Resensi Serial “13 Reasons Why” : Berbicara Menyoal Isu Bunuh Diri Pada Remaja

Manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial maka komunikasi merupakan kebutuhan fundamental yang tidak dapat dihindari. Lantas, apa jadinya bila kita teralienisasi dari lingkungan?

Melalui serial 13 Reasons Why yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Jay Asher, kita akan melihat bagaimana sosok Hannah Baker (Katherine Langford) yang dipenuhi dengan beragam ekspektasi di masa remajanya terpaksa harus menelan kenyataan pahit dengan memutuskan mengakhiri hidup akibat menerima penindasan dan pelecehan berulang kali di Liberty High School dari orang-orang yang dulu dianggapnya sebagai teman.

Dalam 13 Reasons Why, semua memang akan tampak begitu membingungkan karena semua karakter memiliki latar belakang kuat dan terkadang seakan minta dikasihani walaupun sebenarnya mereka menjadi penyebab utama alasan Hannah bunuh diri.

Alkisah, Clay Jensen (Dylan Minnete) menemukan satu buah kotak misterius yang diberi label bertuliskan namanya di depan rumah. Sesuai peraturan film bergenre misteri tentu Clay penasaran dan ternyata ia mendapati setumpuk audio kaset yang diberi label angka dari satu sampai tiga belas di kedua sisinya. Tujuh buah audio kaset dan satu buah peta membuat dirinya diterpa rasa kebingungan.

Selanjutnya, sudah pasti ia berusaha menemukan cara mendengarkan audio kaset itu dan kini ia harus menerima fakta ketika berhasil memutar audio kaset misterius itu dan mendengar suara renyah yang tak asing lagi di telinganya. Suara perempuan yang dulu ditaksirnya — perempuan bernama Hannah Baker yang beberapa minggu sebelumnya melakukan aksi bunuh diri.

CLAY

Hello, boys and girls. Hannah Baker here. Live and in stereo.”¬†Clay tampak terkejut mendengar suara itu dan terlebih lagi ketika Hannah menyatakan bahwa barang siapa yang menerima rekaman tersebut berarti ia merupakan salah satu alasan dirinya memutuskan untuk bunuh diri.

Dalam 13 Reasons Why hanya ada dua aturan main, pertama: dengarkan, dan kedua: teruskan kaset itu kepada orang setelah nomor kaset yang berisikan kisahmu. Ingin lari dan berusaha tidak mendengarkan? Hannah telah mempersiapkan rencana cadangan dengan mengancam akan mempublikasikan rekaman audio tersebut ke publik apabila peraturan yang dibuatnya dilanggar.

Lalu apakah 13 Reasons Why hanya berbicara soal balas dendam dari orang yang mati bunuh diri?

Remaja Bunuh Diri dalam Adaptasi Televisi

Kita semua tentu tahu konsekuensi dari bunuh diri tetapi tidak semua tahu bagaimana mencegah tindakan tersebut. 13 Reasons Why melihat urgensi itu dan berusaha menyampaikan sejatinya tindakan atau aksi kecil dapat memicu tingkat depresi seseorang. Serial terbaru Netflix ini mampu menghadirkan atmosfir yang semakin gelap setiap episodenya. Total ada 13 episode di musim pertama yang berarti ada 13 alasan akan dikemukakan oleh Hannah mengenai alasan di balik tindakan bunuh dirinya.

Serial ini akan memiliki rasa kedekatan karena tersaji sangat realistis dan jarang terekspos media, seperti latar tempat di tembok kamar mandi yang dipenuh kata caci makian tidak lagi menjadi penyaji rasa namun bumbu utama mengenai hal kecil yang seringkali dihiraukan padahal memicu tindakan perundungan. Maupun penggunaan kata-kata kasar kerap kali digunakan oleh para tokoh yang notabanenya masih menginjak masa remaja.

Semua tentu tahu dan pernah mengalami masa liar remaja yang identik dengan kata ‘pemberontakan’. Hannah ingin merasakan itu semua, menikmati pesta dan bir, ciuman pertama juga memiliki banyak sahabat. Namun keinginan-keinginan itulah yang membawanya menuju petaka.

justin

Justin Foley (Brandon Flynn) adalah kesialan pertamanya. Jatuh cinta membawanya kepada keterpurukan ketika foto tak senonoh tersebar luas keseantero sekolah dan menciptakan rumor dirinya sebagai seorang ‘wanita murahan’ yang sebenarnya tidak pernah terjadi hal demikian. Kemudian perlahan-lahan dia mulai kehilangan satu persatu temannya, dikhianati hingga dilecehkan.

Angket sederhana yang tidak lebih dari sekedar body shaming membawa Hannah hancur. Jiwanya rusak ketika hal kecil berupa potongan kertas bergambar kelinci diambil tanpa dia ketahui. Satu-satunya komunikasi yang dia dapatkan terputus sudah, lalu sisa apalagi? Apa yang mesti dipertahakankan? Hannah berusaha mencari jawaban walau alih-alih telah menyiapkan serangkaian rencana untuk bunuh diri.

Ketika dia berusaha untuk sekali lagi meminta pertolongan, tidak ada seorang pun yang mendengarnya apalagi hendak mencegahnya. Teman, orang tua, maupun guru tidak ada yang mampu memahami apa yang kini tengah bergejolak dipikiran Hannah. Ironisnya, kata-kata ‘menghakhiri hidup’ yang keluar dari mulutnya hanya dianggap sekedar guyonan belaka. Penyesalan selalu datang terlambat bukan?

Melalui rekaman itu, Hannah berusaha membuka diri kepada mereka yang dianggapnya menjadi serangkaian alasan kenapa dia memutuskan untuk bunuh diri. Mungkin Hannah tidak akan pernah tahu alasan mengapa mereka melakukan beragam tindakan buruk kepada dirinya namun setidaknya mereka kini tahu apa yang dirasakan oleh Hannah.

Di akhir episode, adegan Hannah memotong pergelangan tanggannya dan tak lama kemudian ditemukan oleh kedua orang tuanya merupakan pesan tak tersirat yang menyatakan bunuh diri bukanlah tindakan heroik melainkan tindakan keji karena menyakiti perasaan orang-orang yang mencintai dirinya dengan setulus hati.

Sepanjang menonton 13 Reasons Why bisa dipastikan akan timbul rasa tidak nyaman, seperti resah, sesal hingga bersalah ketika kita selaku penonton menyadari mungkin saja telah melakukan hal serupa dengan para tokoh yang menjadi penyebab alasan Hanna bunuh diri. Entah sebagai pihak yang tertindas, menindas maupun tutup mata atas apa yang jelas-jelas terjadi di depan mata.

Serial ini pun menjadi sangat penting karena membicarakan isu yang masih belum berani untuk diangkat ke publik secara nyata. Isu bunuh diri pada remaja masihlah dipandang sebelah mata, ada memang yang peduli namun tidak sedikit juga yang hanya memandangnya sebagai angin lalu. Depresi faktanya tidak memandang umur bahkan berdasarkan data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2014, tindakan bunuh diri menjadi urutan kedua di daftar 10 penyebab kematian bagi remaja berumur 15-24 tahun di United States. Serial ini berusaha menyadarkan kita untuk segera bertindak cepat dan berusaha agar tidak ada lagi remaja yang berakhir seperti Hannah Baker.

13 Reasons Why tidak berbicara menyoal mencari pertolongan namun lebih kepada bagaimana merubah sikap kita sebagai manusia yang harus lebih baik daripada sebelumnya. Menolong sesama tanpa perlu mempertimbangkan banyak hal. Karena di luar sana, banyak remaja seperti Hannah Baker yang tertindas, kesepian dan kebingungan untuk meraih pertolongan.

“Some of you cared… none of you cared enough.” – Hannah Baker

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *