JURNAL #5 : Sepenggal Pemikiran di Awal September

Bekasi (01/09/2016) – Ketika matahari masih enggan untuk berbagai hangat, saya mendadak menyadari telah begitu lama atau lebih tepatnya urung untuk menulis hal-hal berbau personal, seperti curahan hati atau kegelisahan-kegelisahan di website yang baru saja lahir ini. Tapi bukan di website ini saja gejala keurungan itu ada, media sebelumnya pun hanya berkutat seputar informasi resensi film. Beberapa menit kemudian saya menyadari bahwa menyampaikan gagasan dan keluhan itu penting : bukan agar dibaca banyak orang tetapi menjadi rekam jejak saya selaku penulis mengenai seberapa dangkal pemikiran saja di kemudian hari.

Saya sebenarnya sempat menulis banyak hal terutama mengenai diri saya dan lingkungan sekitar (teman, pergaulan, dll) ketika semasa Sekolah Menengah Atas tetapi lambat laun blog yang dulunya ada di blogspot.com itu mendadak sirna akibat gagasan mengenai ‘perkembangan’ bahkan akibat didorong rasa ‘pencitraan’, saya memilih menutup blog tersebut, menghapus semua entry, melupakan cerita-cerita jenaka terlebih lagi pengalaman memelihara kura-kura yang diberi nama “Castiel” akibat terobsesi dengan serial Supernatural. Hingga akhirnya, saya merasakan seakan telah menghapus kisah hidup tanpa sisa sedikit pun.

Once you do something, you never forget. Even if you can’t remember

– Zeniba, Spirited Away (2001)

Kemudian saat ini saya berpikir, “apa yang hendak saya tulis?”, karena saya bahkan belum tahu apa yang hendak saya bagikan kepada diri saya dimasa depan. Beberapa cerita memang bergulir, entah itu mengenai perihal soal kecemburuan, cinta, pengkhiatan, kejujuran, atau mungkin kebebasan. Semua menjadi satu paket. Tetapi tetiba terlintas, sebuah pertanyaan dari seseorang (red) mengenai alasan kenapa tidak ada satu kabar pun mengenai kelulusan saya hingga bahkan hari saat saya diwisuda.

Pertanyaan yang sesungguhnya mudah untuk saya jawab tetapi urung atau lebih jelasnya : sulit untuk dikatakan. Karena setelah sekian lamanya hidup luntang lantung berjuang sendiri. saya kali pertama ini bisa merasakan apa itu ‘rumah’ sesungguhnya – tempat dimana saya diterima tanpa syarat.

***

Kamis, 11 Februari 2016 – Dimana hari tersebut merupakan momentum saya mengakhiri status sebagai mahasiswa di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Tidak ada yang spesial, semua sesuai prediksi, teman-teman dekat datang, kejutan dari organisasi yang telah saya naungi selama tiga tahun, rekan-rekan dan ucapan selamat yang berdatangan.

Sambil menenteng berkas-berkas skripsi di dalam satu kotak box, saya ingat betul sejenak termenung, menghela napas, dan melihat kemeriahan rekan-rekan yang hendak berbagi kebahagian. Semuanya tampak seperti silent moment, waktu berhenti dan hanya ada saya dan dunia yang tanpa pergerakan. Bermacam kilas balik berdatangan : Pertama kali menjadi mahasiswa baru, bertemu dengan segerombolan teman baru di semester satu, mulai mencari-cari keinginan dan tujuan hidup, terdampar di Manajemen Komunikasi, berpetualang dan mengabdi secara konsisten di Cinematography Club Fikom Unpad, masuk dalam gerombolan penentang, mendapatkan teman dekat hingga mendapatkan kekasih untuk pertama kalinya walau mesti berakhir dengan buruk.

Masa empat setengah tahun telah saya habiskan sebagai mahasiswa, tidak ada satupun kekecewaan yang terlintas. Bagi saya, semesta sudah memberikan terbaik yang tidak pernah saya dapatkan sama sekali selama berpuluh-puluh tahun ke belakang. Berulang kali kekecewaan bertubi-tubi saya dapatkan hingga akhirnya mati rasa dan untuk kali pertama dapat merasakan nikmatnya hidup.

Maka, ketika balon itu diberikan, ketika segala ucapan selamat bertubi-tubi dibisikkan, dan ketika berbagai macam selendang kelulusan disematkan. Hanya satu hal yang bisa saya harapkan dilubuk hati : Can i go back in time, to when everything is perfect, to feel a couple things twice?.

Dan akhirnya itu sempat menjadi hari yang paling saya benci. Rasanya memang egois tapi keinginan itu begitu besar, untuk hanya sekali lagi menikmati beberapa momen yang tidak pernah saya dapatkan. It’s really a darkest hours in my life, I am depressing for a months, being an introvert, didn’t want to do anything or at least keep in touch with my friends and finally, I lost myself back there.

Lalu di saat bulan April, satu bulan sebelum saya di wisuda. Saya menyadari harus mengakhiri semuanya, menyudahi perkara tindakan kekanak-kanakan dan mulai berdamai dengan diri sendiri. Dan disitu semuanya mulai pelan-pelan beberapa memori terlintas. Memori yang terpendam, terkubur begitu dalamnya menyeruak bagai ombak, menyapu hingga habis tanpa sedikit pun menyediakan waktu bersiaga.

Apa yang saya lihat saat itu hitam. Tidak ada satu cahaya pun, sedikit pun. Terkadang tanpa sadar saya telah berada di sebuah tempat yang begitu jauh dari hiruk pikuk, berusaha menggapai-gapai cahaya yang enggan datang, berteriak meminta pertolongan tetapi tiada seorang pun muncul.

I cried a lot, sometimes without reason and  literally, I though to end myself, to put away everything, the misery that I was afraid of and it’s the easiest way! So what?; and then the dream came again, I couldn’t sleep for a weeks and even barely remember what I was doing back there.

Dan itulah “Depresi” – terlalu banyak kisah menyakitkan yang ternyata saya kubur begitu dalam hingga terlupakan dan dalam suatu ketika saya tersadar, satu-satunya cara adalah bercerita. The best thing I ever have in my life is a wonderful bestfriend. Disitu kami menangis, pertama kali saya bercerita semuanya. Tujuh belas tahun penuh rasa traumatis dan curiga akan kebaikan orang lain.

Di titik itulah saya siap dan mulai memaafkan masa lalu saya. Menyudahi kesedihan berkepanjangan yang tidak disadari selama puluhan tahun itu. Hingga akhirnya masa wisuda itu datang dengan dipenuhi kesibukan, omelan dan kekecewaan. Berpuluh buket bunga saya terima, kado berupa notes book ramai-ramai diberikan, sebuah novel murah meriah tidak luput juga, pin-pin lucu, pajangan desain 3D, bahkan sarung mahal dan boneka menyeramkan.

I finally get a bouquet and it’s a goodbye present. That’s depressing.

– Chihiro Ogino, Spirited Away (2001)

Seperti semua orang bilang, setiap pertemuan haruslah berakhir dengan perpisahan dan untuk kali ini “for the greater good”. Saya akhirnya menyudahi semua kisah, membereskan hal yang sempat terbengkalai, memikirkan masa depan apa yang hendak saya ambil. Keputusan-keputusan impulsif sebelumnya, seperti sesegera mungkin sekolah di luar negeri pun akhirnya dibatalkan. Saya merasa siap membangun dunia yang baru dan untuk sekali lagi menjadi manusia yang pertama kali dilahirkan di dunia.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *