Rekomendasi Film Thriller Korea Terbaik – Bagian 1

Sudah cukup lama saya ingin membuat daftar panjang film thriller Korea terbaik namun enggan menulis karena sulit menentukan film yang pantas diletakkan di posisi pertama. Oleh karena itu, diputuskan untuk membaginya saja menjadi beberapa tulisan lalu secara adil menyampaikan alasan personal memuja-muja film tersebut ketimbang meletakkan standarisasi pada angka teratas dan terbawah.

Pada bagian awal tulisan ini, ada beberapa faktor mengapa saya memilih judul film di bawah untuk dibahas terlebih dahulu. Pertama, saya memuliakan film tersebut karena telah melampaui ekspektasi saya (twist dan alur cerita tak terduga). Selanjutnya, kelihaian sutradara dalam memvisualisasikan naskah dengan alur cerita yang tidak biasa. Lalu, isu dan orisinalitas cerita yang saya anggap unik untuk diangkat. Terakhir, atmosfer film terampil dalam menimbulkan perasaan tegang, gelisah, dan takut.

Berikut ini daftar rekomendasi film thriller korea terbaik menurut saya!

1. Memories of Murder (2003)

Berdasarkan kejadian nyata, film ini mengisahkan dua detektif yang berupaya membongkar kasus pembunuhan berantai di Provinsi Gyunggi, kota Hwaseong, Korea Selatan. Berlatar tahun 1986, sejumlah perempuan ditemukan tewas setelah diperkosa lalu dibunuh dengan kejam: mereka diikat serta dibekap dengan stoking.

Kasus ini sangat terkenal dan terus dibahas hingga sekarang karena menjadi Cold Case “kasus tidak terselesaikan”. Kasus ini terjadi pada pertengahan September 1986 hingga April 1991 dan selama periode waktu tersebut setidaknya ada 10 korban yang semuanya adalah wanita. Bahkan ada penyintas yang bersaksi bahwa tersangka adalah pemuda berumur 20-tahunan dan tampak biasa saja.

Kontroversi selama penyelidikan timbul karena pihak kepolisian ditekan militer dan melakukan pemaksaan kepada para tersangka agar mengakui tindak kriminal. Bahkan total tersangka sampai lebih 20.000 orang. Imbasnya terjadi aksi bunuh diri seorang pemuda dengan keterbatasan mental yang dituduh sebagai pelaku.

Film yang disutradarai dan ditulis Joon-ho Bong ini kurang lebih mengambil referensi dengan kejadian nyata di atas. Detektif Park Doo-Man (Kang-ho Song) dan Detektif Sae Tae-Yoon (Sang-kyung Kim) berkolaborasi untuk menemukan pelaku, beberapa adegan investigasi yang terjadi kala itu turut ditampilkan. Paling menonjol bagaimana naskah menambahkan sisi cerita fiktif dimana pelaku dapat dianalisis dan penyidik menemukan titik terang tersangka sebenarnya walau ternyata setiap petunjuk sama sekali tidak berkaitan satu sama lain.

Tempo cerita dalam film ini cenderung lamban namun tidak berbelit-belit apalagi menjemukan malah penonton turut diajak untuk membongkar kasus dan ikut berprasangka. Film ini tidak seperti kebanyakan film thriller Korea lainnya yang bertemakan balas dendam. Memories of Murder tampil sebagai film sederhana dengan kualitas dan kepawaian bercerita luar biasa.

Akhir kisah yang melaju ke tahun 2003 dimana Park Doo-Man telah menjadi pebisnis lalu mengunjungi tempat kejadian perkara adalah interpretasi terbaik mengenai sosok tersangka kasus Hwaseong dan salah satu pengalaman sinema terbaik yang pernah saya alami. Empat menit terakhir dalam Memories of Murder merupakan adegan paling adiluhung bagi saya dan bisa dikatakan sebagai salah satu penutup film terbaik sepanjang masa.

2. Oldboy (2003)

Dari semua film bertemakan balas dendam, Oldboy adalah maha karya sempurna yang tidak hanya mengedepankan aksi laga atau sekedar bermain dengan ketegangan saja tetapi naskahnya memang benar-benar keji, kontroversial dan vulgar. Masuk dalam rangkaian The Vengence Trilogy dari Park Chan-Wook, film ini memang tidak bisa dibahas bila tidak mengungkit dua film lainnya karena ketiganya sama-sama berfokus pada hubungan orang tua dan anak serta rasa kehilangan.

Bila Symphaty for My Vengence (2002) adalah hasil coba-coba yang berujung pada tragedi dan Lady Vengence (2005) condong kepada menuntut balas dengan bengis. Maka Oldboy identik terhadap perpaduan keduanya melalui cerita manis getir para tokohnya.

Mengisahkan Dae-su Oh (Min-sik Choi) yang diculik secara misterius dan disekap selama lima belas tahun lalu dilepaskan dengan perintah untuk menemukan pelakunya dalam waktu lima hari, yang tak lain dan tak bukan adalah Woo-jin Lee (Ji-tae Yu). Min-sik bersama Mi-do (Hye-jeong Kang) berusaha menyingkap alasan penculikan tersebut dan ternyata menuntun kepada dosa yang pernah dilakukan Dae-su puluhan tahun silam kepada Woo-jin.

Begitu banyak adegan yang dikatakan tersohor, misal adegan perkelahian Dae-su tanpa henti di lorong selama tiga menit dengan senjata palunya (one take) dan menjadi salah satu adegan paling bersejarah dalam dunia sinema. Atau kekuatan visual dan cerita ketika Dae-su bertemu dengan Woo-jin diiringi suara latar persetubuhan antara dirinya dan Mi-do yang memilukan dan menjadi penutup paling nahas yang pernah ada dalam film thriller manapun. Oldboy tidaklah dapat diprediksi dan mampu mengaburkan batas moralitas manusia.

Oldboy masuk ke dalam daftar film thriller korea terbaik bagi saya karena membuat saya selama menonton terperanjat, geleng-geleng kepala dan sesak napas menanti akhir nasib setiap karakter. Saya ingat betul kali pertama menonton film ini, mulut saya menganga dan mata melotot karena tak percaya naskahnya begitu dramatis.

3. The Wailing (2016)

Bila kamu penikmat film thriller Korea pasti akan penasaran mengapa saya memasukkan The Wailing dalam daftar awal ini. Bagaimana dengan I Saw the Devil (2010) atau The Man from Nowhere (2010)? Hematnya, dua film itu masih berkutat pada balas dendam dan tak etis rasanya jika menempatkan film-film sejenis dalam daftar yang sama. Maka saya berusaha memberikan pilihan dengan ragam cerita.

Film besutan Hong-jin Na ini pantas untuk masuk dalam deretan awal karena ceritanya berakar pada kejadian transendental. Kisah bermula dari sejumlah kematian misterius yang terjadi di Gokseong, Jeollanam-do dan diduga penyebabnya adalah jamur liar beracun. Namun desas desus warga desa menuntun Jong-go (Kwak Do-won) kepada seorang pria jepang misterius tak bernama (Jun Kunimura) yang dicurigai sebagai pelaku.

The Wailing diibaratkan sebagai perpaduan antara teknik prosedural detektif dalam Memories of Murder ditambah menyajikan sosok iblis yang epik dalam The Cabin in The Woods (2012) tanpa melupakan unsur pengusiran setan ala-ala The Exorcist (1973). Memang film ini rumit, dari segi cerita belum lagi tokoh hilir mudik dengan peran tak terduga. Kita akan terus digiring untuk menebak-nebak siapa sesungguhnya sosok iblis tersebut. Semakin dalam ditelusuri maka semakin ragu juga kita atas kebenaran peristiwa yang terjadi di Gokseong.

Hubungan ayah anak antara Jong-Go dengan putrinya, Hyo-jin (Hwan-hee Kim) sebagai konflik dalam film ini juga membuat darah mendidih bagi yang menonton. Belum lagi kehadiran sosok perempuan misterius (Woo-he Chun) yang seolah-olah ingin menyelamatkan Hyo-jin namun terkesan juga sebagai sang iblis. The Wailing sama sekali tidak memberikan petunjuk terhadap yang hitam dan putih melainkan semuanya hanyalah abu-abu dan semu.

Sosok tuhan yang absen dalam diri Jong-go pun menjadi penanda bahwa tak semua harus bergantung pada iman. Namun, ketika disudutkan pada keimanan itu sendiri, mau tidak mau kita selaku penonton akan turut berkontemplasi menyoal percaya atau tidak terhadap hal yang bersifat niskala.

Bagi saya, The Wailing adalah puisi kepada sosok tuhan yang selalu digambarkan sebagai penguasa atas semesta padahal ia tak berdaya bila hambanya tak percaya atas eksistensinya. Tapi bisa jadi juga merupakan kritik kepada manusia yang selalu kufur terhadap tuhannya. Keruwetan naskah dan orisinalitas cerita ini lah yang membawa saya mendapuk The Wailing sebagai salah satu film thriller Korea terbaik.

Baca juga: Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Januari - April

Itulah tiga film thriller Korea terbaik bagi saya yang pantas untuk dinikmati, setidaknya satu kali dalam hidup. Daftarnya memang pendek, tidak seperti tulisan sejenis yang sifatnya top list dan bisa memuat hingga 10 daftar judul, saya lebih memilih untuk memberikan resensi atas opini saya setelah menonton secara detail ketimbang sekedar memberikan sinopsis dan ulasan singkat saja.

Sebaik-baiknya rekomendasi, ia adalah tulisan bersifat saran yang mesti disajikan dengan baik dan tanggung jawab agar kelak pembaca dapat memutuskan dan menimbang sendiri layak atau tidaknya ia untuk turut menikmati deretan rekomendasi tersebut.

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment