JURNAL #1 : Mendung di Tanah Sulawesi Selatan

Atas bujuk rayu ibuku dan berdialog dengan diri sendiri maka kuputuskanlah untuk menerima tawaran berlibur di tanah kelahirannya, Sulawesi Selatan dengan mengambil perjalanan trip bersama Jalan2Terus yang tak sama sekali bisa ditebak dari open trip berakhir menjadi private trip karena kekurangan peserta. Maka, berangkatlah saya, ibu, dan adik pada tanggal 22 Maret 2016 dari Jakarta. Perencanaan trip sendiri dimulai dari tanggal 23-27 Maret 2016 namun karena tidak ingin berkejaran dengan waktu maka satu minggu penuh kami manfaatkan untuk mengeksplorasi kepulauan yang terkenal dengan Tana Toraja nya itu. Tidak ideal memang menjamah semua tempat dengan waktu sesempit itu, tetapi apabila memang ada waktu di lain hari saya meyakinkan diri untuk kembali berjumpa dengan tempat yang telah menghasilkan banyak cerita ini.

Tertera pada jadwal keberangkatan kami mendarat tepat pada pukul dua siang waktu indonesia tengah (14:00 WITA) di Bandara Sultan Hanasuddin. Sesampainya di sana ternyata untuk menggunakan kendaraan seperti taksi, semua harus dipesan secara online terlebih dahulu. Bermodal guts feeling saya memutuskan untuk menggunakan salah satu jasa – saya lupa sesuatu yang ada tulisan ‘taksi’-nya juga. Karena sebelumnya telah membaca perjalanan di Makasar saya tidak kaget kalau pembayaran di sana menggunakan pembagian berdasarkan tiga zona. Kebetulan saya mendapatkan Zona III karena letak hotel berdekatan dengan Pantai Losari. Biaya memakan Rp120.000,00 saja.

Kesan pertama saya terhadap kota Makasar adalah ‘panas’. Teriknya luar biasa hingga seakan-akan matahari hanya sejengkal saja dari ujung kepala saya yang telah dibuat pelontos (cepak) ini. Omong-omong saya sengaja memangkas rambut sebelum berangkat sebagai upaya untuk mencegah rasa gerah dan rambut lepek akibat panas. Saya teramat sangat bersyukur dengan keputusan ini apalagi juga saya bukan tipikal orang yang mementingkan model gaya rambut.

Dalam perjalanan menuju hotel kami terjebak macet akibat pelebaran ruas jalan (sepertinya). Pak supir pun bercerita bahwa dibutuhkan waktu sangat lama untuk melakukan pembangunan di tanah Sulawesi ini dikarenakan perbincangan soal tanah dan umumnya juga karakter masyarakatnya keras kepala. Saya akhirnya sedikit demi sedikit mulai bisa menyadari darimana sifat keras kepala saya ini tumbuh selama ini.

Tidak sampai satu jam, kami akhirnya tiba di Travellers Hotel Phinisi. Pandangan pertama saya terhadap hotel ini sangat menyenangkan karena selain dekat dengan lokasi kuliner dan wisata, tempat ini juga memiliki nuansa nyaman bak kerajaan. Staff office sangat ramah begitu pula dengan bellboy nya yang cepat tanggap kalau kami telah kelelahan apalagi dengan dua koper besar milik ibu dan adik saya yang sedari awal bikin pusing kepala.

Saya memesan tipe kamar deluxe double yang  termasuk sarapan pagi dan free wifi. Kamar terbilang cukup besar, wifi stabil dan kencang dalam penggunaan standar, seperti media sosial. Kamar mandi bersih dan peralatannya pun lengkap. Cost yang dikeluarkan untuk menginap semalam sebesar Rp351.761 via Traveloka. Sekedar informasi, check-in dapat dilakukan pada pukul 14:00 WITA dan check-out pukul 12:00 WITA.

Maka, inilah kronologis perjalanan saya dan keluarga selama satu minggu di Sulawesi Selatan

Pantai Losari : Pantai Sejuta Umat

Setelah berbenah dan membersihkan diri, tidak  lupa mengistirahatkan kaki juga kami memutuskan untuk mengunjungi Pantai Losari yang menjadi tempat identik atau ikon kota Makasar ini – walau saat itu hanya saya sendiri yang belum pernah kesana. Jarak tempuh dari Hotel mungkin hanya memakan waktu lima belas menit untuk berjalan kaki dengan santai.

Sesampainya disana, tidak terlalu istimewa tempat yang menjadi ikon Makasar ini namun landscape langit ketika matahari terbenam menyimpan banyak memori bagi saya. Warna merah orange dengan kuning keemasan dan langit yang seolah-olah membentuk cekungan itu adalah keistimewaan tersendiri.

Kerumunan warga lokal dan turis tampak memadati tempat ini, lokasi hunting pun dimana-mana. Salah satu sudut yang malah mendapatkan perhatian saya adalah Masjid Terapung bernama Amirul Mukminin – masjid dengan kubah berwarna biru itu terlihat megah bahkan untuk berjalan di sekitar kita diwajibkan agar melepas sepatu atau sandal untuk menjaga kebersihan rumah ibadah yang menjadi kebanggaan kota Makasar.

Setelah cukup mengelilingi sekitar Losari atau dengan kata lain ‘jenuh’ maka kami melanjutkan perjalalanan ke pusat kuliner yang berada tidak jauh dari pantai. Saya cukup tertarik dengan Pisang epe yang merupakan jajanan tradisional dan bertebaran di jalan.

Setelah mengulik-ulik kata “epe” sendiri berasal dari bahasa Makassar yang berarti “jepit”. Maka, wajar saja ketika disuguhkan bentuk pisang tampak gepeng. Cara pengolahannya pun sederhana hanya dibakar di atas bara api dan ditaburi oleh gula merah. Namun, karena perkembangan zaman telah banyak variasi topping, seperti saos cokelat, durian maupun keju. Saya sendiri lebih memilih gula merah untuk seolah-olah merasakan denyut nadi Makasasar tempoe dulu.

Bulan semakin menampakkan wujudnya, kami putuskan untuk mengakhiri perjalanan tanpa arah ini dengan memesan dua buah becak untuk melanjutkan pencarian makan malam, yaitu Coto Makasasar yang malah terasa tidak terlalu enak dan segar. Tak apalah, karena perjalanan sebenarnya adalah esok hari.

Pertemuan dengan Bung Tomo

Sekitar pukul sembilan pagi, kami bertiga bergegas untuk menuruni hotel. Ini adalah jumpa pertama kali saya dengan Bung Tomo, tour guide dari Jalan2Terus yang akan menemani kami bertiga selama perjalanan mengelilingi Sulawesi. Perkenalan kami cukup singkat, hanya sekedar berbasa-basi, bersaliman lalu langsung berlanjut menuju mobil untuk segera melakukan keberangkatan.

Setelah melakukan check out, saya cukup terkesima dengan keramahan seorang wanita yang mungkin pemilik atau manajer-nya dengan meminta ulasan di Traveloka entah itu buruk maupun baik, selama ada saran yang cukup membantu perkembangan hotel, katanya. Saya memberikan janji untuk mengulas dan memberikan rating sesuai dengan realitanya.

Setelah keramahan itu, Ibu saya tiba-tiba meminta untuk diantarkan ke salah satu Coto Makassar terbaik karena masih kurang puas dengan sajian malam hari kemarin. Alahmak! mau tidak mau kita turuti permintaan ibu berumur kepala lima ini untungnya, Bung Tomo memiliki salah satu tempat andalan yang nyatanya memang super duper sesak. Kerumunan orang terlihat mengantri untuk mendapatkan tempat duduk. Istilahnya : datang dan pergi lalu kembali untuk makan lagi esok pagi. Tiada keegoisan setelah makan untuk mengobrol-obrol semua langsung pergi memberikan tempatnya untuk orang lain.

Berhubung saya terlalu sibuk menikmati sajian lezat itu terlupakanlah oleh saya untuk mengambil gambar dan mencatat lokasi tempat makan enak ini berada. Maafkan kelalaian ini.

Selamatkan Rammang-Rammang !

Lengkap dengan perut yang telah penuh maka perjalanan kembali dimulai. Perjalanan dari Makassar menuju lokasi pertama, yaitu Rammang – Rammang sekitar dua jam setengah. Lokasinya terletak di Kabupaten Maros, cukup mudah untuk ditemui.

Awan tampak biru dan megah dengan keeksotisannya. Saya yang belum meneliti lebih jauh tentang lokasi ini cukup terhibur karena kami harus menggunakan perahu sampan untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu Kampung Berua, sebuah kampung terpencil yang dikelilingi oleh pegunungan kapur. Sepanjang menyisiri sungai, saya melihat hutan bakau, pohon nipah dan pastinya gugusan pegunungan kapur tak luput juga beberapa jenis burung endemik.  Walau panas menerjang begitu sangatnya saya tidak patah semangat untuk mengelilingi kampung dengan pematang sawah begitu luasnya.

Sebagai sebuah lokasi wisata, Rammang-Rammang ternyata belum disentuh oleh banyak orang terlihat hanya kami serta dua turis mancanegara yang melihat-lihat lokasi ini. Hanya ada satu warung saja dan tanpa kami sadari terjadilah perbincangan menarik tentang kondisi rammang-rammang.

Ibu yang saya lupa namanya ini menggumamkan, sekiranya seperti ini: (disadur oleh saya)

Selamatkan Rammang2
Selamatkan Rammang – Rammang !

Hingga saat ini rammang-rammang tengah dijadikan sebagai salah satu ikon Sulawesi Selatan oleh warganya. Sebagai UNESCO World Heritage ketiga setelah Kawasan Karst Cina Selatan dan  Ha Long Bay Vietnam. Keadaannya cukup memprihatinkan karena kurang dilihat oleh pemerintah setempat. Pabrik semen pun berdiri dan mulai mengancam kelangsungan kehidupan disana.

Tertegun sejenak saya mendengar cerita ibu itu. Kawasan hijau luar biasa itu kini diam-diam menyimpan potensi untuk dirusak oleh tangan manusia. Tidak dapat saya bayangkan, air sungai yang jernih dengan kehijauan rerumputan dan megahnya bebatuan kapur itu perlahan-lahan berada diambang kehancuran. Mungkin tidak dalam setahun atau dua tahun tetapi sepuluh tahun dari sekarang bisa jadi tiada lagi pegunungan Karst akibat lenyap dimakan oleh polusi industri.

Setelah pembicaraan singkat juga mengitari lokasi ini dengan melihat keagungan alam dalam membentuk maha karyanya. Kami kembali menaiki sampan untuk mengakhiri perjalanan bermakna ini. Tak lupa, mampir ke salah satu cafe yang baru saja dibangun dan terdapat penginapan pula. Dipikir-pikir untuk apa pula membangun penginapan selain karena lokasinya yang sulit terjangkau dan jauh dari keramaian, agak horor juga untuk bermalam disana.

Taman Karst
Taman Karst

Perjalanan kami lanjutkan dengan menuju Taman Karst yang tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Panorama keindahan didominasi dengan pebukitan Karst berselimutkan dengan bebatuan kokoh yang didominasi warna hitam. Bentuknya terbilang unik, pahatan alam dengan tinggi bervariasi cukup membuat saya terkagum-kagum dimulai dari puluhan centimeter hingga meter. Tampak dari kejahuan membuat pemandangan yang saya lihat ini menjadi begitu megah  hingga seakan-akan ujung bebatuan seakan menantang yang maha semesta. Sebuah karya yang tidak dapat dilupakan begitu saja.

Terik matahari semakin sangat menyiksa, kulit saya pun mulai terbakar kemerahan walau sebenarnya tidak surut juga semangat untuk mengitari tempat ini atau berlama-lama duduk di bebatuan sambil memikirkan betapa lucunya hidup namun waktu ternyata menjadi pemisah bagi saya dan bebatuan Karst tersebut. Perjalanan delapan jam sekiranya segera menanti saya dan keluarga.

Tana Toraja adalah tujuan selanjutnya.

Saya sedikit berimaji tentang bagaimana keadaan Toraja setelah surfing melalui internet mengenai lokasi spiritual yang masih kental dengan kearifan lokal budayanya itu. Bagaimana cerita Rambu Solo’ (pesta kematian), atau kuburan-kuburan yang berisi mayat diawetkan. Tiba-tiba saya bergidik ngeri membayangkan nuansa spiritual apa yang akan saya dapatkan – mengingat tempo dulu seringkali bertemu dengan serangkaian hal tak terduga di beragam tempat spiritual. Saya enyahkan pikiran itu dan kembali melanjutkan langkah kaki menuju mobil. Namun, yang tidak saya perhatikan ternyata ada mendung yang diam-diam mengintip dan akan segera menghampiri kami selama perjalanan nantinya.

Bagian Pertama,
kisah sulawesi selatan
Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *