Jurnal #10: Pengalaman Menggunakan Kindle Paperwhite

Tanpa terasa sudah lebih dari satu tahun saya membaca buku dengan perangkat Kindle Paperwhite buatan Amazon. Berkat perangkat elektronik dengan resolusi 300-ppi itu saya bisa membaca dengan nyaman selayaknya membaca buku versi cetak. Daya tahan penggunaannya pun terbilang lama, bisa mencapai tiga minggu (klaim: dua bulan/30 menit sehari) bila hanya digunakan selama 1 sampai 3 jam sehari.

Sayangnya, masih banyak pembaca buku di Indonesia yang awam dengan Kindle atau bahkan masih ragu dan sering melontarkan pertanyaan, “Apa sih enaknya baca ebook?” Kalau ditanya seperti itu saya hanya menjawab, “ya enak lah, gak berat”. Terlebih buat saya yang mobilitasnya (dulu) tinggi serta malas membaca buku di malam hari karena harus menyalakan lampu. Dengan Kindle segalanya serba mudah.

Saya mampu menyimpan hingga ratusan atau ribuan buku dalam perangkat yang memiliki muatan memori 4GB itu. Mengapa bisa begitu? Sederhana sebenarnya. Sebab buku-buku digital versi ‘.mobi’ khusus Kindle berukuran 500kb sampai 10mb. Tidak ada yang sampai gigabyte jadi ruang penyimpanan sangat besar.

Gak Sayang Beli Buku Digital?

Harus saya akui awalnya saya bertanya demikian juga. Apalagi membeli buku di Amazon tidak jauh berbeda harganya dengan versi cetak. Tentu sebagai bookholder, saya ingin merasakan memegang kertas, melihat sampul judul dan memajangnya di meja dan lemari di kamar. Namun zaman sudah berubah, bergerak kearah yang lebih maju dimana semua penyimpanan kini berbasis cloud.

Selain itu, jujur saja saya juga jarang membeli buku-buku di Amazon, kecuali terbitan terbaru. Kenapa? Karena saya juga sudah memiliki data penyimpanan buku-buku sebesar 3GB, berkat membeli Kindle di Tokopedia. Sungguh murah hati sang penjual, semoga dilimpahkan rahmat dan dimudahkan hidupnya. Beragam judul buku dari penulis era klasik sampai modern bahkan filsuf Plato pun tersedia. Bila kamu berminat bisa mengunjungi tokonya disini.

Nah, gak cuman itu juga tersedia satu situs yang menyediakan beragam buku fiksi, non fiksi, jurnal penelitian, resep, dan sebagainya. Data penyimpanannya mungkin berjumlah jutaan dan tersedia banyak file ekstensinya. Jadi kamu bisa unduh khusus untuk membaca di iBooks ( .epub ), atau ponsel dengan pdf/e-reader. Kamu bisa mengaksesnya di Library Genesis (silahkan klik gambar diatas).

 “Jadi kamu ngebajak buku? Gak mendukung nasib industri buku? Gak mendukung penulis-penulis independen itu?”, said SJW.

Bagi kalian yang menuntut ini, yah gimana yah… namanya juga dikasih kesempatan jadi bisa berbuat kejahatan. Walau saya sebenarnya juga enggan untuk melakukan hal demikian tetapi karena terhimpit dana finansial dan terutama ingin menikmati bacaan buku lama, akhirnya saya yah mengunduh buku-buku dengan ilegal.

Tapi bukan berarti kelak saya gak mengoleksi buku-buku tersebut. Dengan adanya acara Big Bad Wolf dan Indonesia International Book Fair, saya jadi bisa membeli buku-buku yang telah saya baca dengan harga lebih murah. Buku karangan Charles Dickens pun saya miliki, baik fisik maupun digital di Kindle. Seperti yang telah diungkit sebelumnya, saya juga membeli buku di Amazon apabila ada buku terbitan baru yang tidak akan pernah mungkin bisa saya dapatkan secara ilegal.

Rasanya Membaca di Kindle

Koleksi Buku di Kindle

Saya sangat suka sekali membaca dengan Kindle, terlebih lagi buku-buku berbahasa inggris karena dengan mudah menemukan arti dari satu kata atau menerjemahkan satu kalimat sekaligus dengan fitur google translate yang terpasang di perangkat. Belum lagi bisa berbagi buku yang lagi saya baca di media sosial dan Goodreads langsung melalui Kindle.

Bayangkan betapa sulitnya membaca dalam bentuk fisik bila menemukan satu kata yang sulit. Kita harus mencari artinya di kamus terlebih dahulu. Jadinya malah kerja dua kali sementara Kindle tinggal klik langsung keluar deh artinya. Bahkan gak perlu menggunakan akses Wifi karena kamus disediakan dalam versi offline.

Masalah saya dengan pembendaharaan kata yang kurang bila baca buku literatur yang memakai bahasa segambreng apaan tau itu lah bisa dengan mudah mengerti untuk menyusun makna setiap paragraf yang ditulis penulis. Selain itu, terbantu juga dalam melatih percakapan dan memahami bahasa inggris lebih baik.

Nah, untuk Kindle yang saya miliki sendiri, yaitu Paperwhite memang dirancang untuk membaca saja tidak seperti Kindle Fire yang lebih berfungsi seperti Tablet atau iPad. Yah kalau dipikir-pikir pada akhirnya Kindle versi tablet sama seperti membaca buku di iBooks melalui iPad. Gak ada istimewanya deh.

Maka walau memakan harga yang cukup mahal (saya beli sekitar dua juta), saya merasa sangat worth it dengan kebutuhan membaca saya. Akhirnya saya bisa membaca, dan cukup membeli novel dan buku Indonesia juga menghindari beli buku terjemahan dan impor yang seharga ratusan ribu rupiah.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *