Jurnal #11: Perjalanan Hidup Bersama Buku

Malam ini saya sedikit terusik ketika tengah membaca novel Han Kang berjudul Human Acts yang diterjemahkan oleh Deborah Smith.

“Seberapa besar membaca buku telah memengaruhi hidup dan kepribadian saya?”, pertanyaan itu terlontar begitu saja, tak ada angin, tak ada hujan.

Sembari menatap langit-langit kamar saya berusaha menyelami kembali bagaimana saya bisa tumbuh menjadi pemuda seperti saat ini. Lantas saya menilik kebelakang, buku apa yang pertama kali saya kagumi?

Jawabannya terbagi atas dua zaman. Pertama masa di kanak-kanak saat saya menikmati buku seri Lima Sekawan karangan Claude Voilier. Saya selalu terkagum-kagum dengan aneka petualangan yang harus dihadapi Julian, Dick, Anne, Georgina dan Timothy bahkan tak jarang sampai memimpikannya. Kedua saat memasuki Sekolah Menengah Atas ketika tanpa sengaja menemukan novel The Noticer: Sometimes, all a Person Needs is a Little Perspective karangan Andy Andrews di rak buku Intermedia.

Dua buku itu membekas karena mengajarkan dua hal penting mengenai hidup: Pertama, kehidupan selalu dipenuhi tantangan dan memiliki teman merupakan hal terindah di dunia dan yang kedua, apresiasi terhadap diri sendiri serta kemampuan untuk memahami bahwa setiap orang itu terlahir berbeda.

Sedari dulu saya memang anak yang selalu memperkarakan banyak hal bahkan terkecil sekalipun. Semakin saya tumbuh dewasa semakin saya paham bahwa ada ketertarikan saya terhadap isu-isu yang topiknya soal kemanusiaan. Tak banyak yang tahu memang bahwa saya gemar sekali membaca semenjak remaja.

Perkenalan saya terhadap bacaan itu pertama kali terjadi saat SMA, ketika menemukan buku Dunia Sophie di tempat peminjaman novel dan komik dekat rumah. Tebal bukunya bikin saya minta ampun dan saya malah tetap membaca diam-diam karena takut menimbulkan stigma negatif jika ketahuan orang tua. Karena segala sesuatu yang dilabeli ‘filsafat’ mengandung arti kata ‘ateis’ atau tak bertuhan bagi mereka. Saya ingat sensasinya – saya merasa saya adalah Sophie yang tengah dikirimi surat oleh Hilde melalui buku tebal tersebut. Tak perlu ada yang tahu dan ini rahasia saya sendiri.

Entah bagaimana semenjak saya mengonsumsi ragam buku, saya mulai suka sesuatu yang berbau klasik. Telatnya saya atas hal ini mau tau mau juga disebabkan referensi orang tua yang tidak mengenal dengan baik karya seni dan entah bagaimana saya tumbuh menjadi sangat sensitif soal karya seni. Saya mulai menikmati dan berusaha memahami bahwa seni itu ibarat mata uang yang selalu mempunya sisi lain.

Koleksi-koleksi bacaan saya yang terus bertambah lambat laun menjadi beban karena nihilnya teman berdiskusi sebab saya menutup diri sebagai seorang pembaca. Pasalnya, saya menganggap bacaan saya ‘aneh’ dan tidak cocok dengan lingkungan sekitar saya. Saya tumbuh sebagai orang yang terbuka atas beragam gagasan sementara lingkungan saya sangat udik, disinilah bibit perseteruan antara saya dan tuhan mulai tumbuh.

Menyadari hal itu, dulu saya membelah diri menjadi dua kepribadian. Pertama, yang teman-teman ketahui saya sebagai sosok periang, suka bercanda dan patuh pada sistem. Kedua, penyendiri yang di dalam kamar bisa habis-habisan diam termenung untuk membaca, menonton atau sibuk berimajinasi.

Saya terus berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan dengan ekspektasi yang diharapkan. Sementara, saya juga tenggelam dalam buku, larut dalam kata-kata yang selalu saya harap ada nama saya disana. Namun nama itu tak pernah tergores di kisah manapun.

Sampai kapan terus begitu?

Persinggungan saya dengan Perpustakaan Batu Api saat kuliah mengubah jalur hidup saya. Sepasang suami istri yang merupakan pemilik perpustakaan tersebut bisa dibilang satu dari beberapa hal baik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Kami kadang suka bertegur sapa, entah itu di perpustakaan atau pusat perbelanjaan Griya untuk membahas ala kadarnya mengenai novel-novel Stephen King, karya Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, Mochtar Lubis, Djenar, dsb atau menikmati guyonan novel kontroversial, misalnya Lolita. Jangan singgung nama Goenawan Mohamad karena tak sedikitpun saya tertarik membaca buku-bukunya.

Seringkali saya ditawari diskusi atau sekedar mengopi di teras perpustakaan yang selalu saya ikuti dengan alasan ‘ada keperluan di kampus’. Tapi tak jarang pula saya ikut terlibat selama acara dilakukan di dalam kampus bukan di perpustakaan. Mengapa demikian? Entah mengapa saya agaknya merasa terintimidasi dengan kemungkinan-kemungkinan peserta di perpustakaan memiliki wawasan lebih ketimbang saya. Walaupun jelas pemikiran itu salah. Tapi tak ada manusia yang sempurna di dunia ini memang.

Lalu bagaimana Batu Api bisa mengubah saya? Jawabannya sesederhana saya menemukan orang untuk bertukar pikiran dan mendapatkan referensi yang baik. Kebetulan lingkungan kuliah saya condong kepada penikmat film yang tentunya saya cintai dari lubuk hati paling dalam. Namun Batu Api memberikan secercah harapan yang selalu saya sembunyikan diam-diam. Dari situ saya mulai pelan-pelan membicarakan buku dengan orang-orang di sekitar. Kadang ada yang menyerengit bingung tapi tak banyak pula yang memberikan aneka referensi bahkan meminjami buku mereka.

Kepribadian saya akhirnya pelan-pelan berubah dan mulai terbuka. Manusia-manusia di sekitar saya menyadari bahwa memang pola berpikir saya berbeda melalui referensi buku bacaan saya. Walau tak jarang juga bila di suatu sore di depan Gedung 2 Kampus ada yang suka memperkarakan hal-hal aneh, entah itu menyoal ketuhanan atau keimanan. Tak usah jauh-jauh, kala mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya pun berseteru dengan rekan saat menyampaikan pendapat saya mengenai kegiatan ibadah.

Pada akhirnya, buku tidak hanya mempertemukan saya dengan dunia tapi juga memperkenalkan saya dengan sederet manusia. Lewat buku saya bertemu dengan ragam orang dan lewat buku pula saya bisa memahami karakter mereka. Karena buku bacaan yang kita segani merupakan cerminan dari watak pribadi kita sendiri.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *