Jurnal #12: Sepuluh Ribu Rupiah

Suatu hari ada pesan masuk ke dalam akun saya di website yang mempertemukan antar pekerja lepas atau istilah bekennya “freelancer” dengan klien. Isi pesan itu menawari saya pekerjaan, kira-kira begini isinya: Halo budget kami 1 juta untuk 100 artikel, masing-masing @850 kata. Temanya SEO, Sosmed, Email Marketing, dll. Tinggal cari sumber artikel luar dan menuliskan kembali ke dalam bahasa Indonesia.

Selepas membacanya, saya biasa-biasa saja melihat penawaran demikian sebab diawal berprofesi sebagai penulis lepas pernah saya hanya dihargai Rp4.860,00/tulisan dengan minimal 500 kata. Sejak itu saya kapok-se-kapok-kapok-nya, mikir seribu kali sebelum menerima pekerjaan yang berhubungan dengan penulisan.

Mula-mula saya berpikir – apakah itu memang harga pasar untuk seorang penulis, terutama jasa penulisan SEO? Paling mentok dihargai sepuluh ribu rupiah, itupun dengan tuntutan menulis 10 sampai ratusan artikel. Seperti juga penawaran diatas, harga satu juta itu bahkan belum termasuk dipotong pajak yang diberlakukan pihak website (yang menurut saya fair).

Adalah waktu yang tak pernah diperhitungkan para pencari jasa penulisan ini. Waktu untuk mencari sumber, mengolah data, dan menuangkannya ke dalam kalimat yang rapi dan sesuai EYD. Adalah SEO yang kemudian membuat tulisan murah – sebab kini menulis tak lagi menyoal indahnya rima kata tapi berapa banyak kata kunci yang bisa disematkan demi meraih peringkat teratas di Google. Adalah jumlah kata yang selalu menentukan harga sebuah artikel yang sering tak manusiawi. Tapi patutkah kita menyudutkan para klien-klien dermawan ini?

Penulis Juga Bersalah

Saya pernah terjebak didalam dilema: belum memiliki portofolio tulisan yang mumpuni dan tidak mungkin memasang harga mahal. Mau tak mau saya terimalah pekerjaan menulis yang menaruh harga dibawah Rp10.000/artikel. Setiap menulis ada getir dalam hati saya, bahwa suka tidak suka: saya menulis ala kadarnya, yang penting jadi, ada kata kunci, dan sesuai minimal jumlah kata.

Bahkan sering tak rela bila tulisan melebihi jumlah kata dan akhirnya berkutat kepada cara untuk menghemat penggunaan kata dalam satu paragraf. Lambat laun saya semakin gerah pada kenyataan: portofolio telah saya miliki, ulasan baik dari klien ada tetapi lowongan pekerjaan menulis dan tawaran selalu berkutat disitu – SEPULUH RIBU RUPIAH. Dan saya menyadari, penulis-penulis yang telah bergelimpangan jobs selalu mengambil pekerjaan jenis itu. Menulis 10 artikel untuk harga sebaik-baiknya Rp130.000,00.

Alasannya lagi-lagi tak jauh dari: kata kunci SEO dan template. Penulis model ini sudah memiliki bagan tulisan yang hanya tinggal meletakkan kata disana-sini, diganti ini-itu dan yang penting enak dibaca. Maka jangan kaget, bila artikel-artikel daring isinya gak jelas semua. Terkadang bisa juga cuman hasil terjemahan Google yang di-copypaste begitu saja. Buset…

Adakah perubahan yang telah saya lakukan? YA. Saya berhenti fokus mencari uang. Walau suka mikir, “kalau seratus ribu itu ditumpuk juga lama-lama jadi sejuta, kalau sejuta itu juga ditumpuk lama-lama jadi sepuluh juta”, sambil menghisap sebatang kretek di bawah rembulan. Tapi sampai kapan? Berapa jutaan artikel tidak berkualitas yang mesti saya hasilkan untuk meraih pundi-pundi uang itu? Belum lagi rasa kecewa dan kesal liat hasil tulisan sendiri.

“Terus kenapa gak nulis aja dengan bagus walau dibayar murah?” – UDAH. UDAH DICOBA. Tapi capek sendiri dan dongkol. Bikin gak sehat jiwa, udah keringetan nulis, nyari referensi dari sana sini, buka KBBI dan Thesaurus buat banyakin kata-kata baru. Uang yang cair ke rekening cuman SEPULUH RIBU. (ya tidak sepuluh ribu karena rata-rata saya nulis puluhan artikel, silahkan kalkulasi sendiri).

Saya akhirnya menyalahkan diri sendiri dan mulai selektif memilih pekerjaan. Ada masa dimana satu minggu menganggur atau pernah juga sebulan karena daftar lowongan penulisan isinya bikin saya mau koprol di tengah jalan.

Apakah harga saya membaik? YA. Saat ini seminimal-minimalnya saya menulis dengan harga Rp50.000,00/artikel dan tak jarang juga Rp100,000,00. Saya juga memilih tema yang dibahas, disesuaikan dengan kefasihan saya. Dan hampir semua tulisan saya tidak ada sangkut pautnya dengan teknik SEO.

Pada akhirnya, kembali lagi, penulis lah yang harus cerdas dalam memilih pekerjaan. Harus berani menghargai dirinya sendiri. Buat penulis-penulis lepas di luar sana, jangan pernah merasa rendah dengan kualitas dan hasil tulisan kalian. Saya selalu bilang pada diri saya sendiri, “tulisan saya memang masih jauh dari kata sempurna tapi bukan berarti murahan.”

Leave A Response

kukuh giaji

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *