Puisi “Mati Tertawa”

Bulan itu memancarkan sinar rembulan yang tiada aksaranya.

Bara duduk termenung memandangi bulan yang tiada aksaranya.

Burung rajawali diujung sana tengah melayang diangkasa tanpa tujuan.

Bara duduk termenung sambil membayangi masa lalu tanpa arah tujuan.

*

Seekor Jangkrik bersuara romansa mengiringi malam tanpa nuansa.

Bara memandang nanar sambil tersenyum lirih tanpa romansa.

Seekor katak melompat dari teratai satu ke teratai lainnya.

Bara teringat masa kecilnya luntang lantung menumpang hidup dari sana ke sana.

*

Suara tetesan air jatuh terdengar bergemericik merdu ditelinga.

Bara mengalun sendu tanpa nuansa terdengar merdu ditelinga.

Suara kicauan burung menambah manis suasana.

Bara tersenyum laksana angkasa penuh romansa.

*

Dia pun menuangkan kata demi kata berpadu dengan desiran hati yang tak kasat mata…

“Oh… bumi mengapa kau tega menghancurkan aksara”?, tegasnya.

“Oh… surya mengapa kau tega menggelapkan dunia begitu saja”?, erangnya.

“Oh… angin mengapa kau tega memperkeruh suasana”?, lirihnya.

“Oh… tuhan betapa aku ingin mati tertawa sekarang”, jawabnya.

*

Bulan itu memancarkan sinar rembulan yang tiada aksaranya.

Bara duduk termenung memandangi bulan penuh aksara.

Burung rajawali diujung sana tengah melayang diangkasa dengan bijaksana.

Bara duduk termenung sambil membayangi masa depan yang bijaksana.

*

Seekor Jangkrik bersuara romansa mengiringi malam dengan nuansa.

Bara memandangi nuansa sambil tersenyum lirih dengan romansa.

Seekor katak melompat dari teratai satu ke teratai lainnya.

Bara teringat masa hidupnya menolong satu ke satu orang lainnya.

*

Suara tetesan air jatuh terdengar bergemericik merdu ditelinga.

Bara mengalun sendu dengan romansa terdengar merdu ditelinga.

Suara kicauan burung menambah manis suasana.

Bara tersenyum laksana angkasa tanpa suasana.

*

Matanya memancarkan bara api yang membara.

Semangat seakan mendidih dengan tekad mengubah hidup semata.

Tapi yang ada hanya mimpi semata.

*

Bara terbangun dari tidur panjang.

Melihat lorong panjang putih tak kasat mata.

Tertegun sunyi bingung entah dimana.

Yang dia tahu…

*

Dia telah mati tertawa.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *