Resensi Buku “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” : Sufisme Seksual

Berahi manusia kerap kali dimaknai Eka Kurniawan sebagai perangai nafsu yang tidak hanya dalam konteks erotisme namun realisme juga, terbukti melalui dua bukunya, Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004). Setelah sepuluh tahun absen dalam dunia penulisan kini ia kembali menceritakan bagaimana aktivitas seksual sebagai perwujudan dari kemarukan manusia dalam buku terbarunya Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014).

Buku ini mengisahkan tragedi impotensi yang dialami Ajo Kawir akibat menjadi saksi kebrutalan dua orang polisi yang tengah memerkosa seorang perempuan gila. Adegan ini seolah menjadi simbol ketika zaman dimana kekuatan tertinggi berada di tangan aparat negara yang dipenuhi oleh kekerasan dan premanisme. Maka tak ayal kisah bergulir mengenai Ajo Kawir yang dilanda kemurungan hingga memutuskan bahwa kekerasan merupakan jalan satu-satunya untuk menghindar dari kesedihannya.

Kenyataannya Iteung malah menjadi masalah selanjutnya bagi Ajo Kawir karena cintanya kepada perempuan yang jago silat itu begitu besar namun bayangan ketakutan mulai menghantuinya perihal kemaluannya yang memilih untuk tidur panjang sehingga timbul rasa cemas tidak dapat memuaskan Iteung yang diam-diam terobsesi oleh penis akibat dilecehkan oleh guru sekolahnya. Kisah cinta mereka berdua diakhiri dengan tragedi ketika Iteung kedapatan hamil dan amarah mendominasi Ajo Kawir yang menggiringnya pada pembunuhan kepada orang yang tidak ada sangkut pautnya.

Selepas keluar dari penjara Ajo Kawir memutuskan untuk berdamai dan memilih mencari ketenangan batin. Disinilah puncak tertinggi spiritualisme yang dialami Ajo Kawir yang telah dapat berdialog dengan kemaluannya. Dialog-dialog sederhana kerap terjadi antara ia dan kemaluannya dalam setiap penentuan keputusan hidupnya. “Burungku bilang, aku tak boleh berkelahi.” (188)

Sejauh ini Eka berusaha mengajak pembaca untuk berkompromi kepada makna ‘cinta tanpa logika’ dan berusaha merenungi kedamaian sesungguhnya melalui perlawanan terhadap hasrat seksual manusia. Seolah-olah dirinya mengajukan pernyataan kalau dorongan berahi kerap kali mengambil alih moralitas manusia. Gagasan tersebut dapat dibenarkan ketika kasus Iteung yang dicabuli oleh gurunya maupun perselingkuhan Iteung dengan Budi Baik yang didasarkan hasrat hewani walaupun jelas-jelas melanggar moral bahkan meski telah dilecehkan sekalipun Iteung malah kedapatan memimpikan kemaluan sang guru hingga ‘basah’. Gagasan moralitas kemudian dipertanyakan dan kemaluan dijadikan tersangka. Ajo Kawir adalah perandai-andaian mengenai pertanyaan Eka ketika bagaimana apabila ada seorang manusia yang tidak lagi dikendalikan oleh kemaluannya.

Perjalanan Ajo Kawir sebagai filsuf berada ketika dirinya menjadi supir truk ditemani Mono Ompong, keneknya. Dirinya menghindari berbagai kekerasan dan memutuskan melanjutkan hidupnya dalam kedamaian. Bahkan ia ternyata menyayangi anak Iteung sebagaimana anaknya sendiri dan masih merindukan istrinya yang dipenjara akibat membunuh Budi Baik. Dendamnya luntur sebagaimana kesedihan-kesedihan yang terpendam pada dirinya namun rindunya belum dapat tertuntaskan karena masih belum dapat memaafkan Iteung.

Dalam sebuah kolase cerita perkelahian antara si Kumbang dan Mono Ompong, Ajo Kawir melakukan perdebatan antara dirinya, kemaluannya, dan si Jelita, seorang gadis misterius yang diam-diam sembunyi di truknya. Dalam masa yang panjang baru kali pertama Ajo Kawir mimpi basah kembali dan mengingat jelas bahwa kemaluannya dalam mimpinya tengah mengacung tegak, besar, dan keras. Objek fantasi seksualnya adalah Jelita, seorang perempuan dengan tampang buruk rupa. Pikirannya disesaki mengenai perasaan cintanya kepada Iteung dengan rasa penasaran mengenai jelita dan kemaluannya. Praduga-praduga itu terbukti ketika pada sebuah bilik kamar mandi persetubuhan yang dahsyat terjadi antara ia dan Jelita yang setelahnya hilang secara misterius seperti kedatangannya.

Disini puncak spirtualisme yang dialami oleh Ajo Kawir terjadi dengan memutuskan untuk memaafkan Iteung dan kembali ke rumah agar membangun kembali kehidupannya dari awa; sebagai sebuah keluarga sederhana yang dimimpikan olehnya.

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas nyatanya bukanlah kisah yang serumit dua buku Eka sebelumnya. Buku ini lebih sederhana dalam bertutur namun dalam penceritaannya sangat mengacak-acak tempo waktu dengan membaginya menjadi satu adegan per adegan yang singkat dan cepat. Eka sekali lagi membuktikan dirinya berani bermain-main dalam berlakon sebagai penulis.

Eka juga mengajak kembali para pembaca untuk bernostalgia mengenai kisah-kisah silat yang diceritakannya melalui kisah Perguruan Silat Kalimasada dan tidak lupa mengungkit-ungkit komik seputar surga neraka yang dipenuhi oleh gambar cabul. Eka Kurniawan merupakan citra rekam zamannya sendiri yang berada di rezim soekarno, dipenuhi oleh tragedi-tragedi tidak waras sama halnya dengan bukunya yang selalu dipenuhi tokoh-tokoh dengan karakter ‘tidak waras’.

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *