Resensi Novel: My Heart and Other Black Holes

WACANA bunuh diri seringkali diperdebatkan, entah itu dikaitkan dengan moral, agama maupun pakem budaya yang kerap berujung malah mengadili si eksekutor tanpa sempat mempertanyakan hal terpenting: “Mengapa?” My Heart and Other Black Holes berusaha menjawab dilematis ini melalui sudut pandang dua remaja yang hendak bunuh diri bersama, Ayzel dan Roman yang dipertemukan melalui daring situs bernama ‘Smooth Passage’.

Tidak seperti 13 Reasons Why, buku perdana yang ditulis Jasmine Warga ini lebih realistis dan terkesan tidak mengada-ngada. Memfokuskan antara kisah Ayzel dan Roman yang sama-sama memiliki hantu di masa lalu. Melalui sudut pandang pertama dari Ayzel, My Heart and Other Black Holes tampak jujur berusaha menggambarkan bagaimana pemikiran bunuh diri bisa terjadi dan hal kecil apa yang mampu mencegahnya.

Ayzel, remaja perempuan ini begitu menderita pasca kejadian sang ayah membunuh Brian Jackson, dirinya dihantui mengenai kemungkinan dapat menderita gangguan jiwa seperti ayahnya sementara Roman adalah remaja lelaki yang dihantui perasaan bersalah karena menjadi penyebab kematian adik perempuannya. Baik Ayzel maupun Roman menyimpan lubang hitam di hati masing-masing yang tidak lagi bisa disembuhkan.

17 April merupakan tanggal yang disepakati mereka berdua untuk melakukan bunuh diri bersama dengan cara terjun dari bukit besar di atas Sungai Ohio. Waktu yang tersisa bagi mereka hanyalah satu bulan namun selama masa itu, Ayzel dan Roman menyelami karakter serta latar belakang satu sama lain, membuka tabir dan memunculkan pilihan antara terus bertahan hidup atau tetap mengakhirinya.

Cerita Sederhana

Saya jarang membaca buku yang memiliki tema suicidal behavior dan baru-baru ini tertarik berkat serial 13 Reasons Why yang sempat saya kagumi namun setelah saya amati kembali ternyata terlalu banyak hal mengada-ngada, dilebih-lebihkan serta tidak konsisten ketika berbicara mengenai pemikiran bunuh diri dari sosok si eksekutor, Hannah Baker.

Berbeda dengan 13 Reasons Why, novel My Heart and Other Black Heart lebih mengedepankan karakter yang membumi dengan masalah nyata yang bisa dialami siapa saja dan kapan saja. Karakter Ayzel maupun Roman sama-sama berjuang untuk hidup dengan versinya masing-masing. Walaupun memiliki akhir yang terkesan menyederhanakan proses bantuan kepada si pelaku bunuh diri, novel ini menuturkan bahwa tindakan bunuh diri dapat terjadi kepada siapa saja dan hal terkecil yang dapat kita lakukan adalah mendengarkan dan memahami tanpa perlu memberikan segudang nasihat yang tidak berarti.

Keunggulan besar novel ini terletak pada cara Jasmine Warga bercerita dengan kata-kata yang sangat sederhana namun seakan menyihir saya sebagai pembaca. My Heart and Other Black Heart begitu mudah dicerna walau jelas tersirat begitu banyak problematika di dunia namun tidak boleh sekalipun kita menyerah karenanya.


Judul: My Heart and Other Black Heart | Pengarang: Jasmine Warga | Penerbit: HarperCollins/Balzer+Bray | Jumlah Halaman: 302 (Kindle Edition) | Bahasa: Inggris

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *