Novel Kumpulan Cerita Cinta Tak Ada Mati – Review

Sumber: Twitter Gramedia

Eka Kurniawan sekali lagi berimajinasi liar dalam Cinta Tak Ada Mati yang menyuguhkan cerita pendek (cerpen) tentang Mardio, bujangan berumur tujuh puluh tahunan yang cinta buta terhadap Melatie selama enam puluh tahun meskipun perempuan itu telah menikah dengan seorang dokter dan memiliki keluarga bahagia. Sama dengan cerpen sebelumnya, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta melalui Mimpi yang terkesan mistis, dalam cerpen kali ini, sekali lagi digambarkan mengenai ketidakwarasan pikiran anak manusia yang tengah disergap cinta, hasrat, dan mimpi. Pada bahwasanya dibalik kedua cerpen ini ada suratan nasihat: “cinta perlu ditakar agar kau tak hilang logika.”

Latar tempat dalam cerpen ini mengambil pusat perkotaan modern tahun 1950-an hingga 2000-an, tidak ada pantai, atau sedikitnya nuansa khas Tasikmalaya yang kerap muncul dalam cerita utama buatan Eka Kurniawan. Mardio dikisahkan sebagai perobek tiket bioskop yang menggoda Melatie dengan menawarkan menonton gratis (karena perempuan itu tergila-gila dengan film). Ada yang menggelitik ketika Darah dan Doa menjadi tontonan pada kencan pertama mereka karena seakan-akan Mardio diibaratkan adalah antitesis dari Kapten Sudarto yang terlibat cinta dengan dua gadis padahal telah beristri.

Lucunya, Melatie juga seakan telah memiliki suratan takdir sebab ia dilahirkan saat kedua orang tuanya menonton Melatie van Java. Melatie mungkin tak ingin bernasib sial seperti Melatie dalam film tersebut, sebab mereka sama-sama putri seorang juragan kaya maka satu hal yang ingin diubah Melatie: Ia tak ingin mempunyai kekasih yang tidak dicintainya. Itulah sebab mengapa ia dan Mardio mungkin memang tidak akan pernah bisa bersatu sebab film adalah kunci nasib tragis percintaan mereka.

Cinta Tak Ada Mati memang cukup panjang sebagai sebuah cerpen tetapi kisah Mardio begitu humanis dan bahkan dapat diamini oleh orang-orang yang sedang patah hati. Sama halnya dengan Kapten Sudarto, Mardio pun pada akhirnya hanya manusia biasa yang bisa memiliki niat keji untuk mendapatkan apa yang ia inginkan walau semua berakhir sebagai imajinasi liar yang enggan diwujudkannya, entah itu perkara dosa atau ketakutan-ketakutannya akan menyakiti perasaan si perempuan. Kini, satu pertanyaan membekas dalam benak saya:

Adakah seorang laki-laki di dunia ini yang mampu mencintai layaknya Mardio terhadap Melatie?

II

Total cerpen dalam kumpulan cerita (kumcer) Cinta Tak Ada Mati berjumlah 13 dimana diantaranya telah dimuat di kumcer sebelumnya maupun media cetak dan daring, misalnya Kutukan Dapur (dimuat di jurnalruang) dan Penjaga Malam (dimuat di Kumpulan Budak Setan). Dalam kumcer ini tak ada satu benang merah melainkan cerita yang berdiri sendiri dengan kegilaan di dalamnya.

Misalnya, perdebatan batin manusia dan tuhan dalam Surau. Karakter Sang Aku yang tengah terjebak di surau karena hujan deras lalu bingung haruskah ia menunaikan salat karena segan kepada guru ngajinya, Ma Soma yang tengah salat di Surau. Tetapi suara-suara dalam pikirannya terus berdebat, “Apa salahnya membuka sepatu, mengambil wudu, dan mendirikan salat?”.

“Tapi untuk apa?” Sang Aku kembali bertanya. Sebab Sang Aku semasa hidupnya selalu dipukul dengan mistar kayu oleh sang Ayah jika ia tidak mendirikan salat. Namun, kini setelah sang Ayah tiada tak ada lagi perih di kakinya maka ketika ia coba-coba tinggalkan salat ternyata semua berlalu begitu saja tanpa ada hukuman, dan ancaman dari Tuhan. Sebab ia diajarkan tidak untuk mencintai Tuhan melainkan takut terhadap mistar sang Ayah. Cerpen ini saya anggap sebagai sindiran problematik kepada ajaran-ajaran agama mengenai kewajiban dan sistem edukasi yang terkadang sarat kekerasan tetapi malah berbuah pada kenihilan. Bisa dibilang sepanjang membaca buku-buku Eka Kurniawan, Surau terasa paling personal dan melekat bagi saya.

Ada lagi cerpen berjudul Caronang, sebuah kisah fantasi mengenai binatang liar Caronang yang ditangkap dan dipelihara lalu ujungnya membawa petaka. Petaka terjadi ketika di suatu hari yang keji, Caronang menarik pelatuk, menembak dua kali, menghajar habis seorang balita hingga tiada. Nasib Caronang tentu berakhir tragis juga dengan dibunuh dan disembelih. Manusia memang sebegitu kejinya kerap menyalahkan pihak tak bersalah padahal ia yang pertama memulai awal petaka. Kritisme Eka Kurniawan terhadap manusia tampak tak usai pada cerita-ceritanya yang selalu dipenuhi oleh nuansa realisme magis.

Hal ini juga berlaku kepada cerpen Tak Ada yang Gila di Kota Ini, ketika suatu kota dihadapkan pada wabah berisikan orang-orang gila yang kemudian di tangkap dan dibuang di tengah Hutan Jati. Alih-alih memberikan fasilitas, dan kehidupan lebih baik, para orang gila ini malah dimonetisasi dengan dijadikan bahan tontonan pada pertunjukan sirkus di setiap musim liburan yang sarat dengan kegiatan seks.

Jadi yang lebih gila siapa? Si manusia yang bikin atraksi orang gila atau si orang gila itu sendiri?

Akhir kata, sebagai seorang pembaca tentu tidak semua cerpen dalam Cinta Tak Ada Mati menarik karena setiap orang memiliki referensinya masing-masing. Beberapa cerpen yang menarik lainnya selain yang telah disebutkan di atas, yaitu Lesung Pipit, Bau Busuk, dan Jimat Sero.

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment