Membaca Dua Novel Young Adult LGBTQ Karya Shaun David Hutchinson

Setelah saya direkomendasikan teman untuk membaca novel young adult Benjamin Alire Sáenz, Aristotle and Dante Discover the Secret of the World tahun lalu, saya jadi keranjingan membaca novel yang penuh diversity, terutama isu LGBTQ+ karena saya masih awam membaca novel-novel tersebut. Melalui situs Goodreads, saya tanpa sengaja terpapar penulis yang aktif menulis dengan karakter homoseksual, yaitu Shaun David Hutchinson.

Hutchinson sendiri sangat aktif membagi pengalamannya soal coming out as a gay man dan kesehatan mental di twitter dan situsnya. Tak ayal novel karangannya tidak jauh-jauh dari soal depresi dan penerimaan diri.

We Are the Ants

Bagaimana rasanya bila kita diminta untuk memilih membinasakan atau menyelamatkan dunia? Henry Denton yang diculik terus menerus secara misterius oleh alien yang disebutnya ‘the Sluggers’ dihadapkan pada pilihan itu. Waktu yang ia miliki hanya 144 hari sebelum dunia berakhir. Dan ia harus memutuskan apakah dunia pantas untuk diselamatkan.

Masalahnya Denton sudah terlalu banyak mengalami rasa kehilangan. Pertama, Jesse, kekasihnya yang bunuh diri pada suatu malam tanpa meninggalkan sepucuk surat. Lalu, sahabatnya, Audrey berdusta mengenai kematian Jesse. Kemudian, Marcus, teman bercintanya di kubikel kamar mandi sekolah kerap merundungnya sebagai homoseksual. Terakhir, kehadiran Diego membuat dirinya merasa bersalah terhadap Jesse.

Sepanjang membaca tentu saya menerka-nerka: Metafora apa yang berusaha digambarkan Hutchinson dalam We Are the Ants melalui karakter Denton? Mengapa the Sluggers memilih menculik Denton? Atau sebenarnya tidak pernah ada yang namanya the Sluggers, kecuali hasil imaji liar buah dari beban hidup Denton?

Setelah membaca saya menyadari gagasan dalam We Are the Ants sangat jelas, yaitu keterusterangan lebih penting ketimbang kebohongan. Denton yang kerap diculik alien merupakan kiasan bagi dirinya yang meminta pertolongan ke orang-orang disekitarnya. Bahkan dari judulnya saja ‘semut’ merupakan simbol dari koloni – Semut tidak dapat hidup sendirian, mereka butuh para semut lainnya untuk bergotong royong membangun sarang dan mengumpulkan makanan.

Melalui tangan dingin Hutchinson, novel ini sama sekali jauh dari kata lebay, cheesy dan norak. Dengan bumbu-bumbu sains dan tugas dari Ms. Faraci kita akan menyelami dunia fiksi ilmiah yang unik. Isu bunuh diri tergambarkan secara tedas. Karakter Jesse yang bunuh diri merupakan gambaran dari kesahihan persoalan itu sendiri. Depression isn’t a war you win. It’s a battle you fight every day. You never get to stop, never get to rest. It’s one bloody fray after another.

We Are the Ants memiliki pesan di dalam goresan kisahnya walau tidak secara gamblang namun subtil. Bila diperhatikan tidak ada adegan dimana Henry, Jesse dan Diego perlu mengungkapkan orientasi seksual mereka dan tidak semua tokoh digambarkan sebagai orang kulit putih dengan gender spesifik. Hutchinson berhasil mengambarkan representasi dunia yang ideal mengenai kesetaraan dan keragaman.

The Five Stages of Andrew Brawley

Tidak semegah We Are the Ants namun kisah Andrew Brawley masih dapat dinikmati dan cenderung lebih kelam dibandingkan hidup Denton. Andrew atau Drew telah bertahun-tahun tinggal di rumah sakit, ia gemar membuat novel grafis, berbagi cerita fiktif kepada perawat, dan pasien anak-anak serta mengelabui kematian. Drew sadar ia tidak seharusnya hidup dan kini kematian terus mengincarnya.

Di novel ini, Hutchinson menggunakan grafis sebagai penanda masa lalu Drew, terkadang ada tipikal orang yang lebih tenang mengutarakan lewat gambar ketimbang kata. Drew salah satunya. Tentu saya juga bertanya-tanya: Mengapa Drew tidak berani keluar dari rumah sakit sementara dirinya bukan penderita social phobia? Bagaimana mungkin tidak ada sekalipun orang mencarinya? Sedikit demi sedikit beban traumatik masa lalu Drew terbongkar melalui karakter ‘Pasien F’ dalam novel grafis yang dibuatnya.

Disinilah saya merasa ‘Pasien F’ adalah wujud dari depresi yang tergambarkan dengan konkret. Ketika pelan-pelan tubuh ‘Pasien F’ mulai dimutilasi, mungkin seperti itu pula rasa depresi dimana penderita mulai kehilangan gelora untuk hidup atau bahkan sekedar bernapas rasanya sungguh berat. What if you don’t kill yourself? What if you just stop wanting to live?

Selama membaca terkadang ada sisi saya berempati dan turut kesal dengan karakter Drew yang irasional dan self-absorbed. Lalu sebagai karakter utama pun kisah Drew tidaklah semagnetis percintaan Lexi dan Trevor yang diikat kematian. Walapun tidak dipungkiri hubungan Drew dan Rusty yang tarik ulur juga memikat. Kadang membaca buku ini perlu sedikit menahan napas atau terdiam sejenak kala Drew dan Rusty mengungkap masa lalu mereka yang pekat.

Konflik coming out disini juga menjadi isu sentral lewat Rusty yang mengalami tindak perundungan hingga ia akhirnya mati rasa – kehilangan hasrat untuk mencintai dan mengagumi, ketika hatinya telah menjadi batu maka ia mempertanyakan: Apakah fisiknya mengalami hal serupa? Pilu rasanya membaca penuturan Rusty menyoal hidupnya dan keputusannya untuk menyakiti dirinya sendiri, bukan untuk memberikan rasa sakit kepada dirinya melainkan perundungnya yang ternyata berakhir sia-sia.

The Five Stages of Andrew Brawley terbilang berani dan vulgar dalam mendemonstrasikan tindak bunuh diri dan melukai diri sendiri (self-harm). Rasa-rasanya penulis seperti menaruh pengalamannya hingga membuat keseluruhan cerita Drew dan Rusty terasa begitu personal dan dekat. Kehilangan, kenestapaan, ketakutan tergambarkan dengan sangat detail seolah-olah sedang membaca buku diari.

Novel ini berbicara mengenai harapan lewat pertemuan kecil yang tidak disengaja. Kisah Drew dan Rusty yang berakhir di pelaminan terbaca dengan jelas sejak pertemuan pertama mereka. Tapi seperti ada magnet yang membuat The Five Stages of Andrew Brawley tidak menjemukan untuk tetap dinikmati sampai tuntas.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *