JURNAL #3 : Malam di Rantepao

KETIKA aku sedang asik bercengkrama dengan diri sendiri sembari ditemani secangkir kopi hangat tiba-tiba saja Bung Tomo dan Mas Farid menghampiriku yang sedang asik duduk sendirian di kursi rotan kayu depan kamar penginapan.

“Mau keluar mas?, cari kopi?”, ujar Bung Tomo.

Dengan langkah sigap segera aku memberikan sinyal persetujuan dan kami bertiga bergegas keluar dari penginapan. Kopi Toraja adalah salah satu kopi terfavoritku mana mungkin aku menolak untuk mengeksplorasi lokasi ini yang disinyalir adalah surganya kopi di Indonesia. Mobil yang telah diistirahatkan selama beberapa jam itu kini harus siap kembali menampung kami untuk mengitari Rantepao padahal waktu telah menunjukkan pukul delapan malam.

Mayoritas penduduk di kota ini memang Nasrani sehingga sangat wajar sudah sepi jalanan bahkan beberapa warung telah tutup karena esok hari adalah perayaan misa. Tanpa patah semangat kami terus mencari hingga sampailah pada sebuah ruko kecil yang di depannya tersajikan biji kopi yang telah diroasting.

“Permisi”, dengan santun Mas Farid memasuki ruko itu. Seorang bapak tua berpakaian seadanya menyambut kami dengan hangat. Mas Farid memperkenalkan saya sebagai orang Jakarta yang hendak mencari kopi di Tana Toraja. Karena sesama penggemar kopi kami berempat langsung cepat akrab.

Bapak itu bernama Jaya. Umurnya sekitar lima puluh tahunan dengan fisik segar bugar. Uban sudah mendominasi rambutnya beserta keriput di wajahnya namun semangat geloranya dalam bercerita mengenai pengalaman hidupnya sangat luar biasa.

Siapa sangka malam itu akan menjadi malam paling fenomenal untuk saya – mendengarkan kisah langsung warga Sulawesi Selatan yang berjuang mendobrak norma masyarakat walau akhirnya terasingkan dari keluarganya sendiri.

Klise memang – karena cintalah dia melakukan hal demikian. Lagi-lagi cinta sesuatu yang masih belum bisa dijelaskan oleh akal sehat karena semua masih rahasia semesta.

Pak Jaya kemudian bercerita bahwa ternyata dia orang asli Makasar malah dari suku Bugis. Mas Farid langsung tertawa terbahak-bahak karena menyadari aksen dan  raut muka pak Jaya sama sekali tidak ada keturunan dari Tana Toraja. Mas Farid sendiri berasal dari suku bugis sehingga suasana keakraban semakin nyata.

Pak Jaya lalu mulai menceritakan masa lalunya kepada kami sambil menunggu segelas kopi Toraja Sapan yang kata beliau adalah kopi terbaik dari Tana Toraja. Sambil menunggu kopi itu disajikan aku mendengar setiap kisah hidupnya yang membuatku sangat kagum dengan keberanian dan keputusan gilanya.

MUNGKIN ini merupakan kisah yang telah terjadi sekian lama tetapi tidak dapat dia lupakan untuk terus dikenang karena keputusan gilanya itu telah membawanya kepada sebuah kebahagian yang kekal. Sebut saja namanya Jaya – seorang pemuda asli makassar suku Bugis yang mempunyai pandangan mengenai dunia sangat berbeda dari lingkungan kesehariannya.

Semua dimulai dari penolakannya untuk dijodohkan dengan sepupunya, Ayu. Adat suku Bugis sendiri memang mengatur adanya pernikahan sesama sepupu melalui sistem derajat satu (Assialang Maola), derajat kedua (Assialanna Memang), dan derajat ketiga (Ropaddeppe’ Abelae). Idealnya memang pernikahan dilakukan dengan sedarah dari lintas angkatan atau generasi agar tetap mempererat tali kekeluargaan. Tetapi Jaya menolak itu dan merasakan bahwa pernikahan semacam itu tidaklah ideal bagi dirinya.

Sebagai seorang anak lelaki maka keputusan itu adalah pukulan terbesar untuk kedua orangtuanya. Lantas Jaya memilih untuk kabur dari tuntutan, dari kecaman, dari keinginan-keinginan yang tidak berlandaskan hati nuraninya.

Dirinya memilih untuk mengasingkan dan akhirnya terasingkan oleh keluarganya sendiri.

AKU tertegun mendegar cerita itu. Bayangkan ibuku seorang warga suku Bugis saja tidak pernah menceritakan tentang adat istiadat itu kepadaku. Darahku berdesir sangat kuat untuk mengetahui proses pelariannya.

Anak perempuannya tiba-tiba membawakan beberapa cangkir kopi kepada kami yang sedang asik mengobrol dengan ditemani kepulan asap rokok. Masih panas dan bisa aku lihat ada kesalahan dalam proses pembuatannya. Warnanya terlalu gelap dan body nya kental. Tidak masalah karena sekarang tujuanku bukan kopi lagi tetapi mendengarkan kisah hidup pak Jaya.

DIA melanjutkan bercerita. Untuk beberapa lama hidupnya luntang lantung. Menumpang hidup dari satu teman ke teman lainnya. Dimulai berkerja sebagai kuli hingga kerja serabutan apa saja. Sampailah dia bertemu dengan Maria, seorang wanita dari Rantepao yang membuatnya jatuh hati karena kesederhanannya. Maka dengan menggebu-gebu dilangsungkanlah pernikahan dan dia menetapkan keputusan untuk menetap di Rantepao.

Dia menjelaskan kepada kami apa yang membuatnya jatuh cinta kepada kota kecil ini. “Rantepao adalah tempat yang menurut saya paling damai karena setiap warganya saling menghargai keyakinan satu sama lain. Mungkin mayoritas nasrani tetapi percayalah semua saling membaur dan menghormati sehingga tiada kerusuhan yang berarti. Tidak ada bentrok seperti ibu kota kita yang kerap kali mengelu-elukan nama besar kepercayaannya. Itulah yang membuat saya mencintai tempat ini dan tidak ingin pergi.” Beliau mengatakan itu dengan mata yang memancarkan ketulusan dan kebesaran hati.

Buat dia inilah rumahnya.

Buat dia inilah cintanya.

Buat dia inilah tempat kematian yang tepat untuknya.

Aku merasakan itu dari setiap kata-katanya. Malam itu tidak dingin namun malah menjadi semakin hangat bukan karena kopi yang sedang aku teguk namun karena kehangatan seorang pak Jaya yang menyambut kami dengan tangan terbuka.

LANTAS aku kemudian bercerita mengenai pemikiran-pemikiranku yang dia sebut sebagai ‘Paham Liberalisme’ walau jelas aku menolak konsep itu karena menurutku sendiri mengkotak-kotakkan pandangan seperti itulah yang menyebabkan banyaknya perpecahan aku lebih suka menyebutnya sebagai ‘Humanis’.

Dengan panjang lebar aku bercerita mengenai konsep pernikahan yang menurutku omong kosong karena tidak hanya antar dua manusia saja tetapi juga melibatkan pertalian antar keluarga. Semua menjadi serba memusingkan dan lagi ‘apakah penting untuk menikah? kalau masih saja ada kemungkinan-kemungkinan berakhir tidak bahagia?’. Bagaimana mengenai tuntutan nikah muda dan kemudian membangun rumah tangga bersama-sama yang terdengar sangat konyol bagiku.

Mereka bilang pernikahan membawamu pada kebebasan tetapi menurutku malah menjadi semacam jeruji yang mengekangmu untuk bergerak.

Mereka bilang pernikahan digunakan untuk menghalalkan naluri hewanimu tetapi menurutku tubuhmu adalah milikmu dan kamu berhak memutuskan hasrat seksualmu sendiri.

Mereka bilang pernikahan adalah salah satu tiang agama tetapi benarkah begitu? menurutku semakin terkekangkah mereka yang beragama dalam memutuskan jalan hidupnya sendiri. Mungkin __.

Pak jaya mendengarkan itu dengan seksama dan kemudian menimpali bahwa aku terpengaruh oleh budaya barat. Ah lagi-lagi itu; Pengkotak-kotakan pandangan. Aku terdiam dan hanya mengangguk sambil tersenyum lalu memaksa memasukkan kopi yang rasanya aneh itu ke dalam kerongkonganku semata-mata untuk menunjukkan rasa hormat dan santunku kepada dia sebagai tuan rumah.

Baik Bung Tomo dan Mas Farid tertawa mendengarkan semua itu karena mengingat betapa sering pertengkaran terjadi antara aku dan ibu apabila sedang membicarakan topik pernikahan. Mungkin kini mereka mengerti betapa aku ingin sangat melajang. Karena ‘kebebasan’ adalah satu-satunya ambisiku.

SETELAH cukup lama sunyi menemani kami, pak Jaya melanjutkan cerita mengenai  Toraja yang sudah kehilangan otentik kebudayaannya. Salah satunya adalah Tongkonan – rumah adat Toraja.

Tongkonan umumnya terdiri atas susunan bambu dimana bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau yang menjadi simbolik stasus sosial pemiliknya. Kata pak Jaya dahulu kala lumut yang semakin tebal menutupi atap yang melengkung menyerupai perahu itu adalah kebanggaan tersendiri bagi si empunya rumah. Tetapi kini lihatlah? atap seng dimana-mana! dengan alasan perkara lebih murah dan tidak memakan waktu untuk membuatnya.

Belum lagi pesta adat kematian – Rambu Solo’. Dulu untuk melaksanakannya perlu petuah dari sesepuh. Tidak banyak masyarakat yang dapat merayakannya secara besar-besaran semua diatur dari darah kebangsawanan mereka tetapi karena banyak OKB (orang kaya baru – red) semua beramai-ramai untuk menunjukkan kekayaannya. Padahal dalam agama Aluk, hanya bangsawan saja yang dapat merayakan pesta secara besar-besaran. Kini Rambu Solo’ bukan lagi perihal menunjukkan kuatnya adat istiadat, bukan lagi berbicara mengenai dunia spiritual, bukan lagi untuk menghargai mereka yang telah tiada. Tetapi hanya berbicara mengenai harta dan tahta. Sombong dan rakus lama-lama menggerogoti mereka yang diam-diam menyimpan cinta terhadap harta dunia. Mungkin__. Saya percaya tidak semua bersikap demikian.

Sejatinya, suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba melainkan sebuah proses yang bertahap menuju ‘puya’ – akhirat. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai pemakaman selesai karenanya dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan.

Pak jaya kembali bercerita bahwa dalam upacara kematian juga akan berlangsung pemotongan kerbau yang disebut sebagai Ma’ Tinggoro. Upacara tersebut adalah ciri khas masyarakat Toraja yang dimana prosesi pemotongan hanya dengan sekali tebas, biasanya kerbau yang hendak disembelih akan ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu.

Maka dari itu diperlukan persiapan hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melaksanakan Rambu Solo’ karena memakan biaya yang sangat besar.

SEJENAK aku tertegun menerka-nerka tentang semua penuturannya. Betapa luar biasanya kebudayaan milik Toraja walau sayang pelan-pelan semua berubah karena dipengaruhi faktor zaman tetapi tetap saja ada suatu rasa kebanggaan bagaimana prosesi ritual tersebut masih dipertahankan oleh masyarakat setempat.

Aku akhirnya menyudahi meminum kopi yang mulai menggaburkan indra perabaku itu. Kami akhirnya berpamitan karena ternyata waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Satu jam lebih telah berlalu hingga kami tidak menyadarinya.

Kuputuskan untuk membeli green beans Sapan darinya untuk sahabatku, Ragil.

Malam semakin menyingsing. Sepi semakin ramai. Kisah ini akan aku simpan hingga akhir hayatku.

Bagian Ketiga,

Kisah Sulawesi Selatan

Cerita ini berdasarkan kisah nyata namun ada beberapa yang dikaburkan dan dilebih-lebihkan. Penokohan nama disadurkan demi kerahasian informasi narasumber.

 

 

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *