Resensi Film Pendek “Sendiri Diana Sendiri”: Poligami Wujud Kuasa Laki-Laki

Diana hanya dapat menatap nanar pada sebuah layar yang sedang mempertunjukkan bagan-bagan romansa tentang pembagian gono-gini dimulai dari harta, waktu hingga cinta. Jari jemari kecilnya terus menekan simbol panah bawah sampai akhirnya mempertanyakan apa maksud presentasi power point di hadapannya itu, dengan santai sang suami, Ari menjawab hendak menikahi wanita lain. Mungkin saat itu hancur lebur sudah hatinya sebagai seorang istri yang akan dimadu.

Mendobrak Kuasa Patriarki 

Film pendek karya Kamila Andini ini mempertegas isu yang dimuat berkisar masalah poligami sebagai wujud kuasa laki-laki. Ari sebagai seorang suami dengan nyeleneh-nya tanpa terlebih dahulu meminta izin langsung saja meminta agar Diana melihat bagaimana rancangan skema konsep pernikahan mereka akan berubah tidak begitu drastis dan kelak nantinya suasana adil serba 50% akan didapatkan kedua belah pihak. Ari menyakinkan bahwa ini malah membuat pernikahan mereka semakin bermakna. Diana tentu saja geram, tidak terima lantas mengadu perihal nasibnya kepada ibu dan saudari perempuannya.

Wajah murung Diana ditampilkan dengan close up ketika ibu dan saudarinya sedang menceritakan kekecewaannya akan keputusan poligami itu hingga menasehatinya agar mencari tahu alasan suaminya hendak menikahi wanita lain. Penataan gambar seperti itu dilakukan kembali ketika ia dan Ari datang berkunjung ke rumah mertuanya. Wajah Diana dan Ari ditampilkan close up dengan suara-suara yang seakan-akan menyudutkan mereka berdua walau jelas disini Diana menang diatas angin karena sang Ayah menghardik keputusan anaknya yang hendak melakukan poligami karena dianggapnya akan membuat malu keluarga.

Tetapi Ari tetap mempertahankan keputusannya untuk menikah lagi dengan wanita yang merupakan teman lama dan sepengajiannya itu. Disisi lain, Diana sudah menyerah pada perkawinan mereka dan berniat untuk mengakhirinya saja namun Rifqi anaknya kemudian disangkut pautkan menjadi sesosok korban. Hal-hal lumrah yang sering terlontar kala proses perceraian terjadi, ‘anak sebagai korban orangtua.’

Diana lantas kembali tidak menyerah pada rumah tangganya, ia mempoles diri agar tampil lebih menawan. Dialog-dialog kembali hadir di sebuah sauna, dua orang wanita tengah bercengkrama mengenai seorang teman wanita mereka yang sedang dimadu dan pasrah pada ketiadaan, membuat ia termenung dibalik uap-uap panas yang menutupi tubuhnya.

Diana yang tertekan oleh partiarki semakin terlihat kala Ari mulai jarang pulang, ketika hendak menanyakan keberadaan sang suami melalui pesan singkat, ia berkali-kali menghapus pesan dari yang mencekam hingga melunak. Pilihannya jelas jatuh hanya kepada kepasrahan. Alasan membual yang tidak jelas diterimanya begitu saja. Sebagai seorang wanita dirinya membutuhkan seorang laki-laki, sekecil apapun itu. Jatuhlah dia ke dalam perangkap laba-laba sistem sosial itu.

Keputusan dibuat olehnya dengan mengunjungi calon istri kedua sang suami. Begitu malam menyingsing baru diketahui bahwa Ari telah menikah diam-diam secara agama. Kuasa begitu diperlihatkan disini, sebagai seorang suami apapun yang dilakukan adalah hak mutlak tanpa perlu dipertanyakan oleh sang istri. Diana menyerah pada keadaannya dalam diam yang begitu panjang.

Lambat-laun dirinya mulai berubah dengan memutuskan kembali menjadi wanita karir. Bekerja membuatnya melupakan polemik kehidupan rumah tangga. Ari di sudut lain, malah mempersoalkan perilaku Diana yang berubah dengan menganggap ia memandang rendah posisi seorang suami karena telah memiliki penghasilan sendiri. Diana akhirnya melawan semua konsep partiarki yang telah bersemayam pada dirinya. Pertengkaran terjadi antara dia dan Ari, ngotot bahwa selama ini selalu hanya ada dirinya dan Rifqi saja, semua urusan selalu dia melulu yang membereskan. Marah, Ari hendak memukulnya untung semua selesai disini, Kamila Andini selaku sutradara tidak mempertunjukkan adegan kekerasan dalam rumah tangga karena jadinya jauh dari isu yang ingin digambarkan olehnya.

Puncaknya, keresahan hati Diana disampaikan kepada Rifqi ketika mereka sedang menjemur pakaian bersama. Diana mengutarakan akan berpisah dengan Ari kepada anaknya. Dengan polos, Rifqi malah melontarkan bahwa selama ini  selalu hanya ada dia dan Diana saja. Semua beban lantas sirna dari tubuh Diana. Sesosok laki-laki yang dibutuhkannya sebenarnya telah hadir namun baru saat itu dia menyadarinya.

Senyap Dalam Diana

Sendiri Diana Sendiri atau dalam judul internasionalnya Following Diana merupakan sebuah film yang senyap, mengapa demikian?, karena nuansa yang dihadirkan jauh dari intrik emosi namun lebih melibatkan kepada perasaan. Bisa dilihat pada adegan-adegan hening ketika Diana sedang duduk di teras depan rumahnya, termenung sendiri. Atau adegan kebersamaannya dengan Rifqi, dari menonton bareng hingga membereskan rumah bersama.

Kuasa Diana dalam rumah begitu jelas terlihat tetapi tidak dirasakan olehnya. Kehadiran Ari yang jarang di rumah malah menjadi sekelumit beban mengganjal di hatinya, terlebih lagi Rifqi yang dirasanya membutuhkan figur seorang ayah. Lagi-lagi Diana terjebak pada konsep partriarki, dengan sosok suaminya sebagai tokoh utama yang sentral dalam rumah tangganya.

Dilansir dalam berita BBC Indonesia, Kamila Andini menyatakan memang lebih tertarik untuk mengeksplorasi perasaan bukan emosi. Makanya, selama 40 menit di film ini, tidak ada satu pun  adegan histeris menyanyat hati yang mempertunjukkan betapa rapuh atau tegarnya hati Diana yang terpaksa terjebak dalam pengabdian serta nilai-nilai budaya dan agama.

Film pendek ini seperti sebuah ritual yang begitu tenang namun diam-diam dipenuhi bermacam reaksi atas isu poligami. Tidak seperti Ayat-Ayat Cinta yang menunjukkan keselarasan ide atas nilai agama, sebaliknya Sendiri Diana Sendiri malah lebih memanusiakan manusia dalam konteks kehidupannya.


Sendiri Diana Sendiri (Following Diana) | 2015  | Durasi: 40 menit | Produksi: BABIBUTAFILM | Sutradara: Kamila Andini | Pemeran Utama: Raihanuun, Tanta J. Ginting, Panji Rafenda Putra | Negara: Indonesia | Bahasa: Indonesia

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *