Press "Enter" to skip to content

Month: April 2018

Film A Quiet Place (2018) – Review

Keberadaan unsur suara dalam adegan horor selalu menjadi faktor penting bagi kebanyakan pembuat film untuk menakuti-nakuti penonton namun film A Quiet Place (2018) malah sebaliknya, ia menjadikan suara sebagai musuh dan penonton turut diajak untuk diam sepanjang menyaksikan perjuangan keluarga Abbot untuk bertahan hidup dari kejaran para monster yang telah menginvasi Bumi.

Di awal cerita kita tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Bumi? Mengapa keluarga Abbot berbicara secara berbisik-bisik serta menggunakan bahasa isyarat? Bahkan upaya keras mereka menghindari timbulnya suara tampak dari absennya alas kaki sepanjang mereka berduli. Maka ketika unsur suara membahana untuk pertama kalinya penonton tersadar ada monster yang mengintai mereka melalui suara.

Regan (Millicent Simmonds) dan Lee (Krasinki)

Pada paruh pertama film kita mulai paham bahwa keluarga Abbot menguasai bahasa isyarat karena memiliki anak perempuan yang tuna rungu, yaitu Regan (Millicent Simmonds), ini menjadi detail penting mengenai konsep dunia post-apocalyptic kreasi Bryan Woods dan Scott Beck dimana manusia masih menguasai bahasa verbal dan kejadian invasi belum berlangsung lama walau dampak kerusakan terlihat global. Selain itu, konflik utamanya mulai jelas, yaitu Evelyn (Emily Blunt) sedang mempersiapkan proses kelahiran anaknya. Maka siap-siap bergidik ngeri membayangkan Evelyn harus menahan rintihan dan jeritan selama proses melahirkan. Belum lagi mengakali suara tangisan bayinya yang baru lahir.

Di tangan John Krasinski, film A Quiet Place tidak hanya meneror namun juga menjelma menjadi drama yang sentimentil mengenai hubungan antara orang tua dan anak ditengah-tengah rasa bersalah dan kehilangan menghantui mereka.

Hubungan Lee (Krasinki) dan Regan serta putranya, Marcus (Noah Juppet) yang terkesan rumit tapi sederhana ini menjadi modal yang membuat penonton akan bersimpati terhadap Lee dan Regan juga mungkin akan sedikit dongkol dengan karakter Marcus yang perajuk. Evelyn memang sedikit terabaikan hingga di paruh kedua film dengan ditampilkan sebagai sosok ibu yang berusaha tegar agar tidak menjadi beban bagi suami dan kedua anaknya. Namun ketika film memasuki babak klimaks, ia berubah menjadi sosok heroik demi menyelamatkan bayi di dalam perutnya serta suami dan kedua anaknya yang tengah terancam oleh para monster.

Bila ditinjau dengan saksama, formula penceritaan yang dipakai dalam film A Quiet Place sangat-sangatlah umum, biasa-biasa saja dan tidak istimewa. Pola tiga babak dan tensi emosi yang dimainkan dalam naskah film ini sangat familiar ditemukan pada ratusan film horor sejenis. Lantas apa yang menjadikan A Quiet Place begitu popular, dikagumi bahkan sanggup menaklukan pendapatan film blockbusters sekelas Pacific Rim: Uprising (2018) dan Ready Player One (2018)?

Keluarga Abbot dalam A Quiet Place

First, we miss the old days. Menjamurnya film horor di bioskop bukan berarti bukti kualitas film terjamin. Fiilm sekelas The Conjuring (2013) sekalipun lagi-lagi masih menjual adegan-adegan ritual, hantu, iblis dan pengusiran setan. Padahal di era klasik kita bisa mendapati film The Shining (198) atau Suspiria (1977) yang absurd dan Let the Right One In (2008) yang mencekam atmosirnya tanpa perlu bersusah payah menakut-nakuti penontonnya.

Kedua, not engaged in any politics or social movements. Hollywood yang sedang diamuk massa karena gap gender, ras, dan orientasi seksual membuat banyak film tampak harus memiliki isu dan muatan yang berkaitan dengan masalah tersebut, bahkan sekaliber film horor yang ranahannya jauh dari kata drama atau kampanye sosial ikut juga ketarik. Seperti yang baru-baru ini saja terjadi kepada film fiksi ilmiah A Wrinkle in Time (2018) yang mempromosikan diri sebagai film diverse dan wajib ditonton karena tokoh utamanya orang kulit hitam. Atau Ghostbusters (2016) yang ingin menjadi film feminis namun berujung reverse sexism. Akhirnya, mereka malah gagal di box office.

Kehadiran film A Quiet Place seperti angin segar dalam dunia sinema yang tidak selalu melulu harus sarat akan pesan dan isu sosial. Kesuksesan film ini juga menjadi bukti bagi film horor yang menggunakan kesederhanaan dalam bercerita, yaitu The Babadok (2014), Don’t Breathe (2016) dan Get Out (2017). Terlepas dari isu rasial dalam Get Out mengenai diskriminasi yang diterima orang kulit hitam di Amerika, film besutan Jordan Peele ini tidak berlebihan atau menjual isu rasial dalam filmnya. Tata cara bertutur yang logis dan tidak memaksa memainkan peran penting untuk diterima oleh penonton.

Sekali lagi, film A Quiet Place menjadi tontonan yang cukup menghibur sekaligus mencekam dan membangkitkan nostalgia mengenai dunia sinema yang tidak rumit. Tapi kita memang masih jauh dari kata ‘ideal’ untuk masalah representasi dan masih banyak rintangan untuk melaluinya.

Membaca Dua Novel Young Adult LGBTQ Karya Shaun David Hutchinson

Setelah saya direkomendasikan teman untuk membaca novel young adult Benjamin Alire Sáenz, Aristotle and Dante Discover the Secret of the World tahun lalu, saya jadi keranjingan membaca novel yang penuh diversity, terutama isu LGBTQ+ karena saya masih awam membaca novel-novel tersebut. Melalui situs Goodreads, saya tanpa sengaja terpapar penulis yang aktif menulis dengan karakter homoseksual, yaitu Shaun David Hutchinson.

Hutchinson sendiri sangat aktif membagi pengalamannya soal coming out as a gay man dan kesehatan mental di twitter dan situsnya. Tak ayal novel karangannya tidak jauh-jauh dari soal depresi dan penerimaan diri.

We Are the Ants

Bagaimana rasanya bila kita diminta untuk memilih membinasakan atau menyelamatkan dunia? Henry Denton yang diculik terus menerus secara misterius oleh alien yang disebutnya ‘the Sluggers’ dihadapkan pada pilihan itu. Waktu yang ia miliki hanya 144 hari sebelum dunia berakhir. Dan ia harus memutuskan apakah dunia pantas untuk diselamatkan.

Masalahnya Denton sudah terlalu banyak mengalami rasa kehilangan. Pertama, Jesse, kekasihnya yang bunuh diri pada suatu malam tanpa meninggalkan sepucuk surat. Lalu, sahabatnya, Audrey berdusta mengenai kematian Jesse. Kemudian, Marcus, teman bercintanya di kubikel kamar mandi sekolah kerap merundungnya sebagai homoseksual. Terakhir, kehadiran Diego membuat dirinya merasa bersalah terhadap Jesse.

Sepanjang membaca tentu saya menerka-nerka: Metafora apa yang berusaha digambarkan Hutchinson dalam We Are the Ants melalui karakter Denton? Mengapa the Sluggers memilih menculik Denton? Atau sebenarnya tidak pernah ada yang namanya the Sluggers, kecuali hasil imaji liar buah dari beban hidup Denton?

Setelah membaca saya menyadari gagasan dalam We Are the Ants sangat jelas, yaitu keterusterangan lebih penting ketimbang kebohongan. Denton yang kerap diculik alien merupakan kiasan bagi dirinya yang meminta pertolongan ke orang-orang disekitarnya. Bahkan dari judulnya saja ‘semut’ merupakan simbol dari koloni – Semut tidak dapat hidup sendirian, mereka butuh para semut lainnya untuk bergotong royong membangun sarang dan mengumpulkan makanan.

Melalui tangan dingin Hutchinson, novel ini sama sekali jauh dari kata lebay, cheesy dan norak. Dengan bumbu-bumbu sains dan tugas dari Ms. Faraci kita akan menyelami dunia fiksi ilmiah yang unik. Isu bunuh diri tergambarkan secara tedas. Karakter Jesse yang bunuh diri merupakan gambaran dari kesahihan persoalan itu sendiri. Depression isn’t a war you win. It’s a battle you fight every day. You never get to stop, never get to rest. It’s one bloody fray after another.

We Are the Ants memiliki pesan di dalam goresan kisahnya walau tidak secara gamblang namun subtil. Bila diperhatikan tidak ada adegan dimana Henry, Jesse dan Diego perlu mengungkapkan orientasi seksual mereka dan tidak semua tokoh digambarkan sebagai orang kulit putih dengan gender spesifik. Hutchinson berhasil mengambarkan representasi dunia yang ideal mengenai kesetaraan dan keragaman.

The Five Stages of Andrew Brawley

Tidak semegah We Are the Ants namun kisah Andrew Brawley masih dapat dinikmati dan cenderung lebih kelam dibandingkan hidup Denton. Andrew atau Drew telah bertahun-tahun tinggal di rumah sakit, ia gemar membuat novel grafis, berbagi cerita fiktif kepada perawat, dan pasien anak-anak serta mengelabui kematian. Drew sadar ia tidak seharusnya hidup dan kini kematian terus mengincarnya.

Di novel ini, Hutchinson menggunakan grafis sebagai penanda masa lalu Drew, terkadang ada tipikal orang yang lebih tenang mengutarakan lewat gambar ketimbang kata. Drew salah satunya. Tentu saya juga bertanya-tanya: Mengapa Drew tidak berani keluar dari rumah sakit sementara dirinya bukan penderita social phobia? Bagaimana mungkin tidak ada sekalipun orang mencarinya? Sedikit demi sedikit beban traumatik masa lalu Drew terbongkar melalui karakter ‘Pasien F’ dalam novel grafis yang dibuatnya.

Disinilah saya merasa ‘Pasien F’ adalah wujud dari depresi yang tergambarkan dengan konkret. Ketika pelan-pelan tubuh ‘Pasien F’ mulai dimutilasi, mungkin seperti itu pula rasa depresi dimana penderita mulai kehilangan gelora untuk hidup atau bahkan sekedar bernapas rasanya sungguh berat. What if you don’t kill yourself? What if you just stop wanting to live?

Selama membaca terkadang ada sisi saya berempati dan turut kesal dengan karakter Drew yang irasional dan self-absorbed. Lalu sebagai karakter utama pun kisah Drew tidaklah semagnetis percintaan Lexi dan Trevor yang diikat kematian. Walapun tidak dipungkiri hubungan Drew dan Rusty yang tarik ulur juga memikat. Kadang membaca buku ini perlu sedikit menahan napas atau terdiam sejenak kala Drew dan Rusty mengungkap masa lalu mereka yang pekat.

Konflik coming out disini juga menjadi isu sentral lewat Rusty yang mengalami tindak perundungan hingga ia akhirnya mati rasa – kehilangan hasrat untuk mencintai dan mengagumi, ketika hatinya telah menjadi batu maka ia mempertanyakan: Apakah fisiknya mengalami hal serupa? Pilu rasanya membaca penuturan Rusty menyoal hidupnya dan keputusannya untuk menyakiti dirinya sendiri, bukan untuk memberikan rasa sakit kepada dirinya melainkan perundungnya yang ternyata berakhir sia-sia.

The Five Stages of Andrew Brawley terbilang berani dan vulgar dalam mendemonstrasikan tindak bunuh diri dan melukai diri sendiri (self-harm). Rasa-rasanya penulis seperti menaruh pengalamannya hingga membuat keseluruhan cerita Drew dan Rusty terasa begitu personal dan dekat. Kehilangan, kenestapaan, ketakutan tergambarkan dengan sangat detail seolah-olah sedang membaca buku diari.

Novel ini berbicara mengenai harapan lewat pertemuan kecil yang tidak disengaja. Kisah Drew dan Rusty yang berakhir di pelaminan terbaca dengan jelas sejak pertemuan pertama mereka. Tapi seperti ada magnet yang membuat The Five Stages of Andrew Brawley tidak menjemukan untuk tetap dinikmati sampai tuntas.

Rekomendasi Film Thriller Korea Terbaik – Bagian 1

Sudah cukup lama saya ingin membuat daftar panjang film thriller Korea terbaik namun enggan menulis karena sulit menentukan film yang pantas diletakkan di posisi pertama. Oleh karena itu, diputuskan untuk membaginya saja menjadi beberapa tulisan lalu secara adil menyampaikan alasan personal memuja-muja film tersebut ketimbang meletakkan standarisasi pada angka teratas dan terbawah.

Pada bagian awal tulisan ini, ada beberapa faktor mengapa saya memilih judul film di bawah untuk dibahas terlebih dahulu. Pertama, saya memuliakan film tersebut karena telah melampaui ekspektasi saya (twist dan alur cerita tak terduga). Selanjutnya, kelihaian sutradara dalam memvisualisasikan naskah dengan alur cerita yang tidak biasa. Lalu, isu dan orisinalitas cerita yang saya anggap unik untuk diangkat. Terakhir, atmosfer film terampil dalam menimbulkan perasaan tegang, gelisah, dan takut.

Berikut ini daftar rekomendasi film thriller korea terbaik menurut saya!

1. Memories of Murder (2003)

Berdasarkan kejadian nyata, film ini mengisahkan dua detektif yang berupaya membongkar kasus pembunuhan berantai di Provinsi Gyunggi, kota Hwaseong, Korea Selatan. Berlatar tahun 1986, sejumlah perempuan ditemukan tewas setelah diperkosa lalu dibunuh dengan kejam: mereka diikat serta dibekap dengan stoking.

Kasus ini sangat terkenal dan terus dibahas hingga sekarang karena menjadi Cold Case “kasus tidak terselesaikan”. Kasus ini terjadi pada pertengahan September 1986 hingga April 1991 dan selama periode waktu tersebut setidaknya ada 10 korban yang semuanya adalah wanita. Bahkan ada penyintas yang bersaksi bahwa tersangka adalah pemuda berumur 20-tahunan dan tampak biasa saja.

Kontroversi selama penyelidikan timbul karena pihak kepolisian ditekan militer dan melakukan pemaksaan kepada para tersangka agar mengakui tindak kriminal. Bahkan total tersangka sampai lebih 20.000 orang. Imbasnya terjadi aksi bunuh diri seorang pemuda dengan keterbatasan mental yang dituduh sebagai pelaku.

Film yang disutradarai dan ditulis Joon-ho Bong ini kurang lebih mengambil referensi dengan kejadian nyata di atas. Detektif Park Doo-Man (Kang-ho Song) dan Detektif Sae Tae-Yoon (Sang-kyung Kim) berkolaborasi untuk menemukan pelaku, beberapa adegan investigasi yang terjadi kala itu turut ditampilkan. Paling menonjol bagaimana naskah menambahkan sisi cerita fiktif dimana pelaku dapat dianalisis dan penyidik menemukan titik terang tersangka sebenarnya walau ternyata setiap petunjuk sama sekali tidak berkaitan satu sama lain.

Tempo cerita dalam film ini cenderung lamban namun tidak berbelit-belit apalagi menjemukan malah penonton turut diajak untuk membongkar kasus dan ikut berprasangka. Film ini tidak seperti kebanyakan film thriller Korea lainnya yang bertemakan balas dendam. Memories of Murder tampil sebagai film sederhana dengan kualitas dan kepawaian bercerita luar biasa.

Akhir kisah yang melaju ke tahun 2003 dimana Park Doo-Man telah menjadi pebisnis lalu mengunjungi tempat kejadian perkara adalah interpretasi terbaik mengenai sosok tersangka kasus Hwaseong dan salah satu pengalaman sinema terbaik yang pernah saya alami. Empat menit terakhir dalam Memories of Murder merupakan adegan paling adiluhung bagi saya dan bisa dikatakan sebagai salah satu penutup film terbaik sepanjang masa.

2. Oldboy (2003)

Dari semua film bertemakan balas dendam, Oldboy adalah maha karya sempurna yang tidak hanya mengedepankan aksi laga atau sekedar bermain dengan ketegangan saja tetapi naskahnya memang benar-benar keji, kontroversial dan vulgar. Masuk dalam rangkaian The Vengence Trilogy dari Park Chan-Wook, film ini memang tidak bisa dibahas bila tidak mengungkit dua film lainnya karena ketiganya sama-sama berfokus pada hubungan orang tua dan anak serta rasa kehilangan.

Bila Symphaty for My Vengence (2002) adalah hasil coba-coba yang berujung pada tragedi dan Lady Vengence (2005) condong kepada menuntut balas dengan bengis. Maka Oldboy identik terhadap perpaduan keduanya melalui cerita manis getir para tokohnya.

Mengisahkan Dae-su Oh (Min-sik Choi) yang diculik secara misterius dan disekap selama lima belas tahun lalu dilepaskan dengan perintah untuk menemukan pelakunya dalam waktu lima hari, yang tak lain dan tak bukan adalah Woo-jin Lee (Ji-tae Yu). Min-sik bersama Mi-do (Hye-jeong Kang) berusaha menyingkap alasan penculikan tersebut dan ternyata menuntun kepada dosa yang pernah dilakukan Dae-su puluhan tahun silam kepada Woo-jin.

Begitu banyak adegan yang dikatakan tersohor, misal adegan perkelahian Dae-su tanpa henti di lorong selama tiga menit dengan senjata palunya (one take) dan menjadi salah satu adegan paling bersejarah dalam dunia sinema. Atau kekuatan visual dan cerita ketika Dae-su bertemu dengan Woo-jin diiringi suara latar persetubuhan antara dirinya dan Mi-do yang memilukan dan menjadi penutup paling nahas yang pernah ada dalam film thriller manapun. Oldboy tidaklah dapat diprediksi dan mampu mengaburkan batas moralitas manusia.

Oldboy masuk ke dalam daftar film thriller korea terbaik bagi saya karena membuat saya selama menonton terperanjat, geleng-geleng kepala dan sesak napas menanti akhir nasib setiap karakter. Saya ingat betul kali pertama menonton film ini, mulut saya menganga dan mata melotot karena tak percaya naskahnya begitu dramatis.

3. The Wailing (2016)

Bila kamu penikmat film thriller Korea pasti akan penasaran mengapa saya memasukkan The Wailing dalam daftar awal ini. Bagaimana dengan I Saw the Devil (2010) atau The Man from Nowhere (2010)? Hematnya, dua film itu masih berkutat pada balas dendam dan tak etis rasanya jika menempatkan film-film sejenis dalam daftar yang sama. Maka saya berusaha memberikan pilihan dengan ragam cerita.

Film besutan Hong-jin Na ini pantas untuk masuk dalam deretan awal karena ceritanya berakar pada kejadian transendental. Kisah bermula dari sejumlah kematian misterius yang terjadi di Gokseong, Jeollanam-do dan diduga penyebabnya adalah jamur liar beracun. Namun desas desus warga desa menuntun Jong-go (Kwak Do-won) kepada seorang pria jepang misterius tak bernama (Jun Kunimura) yang dicurigai sebagai pelaku.

The Wailing diibaratkan sebagai perpaduan antara teknik prosedural detektif dalam Memories of Murder ditambah menyajikan sosok iblis yang epik dalam The Cabin in The Woods (2012) tanpa melupakan unsur pengusiran setan ala-ala The Exorcist (1973). Memang film ini rumit, dari segi cerita belum lagi tokoh hilir mudik dengan peran tak terduga. Kita akan terus digiring untuk menebak-nebak siapa sesungguhnya sosok iblis tersebut. Semakin dalam ditelusuri maka semakin ragu juga kita atas kebenaran peristiwa yang terjadi di Gokseong.

Hubungan ayah anak antara Jong-Go dengan putrinya, Hyo-jin (Hwan-hee Kim) sebagai konflik dalam film ini juga membuat darah mendidih bagi yang menonton. Belum lagi kehadiran sosok perempuan misterius (Woo-he Chun) yang seolah-olah ingin menyelamatkan Hyo-jin namun terkesan juga sebagai sang iblis. The Wailing sama sekali tidak memberikan petunjuk terhadap yang hitam dan putih melainkan semuanya hanyalah abu-abu dan semu.

Sosok tuhan yang absen dalam diri Jong-go pun menjadi penanda bahwa tak semua harus bergantung pada iman. Namun, ketika disudutkan pada keimanan itu sendiri, mau tidak mau kita selaku penonton akan turut berkontemplasi menyoal percaya atau tidak terhadap hal yang bersifat niskala.

Bagi saya, The Wailing adalah puisi kepada sosok tuhan yang selalu digambarkan sebagai penguasa atas semesta padahal ia tak berdaya bila hambanya tak percaya atas eksistensinya. Tapi bisa jadi juga merupakan kritik kepada manusia yang selalu kufur terhadap tuhannya. Keruwetan naskah dan orisinalitas cerita ini lah yang membawa saya mendapuk The Wailing sebagai salah satu film thriller Korea terbaik.

Baca juga: Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Januari - April

Itulah tiga film thriller Korea terbaik bagi saya yang pantas untuk dinikmati, setidaknya satu kali dalam hidup. Daftarnya memang pendek, tidak seperti tulisan sejenis yang sifatnya top list dan bisa memuat hingga 10 daftar judul, saya lebih memilih untuk memberikan resensi atas opini saya setelah menonton secara detail ketimbang sekedar memberikan sinopsis dan ulasan singkat saja.

Sebaik-baiknya rekomendasi, ia adalah tulisan bersifat saran yang mesti disajikan dengan baik dan tanggung jawab agar kelak pembaca dapat memutuskan dan menimbang sendiri layak atau tidaknya ia untuk turut menikmati deretan rekomendasi tersebut.

Jurnal #11: Perjalanan Hidup Bersama Buku

Malam ini saya sedikit terusik ketika tengah membaca novel Han Kang berjudul Human Acts yang diterjemahkan oleh Deborah Smith.

“Seberapa besar membaca buku telah memengaruhi hidup dan kepribadian saya?”, pertanyaan itu terlontar begitu saja, tak ada angin, tak ada hujan.

Sembari menatap langit-langit kamar saya berusaha menyelami kembali bagaimana saya bisa tumbuh menjadi pemuda seperti saat ini. Lantas saya menilik kebelakang, buku apa yang pertama kali saya kagumi?

Jawabannya terbagi atas dua zaman. Pertama masa di kanak-kanak saat saya menikmati buku seri Lima Sekawan karangan Claude Voilier. Saya selalu terkagum-kagum dengan aneka petualangan yang harus dihadapi Julian, Dick, Anne, Georgina dan Timothy bahkan tak jarang sampai memimpikannya. Kedua saat memasuki Sekolah Menengah Atas ketika tanpa sengaja menemukan novel The Noticer: Sometimes, all a Person Needs is a Little Perspective karangan Andy Andrews di rak buku Intermedia.

Dua buku itu membekas karena mengajarkan dua hal penting mengenai hidup: Pertama, kehidupan selalu dipenuhi tantangan dan memiliki teman merupakan hal terindah di dunia dan yang kedua, apresiasi terhadap diri sendiri serta kemampuan untuk memahami bahwa setiap orang itu terlahir berbeda.

Sedari dulu saya memang anak yang selalu memperkarakan banyak hal bahkan terkecil sekalipun. Semakin saya tumbuh dewasa semakin saya paham bahwa ada ketertarikan saya terhadap isu-isu yang topiknya soal kemanusiaan. Tak banyak yang tahu memang bahwa saya gemar sekali membaca semenjak remaja.

Perkenalan saya terhadap bacaan itu pertama kali terjadi saat SMA, ketika menemukan buku Dunia Sophie di tempat peminjaman novel dan komik dekat rumah. Tebal bukunya bikin saya minta ampun dan saya malah tetap membaca diam-diam karena takut menimbulkan stigma negatif jika ketahuan orang tua. Karena segala sesuatu yang dilabeli ‘filsafat’ mengandung arti kata ‘ateis’ atau tak bertuhan bagi mereka. Saya ingat sensasinya – saya merasa saya adalah Sophie yang tengah dikirimi surat oleh Hilde melalui buku tebal tersebut. Tak perlu ada yang tahu dan ini rahasia saya sendiri.

Entah bagaimana semenjak saya mengonsumsi ragam buku, saya mulai suka sesuatu yang berbau klasik. Telatnya saya atas hal ini mau tau mau juga disebabkan referensi orang tua yang tidak mengenal dengan baik karya seni dan entah bagaimana saya tumbuh menjadi sangat sensitif soal karya seni. Saya mulai menikmati dan berusaha memahami bahwa seni itu ibarat mata uang yang selalu mempunya sisi lain.

Koleksi-koleksi bacaan saya yang terus bertambah lambat laun menjadi beban karena nihilnya teman berdiskusi sebab saya menutup diri sebagai seorang pembaca. Pasalnya, saya menganggap bacaan saya ‘aneh’ dan tidak cocok dengan lingkungan sekitar saya. Saya tumbuh sebagai orang yang terbuka atas beragam gagasan sementara lingkungan saya sangat udik, disinilah bibit perseteruan antara saya dan tuhan mulai tumbuh.

Menyadari hal itu, dulu saya membelah diri menjadi dua kepribadian. Pertama, yang teman-teman ketahui saya sebagai sosok periang, suka bercanda dan patuh pada sistem. Kedua, penyendiri yang di dalam kamar bisa habis-habisan diam termenung untuk membaca, menonton atau sibuk berimajinasi.

Saya terus berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan dengan ekspektasi yang diharapkan. Sementara, saya juga tenggelam dalam buku, larut dalam kata-kata yang selalu saya harap ada nama saya disana. Namun nama itu tak pernah tergores di kisah manapun.

Sampai kapan terus begitu?

Persinggungan saya dengan Perpustakaan Batu Api saat kuliah mengubah jalur hidup saya. Sepasang suami istri yang merupakan pemilik perpustakaan tersebut bisa dibilang satu dari beberapa hal baik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Kami kadang suka bertegur sapa, entah itu di perpustakaan atau pusat perbelanjaan Griya untuk membahas ala kadarnya mengenai novel-novel Stephen King, karya Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, Mochtar Lubis, Djenar, dsb atau menikmati guyonan novel kontroversial, misalnya Lolita. Jangan singgung nama Goenawan Mohamad karena tak sedikitpun saya tertarik membaca buku-bukunya.

Seringkali saya ditawari diskusi atau sekedar mengopi di teras perpustakaan yang selalu saya ikuti dengan alasan ‘ada keperluan di kampus’. Tapi tak jarang pula saya ikut terlibat selama acara dilakukan di dalam kampus bukan di perpustakaan. Mengapa demikian? Entah mengapa saya agaknya merasa terintimidasi dengan kemungkinan-kemungkinan peserta di perpustakaan memiliki wawasan lebih ketimbang saya. Walaupun jelas pemikiran itu salah. Tapi tak ada manusia yang sempurna di dunia ini memang.

Lalu bagaimana Batu Api bisa mengubah saya? Jawabannya sesederhana saya menemukan orang untuk bertukar pikiran dan mendapatkan referensi yang baik. Kebetulan lingkungan kuliah saya condong kepada penikmat film yang tentunya saya cintai dari lubuk hati paling dalam. Namun Batu Api memberikan secercah harapan yang selalu saya sembunyikan diam-diam. Dari situ saya mulai pelan-pelan membicarakan buku dengan orang-orang di sekitar. Kadang ada yang menyerengit bingung tapi tak banyak pula yang memberikan aneka referensi bahkan meminjami buku mereka.

Kepribadian saya akhirnya pelan-pelan berubah dan mulai terbuka. Manusia-manusia di sekitar saya menyadari bahwa memang pola berpikir saya berbeda melalui referensi buku bacaan saya. Walau tak jarang juga bila di suatu sore di depan Gedung 2 Kampus ada yang suka memperkarakan hal-hal aneh, entah itu menyoal ketuhanan atau keimanan. Tak usah jauh-jauh, kala mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya pun berseteru dengan rekan saat menyampaikan pendapat saya mengenai kegiatan ibadah.

Pada akhirnya, buku tidak hanya mempertemukan saya dengan dunia tapi juga memperkenalkan saya dengan sederet manusia. Lewat buku saya bertemu dengan ragam orang dan lewat buku pula saya bisa memahami karakter mereka. Karena buku bacaan yang kita segani merupakan cerminan dari watak pribadi kita sendiri.

Jurnal #10: Pengalaman Menggunakan Kindle Paperwhite

Tanpa terasa sudah lebih dari satu tahun saya membaca buku dengan perangkat Kindle Paperwhite buatan Amazon. Berkat perangkat elektronik dengan resolusi 300-ppi itu saya bisa membaca dengan nyaman selayaknya membaca buku versi cetak. Daya tahan penggunaannya pun terbilang lama, bisa mencapai tiga minggu (klaim: dua bulan/30 menit sehari) bila hanya digunakan selama 1 sampai 3 jam sehari.

Sayangnya, masih banyak pembaca buku di Indonesia yang awam dengan Kindle atau bahkan masih ragu dan sering melontarkan pertanyaan, “Apa sih enaknya baca ebook?” Kalau ditanya seperti itu saya hanya menjawab, “ya enak lah, gak berat”. Terlebih buat saya yang mobilitasnya (dulu) tinggi serta malas membaca buku di malam hari karena harus menyalakan lampu. Dengan Kindle segalanya serba mudah.

Saya mampu menyimpan hingga ratusan atau ribuan buku dalam perangkat yang memiliki muatan memori 4GB itu. Mengapa bisa begitu? Sederhana sebenarnya. Sebab buku-buku digital versi ‘.mobi’ khusus Kindle berukuran 500kb sampai 10mb. Tidak ada yang sampai gigabyte jadi ruang penyimpanan sangat besar.

Gak Sayang Beli Buku Digital?

Harus saya akui awalnya saya bertanya demikian juga. Apalagi membeli buku di Amazon tidak jauh berbeda harganya dengan versi cetak. Tentu sebagai bookholder, saya ingin merasakan memegang kertas, melihat sampul judul dan memajangnya di meja dan lemari di kamar. Namun zaman sudah berubah, bergerak kearah yang lebih maju dimana semua penyimpanan kini berbasis cloud.

Selain itu, jujur saja saya juga jarang membeli buku-buku di Amazon, kecuali terbitan terbaru. Kenapa? Karena saya juga sudah memiliki data penyimpanan buku-buku sebesar 3GB, berkat membeli Kindle di Tokopedia. Sungguh murah hati sang penjual, semoga dilimpahkan rahmat dan dimudahkan hidupnya. Beragam judul buku dari penulis era klasik sampai modern bahkan filsuf Plato pun tersedia. Bila kamu berminat bisa mengunjungi tokonya disini.

Nah, gak cuman itu juga tersedia satu situs yang menyediakan beragam buku fiksi, non fiksi, jurnal penelitian, resep, dan sebagainya. Data penyimpanannya mungkin berjumlah jutaan dan tersedia banyak file ekstensinya. Jadi kamu bisa unduh khusus untuk membaca di iBooks ( .epub ), atau ponsel dengan pdf/e-reader. Kamu bisa mengaksesnya di Library Genesis (silahkan klik gambar diatas).

 “Jadi kamu ngebajak buku? Gak mendukung nasib industri buku? Gak mendukung penulis-penulis independen itu?”, said SJW.

Bagi kalian yang menuntut ini, yah gimana yah… namanya juga dikasih kesempatan jadi bisa berbuat kejahatan. Walau saya sebenarnya juga enggan untuk melakukan hal demikian tetapi karena terhimpit dana finansial dan terutama ingin menikmati bacaan buku lama, akhirnya saya yah mengunduh buku-buku dengan ilegal.

Tapi bukan berarti kelak saya gak mengoleksi buku-buku tersebut. Dengan adanya acara Big Bad Wolf dan Indonesia International Book Fair, saya jadi bisa membeli buku-buku yang telah saya baca dengan harga lebih murah. Buku karangan Charles Dickens pun saya miliki, baik fisik maupun digital di Kindle. Seperti yang telah diungkit sebelumnya, saya juga membeli buku di Amazon apabila ada buku terbitan baru yang tidak akan pernah mungkin bisa saya dapatkan secara ilegal.

Rasanya Membaca di Kindle

Koleksi Buku di Kindle

Saya sangat suka sekali membaca dengan Kindle, terlebih lagi buku-buku berbahasa inggris karena dengan mudah menemukan arti dari satu kata atau menerjemahkan satu kalimat sekaligus dengan fitur google translate yang terpasang di perangkat. Belum lagi bisa berbagi buku yang lagi saya baca di media sosial dan Goodreads langsung melalui Kindle.

Bayangkan betapa sulitnya membaca dalam bentuk fisik bila menemukan satu kata yang sulit. Kita harus mencari artinya di kamus terlebih dahulu. Jadinya malah kerja dua kali sementara Kindle tinggal klik langsung keluar deh artinya. Bahkan gak perlu menggunakan akses Wifi karena kamus disediakan dalam versi offline.

Masalah saya dengan pembendaharaan kata yang kurang bila baca buku literatur yang memakai bahasa segambreng apaan tau itu lah bisa dengan mudah mengerti untuk menyusun makna setiap paragraf yang ditulis penulis. Selain itu, terbantu juga dalam melatih percakapan dan memahami bahasa inggris lebih baik.

Nah, untuk Kindle yang saya miliki sendiri, yaitu Paperwhite memang dirancang untuk membaca saja tidak seperti Kindle Fire yang lebih berfungsi seperti Tablet atau iPad. Yah kalau dipikir-pikir pada akhirnya Kindle versi tablet sama seperti membaca buku di iBooks melalui iPad. Gak ada istimewanya deh.

Maka walau memakan harga yang cukup mahal (saya beli sekitar dua juta), saya merasa sangat worth it dengan kebutuhan membaca saya. Akhirnya saya bisa membaca, dan cukup membeli novel dan buku Indonesia juga menghindari beli buku terjemahan dan impor yang seharga ratusan ribu rupiah.

Baca Juga: Tips Menggunakan Kindle Paperwhite

Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Januari – April

Rekomendasi Drama Korea 2018 terbaik sebenarnya wujud dari perekaman data tontonan yang telah saya tonton sepanjang tahun ini dan diharapkan akan terus saya lakukan kedepan karena semenjak pertengahan tahun lalu, saya mulai menikmati drama Korea (drakor) dengan ragam genre yang telah saya ulas beberapa di situs ini. Lambat laun saya mulai sadar pola penceritaan yang terus berulang, misalnya karakter pria dingin dan wanita riang. Nyaris semua drakor memakai teknik ini, karena itu saya lebih selektif dalam memilih tontonan, terlepas dari rating dan pemain. Toh, saya juga gak terlalu akrab dengan aktor-aktris Korea juga sungkan untuk melihat angka rating.

Saat ini saya baru menemukan setidaknya ada 5 drama korea terbaik 2018 di mulai dari Januari – April. Pemilihan daftar tontonan ini didasarkan beberapa alasan. Pertama, karakter wanita menonjol dan berperan penting dalam cerita. Lalu, pembagian peran antara aktor wanita dan pria tidak timpang. Terakhir, bukan merupakan lanjutan dari musim pertama atau antologi serial. Berikut ini daftar drama korea 2018 terbaik menurut versi saya.

5. Drama Korea Mother

Remake dari drama Jepang berjudul sama, Mother (2018) berkisah Hye-Na (Heo Yool), anak SD yang mengalami kekerasan oleh ibunya, Ja Young (Ko Sung-Hee) serta selalu dirisak teman sekelasnya. Soo-Jin (Lee Bo-Young), guru baru di sekolahnya menyadari kejanggalan perilaku Hye-Na. Dia memutuskan untuk menculik Hye-Na dengan mengakali kematian bocah tersebut dan membuat ibu serta kekasihnya, Seol Ak (Son Seok-Koo) menjadi calon tersangka.

Saya belum atau mungkin tidak akan pernah menonton drama aslinya yang dari Jepang itu. Namun, alur cerita selama dua episode terajut rapih walau cerita terkesan agak lambat. Permainan emosi sangat menonjol disini. Keakraban Hye-Na dan Soo-Jin merupakan entitas dari tokoh anak yang luka karena orang tuanya.

Kepiawaian pemain dalam memerankan karakternya juga mengena. Misalnya, Son Seok-Koo, aktor pendatang baru yang menjadi tokoh antagonis ini memiliki karisma sendiri. Bagi yang awam mungkin tidak mengenal sosoknya namun sepak terjang karirnya pertama kali terekspos kala beradu peran bersama Donna-Bae di serial Sense 8.  Selain itu, Lee Bo-Young juga mengingatkan kita kembali pada perannya sebagai seorang ibu yang kehilangan anak di God’s Gift 14 Days. Dengan total 16 episode yang telah rampung, drakor Mother siap membuat mata penontonnya sembab.

4. Drama Korea Welcome to Waikiki

Siapa sangka ternyata drama berkisah hidup tiga pemuda, Kang Dong-Goo (Kim Jung-Hyn), Cheon Joon-Ki (Lee Yi-Kyung) dan Bong Doo-Sik (Son Seung-Won) di rumah singgah mereka ini akan sangat menghibur dan mengundang gelak tawa. Permasalahan dimulai ketika menemukan bayi misterius tergeletak begitu saja di kamar mereka. Akibat teler, mereka tidak memiliki ingatan apapun mengenai bayi perempuan itu.

Welcome to Waikiki (2018) bisa dibilang sangat sederhana dalam menyampaikan kisah komedi romantisnya. Disini aktor utama dan pendukunglah yang menghidupkan serial melalui guyonan yang terkadang receh dan tidak masuk logika namun mujarab menyampaikan lawakannya. Melalui tokoh Kang Seo-Jin (Go Won-Hee), adik Dong-Goo yang memiliki pertumbuhan kumis sangat cepat akan tampak karakter perempuan juga dominan dan tidak bisa diremehkan. Begitu pula tokoh Han Yoon-A (Jung In-Su) sebagai orang tua tunggal yang harus menghidupi anak semata wayangnya.

Walaupun masih berkutat pada kisah percintaan yang nampak akan bermuara ke arah mana. Drama korea ini masih bisa dinikmati oleh kamu yang ingin menyantap tayangan tanpa perlu menguras daya pikir sebab hanya perlu tertawa terbahak-bahak saja. Saat ini Welcome to Waikiki sudah berjalan hingga 14 episode dan akan berakhir di bulan April dengan total 20 episode.

Baca Juga: Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Mei – Juni
3. Drama Korea A Poem A Day

Entah bagaimana saya selalu kedapatan menyukai drama besutan stasiun televisi tvN. Mungkin karena ceritanya yang terasa realistis dan tidak berlebihan. Maka daftar selanjutnya adalah A Poem a Day (2018) yang mengisahkan kehidupan para fisioterapis, perawat dan pakar radiologi. Setelah berbondong-bondong drakor menyajikan kehidupan para dokter bedah, dari rumah sakit nasional hingga kecil di pelosok akhirnya kita bertemu dengan para dokter di bidang yang kerap diremehkan rekan sejawatnya.

Mengisahkan Woo Bo-Young (Lee Yoo-Bi), pecinta puisi ini terpaksa menjadi fisioterapis karena terhimpit masalah finansial. Dia berusaha keras menjadi dokter tetap di rumah sakit tempatnya bekerja walau kemampuannya sama sekali tak pernah diakui. Hingga kedatangan Ye Jae-Wook (Lee Joon-Hyuk), dokter fisioterapis baru yang mengubah keadaan itu karena tertarik dengan puisi-puisi dan karakter Bo-Young. Masalahnya kemunculan Shin Min-Hoo (Jang Dong-Yoon), peserta pelatihan di rumah sakit ia bekerja akan menjadi pengganggu karir Bo-Young.

Jauh dari adegan operasi, drakor a poem a day lebih fokus pada intrik dan stigma yang dihadapi dokter tanpa gelar speasialis. Jujur, drama ini sungguh ketebak bagaimana akhir kisahnya nanti tapi karena wujud fisioterapis yang jarang diangkat bisa menjadi potensi sendiri bagi perkembangan cerita nantinya. Bagi saya pribadi, peran Jae-Wook yang sangat berbeda di drama ini dari Stranger (2017) adalah alasan saya menonton dan juga sedikit terhibur dengan kumpulan puisi di dalamnya. Walau agak terganggu dengan karakter wanita yang pematih.

2. Drama Korea Live

Mengisahkan dilema perjalanan hidup anggota kepolisian, Live (2018) mengajak penontonnya untuk menyalami kehidupan dari sebelum hingga sesudah seseorang dinyatakan anggota polisi. Menariknya, naskah ditulis benar-benar seimbang dengan kata lain tidak berusaha membenarkan dan menggurui penonton soal benar atau salah atas tindakan para polisi. Penonton dituntun untuk memahami bagaimana proses pengambilan keputusan secara singkat yang harus dilalui mereka.

Kisah berawal dari Han Jung-O (Jung Yu-Mi) dan Yeom Sang-Soo (Lee Kwang-Soo) yang memulai karir mereka di kantor kepolisian Hongil bersama mentor mereka, Oh Yong-Chan (Bae Sung-Woo). Mereka bertiga masing-masing memiliki beban hidup, Jung-O dengan ibunya yang memiliki masalah kesehatan mental, Sang-Soo yang ditinggal kakak lelakinya dan kini hidup dengan ibunya serta Yong-Chan yang harus bercerai dengan istrinya, An Jang-Mi (Bae Jong-Ok).

Drama satu ini berjalan sangat lambat karena pendekatan karakter dilakukan benar-benar detail dan personal. Misalnya, mengenalkan karakter Jung-O dan Sang-Soo dari awal mereka tidak mendapatkan pekerjaan dan memilih menjadi polisi lalu menjalani kehidupan sebagai anggota pelatihan saja sudah memakan dua episode. Beragamnya karakter juga menjadi nilai lebih karena setiap tokoh punya kekhasan sendiri yang bila disebutkan satu-satu akan sangat panjang. Dari yang penuh karisma hingga tukang korup. Kasus-kasus yang disajikan juga dekat dengan isu sosial, misal kekerasan antar pelajar, pelacuran dan perdagangan manusia.

1. Drama Korea My Mister

Best Korean drama I’ve watched so far this year. Kalimat itu keluar ketika saya menyelesaikan episode pertamanya yang berdurasi 90 menit. My Mister atau My Ajusshi mengisahkan perjuangan hidup dua orang yang diterpa tragedi. Lee Ji-An (IU) terjebak oleh masa lalunya dan Park Dong-Hoon (Lee Sun-Kyun) terancam karir dan pernikahannya. Lantas dengan konflik sederhana itu mengapa drama ini bisa dikatakan bagus?

Pertama, tidak seperti drama sejenis yang memiliki ragam konflik disetiap episodenya, drakor yang baru mengudara akhir bulan lalu ini benar-benar fokus pada satu masalah serta penyelesaiannya. Lalu, dua saudara laki-laki Dong-Hoon, yaitu Park Sang-Hoon (Park Ho-San) dan Park Gi-Hoon (Song Sae-Byeok) bukan sekedar pemanis cerita tetapi mereka turut menjadi karakter utama dalam cerita yang berdiri sendiri. Serta, kehidupan dan pengembangan karakter Ji-An yang tidak tertebak menjadi daya tarik bagi saya. Terakhir, adegan kekerasan dihadirkan secara eksplisit dan bahkan sangat vulgar melihat Ji-An yang dipukul dan ditendang. Beberapa alasan ini yang menjadikan saya sangat menunggu-nunggu episode terbarunya setiap minggu.

Realitis dan terbuka dalam menyajikan cerita adalah keunggulan drakor My Mister. Walaupun malah menjadi kontroversi bagi penonton akibat adegan kekerasan dan juga diduga akan ada bumbu percintaan antara Ji-An dan Dong-Hoon yang usianya terpaut jauh. Namun menurut saya malah dua masalah ini yang menjadikan drama korea ini terbaik karena berani menyajikan secara nyata isu-isu sosial yang terjadi di sekitar kita.

Jangan lupa juga, lagu penggiring yang benar-benar pas untuk menuntun kita menikmati pendalaman karakter yang dilakukan IU dan Sun-Kyun. Lagi pula sepanjang empat episode, belum terlihat apakah benar akan ada hubungan romantis antara Ji-An dan Dong-Hoon melainkan hanya tarik-ulur dua orang yang sama-sama terluka? Drama My Mister bisa dibilang sangat irit dialog karena condong bermain pada visual ekpresi para pemainnya.

Itulah beberapa rekomendari drama korea 2018 terbaik menurut versi saya yang layak menjadi teman tontonan setiap minggunya.

Jurnal #9: Borong Buku di Big Bad Wolf 2018

Untuk kali pertama, akhirnya saya berkunjung ke Big Bad Wolf 2018 (BBW) berkat beberapa ulasan netizen yang cukup baik di lini masa. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang diwarnai keluhan akibat antri untuk membayar yang lama hingga panitia tidak koperatif dengan pembeli. Demi mendapatkan koleksi buku yang saya cari maka bersama dua teman bertandanglah kami ke ICE BSD, Tangerang, sekitar pukul tujuh pagi.

Beberapa pengunjung terlihat hilir mudik di dekat pintu masuk, ada pula yang sudah membawa belanjaan. BBW 2018 memang kembali dibuka selama 24 jam hingga tanggal 9 April 2018. Tak ayal banyak yang memilih untuk berbelanja kala subuh ketimbang siang atau sore hari yang mungkin akan melonjak jumlah pengunjungnya. Kami pun cukup was-was takut ternyata pengunjung sudah membludak mengingat waktu berkunjung (30/03/18) jatuh pada libur panjang. Nyatanya, pengunjung masih sepi dan cukup lenggang untuk mencari buku.

Porsi buku tahun ini masih lebih besar dikategori anak, ketimbang fiksi atau buku lainnya. Dan buat kamu yang mencari buku-buku keluaran tahun 2017-2018 mending segera urungkan niat karena kebanyakan novel fiksi edaran lama, paling banter terbitan 2015-2016. Saya pun dari jauh hari memang sudah menargetkan hanya ingin membeli buku yang pantas dikoleksi, mengingat saya memiliki Kindle dan lebih gemar membaca di perangkat buatan Amazon tersebut.

Tentunya bagi para nerd dan geeks sudah cukup tahu apa saja yang mesti disiapkan, seperti daftar buku yang ingin dibeli, membawa makanan dan minuman, hingga menyiapkan uang tunai atau debit serta mengatur total dana yang akan dikeluarkan. Saya pun telah menyusun sampai 20 judul buku (dan nama pengarangnya) juga memperkirakan dana yang akan saya habiskan. Lantas apakah memang se-worthit itu datang ke Big Bad Wolf 2018?

Harga Kompetitif

Digaung-gaungkan dengan diskon 60%-80%, siapa yang tidak tergiur untuk membeli buku-buku impor yang tersedia di BBW 2018? Melihat unggahan di Instagram pun membuat saya tergiur melihat novel-novel sastra seharga 60 ribu yang padahal harga aslinya bisa jadi 200 sampai 300 ribu. Selain itu, porsi terbitan novel fiksi lebih banyak independen ketimbang terbitan popular dari New Directions, atau sejenisnya. Pasti menjadi surga dunia buat saya yang kesulitan menemukan buku fiksi keluaran terbitan indie. Paling-paling cuman bisa membeli di amazon dalam bentuk digital di Kindle.

Tatto Atlas – Buku yang saya beli di BBW 2018

Novel fiksi khusus dewasa-muda (young adult) pun cukup beragam, tidak cuman sekedar drama romantis saja. Saya menemukan None of The Above nya I. W. Gregorio, berkisah tentang Kristin Lattimer, remaja perempuan yang ternyata intersex. Buku-buku semacam ini tidak akan mudah dicari di toko buku, seperti Gramedia atau Periplus. Mengapa? Karena terlalu niche peminatnya. Sebetulnya saya juga mencari The Apocalypse of Elena Mendoza, History is All You Left Me, dan All Out: The No-Longer-Secret Stories of Queer Teens Throughout the Ages. Sayang tidak saya temukan. Bahkan I’ll Give You the Sun yang sebelumnya saya lihat ada di Instagram mendadak raib ketika saya cari.

Khusus kategori literatur, saya bisa menemukan The Japanese Lover, The Good Earth, The Good Children, dan The Arc of Swallow. Padahal fokus saya mencari buku-buku Han Kang, misalnya Human Acts dan The Vegetarian. Bahkan Lolita pun tidak saya temukan. Lagi-lagi antara stok yang memang telah habis atau memang saya keburu keliyengan mencarinya. Saya pun berhasil membeli 11 buku dengan kisaran harga 60-85 ribu rupiah saja!

Beragam Jenis Buku
Novel Grafis di Big Bad Wold 2018

Ada buku apa aja sih di Big Bad Wolf 2018? Apa aja ada! Dari mulai non fiksi, biografi, sejarah, sampai cooking, furniture, dan komik grafis Marvel. Cuman kurang manga aja. Buat kamu para pecinta buku tutorial menggambar atau do-it-yourself (DIY) juga bisa menemukannya disini. Harga yang ditawarkan kisaran ratusan ribu rupiah karena berwarna dengan kertas glossy yang bagus. Saya tak terlalu mengulik judul buku disini. Pokoknya buku yang dijual di Big Bad Wolf banyak banget.

Metode Pembayaran

Tidak seperti dua tahun sebelumnya yang hanya bisa menggunakan kartu Mandiri dan menimbulkan keluhan bagi para pengunjung. Tahun ini, Big Bad Wolf 2018 bisa menggunakan semua kartu debit dari bank manapun yang pasti memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Saya sebagai orang yang cashless pun merasa beruntung bisa membayar dengan kartu debit BCA. Soalnya agak keki dan serem juga bawa setumpuk uang. Selain itu, kamu juga bisa mendaftarkan diri menjadi anggota BBW 2018. Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, keuntungan member Big Bad Wold adalah tambahan diskon untuk beberapa judul buku tertentu.

Lama gak antrinya? Gak sama sekali. Walaupun jalur antriannya seakan panjang tetapi karena pengunjung baru mulai muncul sekitar pukul 10, kami berjalan saja dengan santai menuju meja kasir. Bahkan karena ada pembayar yang tidak sadar kalau ada meja kasir di depan yang kosong hingga menimbulkan antrian panjang, saya dengan centil berjalan maju ke depan dan langsung membayar yang diikuti teman saya beserta beberapa pengunjung lainnya. Efek kurang tidur dan belanja di pagi hari tampaknya.

Kesimpulannya, saya merasa sangat puas datang ke Big Bad Wolf 2018. Terlebih lagi benar-benar hanya menguras dana untuk buku, tidak membeli makanan bahkan minuman atau merchandise sama sekali. Selanjutnya, kami memilih untuk mencari makan di AEON bermodalkan Shuttle dari ICE BSD yang gratis.