah keputusan kita.

Ahok memutuskan tetap mempercayai kebenarannya sebagai kristen.

Sahabat saya pun memutuskan tetap mempercayai kebenarannya sebagai hindu.

Itu yang saya percaya.

Kebenaran itu relatif bukan absolut.

Seringkali saya bermimpi dapat tinggal di sebuah zona netral. Dimana orang-orang hanya peduli dengan rekam jejak hidupnya bukan seputar melulu soal agama, gender, suku, atau budaya yang dianutnya. Kalau diizinkan bersikap agak melankolis saya jadi teringat dengan lagu Imagine – John Lennon yang menceritakan tentang kedamaian dunia tanpa denominasi agama – bukan tanpa agama. ‘Imagine all the people living life in the peace.’ Kelak dapatkah itu terwujud? Saya tidak tahu.


HARI ini kita kalah oleh kemunafikan tetapi bukan berarti perjuangan berakhir. Saya percaya orang baik selalu menemukan jalan yang baik juga walau prosesnya penuh lika liku. Harapan saya satu : Semoga kelak Indonesia menjadi negara yang mampu menerima keberagaman dan toleransi. Karena kalau tidak kata Bhinneka Tunggal Ika tidak lebih hanya sebuah kata tanpa makna.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *