Jurnal #8: Melantur Bersama Cantik itu Luka

Beberapa pekan lalu saya baru saja menyelesaikan Laut Bercerita dan Aroma Karsa. Kedua buku itu bisa dibilang memberikan angin segar bagi buku fiksi karangan penulis Indonesia. Sayangnya, tidak ada yang membuat saya puas, sepuas-puasnya, seperti lepas membaca Cantik itu Luka. Ada hal yang janggal dan mau diulang bagaimanapun cerita-cerita itu sepi, tak istimewa atau begitu-gitu saja.

Keranjingan saya membaca novel Indonesia pun turut memudar dan mulai berpikir-pikir: apa musababnya? Menilik kebelakang saya pun mulai memahami ada rasa haus yang menggerogoti pikiran saya mengenai kurangnya keberagaman karakter dalam pelbagai novel fiksi karangan penulis Indonesia. Sebenarnya tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Cantik itu Luka, namun buku ini ada di depan mata saya, saya pajang karena selalu terpesona pada setiap rima kata di dalamnya.

Lantas keberagaman apa yang saya maksud tidak ada?

Sesederhana dari penokohan, buku-buku yang kebanyakan saya baca seringkali bermuara dengan karakter orang Jawa, sungguh minim menemukan tokoh yang berasal dari Nusa Tenggara atau bahkan Papua sebagai tokoh utama. Apa yang saya tuturkan ini juga sebenarnya bisa jadi salah dan dipertanyakan kebenarannya. Bisa jadi memang saya saja yang cenderung membeli buku dengan referensi demikian. Tapi namanya juga ‘melantur’, biarkan lah saya bertutur sesuka hati.

Lanjut lagi. Salah satu poin kekurangan terbesar adalah keberagaman masalah identitas diri. Ketika novel-novel fiksi di luar sudah mulai bergerak dengan memperkaya karakter, misalnya queer, gay, lesbian, dan trans. Kita masih cenderung konstan menceritakan percintaan pasangan heteroseksual. Bila ada pun paling banter cerita-cerita di website atau terbitan terbatas dan bukan buku populer. Satu yang bisa saya temukan, yaitu Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Itu pun akhirnya menjadi selentingan di akhir seri Supernova.

Ada lagi, yaitu isu gangguan kejiwaan. Banyak beragam novel mancanegara, misalnya 13 Reasons Why dan My Heart and Other Black Holes yang menjadi populer karena membahas isu bunuh diri terhadap remaja. Hal-hal ini penting sebagai representasi kepada masyarakat bahwa: kalian tidak sendirian. Ada yang mewakili diri kalian. Repsentasi pada akhirnya menjadi penting untuk menyatakan itu adalah hal umum dan bisa diatasi, pengalaman kalian nyata dan bukan sekedar fiksi.

Berbagai karangan novel mancanegara berlomba-lomba untuk membuat novel dengan ragam karakter dan isu-isu sosial yang dekat bagi dewasa muda. Sementara kita masih berkutat, entah itu novel cinta-cinta-an remaja ‘teenlit’ atau juga membahas kembali sejarah yang tak bosan-bosannya. Sejarah memang tak dapat dilupakan dan perlu selalu digaungkan. Tetapi bukan menjadi keharusan selalu berpacu pada pakem cerita yang berdasarkan fakta. Kadang membubuhkan fiksi ilmiah atau misteri yang menyimpang tak ada masalah selama tetap memiliki nilai pakem pada historisnya.

Saya bermimpi untuk menemukan satu buku karangan penulis Indonesia yang dipenuhi dengan keberagaman tokoh, dari sabang sampai marauke, dari heteroseksual hingga aseksual, dari yang beragama hingga tidak beragama. Dan semua tersajikan tanpa diskriminasi melainkan mempertanyakan gagasan-gagasan isu humanis. Kapan?

Leave A Response

kukuh giaji

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *