JURNAL #2 : Kabut Kelam di Tana Toraja

Malam semakin larut semenjak kepergian kami dari Taman Batu Karst. Perjalanan kali ini ternyata tidak semulus tadi. Kabut mendadak menerjang disusul hujan deras dan petir menggelegar. Rute ke arah Rantepao tidak dapat dibayangkan epiknya, curam dan jurang terjal di sisi kanan dan kiri. Lalu lintas berkelok-kelok. Menanjaki pegunungan adalah medan yang harus kami hadapi.Pengendara mobil kali ini adalah mas Farid yang tampaknya sudah terbiasa berada di medan securam ini. Fast and Furious adalah motonya. Permainan tangan memainkan kemudi dengan cepat bergulir, mengikuti belokan jalan. “Kabut tidak setebal ini biasanya”, katanya sambil bergumam. Sepanjang perjalanan pikiran saya terus menari-nari, bukan mengenai apakah kami akan sampai dengan selamat atau tidak? , lebih kepada bagaimana kalau mendadak terjadi hal-hal mistis di tanah orang ini.

Pepohonan berakar mendominasi wilayah yang terkadang malas juga saya layani – entah itu suasananya atau ada yang terkadang seolah-olah memangil. Tak ayal, headset lengkap dengan lagu bervolume keras menemani kuping saya hingga akhirnya kami mendarat di salah satu tempat makan.

Inilah momen spiritual pertama saya. Sebuah tempat makan yang sepi dan tenang walau sayang di selimuti kabut hingga tak dapat menampakkan keindahan tanah yang subur tetapi saya cukup terhibur dengan aneka serangga menggerogoti kekayuan yang menjadi penyangga bangunan berbentuk persegi ini.

Jangan bayangkan, momen spiritual layaknya melihat hantu atau berkomunikasi dengan sebangsanya. Kalau seperti itu, sudah sampai bosan setengah mati saya ladeni. Momen spiritual buat saya adalah kesendirian dan ketenangan lahir batin dan di titik ini saya menemukannya. Saya agak berdiam lama di sebuah pematangan bebungaan walau gelap dan nyaris tak terlihat saya bisa merasakan beragam suara serangga yang saling sahut menyahut.

Kami menghabiskan sekitar tiga puluh menit untuk makan tidak lupa juga menyeruput kafein agar dapat kembali menegangkan semua panca indera. Perjalanan kembali kami tempuh dan mendadak suasana kengerian bersambut. Kabut sangat tebal menghampiri bahkan sejauh mata memandang tidak ada apapun yang dapat terlihat. Bermodalkan guts feeling tampaknya mas Farid percaya untuk tetap menekan pedal gas pelan-pelan. Mungkin hanya sekitar satu atau dua menit kami menembus kabut itu tetapi percayalah, itu adalah momen paling menegangkan dan lucu dalam hidup saya.

Sekitar dua jam setelah itu kami akhirnya sampai di pintu gerbang wilayah kabupaten Rantepao, bagian Utara Toraja.

Rantepao : Pusat Penginapan Para Turis

Satu hal yang bisa saya katakan untuk Rantepao, “Banyak sekali penginapan disini!”.

Penginapan bertebaran di sana sini dimulai dari guest house, hotel bintang 1 hingga bintang 5. Menurut bang Tomo dan mas Farid, kota ini dijadikan lokasi penginapan untuk pergi ke Tana Toraja karena letaknya yang dekat (hanya memakan satu hingga satu setengah jam) juga makanan halal yang masih dengan mudah ditemukan. Tidak seperti di Toraja, konsumsi daging babi dan anjing lebih didominasi oleh karena itu untuk menghindari hal-hal demikianlah Rantepao menjadi lokasi ideal untuk bermalam bagi para pengunjung.

Waktu telah menunjukkan 12 malam karena sepertinya kedatangan kami di luar prediksi, bung Tomo sesegera mungkin mencari penginapan. Dari penginapan satu ke penginapan lain. High Season membuat banyak penginapan telah penuh tetapi nasib beruntung masih dikehendaki yang maha semesta, kami masih dapat bermalam di sebuah guest house sederhana dan nyaman.

Batutumonga : Sial Ada Kabut!

Rencana awal adalah kami akan mendapatkan sunrise di puncak tertinggi Toraja, lereng gunung Sesean. Kenyataannya gerimis mengakibatkan matahari urung untuk menunjukkan suryanya. Maka, kami memulai perjalanan sekitar pukul sembilan pagi karena menilai terlalu berisiko datang pagi hari namun malah tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

Perjalanan dari Rantepao menuju Batutumonga hanya memakan tiga puluh menit saja. Sepanjang jalan saya melihat makam-makan kuno berasal dari bebatuan. Salah satu adat di Toraja adalah meletakkan mayat yang diawetkan di dalam batu besar, variasi ukuran batu dipengaruhi oleh status sosial masyarakatnya. Semakin megah maka semakin bangsawan lah dia. Garis keturunan menjadi salah satu ukuran utama untuk memilih lokasi penguburan.

Namun kesialan kami datang dengan adanya longsor yang menyebabkan jalan tertutup dan menghambat laju mobil. Untungnya, beberapa warga lokal telah bahu membahu untuk membersihkan longsor tersebut, dengan hanya membayar upah dua puluh ribu rupiah untuk kerja keras mereka kami dapat kembali melanjutkan perjalanan.

Batutumonga
Kabut di Batutumonga

Hanya sekitar lima menit kami telah mendarat ke lokasi yang telah disediakan oleh bung Tomo. Posisi ini diyakini dapat membuat kami melihat hamparan luasnya Tana Toraja dan merekam eloknya lekukan pegunungan yang mengitari wilayah ini. Tapi sial ada kabut!. Kabut besar menerjang dan gerimis mulai menjatuhi daratan. Bermodal nekat saya – bung Tomo dan mas Farid tetap asik berjalan mengitari perbukitan, menelusuri celah-celah kecih, agar dapat turun ke satu tempat dengan batu besar menancap kokoh di situ. Tak luput pekikan babi liar berwarna hitam dengan tanduk kecil mengiringi langkah kaki kami.

Rumah-rumah penduduk umumnya berbentuk Tongkonan, rumah adat tradisional Toraja. Kami beristirahat di tempat penduduk yang memiliki warung kecil. Sempat bercakap-cakap pula. Lucunya, seorang remaja perempuan menimpali perkataan saya kepada ibu yang selalu menjerit meminta turun karena phobia ketinggian. “Ibu-ibu jaman sekarang mah sukanya nonton sinetron aja mas, terus ke pengaruh deh jadi malas”, lontarnya. Sontak saya tertawa keras mendengar itu.

Mungkin jarak antara Jakarta hingga Toraja bisa beribu-ribu kilometer tetapi ini adalah bukti eksistensi kecil dari bagaimana pengaruh dampak televisi terhadap masyarakat.

Makam Kuno Toraja : Hidup untuk Kematian

Destinasi kami selanjutnya adalah Kete’Kesu dan Lemo, makam gua batu di Toraja Utara. Lokasinya menyatu dan berada diDesa Pangden, Kecamatan Mengkendek. Objek wisata Lemoidentik dengan batu besar yang menjulang tinggi dan berlubang berisikan mayat yang diawetkan. Tempat ini menjadi salah satu lokasi terpopuler untuk di kunjungi.

Kete' Kesu
Kete’ Kesu

Kete’Kesu sendiri tidak terlalu memiliki daya tarik bagi saya karena sedang mengalami renovasi sehingga rumah-rumah adatnya masih berantakan. Tetapi saya bersyukurnya bisa melihat bagaimana proses rekonstruksi rumah adat Tongkonan karena ternyata rumah yang terbuat dari bambu ini sulit sekali di rakitnya. Ciri khas setiap rumah terletak dari cula kerbau yang terpasang di depan rumah. Semakin banyak dan menjulang tinggi maka status sosial pemiliknya akan dinilai besar.

Makam gua batunya sendiri terletak tidak jauh dari Kete’ Kesu namun apabila ingin memasuki gua saya harus menaiki tangga yang sedikit licin karena gerimis terus mengguyur sedari pagi tadi. Kerumunan anak kecil tiba-tiba sontak meneriaki saya dan bang Farid, “bagi rokoknya dong bang!”, kata salah satu anak laki-laki berumur kisaran sepuluh tahunan. Teriakan tersebut kemudian bersahutan antara satu anak ke anak lainnya.

Jadi, dipikir-pikir pemberitaan tentang anak balita merokok hingga puluhan batang beberapa tahun lalu tidak cukup membuat para orang tua lebih waspada terhadap dampak merokok. Nyatanya, disini dimata saya merokok sedari kecil sudah seperti kegiatan lumrah layaknya bayi minum ASI kepada ibunya. Daripada memusingkan hal tersebut, saya akhirnya pelan-pelan menaiki anak tangga dengan deretan sebelah kirinya berisikan peti mati dan kerangka manusia.

Kegiatan mendaki anak tangga ini lumayan cukup menegangkan mengingat selalu banyak kejadian buruk menimpa saya di tempat-tempat spiritual seperti ini, entah itu terpeleset, terjatuh, atau lebih horornya lagi ada yang diam-diam mengikuti. Dengan modal nekat sambil menggenggam penyangga dari besi, saya akhirnya sampai di bibir gua dan ternyata untuk masuk ke dalamnya dikenakan biaya sebesar 25.000 untuk tour guide. Lucu juga, saya ternyata akan dipandu oleh anak kecil yang juga ikut merengek-rengek rokok di bawah tadi. Dimulailah penelusuran di dalam gua tersebut bersama dia.

*

Gelap menerjang begitu kami memasuki mulut gua. Asal cahaya hanya berasal dari lampu minyak yang dibawakan oleh si anak kecil berpakaian abu-abu itu. Ke dalaman gua ini mencapai 1000 meter namun karena alasan rawan kami hanya akan menjelajah sejauh 200 meter saja. Sialnya, efek gerimis membuat gua menjadi lebih licin apalagi dipenuhi oleh stalagtit dan stalagmit ini. Di beberapa bagian, kepala saya terkatuk akibat tinggi gua hanya sekitar satu meter hingga saya diharuskan membungkuk.

Anak kecil di depan saya dengan lihai sambil membawa lampu minyak berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan saya mengikuti dari belakang. Sempat saya tergelincir akibat licinnya batu yang saya pijaki hingga membuat celana jeans saya pastinya kotor dengan level: mengkhawatirkan.

Ada satu nuansa yang tidak dapat saya lupakan. Pekikan kematian bagi mereka yang tertinggal disini. Entah apa tapi ada rasa kesedihan selama saya berjalan menyusuri gua kecil ini. Beberapa kali sang anak menawarkan untuk berhenti sesaat dan memfoto beberapa peti mati tapi perasaan saya masih bekerja saat itu. Entah apapun itu lagi-lagi saya hanya ingin merekam memori ini cukup sampai di pikiran saya tidak perlu ada sepotong gambar – saya tidak butuh itu.

Maka, kaki ini terus melangkah hingga sampailah kami di ujung gua yang sebenarnya masih bisa kami teruskan. Oleh sang anak lampu minyak itu kemudian digunakan menerangi seluruh dinding gua, terlihat banyak tulisan nama-nama orang terukir. Saya sama sekali menyayangkan mengapa ada yang bertindak demikian. Di sebuah gua kecil ini, tempat kematian berada malah dijadikan ajang mengukir nama yang cukuplah dilakukan pada pohon rindang saja. 

Sontak saya bertanya, “Memang boleh yah nulis-nulis kayak gini?”.

“Enggak kak, biasanya sih pamali ada akibatnya,” jawabnya dengan ragu-ragu.

“Apa tuh?” kembali saya bertanya.

“Biasanya sih kesurupan kak habis pulang.”, dia bergegas untuk keluar dari gua tersebut dan terlihat malas untuk mengungkit kisah-kisah berbau mistis di dalam gua ini. Saya tidak menyalahkannya apalagi ketika sekelebat dari kejahuan saya melihat sesosok raksaksa berdiam diri menjaga tempat ini. Dengan langkah cepat kami keluar.

*

Ekspedisi di Lemo berakhir dengan hanya saya sendiri yang mengeksplorasi bahkan ketika menuruni anak tangga ada sepasang pria asing memberikan kabar bahwa telah lama saya ditunggu oleh rombongan dan hendak untuk melanjutkan perjalanan. Mendung semakin gelap, gerimis perlahan-lahan menjadi lebih hebat. Kini saya telah tahu, kami berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan perjalanan mengelilingi makam gua di Tana Toraja.

Kisah Cinta Terasingkan di Londa

Saya tidak pernah begitu menyangka bahwa kematian yang biasa disambut dengan tangis malah menjadi sebuah hal paling dinantikan. Hidup untuk mati , istilah umum bagi para suku Toraja. Maka tak ayal masyarakat berlomba-lomba merayakan hari kematiannya dengan mewah. Selain upacara salah satu daya tariknya adalah lokasi penguburan. Setiap status sosial berbeda tempat, Londa adalah salah satu kuburan yang diperuntukkan untuk kelas bangsawan. Kuburan yang dibentuk di dinding bukit ini menyimpan patung kayu (tao-tao) sebagai representasi bagi mereka yang sudah meninggal. Pembuatan tao-tao pun harus memenuhi persyaratan adat, tidak sembarang orang dapat dibuatkan patung itu.

Lagi-lagi kami dihadapkan dengan gua yang harus diselusuri. Untungnya, kali ini tidak hanya saya sendiri tetapi semua ikut serta untuk melihat penampakan peti mati berisikan tengkorak maupun mayat yang baru saja diawetkan. Tidak selicin dan semengerikan di Lemo malah Londa lebih bersahabat untuk di jelajahi. Di tengah-tengah eksplorasi, sang pemandu menyampaikan sebuah legenda Romeo and Juliet nya Toraja.

Dengan antusias, beliau menceritakan bahwa sepasang tengkorak yang tengah kami saksikan tersebut adalah pasangan kekasih yang tidak direstui kisah cintanya karena masih berapa dalam satu keluarga bangsawan akibatnya hubungan mereka dilarang oleh leluhur. Pasangan kekasih yang bernama Lobo dan Andui ini kemudian memutuskan untuk gantung diri bersama

Akhirnya, keluarga menyetujui untuk melakukan pemakaman di bukit Londa.

Setelah menikmati kebudayaan yang baru itu kami memutuskan untuk berpulang dan mengakhiri kegiatan walaupun sebelumnya Kambira dan Suaya adalah target destinasi tapi apa daya keluhan orangtua menjadi keutamaan kami. Jaraknya pun terbilang jauh dari Londa dengan rute berkelok-kelok.

Masapi di Tilanga 

Ternyata sebagai pengganti Kambira dan Suaya, kami sekeluarga dibawa oleh bung Tomo menuju Tilanga, sebuah kolam dengan kejernihan air luar biasa birunya. Tidak terlalu banyak yang dapat diceritakan dari tempat ini selain pemandangannya dan kesegaran udaranya.

Salah satu legendanya konon ada binatang air, yaitu ikan Moa (belut) besar. Sebutan itu digunakan untuk ikan Masapi. Beberapa anak kecil bersahutan untuk meminta saya membelikan mereka telur bebek agar masapi dapat keluar. Mereka mengatakan bahwa ukurannya besar sekali namun karena saya tidak ingin nantinya uang itu digunakan membeli rokok akhirnya urung juga memberikan mereka uang. “Toh cuman ikan”gumam saya dalam hati.

Hanya sekitar sepuluh menit kami disana.

Sepanjang perjalanan ke penginapan saya merasa ada yang kurang. Semua terkesan biasa saja. Mengunjungi satu tempat ke tempat lain. Ah!, belum satu kali pun saya berjumpa dengan orang baru yang dapat diajak berbicara sesuka hati agar menceritakan kisah mereka, mendapatkan ironi langsung mengenai Toraja dan apa yang sesungguhnya terjadi di sini. Mendadak teringat lagi saya dengan obrolan singkat ibu pemilik warung di Rammang-Rammang. Saya rindu berbicara dengan orang baru yang penuh kisah. Walau pahit saya belajar banyak hal dari situ.

Bagian Kedua,

Kisah Sulawesi Selatan

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *