Jurnal #7 : Menyoal Karir, Masa Depan dan Gelak Tawa Para Pecundang

Selepas menanggalkan status ‘Mahasiswa’, saya sekiranya mempertanyakaan langkah apa yang selanjutnya akan saya ambil : ‘Sebagai apa?’ dan ‘Untuk apa?’. Mempersoalkan masa depan selalu membikin kepala saya sakit hingga akhirnya pilihan berlibur, menghabiskan waktu, dan bersantai menjadi yang utama hingga terlena, terbuai oleh hidup yang tidak mempunyai kegiatan. Toh, ternyata tidak melakukan apapun selain tidur, cukup menyenangkan pula!.

Tetapi beberapa mingu ke belakang saya murung dan mulai bosan lalu ‘penyakit lama’ yang pasti selalu mendera para workaholic pun datang: melakukan kegiatan apapun yang penting beraktifitas, entah itu jogging, membaca buku, menonton hingga larut malam, dan mengkritisi hidup dalam imaji.

Permasalahan disini adalah saya malas untuk bekerja sebagai ‘pekerja’ atau kata dosen saya dulu diberikan istilah ‘labor’ atau ‘buruh media’. Mau menjadi seorang entrepreneurship pun enggan karena tidak memiliki minat dibidang itu dan menganggapnya sebagai sia-sia mengingat banyak start-up berjamuran yang mungkin bisa saja kelak gulung tikar ramai-ramai. Menulis buku juga kurang akses penerbit dan lagi-lagi mentok ide cerita. Saya lambat laun menyadari kalau otak saya sudah tumpul tidak runcing seperti dahulu.

Maka suatu ketika tepatnya dua minggu lalu saya secara impulsif mengirimkan banyak lamaran pekerjaan dengan alih-alih ingin lari dari kebosanan. Tak berapa lama kemudian panggilan mulai berdatangan, baik melalui surat elektronik ataupun telepon. Beberapa perusahaan tidak saya gubris karena menyadari : (1) Perusahaan yang saya pilih berada di Industri yang tidak saya pahami ; (2) Posisi dan Job Desc tidak sesuai ; dan (3) Intuisi saya mengatakan ‘tidak’.

Ini yang membuat saya bingung – Saya ingin bekerja tetapi sikap pilih-pilih malah menampatkan saya ke dalam kenelangsaan hidup berkepanjangan. Masih mending banyak yang bisa ‘dijual’ dari diri saya. Lah, ini? Nyaris tidak ada.

Mana yang lebih akan membuatmu mendekati mimpimu?

Sebaris pertanyaan itu diberikan kepada teman kampus saya (dibaca : Mellysa) ketika saya sedang mengutarakan isi hati mengenai pilihan-pilihan yang berdatangan secara tiba-tiba.

Tawaran pekerjaan tiba-tiba datang dan kebetulan berada di industri media  serta posisi yang diberikan juga cukup menantang tetapi ada tawaran lain, yaitu melanjutkan sekolah di Swedia untuk periode Agustus 2017 yang dulu sempat terbengkalai. Saya bisa saja memilih dua-duannya untuk ke depan tetapi masalahnya saya terkadang tidak bisa membiarkan sesuatu mengalir seperti air, saya lebih suka ada riakan dan terjangan batu-batu kali sepanjang aliran air berjalan.

Mimpi saya sendiri belum berubah : Menerbitkan buku suatu saat nanti dalam bentuk seri. Lalu setelah saya pikir-pikir mengenai pilihan mana yang akan membuat saya mendekati mimpi itu, saya berpikir : “Semua pilihan memiliki jalannya masing-masing dan pasti selalu ada kesempatan disitu, tinggal bagaimana saya, kamu dan kalian menyikapinya.”

Mempersoalkan hidup pada akhirnya selalu menyenangkan walau berujung kesia-siaan. Kenapa sia-sia?, karena saya menyadari sudah tahu apa yang akan terjadi nantinya tetapi malah masih mempersoalkannya terus menerus. Mungkin itulah sifat dasar naluriah manusia : serba mempertanyakan dan memperdebatkan sesuatu. Lama-lama saya ingin jadi seorang filsuf saja.

Kebahagiaan atau Kesesuaian?

Pertanyaan ini selanjutnya muncul dari sang mahasiswi pasca sarjana Universitas Gadjah Mada (dibaca : Mellysa). Langsung saja saya jawab, “Keuangan” – maka kesesuaiaan menjadi jawabannya. Saya melihat ke belakang saya sudah terlalu berlebihan dalam hal kebahagiaan maka rasanya egois kalau menuntut banyak hal kepada hidup.

Kalau soal karir? Umur saya masih 23 tahun – perjalanan hidup saya masih panjang karena saya menyakini tidak akan mati dalam waktu dekat ini. Berada di dalam bidang pekerjaan yang telah saya geluti sebelumnya adalah jalur paling aman untuk sekarang, selain karena tidak terlalu banyak hal yang perlu dilakukan untuk beradaptasi, pekerjaan yang lumayan saya sukai memberikan nilai lebih tersendiri untuk dijalani.

Lagipula bukan berarti memilih ‘kesesuaian’ tidak akan berakhir dengan ‘kebahagiaan’ pula kan?.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *