Marlina The Murderer in Four Acts: Menyingkap Budaya Partiarki dibalik Panorama Pulau Sumba

Marlina The Murderer in Four Acts mempersembahkan kisah seorang janda yang ditinggal mati suaminya tiba-tiba, melalui empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession dan The Birth – yang membawa dirinya lebih jauh mengenal ketimpangan hubungan relasi kuasa atas gender. Mouly Surya, selaku sutradara menghadirkan kisah penuh dendam yang diselimuti budaya patriarki dibalik visual luas nan indah di Sumba, Nusa Tenggara.

Film ini mengisahkan Marlina (Marsha Timothy), perempuan paling beruntung di dunia, tidak hanya dicuri semua ternaknya namun hendak ditiduri pula oleh tujuh pria dalam satu malam. Tak mau pasrah pada nasib, ia nekat meracuni mereka, sayangnya, Markus (Egi Fedly), sang ketua perampok keburu memperkosanya. Maka, sebilah parang melesat menembus lehernya, ketika Marlina tepat berada di atas tubuhnya.

Merasa perlu mencari keadilan, Marlina menenteng kepala Markus dengan maksud ke kantor polisi. Dalam penungguannya, ia bertemu dengan Novi, seorang perempuan yang tengah hamil sepuluh bulan.

Kesemerawutan Hidup Perempuan

Dalam babak kedua The Journey, tokoh Novi (Dea Panendra) menjadi sentral melalui dialog sensual yang menggambarkan seksisme begitu kental dalam budaya masyarakat Sumba dan berlaku pula di Indonesia secara general. Disini, Novi menyampaikan kegelisahannya soal perempuan dan birahi. Karakternya dengan lugas menuturkan nafsu seksualnya meningkat dikala sedang hamil muda lalu sering dikritik ibu mertua mengenai wanita tidak boleh begini dan begitu. Novi menjadi sosok yang melawan seksisme atas dirinya dengan mengambil hak-hak dan keinginan pribadinya.

Walaupun begitu, ia masih naif ketika Marlina berkisah dirinya habis diperkosa. Novi bergegas mengajaknya ke gereja untuk mengaku dosa sementara Marlina tak merasa dirinya berdosa. Perdebatan ini menjadi penting untuk didiskusikan dengan melihat dari sudut pandang penyintas dan orang luar. Apakah Marlina berdosa telah membunuh Markus? Apakah ia bersalah atas apa yang ia lakukan? Alih-alih memberikan pembenaran atau penghakiman kepada tokoh Marlina, Mouly Surya bermain-main dengan surealisme, melalui serangkaian adegan dari representasi rasa bersalah, ketakutan ataupun kegelisahan Marlina atas perbuatannya kepada Markus.

Maka, sampailah dia pada babak The Confession yang berujung kesia-siaan.

Wanita sejak lahir memang kadung sial, mungkin itu yang hendak disampaikan dalam babak ini. Sejak awal, dialog ditekankan bahwa pemerkosaan itu bisa dinikmati tidak hanya pelaku namun korbannya pula. Marlina terperanjat ketika polisi yang meng-interograsinya membutuhkan hasil visum kekerasan seksual. Keterkejutan ini bisa jadi terhubung dengan adegan pemerkosaan, ia berada dalam posisi women on top atau mengambil alih kegiatan seksual dengan menjadi pihak dominan sementara kasus pemerkosaan kental dengan unsur kekejaman atau sadisme.

Disini hukum Indonesia dikritik atas aksi pemerkosaan harus selalu meninggalkan bekas legam di tubuh korbannya. Padahal pelecehan seksual tidak hanya berkutat pada hal-hal yang violence tapi bisa meliputi tindakan yang disebut Sexual Coercion. Menilik kebelakang, peristiwa Marlini ini bisa diakui kebenarannya dengan melihat berita tempo silam dimana proses penyidik mewawancarai penyintas pemerkosaan dengan membubuhkan diksi ‘nyaman’. Sebobrok itukah hukum di Indonesia terhadap perempuan? Secara eksplisit, Mouly Surya menyampaikannya pada adegan Marlina menanti di ruang tunggu dengan para polisi asik bermain tenis tanpa memperdulikan dirinya.

Adegan kelahiran dan pembunuhan terakhir menjadi penutup pada babak The Birth. Novi dan Marlina menyelamatkan satu sama lain, menunjukan kuasa perempuan yang tidak membutuhkan laki-laki untuk membela diri. Pengulangan adegan terjadi ketika Novi memenggal kepala Franz (Yoga Pratama) yang tengah memperkosa Marlina. Novi terbebas dari penjara moralitas ketika dihadapkan pilihan rumit: diam atau melawan.

Pada adegan yang sempit kala Novi tengah menjalani persalinan, sosok suami Marlina yang dimumikan menjadi representasi penting mengenai kedudukan laki-laki yang sejatinya tidak berdaya dengan kemaskulinitasannya.

Marlina The Murderer in Four Acts memang jelas bisa dikategorikan sebagai film feminis, bentuk respon atas tindakan opresi pada perempuan yang diindikasikan oleh diskriminasi, marginalisasi dan kekerasan. Semua karakter perempuannya kuat dan berani dalam bertindak ataupun bertutur ditengah-tengah tekanan budaya partiarki.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *