Novel Fiksi AROMA KARSA – Review

Novel Aroma Karsa
Novel Aroma Karsa (pict by kukuhgiaji)

AROMA KARSA mengambil tema besar mitos dan legenda yang jelas hadir dalam bentuk cerita realisme magis. Terkisahkan Janira Prayagung meminta agar Raras Widyani Priyagung, cucu perempuan semata wayangnya untuk menemukan bunga bernama Puspa Karsa yang konon memiliki kekuatan besar untuk mengendalikan kehendak.

Raras, wanita dengan karakter preservasionis ini akhirnya menyiapkan rencana selepas kegagalan misi pertamanya bersama Prof. Sudjamiko untuk menemukan Puspa Karsa. Sayangnya, ia menyadari ada yang luput dari skema perencanaan tersebut, yaitu ‘orang yang tepat’.

Beberapa puluh tahun kemudian, Jati Wesi, pemuda dengan kemampuan indera penciuman diluar nalar tanpa sengaja hidupnya beririsan dengan keluarga Prayagung akibat mengimitasi Puspa Ananta, parfum merek buatan perusahaan Kemara. Dirinya dimaklumat untuk menjadi karyawan seumur hidup. Ia bertemu dengan perempuan bernama Tanaya Suma, anak Raras yang memiliki kemampuan penciuman sama dengan dirinya.

Melalui aroma, novel terbaru buatan Dewi Lestari (sapaan akrab, Dee) ini berusaha membongkar dunia olfaktori dari tokoh Jati dan Suma yang berpetualang untuk menemukan Puspa Karsa yang hanya dapat dilacak melalui aroma. Tidak hanya itu saja hadir pula kisah mitos dari perwayangan lengkap dengan penggunaan bahasa Aksara Hanacaraka (Aksara Jawa). Memang bukan Dee namanya bila tidak menjadikan mitos sebagai dasar dari realitas.

SEBAGAI seorang pembaca, selepas menikmati Aroma Karsa terlihat cetak biru naskah ini terbagi menjadi dua kisah, sebut saja dunia realitas dan magis. Realitas adalah kisah dimana Jati dan Suma bertemu yang menghantarkan mereka pada ekspedisi Puspa Karsa dan bertemu dengan tokoh Nurdin Suroso, Khalil Batarfi, Anung Linglung, Yustinus Herlambang, Iwan Satyana, Jindra Mahameru, dan Arya Jayadi.

Selanjutnya, magis adalah kisah dimana mereka mesti menemukan Desa Dwarapala yang terletak secara misterius di Gunung Lawu dan hanya aroma yang dapat membuka jalan ke desa tersebut. Disanalah kisah epik terjadi tatkala misteri Puspa Karsa lambat laun terbongkar dan menghantarkan mereka kepada petualangan bersama Empu Smarakandi, Pucang, Sinom dan Elar Manyura.

Sayangnya, Dee terlalu bermain dalam pengenalan karakter di kisah realitas dan melupakan detail-detail penting ketika masuk ke dalam dunia magis ciptaannya, yaitu Desa Dwarapala dengan sekelumit istilah yang mungkin asing bagi mereka yang tak akrab seminimalnya dengan perwayangan, seperti Batara-Batari (dewa-dewi), dan Banaspati (mahluk halus/gaib menyerupai manusia). Ketika mengakhiri babak kejujuran (bab 42), cerita yang harusnya dieksekusi secara apik malah sedikit membosankan dan terkesan terburu-buru hingga akhir.

Banyaknya karakter-pun jadi sumber masalah walau pada bab-bab awal telah terjalin dengan rapih dan memiliki porsi tepat. Namun disayangkan ketika memperkenalkan tokoh-tokoh ‘mistis’ yang dinanti-nantikan ini, saya selaku pembaca malah merasa hambar karena tidak ada yang bisa menimbulkan simpati bagi saya kepada tokoh-tokoh tersebut. Bahkan kematian beberapa tokoh-pun hanya sentilan drama saja bagi saya.

Permasalahan penokohan ini juga ada di Intelegensi Embun Pagi (seri terakhir Supernova) dengan nyaris 700 halaman cuman menyisakan keringat dan migrain selepas membacanya. Tapi untungnya di Aroma Karsa tidak demikian, buku ini masih bisa dinikmati separuhnya dan sisanya bisa ditoleransi karena bisa jadi Dee mencoba menolerir jumlah halaman yang cukup terjangkau dan tidak melelahkan untuk dibaca.

Bila diminta membandingkan, petualangan Gio, Zarah dan kawan-kawan dalam IEP untuk menaklukan portal di Bukit Jambul masih lebih seru ketimbang perjalanan Jati menuju Dwarapala.

Sampul Judul Aroma Karsa (Sumber: https://hot.detik.com/celebofthemonth/book/d-3875909/pre-order-novel-cetak-aroma-karsa-dimulai-hari-ini)

DIBUKA melalui sebuah penemuan lontar kuno, tampak sahih memang menjerumuskan pembaca Aroma Karsa kepada petualangan mendebarkan yang penuh dengan gaib dan horor, contohnya kemunculan Kiongkong (kelabang raksaksa) dan Hyang Arimong (harimau raksaksa) di Gunung Lawu. Ini jelas berada di jalur ekspektasi saya untuk menemukan mahluk-mahluk gaib ini dalam Aroma Karsa.

Entah mengapa juga pemunculan tokoh dengan gelar jawa, misalnya Sanghyang Batara Randu, Sanghyang Batari Karsa, Sanghyang Batari Wit Jumantara Rekta, dan Sanghyang Batara Jati Doreng tidak saya prediksi muncul dan menjadi kekhasan sendiri bagi novel ini. Unsur jawa keraton sangat kental tidak seperti novel Dee sebelumnya yang sarat akan moderinitas.

Hanya satu keluhan saya, yaitu hubungan asmara antara Suma dan Arya yang terkesan sia-sia bahkan didramatisasi sebagai kebutuhan konflik batin Suma dan Jati untuk merajut asmara. Dipikir-pikir bila menghilangkan Arya sekalipun bukan masalah yang berarti dalam penceritaan, kecuali: Sebegitu pentingkah ia menjadi stylist Jati?

Membaca Aroma Karsa terasa seperti menikmati dongeng wayang modern. Sekali lagi Dee membuktikan bahwa dia merupakan penulis modern fantasi yang sukses menghantarkan cerita epik dengan rasa nusantara.

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment