Resensi Buku Kumpulan Cerita “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi”

Judul : Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

Pengarang : Eka Kurniawan

Editor :  Ika Yuliana Kurniasih

Tebal Halaman : 170

Penerbit PT Bentang Pustaka

Cetakan Ketiga, April 2016

ISBN : 978-602-291-072-5

Sudah dua buku Eka Kurniawan yang saya selesaikan dan rampung diresensi pada website ini, yaitu Cantik itu Luka dan Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas.  Sebelum menuntaskan Manusia Harimau dan O, saya jadi ingin bermain dahulu dengan salah satu kumpulan cerita pendek milik beliau, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Mungkin saya sendiri cukup lelah menyelesaikan dua novel karya Eka sebelumnya yang cukup menguras waktu dan pikiran sehingga kumpulan cerpen menjadi pilihan tepat mengingat saya selaku pembaca bisa memilih yang mana untuk diselesaikan terlebih dahulu dan tidak mempunyai beban waktu untuk menyelesaikan satu buku dengan cepat.

Layaknya kumpulan cerpen lainnya, tulisan pada Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi telah dipublikasikan pada beberapa media cetak, seperti Kompas, Tempo, Playboy Indonesia, Media Indonesia, dan Esquire Indonesia dengan rentang waktu antara 2007 – 2013. Bagi yang awam membaca novel atau kumpulan cerpen lainnya milik Eka Kurniawan maka pasti akan selalu familiar dengan gaya penceritaan beliau yang ‘nyeleneh’ ditambah kumpulan karakter ‘tidak waras’nya.

Kisah ini dibuka melalui cerpen berjudul Gerimis yang Sederhana dengan alur penceritaan lambat dan memiliki latar belakang sejarah mengenai keruntuhan orde lama (yang seringkali diangkat oleh Eka Kurniawan). Menceritakan tentang pertemuan Mei dan Effendy yang ditengahi oleh pengemis. Pembaca akan diajak berdialog bagaimana ‘pengemis’ menjadi pembeda besar antara Indonesia dan Amerika.

Berbalik seratus delapan puluh derajat kemudian Gincu Ini Merah Sayang sebagai cerpen kedua malah berfokus tentang kisah sehari-hari mengenai praduga-menduga dan kecemburuan antara Rohmat Nurjaman dan Marni yang diakibatkan oleh gincu. “Gincu ini merah, Sayang, dan itu hanya untuk suamiku.” (hal.23)

Akhirnya setelah dua pembuka, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi dihidangkan. Menceritakan Maya, perempuan yang ditinggalkan kekasihnya tepat pada malam sebelum mereka menikah dan berkat sebuah mimpi berhasil menemukan kembali cinta di Pangandaran. Pada cerita pendek ini, unsur ‘kedekatan’ menjadi hal utama karena Pangandaran sebagai salah satu wilayah di Tasikmalaya merupakan tempat kelahiran sang penulis yang juga menjadi lokasi penceritaan di Cantik itu Luka, yaitu Halimunda. Pengaruh konstruktivisme sosial terhadap Maya yang malu dan hendak bunuh diri perihal gagal menikah dibangun dengan sangat baik dan hati-hati oleh Eka Kurniawan. “Jangan Menangis, Nak. Pangandaran tempat orang mencari cinta dan kebahagiaan.” (hal. 29)

Lucunya setelah tiga cerita pendek disajikan saya merasa kurang puas bahkan cerita berikutnya tak sanggup membuat saya ‘konak’ sampai bertemu dengan Membuat Senang Seekor Gajah yang cukup banyaknya membuat saya kembali bertemu dengan ketidakwarasan milik Eka Kurniawan. Bercerita mengenai seekor gajah yang kepanasan dan berpikir akan menyenangkan jika dia bisa masuk ke dalam sebuah lemari pendingin maka dibantu dengan dua anak kecil dia akhirnya dapat masuk ke dalam lemari itu walau tubuhnya harus terpotong-potong.

Saya membaca kisah ini sebagai sentilan terhadap keluarga yang memiliki anak namun tidak mempunyai waktu untuk mereka karena kedua anak ini berada dalam rumah yang tidak ada kedua orangtuanya bahkan pengasuh sekalipun dan sang gajah disini bisa dianggap sebagai sosok ‘asing’ dan sang anak mengizinkan ia masuk ke dalam rumah tanpa penuh rasa praduga.

Sang gajah adalah cerminan imajinasi anak yang liar termasuk konsekuensinya. Kedua anak itu diceritakan tidak masalah memotong-motong tubuh sang gajah karena setidaknya hidupnya akan senang dan itu hal yang lebih penting dari apa pun. Maka ‘senang’ disini dapat diutarakan sebagai ‘uang’ dan jelas sentilan cerpen ini kepada keluarga modern yang melupakan unsur kebersamaan dan uang merupakan jawaban dari segala hal. Sang anak dan gajah adalah representasi efek kedewasaan kelak yang penuh dengan dunia liar dan tidak dapat dikontrol. “Percuma ia hidup jika tidak senang.” (hal.50)

Kesintingan Eka Kurniawan mulai berkobar-kobar selanjutnya pada Jangan Kencing di Sini dan Cerita Batu yang menjadi bacaan favorit saya. Setelahnya hampir semua cerita pendek menjadi bacaan yang tidak lagi renyah namun membingungkan dan menyanyat.

Eka Kurniawan seperti sedang berdongeng dengan mendongengkan cerita-cerita suram nan muram dengan akhir yang tidak bahagia, tidak seperti cerita pendek diawal-awal pembukaan. Sebut saja, Kapten Bebek Hijau yang berakhir tragis dan mengajarkan menjadi berbeda tidaklah semendera yang dikira. Atau Setiap Anjing Boleh Berbahagia yang menjadikan tokoh utamanya Raya sebagai representasi dari berbenturnya budaya, agama dan kontrol atas diri sendiri. Sementara Le Cage aux Folles menjadi cerita pendek paling sederhana dan humanis dengan akhir yang tidak terlalu tragis. Menceritakan mengenai perdebatan seputar kelamin dan individu, cerita pendek ini menyederhanakan mengenai jalan hidup yang tidak sederhana. Pilihan dan tekad menjadi faktor utama untuk berjuang. “tapi antara tubuh lelaki dan perempuan, kau akan tau, ada jarak yang terlampau jauh untuk kutempuh.” (Hal. 102)

Secara keseluruhan, saya merasakan pada kumpulan cerpen ini, Eka Kurniawan sedang bermain dengan duka dan tragedi manusia yang lumrah ditemukan sehari-hari namun terkadang kerap kali banyak yang menutup mata atau menghindar. Sebagai penutup, Pengantar Tidur Panjang memberikan hantaman yang keras mengenai permasalahan, polemik ataupun konflik kehidupan yang semuanya akan bermuara kepada kematian. Satu buku kumpulan cerpen ini bukan hanya sekedar ‘kumpulan’ saja namun rangkaian utuh mengenai ironi kehidupan manusia. “Semua jawaban ada di Buku ini.” (Hal. 162)

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *