Resensi Film “Tiga Dara”  : Memperdagangkan Film Idealis

Setelah Lewat Djam Malam, ada Tiga Dara yang berhasil direstorasi dan kembali dipertontonkan kepada publik. Keduanya adalah film Usmar Ismail, meski berada di tangan yang sama namun jauh dari kata serupa. Usmar Ismail sendiri menonjol sebagai pelopor film Indonesia dengan film pertamanya Darah dan Doa – yang diakui sebagai film pertama, diproduksi oleh Perusahaan Film Indonesia (Perfini) yang juga memproduksi dua film yang kini telah direstorasi dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Menariknya, estetika dari Tiga Dara sangatlah berbeda dari dua film Usmar Ismail sebelumnya, disebabkan Perfini mengalami krisis keuangan sehingga mau tidak mau Usmar Ismail harus kompromi membuat film komersil yang jauh dari visinya dalam memproduksi film.

Tiga Dara bercerita tentang tiga perempuan bersaudara kandung: Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya) dan Nenny (Indriarti Iskak). Ketiganya dibesarkan oleh nenek mereka (Fifi Young) di Jakarta setelah ibu mereka meninggal sementara sang ayah, Sukandar (Hassan Sanusi) terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak pernah benar-benar memiliki waktu untuk memerhatikan kehidupan ketiga putrinya.

Nenek mereka kemudian gelisah perihal Nunung yang telah hampir mencapai kepala tiga namun belum mendapatkan calon suami bahkan bersikap seolah-olah urung untuk menikah. Hal ini kemudian membawa Nunung kepada serangkaian percobaan perjodohan yang diprakarsai oleh neneknya, sang ayah dan adiknya, Nenny. Semua upaya itu akhirnya berujung pada kesia-siaan.

Suatu ketika, Nunung yang sedang merasa resah akibat permintaan sang nenek tertabrak skuter yang dikendarai oleh Toto (Rendra Karno). Karena merasa bersalah, sang pengendara datang menjenguk Nunung setiap hari dan membawa bunga. Toto sendiri pelan-pelan jatuh hati tetapi sikap Nunung yang ketus dan jual mahal membuat Nana mencari celah untuk mendekati Toto. Perikaian kedua saudari tersebut menjadi konflik utama film.

Memperdagangkan Tiga Dara

Film komedi musikal yang legendaris ini diproduksi tahun 1957 dan dianggap menjadi karya klasik dari perfilman Indonesia, dengan tema-tema yang masih relevan dengan masyarakat Indonesia modern walau jelas banyak dipengaruhi oleh drama musikal Hollywood bahkan beberapa kali pada film terlihat potret Marilyn Monroe yang merupakan simbol ikonik wanita modern era tahun 1950-an.

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, Tiga Dara adalah hasil kompromi antara idealisme Usmar Ismail dan kebutuhan komersialisme untuk menyambung hidup Perfini. Pada era 50-an film dibagi menjadi dua katagori, yaitu film nasional dan film tionghoa. Gagasan ini lahir dari dominasi film-film tionghoa yang beredar di bioskop namun dianggap oleh kalangan seniman tidak mewakili citra pembangunan watak dan kebangsaan Indonesia (Character and Nation Building).

Akibat dari logika ini, pembuatan film Tionghoa diasosiasikan dengan komersialisme, terlepas dari upaya produser Tionghoa membuat film yang mencoba menggambarkan kebudayaan dan cerita lokal, film-film mereka tetap dianggap sebagai oportunis dan tidak memiliki idealisme. Gagasan film nasional yang terkenal diutakan oleh sutradara Soemardjono dengan menunjukkan bahwa ‘film nasional’ adalah proyek nasionalis dengan segala material dan aspirasi budayanya. Dan hal itulah yang dianut Usmar Ismail pada setiap karyanya termasuk Tiga Dara walau memiliki agenda sendiri, yaitu menarik keuntungan.

Tiga Dara memang proyek dagang tetapi lebih jauh dia juga merupakan film yang penuh dengan kekayaan watak kepribadian bangsa. Penggambaran ini dapat dilihatkan dari pembentukan ketiga citra karakter perempuan bersaudari tersebut. Pertama, Nunung identik mengenakan pakaian lokal adat jawa dengan karakter yang lempeng atau tidak neko-neko. Kedua, Nana merupakan potret remaja kekinian yang terkena pengaruh budaya barat, dari jenis pakaian dan pesta tarian dansa. Terakhir, Nunu sama halnya dengan Nana, potret gadis kota kekinian. Hal ini dipertegas dari kepergian Nunung ke Bandung, baik Nana dan Nunu ternyata sama-sama tidak mengetahui bagaimana mengurus rumah karena semuanya dikerjakan oleh Nunung. Seolah-olah mempertunjukkan bagaimana kelakuan wanita modern dan pengaruh barat yang memberikan dampak buruk kepada generasi masa kini di era itu. Lantas, film ini menjadi begitu dekat karena masih sejalan dengan relevansi modern masa kini.

Penggambarkan modern vs konservatis ini juga digambarkan melalui perseteruan antara sang Nenek dengan sang Ayah. Sang Nenek mempercayai bahwa Nunung akan terkena kutukan menjadi perawan tua apabila Nana ‘melangkahi’ saudari tertuanya itu yang jelas-jelas dibantah oleh sang Ayah dan Nunung dengan menganggap bahwa itu hanyalah takhayul dan mitos saja. Budaya ketimuran tengah yang disanjung diperlihatkan ketika penolakan keras kepada gaya hidup Nunung yang dibuat seolah-olah bebas dengan ‘kumpul kebo’ bersama banyak pria di satu rumah.

Pada akhirnya, walau Tiga Dara dianggap sebagai produk dagang oleh Usmar Ismail, nyatanya narasi di dalamnya menerapkan kerangka representatif dari kebudayaan Indonesia, melalui ekspresi, cerita, dan karakter yang tampak di layar.

Menonton film restorasi, bernostalgia dengan waktu

Apa sih kepentingan film restorasi? Buat saya pribadi, film restorasi memiliki titik kepentingan perihal database dan perawatan film-film klasik di Indonesia, dengan adanya restorasi maka akses film semakin mudah pula untuk dijangkau oleh publik. Ini juga dapat dikatakan sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada para seniman pembuat film dan jejak sejarah ini penting untuk diabadikan.

Menonton Tiga Dara adalah pengalaman terbaik yang pernah saya dapatkan- sebagai film restorasi pertama yang saya tonton di bioskop setelah sebelumnya tidak sempat menonton Lewat Djam Malam. Kenapa bisa demikian? sederhana, saya seperti bernostalgia dengan waktu walau tidak ada diera tersebut bahkan film itu lebih tua ketimbang kedua orang tua saya.

Beberapa pasangan berumur tampak memenuhi teater di Mega Bekasi XXI, tempat saya menonton film ini. Lucunya, salah satu pengunjung bertanya kenapa saya dan kedua teman saya mengenai alasan mau menonton film jadul, perbincangan kecil terjadi antara saya dan dia – Dia menceritakan bagaimana rindu pada aktor-aktor zaman dahulu dan saya selalu tertarik pada film-film klasik. Bahkan selama berlangsungnya pemutaran ada beberapa pengunjung yang menyelutuk, “wah itu jalan apa yah!”, “jalan thamrin itu”, lalu mereka tertawa bersama-sama walau tidak saling mengenal.

Hal-hal yang seharusnya dianggap haram itu (“berbicara saat menonton”) malah menjadi bumbu penting pada film restorasi – mereka pernah ada dan ternyata masih asyik untuk dibicarakan.

Selamat Menonton Tiga Dara !

Leave A Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *