JURNAL #4 : Catatan Selepas Menghadiri Limited Screening Spirited Away

Pasca penayangan Spirited Away dan sambutan kehadiran Toshio Suzuki di Plaza Senayan XXI, Jakara (20/08/2016).

Jakarta (20/08/2016) – Sebelumnya, saya tidak pernah menyangka akan diberikan kesempatan untuk hadir dalam Limited Screening Spirited Away dan bertemu dengan sang legenda, Toshio Suzuki sensi hanya dengan berbekal mengisi sebuah survey dari Kaninga Pictures. Kenyataanya, survey tersebut diikuti oleh 3.564 orang yang berarti peruntungan untuk menjadi salah satu dari 150 orang yang beruntung untuk menghadiri penayangan terbatas itu sekitar 4.2%. Maka, mau tidak mau keberuntungan adalah salah satu faktor utama untuk mendapatkan kesempatan itu dan saya adalah salah satu dari 150 orang beruntung lainnya.

Studio Ghibli, Inc.  merupakan salah satu rumah produksi animasi berasal dari Jepang. Pertama kali didirikan pada 15 Juni 1985 setelah sukses melahirkan film animasi Nausicaä of the Valley of the Wind (1984). Ghibli dibangun oleh tiga orang, yaitu Hayao Miyazaki, Isao Takahata, dan Toshio Suzuki. Namun sayangnya, saat kunjungan ke Jakarta untuk kali pertama ini, hanya Suzuku Sensi yang berkesempatan untuk hadir.

Pemilihan Spirited Away (2001) sebagai film yang ditayangkan kali ini bukan tanpa sebab, karena dibandingkan dengan semua karya Ghibli lainnya, film ini menyentuh pendapatan terbesar dengan nilai mencapai $290 juta. Bahkan memenangkan penghargaan sebagai Best Animated Feature Film pada tahun 2003 diajang kompetisi bergengsi Academy Award.

Spirited Away menceritakan tentang anak perempuan bernama Chihiro Ogino yang tanpa sengaja terjebak di dunia roh akibat kedua orangtuanya menjadi babi setelah memakan makanan untuk para arwah dan dewa tanpa izin. Chihiro akhirnya bekerja di tempat pemandian bagi para mahluk spiritual setelah memaksa meminta pekerjaan dari Yubaba dengan syarat namanya diganti menjadi Sen. Film animasi ini ditulis dan sutradarai oleh Hayao Miyazaki.

Antusisme para pemenang Limited Screening Spirited Away with Toshio Suzuki di Plaza Senayan XXI, Jakarta (20/08/2016)

Suasana antusias untuk menghadiri penayangan terbatas itu ditunjukkan oleh beberapa fans secara luar biasa dengan membawakan berbagai macam hadiah kepada Suzuki Sensei yang kebetulan berulang tahun ke 68 saat itu. Dimulai dari membawakan rokok khas Indonesia hingga tumpeng buatan sendiri. Beberapa orang dari luar Jakarta pun rela untuk menghadiri acara ini dengan semangat yang luar biasa belum lagi para fans yang bersedia hadir walau tidak memenangkan kontes asal dapat bertemu dengan sang legenda.

Rangkaian acara kunjungan Suzuki Sensi ini sebenarnya tidak hanya berupa penayangan Spirited Away secara terbatas melainkan sehari sebelumnya digelar gala dinner (19/08/2016) yang diadakan di Plataran Dharmawangsa bertajuk “A Fine Evening with Studio Ghibli” dihadiri oleh tamu undangan khusus. Melalui penelusuran media sosial, terdapat Dennis Adhiswara, Sherina Munaf, M. Istiqomah Djamad, dan Afgan Syahreza yang menghadiri gala dinner tersebut.

Tentunya, saya yang telah antusias pada acara esok harinya berekspektasi sangat besar, seperti dengan adanya booth merchandise atau souvenir langsung dari Museum Ghibli di Jepang atau setidaknya Signing yang sama dengan gala dinner. Sayangnya acara hanya berupa pemutaran dikarenakan waktu kegiatan hanya selama tiga jam ditambah Suzuki Sensei harus sesegera mungkin mengejar keberangkatan pesawat. Beberapa fans pun berdesak-desakan agar meminta tanda tangan dan menciptakan suasanaya yang tidak kondusif. Saya sendiri lebih memilih duduk anteng karena masih terlena dengan pengalaman menonton Spirited Away pada layar yang besar dan semakin mencintai setiap detail, warna dan gambar dari salah satu karya terbaik Ghibli ini.

Saya dan Film Ghibli


Saya ingat betul kali pertama bersinggungan dengan film Ghibli dimulai semenjak sekolah menengah pertama dan film pertama yang saya tonton adalah Grave of  The Fireflies (1988) yang menceritakan tentang sepasang saudara pada zaman perang dunia kedua. Bermodalkan bahasa inggris pas-pasan dan rasa penasaran terhadap film animasi yang disaat itu tengah hits ditayangkan di stasiun televisi  swasta setiap pekannya, saya hanya berpikir kalau film yang saya beli dipinggir jalan itu hanya tentang baku tembak seru ternyata air mata saya meleleh habis-habisan menontonnya. Bahkan hingga terakhir kali saya menonton Grave of  The Fireflies ketika kuliah (entah untuk keberapa kalinya), saya masih menangis bahkan lebih ironi karena kini saya sudah mengenal betul mengenai perang dan keegoisan manusia.

Semenjak saat itu saya semakin lebih mencintai film animasi bahkan hingga saat ini film dengan model 3-D tidak mampu menggugah hati saya. Mungkin Disney maupun Pixar mampu membuat saya menangis dengan film-filmnya, seperti Up (2009), Wall-E, (2008), Trilogy Toy Story (1995-2010), Inside Out (2015), dsb tetapi tidak ada yang benar-benar menyentuh jiwa saya dan mengajarkan saya mengenai kemanusian secara mendalam hanya Ghibli satu-satunya yang dapat memberikan itu bagi saya.

Princes Mononoke (1987), My Neighbor Totoro (1988), Kiki’s Delivery Service (1989), Howl’s Moving Castle (2003), Ponyo (2008), The Secret World of Arriety (2010), The Wind Rises (2013), The Tale of The Princess Kaguya (2013) adalah beberapa film dari Studio Ghibli yang saya ingat betul memberikan banyak makna bagi hidup saya dan bahkan ketika saya menonton My Neighbor Totoro (entah lagi-lagi untuk keberapa kalinya) pada Juni tahun ini, tepat ketika pada adegan Satsuki dan Mei menyadari ibu mereka Yasuko Kusakabe menunda kepulangannya karena sakit parah saat itu saya mem-pause film itu karena menerima telepon dari adik saya yang mengatakan ibu saya terkena serangan stroke. Yah, Film-film Ghibli mengajarkan saya untuk tetap tegar dan selalu memikirkan hal positif ketimbang negatif. Dia mengajarkan saya mengenai semangat dan harapan yang tidak boleh putus walau seberapa besar kita tengah menghadapi cobaan hidup.

***

Akhir kata, saya pribadi berterimakasih kepada Kaninga Pictures dan segenap tim yang telah berusaha mempertemukan para penggemar setia film-film Studio Ghibli dengan Toshio Suzuki dan mempertayangkan salah satu film terbaik dari Ghibli di layar yang besar dengan teks terjemahan yang sangat bagus sekali. Saya sampai merinding ketika melihat seberapa tajam warna dan bahkan benar-benar menangis segugukan karena tidak menyangka mendapatkan kesempatan pengalaman sebesar ini. Selama menonton saya merasa seperti ditarik oleh waktu dan kembali melihat seberapa lugu dan polosnya saya yang dahulu menonton hanya sekedar ‘menonton’ hingga sekarang pelan-pelan mulai memahami film secara mendalam dan menyadari betapa gelap setiap film animasi dari Ghibli. #GhibliJKT

Leave A Response
5 comments Add yours
  1. Salam kenal, Mas Kukuh.

    Jujur, pengen lebih banyak denger tentang penilaian mereka yang hadir di #GhibliJKT tentang kualitas teks bahasa Indonesia film Spirited Away (ya, saya yang menerjemahkan).

    Selaku penerjemah, saya tidak tahu kalau teksnya akan digunakan di acara sekeren ini. Yah, senang bisa baca reportase dari panjenengan. Ngiri banget sih 😀

    1. Salam kenal juga, Mbak Dina 🙂

      Sekiranya begini penilaian saya, kebetulan sebagai seorang ‘penonton film maniak’, seringkali saya ngerasa tuh kalau nonton film dengan teks terjemahan bahasa Indonesia terasa ‘kaku’ dan ‘formal’, gak srek bawaannya jadi lebih milih pakai teks bahasa inggris apalagi dengan film-film non-holywood kayak film Ghibli yang bahasa Jepang yang saya aja nihil tau artinya apa. Pas baca teks terjemahan Spirited Away kemaren saya untuk kali pertama ngerasa ‘cocok’ dan ‘sreg’, beberapa istilah dijadikan begitu dekat (yang ini saya lupa bagian yang mana, tapi ada satu momen memang sya inget tertawa – lebih tertawa ngakak ketimbang baca teks terjemahan bahasa inggrisnya).

      Dan beberapa hiruk pikuk penonton selepas acara banyak yang menyampaikan pendapat tentang kualitas teks terjemahan yang bagus sekali (biasa lah mbak suka nguping2 dikit).

      Makasih banyak udah mau berkunjunga ke blog saya loh 🙂

      1. Wah, makasih ulasan singkatnya, Mas Kukuh.

        Saya jadi baca-baca lagi terjemahannya. Masih ada beberapa yang kurang pas. Yah, penyakit penerjemah (dan mungkin penulis atau profesi sejenisnya). Setelah pekerjaan disetorkan, rasanya selalu ada yang kurang.

        Jadi mengira-ngira bagian mana yang lucu. Apa pas pada nutup hidung jadi ngomongnya gak jelas (“Zeramaz zazang!” dll.) atau yang lain.

        Sumpah, ngiri sama yang lihat langsung dengan kualitas luar biasa 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *