Press "Enter" to skip to content

Month: April 2019

Ross Tapsell, Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital

Ross Tapsell – Sumber Foto di sini

Dalam kajian terbarunya Ross Tapsell berupaya menjawab dua pertanyaan umum terkait kuasa media di Indonesia. Pertama, apa dampak revolusi digital dalam produksi berita dan informasi? Kedua, bagaimana perubahan media digital di Indonesia memengaruhi cara kekuasaan digunakan? Ia berpendapat bahwa teknologi digital membawa Indonesia ke dua arah. Di satu sisi memberikan keuntungan kepada kaum oligark sementara pada saat yang sama bisa digunakan warga sebagai media kontra oligark. Tapsell tampak dipengaruhi oleh semangat sarjana amerika Henry Jenkins dalam memandang konvergensi media namun tetap sebagian besar bukunya mengkritik bagaimana pemilik media melakukan ekspansi bisnis melalui cara konglomerasi dan konsentrasi.

Review Film Indonesia, POCONG: The Origin (2019)

Dewasa ini, film horor Indonesia kembali marak bergentayangan di bioskop. Hantu lokal jadi primadona meskipun dikemas ala “hollywood”, bergaya barat, dan tampak malu-malu menunjukkan jati diri hantu-hantu dan peristiwa-peristiwa lokal terkait kemunculannya. Untungnya hal ini tidak terjadi pada film POCONG: The Origin berkat tangan dingin Monty Tiwa, yang satu dekade lalu menghasilkan karya emas Keramat (2009), yang saya dapuk sebagai film terseram bahkan hingga saat ini.

Mengisahkan Ananta (Surya Saputra), pembunuh berdarah dingin yang divonis mati dan telah dieksekusi dua kali tapi tak kunjung mati jua. Setelah akhirnya mati, Sasthi (Nadya Arina), anak tunggal Ananta meminta kepada kepala sipir untuk menguburkan jasad ayahnya di kampung kelahiran sang ayah. Sipir bernama Yama (Samuel Rizal) lalu ditugaskan untuk mengantar jasad ditemani Sasthi dan selama perjalanan mereka mengalami gangguan gaib. Sementara itu, di tanah kelahiran Ananta sebuah tragedi mengerikan terjadi dan warga memprotes kedatangan jasad Ananta karena disinyalir memiliki ilmu gaib Banaspati dan akan membawa petaka.

Berbeda dengan kebanyakan film horor, POCONG: The Origin tidak menggunakan formula ‘jump scare’ norak yang dimana-mana selalu ada sosok penampakan mengerikan. Di sudut gang kecil, di sudut kamar mandi, dan/atau di langit-langit kamar yang umum ditemukan hampir di seluruh mayoritas adegan film horor Indonesia. Film ini memiliki dasar cerita solid dan juga berusaha membawa cerita klasik urban yang sering kita dengar sehari-hari sebagai bumbu horornya. Dan ini teruji sangat efektif. Terutama bagi mereka yang pernah mengalami kejadian serupa.

Tenang saja film ini tidak akan memiliki adegan lari-lari dikejar pocong lalu dalam gelap gulita satu persatu karakter mati secara misterius hingga tersisa satu orang. Hampir sebagian besar film ini menceritakan kengerian perjalanan Yama dan Sasthi: dari tiba-tiba mobil mati mendadak hingga suara tawa nyaring mengerikan menggema. Namun POCONG: The Origintidak hanya perkara horor semata melainkan juga hubungan intimasi antara anak dan ayah.

Dengan durasi 91 menit, POCONG: The Origin juga sama sekali tidak membuat lelah menontonnya padahal ruang bercerita dalam film sangat sempit: di jalan dan di dalam mobil sementara adegan puncaknya di tanah kelahiran Ananta tersaji sangat apik meskipun terbilang singkat. Beberapa hal yang cukup menganggu bagi saya adalah seperti penataan soundtrack/scoring yang mood-nya membingungkan ketika adegan di hutan – entah itu bernuansa sedih, seram, atau bahagia? Juga pemilihan judul ‘The Origin‘ tampak masih belum bisa lepas dari pengaruh frasa judul film horor barat.

Terlepas dari catatan di atas akan sangat disayangkan jika kita melewatkan film horor Monty Tiwa ini di tengah-tengah homogen cerita pada film horor Indonesia POCONG: The Origin membawa angin segar.

Trailer Pocong: The Origin (2019)

Vincent Mosco, Ekonomi Politik Komunikasi: Sebuah Ringkasan

Vincent Mosco dalam bukunya “The Political of Economy of Communication” (2009) berargumen bahwa perspektif ekonomi politik adalah studi mengenai relasi sosial, khususnya yang bertalian dengan relasi kuasa, baik dalam produksi, distribusi, dan konsumsi sumber daya, termasuk sumber daya komunikasi. Lantas apa sumbangsih perspektif ini kepada bidang komunikasi? Untuk menjawab itu terlebih dahulu kita perlu mengenal empat karakteristik besar perspektif ini.

Impresi Awal Drama Korea Welcome to Waikiki 2 (2019)

Drama Korea Welcome to Waikiki 2 Poster

Tahun lalu drama korea Welcome to Waikiki adalah salah satu tontonan favorit saya. Ceritanya lucu dan absurd ditambah karakternya aneh bin ajaib. Kabarnya karena rating yang tinggi (terutama di episode terakhir) akhirnya JTBC membuat musim keduanya. Tentu saja para fans antusias menyambut kembali drama ini. Namun ada perubahan besar terjadi, yaitu hanya Lee Yi-Kyung (pemeran Lee Joon-Ki) yang kembali di Sanggraloka Waikiki. Apakah ini mempengaruhi jalannya cerita?

Things You Need to Know

Dalam Welcome to Waikiki 2 kita akan menemukan formasi sahabat baru, yaitu Cha Woo-Sik (diperankan Kim Sun-Ho), Lee Joon-Ki, dan Kook Ki-Bong (diperankan Shun Hyun-Soo) yang mengelola Sanggraloka Waikiki. Sebagaimana musim pertama mereka mengalami struggle untuk membayar tunggakan dan meraih cita-cita menjadi orang terkenal. Cha Woo-Sik bermimpi menjadi penyanyi papan atas, Lee Joon-Ki masih stuck sebagai pemeran pembantu, dan Kook Ki-Bong ingin menjadi pemain baseball dan bermain di liga profesional. Mereka adalah teman semasa SMA. Selain itu juga tinggal Kim Jung-Eun (diperankan Ahn So-hee), yang merupakan senior Joon-Ki.

Alkisah para tokoh lain di musim pertama absen karena telah meraih mimpi mereka. Dinarasikan oleh pemilik sanggraloka bahwa Kang Dong-Goo telah menjadi sutradara terkenal, Han Yoon-A berhasil menjadi pâtissière dan memiliki toko bakery, sementara Kang Seo-Jin (Chewbacca) menjadi jurnalis. Saya lupa apakah ada info tentang Boo Dong-Sik dan Min Soo-A. Itulah mengapa akhirnya Joon-Ki mengajak dua temannya untuk mengelola sanggraloka. Dan Joon-Ki sendiri putus dengan Seo-Jin.

Konflik di Welcome to Waikiki 2 muncul saat Han Soo-Yeon (diperankan Mun Ka-Young) kedapatan tengah sembunyi di mobil Joon-Ki. Dan Soo-Yeon adalah cinta pertama ketiga cowok utama ini. So, here we go…

First Impression

Not really funny and even boring. Kira-kira itulah perasaan yang muncul ketika menonton episode pertama drama korea Welcome to Waikiki 2. Permasalahan utama terletak dari formula naskah yang sangat mirip dengan musim pertamanya. Kita akan menemukan betapa familiar-nya sifat dan karakter Cha Woo-Sik dengan Kang Doo-Go, Kook Ki-Boong dengan Bong Doo-Sik. Seakan-akan dua karakter baru ini hanya menjadi replacement dari mereka berdua. Belum lagi bumbu romantisnya! Han Soo-Yeon sebagai love interest Cha Woo-Sik sangat mirip dengan Han Yoon-A: naif, gak berkompeten, lugu, dan bingung menentukan jalan hidupnya.

Love pairs-nya juga sudah gamblang terlihat dan persis sekali dengan musim pertamanya. Kita bisa menebak bagaimana akhir kisahnya. Unsur lucu nan khasnya juga hilang, misalnya adegan Chewbacca, yang berkumis dan berjenggot lalu dicukur oleh Joon-Ki. Ke-absurd-an dan keanehan yang ada di Welcome to Waikiki 2 jadi terkesan agak “dipaksakan”. Kita sebagai penonton jadi sulit untuk merasakan momen-momen penasaran atau tertawa terbahak-bahak karena adegan yang sangat tidak masuk akal.

Welcome to Waikiki 2 pada akhirnya tak lebih dari sekedar repetisi cerita dan komedi di musim pertamanya. But honestly, it’s still decent to watch. And I hope it gets better.

So, What the Actual F* Happened With Kim Jung-Hyun and Son Seung-Won?

Jadi tampaknya alasan mengapa Kim Jung-Hyun tidak dapat kembali memerankan Kang Dong-Go adalah karena dirinya sedang dalam proses penyembuhan disebabkan mengalami gangguan makan dan tidur ketika berperan dalam drama terbarunya berjudul Time. Berdasarkan berita-berita tersiar kabar Jung-Hyun terlalu into dengan karakter yang diperankannya dan menyebabkan mengalami gangguan kejiwaan. Bahkan akhirnya ia mesti di drop dari drama tersebut.

Sementara Son Seung-Won terkena kasus mengemudi dalam keadaan mabuk dan sedang diproses hukum dan kemungkinan akan berakhir di jeruji. What a waste!Itulah impresi awal dan beberapa info yang saya dapat soal Welcome to Waikiki 2. Anw, despite all the things i said i’m still going to watch this Kdrama thou. It’s fun and decent.

Trailer Welcome to Waikiki 2