Kumpulan Film Pendek Festival Film Solo 2014

Bersama dengan teman saya petualangan terjadi, sebagai delegasi dari Cinematography Club Fikom Unpad (CCFikomUnpad) sudah barang tentu saya harus menghadiri PEMBUKAAN FESTIVAL FILM SOLO 2014, rabu/ 7 Mei 2014 lalu. Kepanasan akibat udara di Kota Solo hampir menyurutkan kaki saya untuk melangkah menuju Teater Besar Isi Surakarta. Maklum, sebagai orang yang berkehidupan di Kota Bandung-Jatinangor yang biasanya siang hari masih bisa diselingi dengan semilir angin sepoi-sepoi pastinya terasa tersiksa jiwa dan raga menghadapi panas terik yang tak berkemanusiaan ini.

Untung saja, acara pembukaan tersebut dilaksanakan pada malam hari. Maka sehabis berkencan tidak romantis tanpa pegangan tangan serta embel-embel ciuman dengan teman saya di pagi harinya. Maka setelah tertidur pulas di Wisma segera kami naikkan semangat untuk berangkat menuju Teater Besar Isi Surakarta.

Dan inilah bentuk tanggung jawab saya sebagai delegasi dengan memberikan output terhadap kehadiran saya sepanjang Festival Film Solo 2014. Berikut adalah review film pendek yang diputar ketika pembukaan FFS 2014.

INDIE BUNG!! (2014)

Seorang istri tengah menyediakan makanan kepada suaminya dimana ketika suaminya mencoba masakannya ia tergeleng-geleng dengan rasa masakan istrinya yang sangat asin di lidahnya sehingga ia lalu memarahi istrinya habis-habisan.

Menariknya, bukan hal tersebut yang diceritakan dalam film pendek berdurasikan 12 menit ini. Indie Bung!! Membuka awal cerita tersebut yang ternyata bukan isi dari ceritanya melainkan sebuah imajiner belaka tentang khalayan seorang pemuda terhadap film yang akan dibuatnya.

Percakapan dibuka antara dua orang pemuda di sebuah wedhangan yang membicarakan tentang pembuatan sebuah film dimana mereka berdua sendiri sama sekali tidak mengetahui bagaimana proses pembuatan film sebenarnya. Perdebatan mereka dimulai dari bagaimana proses penceritaan yang ingin mereka lakukan hingga hal-hal teknis yang dimana di dalam Indie Bung!! ini sendiri menyindir secara terang-terangan tentang sinema yang ada di Indonesia saat ini.

Indie Bung!! merupakan sebuah layar terbentang lebar yang menjadikan sebuah tempat kritik terhadap perkembangan sinema pada saat ini. Alih-alih ingin menyindir perkembangan sinema tentang konsep pengambilan gambar ‘zoom in – zoom out’ nya, Indie Bung!! ternyata lebih dari itu, dia membuat sebuah komedi satir tentang pembuatan film. Ketika kata ‘close up’ dijadikan dekat dengan ‘sebuah merek pasta gigi’ dan teknik pengambilan gambar ‘montage’ diakrabkan dengan ‘sebuah merek bubur’. Indie Bung!! bukan lagi sebuah film indie semata namun seutuhnya telah menjadi sebuah film dengan penceritaan yang dewasa.

Istimewanya, kata ‘Indie’ didalam film Indie Bung!! ini bukanlah menjadi sebuah kata yang memiki artian nekat dalam membuat film namun malah menyadarkan kepada kita tentang senekat apapun kita ingin membuat film tetap saja kita harus bertahan diri terhadap keterbatasan yang ada. Indie Bung!! adalah sebuah film pendek yang tidak biasa dia berani mengkritik sinema, mengkritik pembuatannya, dan bahkan menampar kita dalam usaha untuk mengeksekusi-nya.

Sutradara : Yuleo Rizky Catur Pamungkas

Nominasi Gayaman FFS 2014

INDO NESIA? (2014)

Sekilas dari judulnya sekaan-akan telah terbayang film pendek tentang apa ini. Tentang sebuah nasionalisme yang di isi oleh orasi berupa voice over yang membosankan. Namun apa dikata, film pendek ini dibuka dengan Umar, seorang siswa yang diberikan tanggung jawab kepada guru-guru nya yang bijak agar melaksanakan bakti sosial berkenaan dengan masa pasca erupsinya gunung kelud.

Lucunya, Umar ini bekerja sendirian dalam mewujudkan bakti sosial tersebut. Meminta pertolongan kepada teman-temannya seakan-akan seperti bertanya kepada batu yang pasti tidak akan pernah menjawab. Tidak lelah dengan penolakan tersebut, Umar meminta bantuan kepada dunia magis yang lagi-lagi out-of-the box dari cerita ini. ketika telah mendapatkan jawaban dari dunia magis namun ternyata lagi-lagi rencana bakti sosial Umar malah semakin melarat. Alih-alih telah lelah meminta bantuan kepada temannya, si Umar ini malah nekat meminta pertolongan kepada guru-gurunya untuk menyumbang dalam bakti sosial yang dimandatkan kepadanya. Dicela-lah si guru-guru pada film pendek Indo Nesia? ini, bukannya sebagai tokoh protagonis malah menjadi tokoh antagonis. Digambarkan sebagai orang yang tidak rela menyumbangkan hartanya namun malah menyalahkan si Umar yang tidak bisa mendapatkan sumbangan, habislah guru-guru ini di mata film pendek Indo Nesia? ini.

Indo Nesia? merupakan sebuah film pendek kritis yang berani menggungkap permasalahan sosial secara terus terang dengan penceritaan secara komedi. Ketika audio-visual menjadi sebuah hukum pasti dalam pembuatan film namun malah justru Indo Nesia? ini tidak memperhatikan hal tersebut. Dengan bisa dibilang eksekusinya yang sangat buruk dari segi audio dan visual namun malah dengan cerita yang kuat kita tetap bisa menikmati film ini serta tertawa dan larut di dalamnya. Sekali lagi, kita ditampar dan dicemooh habis-habisan melalui sebuah film pendek. Ketika menimbang-nimbang ingin membuat film yang bagus dan sempurna kita mungkin malah justru fokus larut terhadap hasilnya dengan melupakan ceritanya.

Hingga pada akhirnya, dipertanyakanlah soal ‘kenapa judulnya adalah Indo Nesia?’ diakui terang-terangan oleh si pembuat, penaruhan spasi di judul tersebut melambangkan sebuah proses perjalanan untuk menjadi seseorang yang berkepribadian Indonesia namun pada akhirnya selalu diakhiri dengan tanda tanya besar akan kepribadian tersebut.

Sutradara: Zed Ridlo

Nominasi Gayaman FFS 2014

MENUK (2013)

Seorang gadis miskin bernama Menuk ingin mengubah hidupnya dengan menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) dengan bantuan lembaga yang tidak diketahui keresmiannya. Seakan-akan terjebaknya Menuk didalam ruang human trafficking ini, akan membuat film pendek ini menjadi sebuah film pendek yang mengagung-agungkan moralitas dan perlindungan terhadap ketidakberdayaan perempuan. Namun jangan salah, itu ternyata tidak dilakukan didalam film pendek ini.

Dimulai dengan dijebaknya Menuk terhadap tindakan perdagangan manusia kita cukup berhenti di sebuah sudut hutan yang telah jauh dari perkampungan tempat tinggal Menuk. Cukup berdiam diri sesaat ketika kita dikejar-kejar rasa penasaran dengan potensi film pendek ini menjadi sebuah film pendek bergenre drama linier yang membosankan atau mungkin bisa jadi menggebu-gebukan perasaan hingga darah mendidih namun si pembuat malah menjungkirbalikkannya menjadi sebuah film pendek thriller yang dipenuhi dengan pelarian para gadis TKW di hutan tersebut.

MENUK pada akhirnya secara dewasa berani berusaha sejauh mungkin untuk menghindari hal-hal berbau heroik dan terkesan tidak logis. MENUK memenuhi keabsahan sebagai sebuah film pendek yang memiliki nalar yang sangat baik. Tidak menghabiskan ruang yang banyak dengan adegan-adegan frontal pembunuhan yang terkesan gory atau disturbing namun malah dengan piawai dan cantik-nya menjadikan tindakan pembunuhan menjadi hal yang epik dan menyakitkan.

Menonton MENUK membuat kita sadar akan tindakan heroik yang ujung-ujungnya kepala sendiri yang tertembak. Alih-alih ingin menolong nyawa orang lain malah nyawa sendiri yang tidak terselamatkan. Lalu yang jadi pertanyaan adalah, apakah kita bila dalam posisi yang sama akankah menjadi seorang yang heroik? Atau malah menjadi seorang pengecut yang lari kebirit-birit akibat takut mati konyol.

Kritik terhadap film ini adalah letak kejanggalan di bagian ending ketika dengan piawainya menghadirkan cerita seru malah membuat sejuta pertanyaan tentang timeframe yang ada didalam film Menuk ini.

Sutradara: Bobby Prasetyo

GULA-GULA USIA (2014)

GULA-GULA USIA adalah sebuah cerita melankolis sederhana penuh dengan tebaran romansa yang tiada habis dimakan usia. Penggambaran anak muda yang sedang maraknya jatuh cinta dipenuhi dengan kegalauan tiada bernuansa adalah sesuatu hal yang lumrah atau bahkan sering diceritakan di dalam sebuah film. Namun tidak untuk GULA-GULA USIA, ketika para kaum manula selalu menjadi tempat peraduan untuk mencari sebuah nasihat atau wedjengan semata di film pendek satu ini, dua orang manula sedang mengalami perasaan romantisme yang dipenuhi dengan rasa manis tanpa mempedulikan usia.

Seorang ibu tua ditemani dengan mesin jahit dan radionya merasa hidupnya sangat bahagia walaupun ditengah kesendiriannya disebuah rumah. Mungkin, mereka berdua si mesin jahit dan radio tersebut adalah satu-satunya teman yang dimilikinya. Hingga suatu ketika, salah satu barang tersebut rusak dan menghadirkan sebuah kecemasan bagi ibu tersebut. Ketimbang membeli barang baru, diputuskanlah dia untuk memperbaiki si barang rusak tersebut. Bertemulah dia dengan si bapak tua yang selalu memperbaiki barang-barang yang rusak. Entah bagaimana caranya, si ibu tua jatuh hati kepada si bapak tua.

Waktu berjalan sangat lambat namun dipenuhi rasa manis akan perjalanan semut-semut merah ini antara si bapak dan si ibu. Seorang manula kesepian yang selalu ditemani seenggok barang-barang tua pula merasa senang dengan kehadiran seorang manula lainnya yang berbeda jenis.

Rasa malu-malu itu datang menghampiri. Getar-getar perasaan yang dulu telah lama hilang mungkin kini kian menghinggap di hati sembari hari terus berganti. Menunggu barang rusak tersebut selesai diperbaiki mungkin seperti sebuah siksaaan yang sangat berat untuk mereka berdua karena mau tidak mau sebelum barang itu selesai diperbaiki mereka tidak dapat bertemu. Sembari waktu bergulir, semakin pula rasa itu ada. Rasa di hati yang ingin bertemu dengan yang dinanti.

GULA-GULA USIA pada dasarnya tidak memberikan suatu cerita pendek romantis yang berbelit-belit ataupun dipenuh dengan kata-kata yang romantis. Film pendek ini menawarkan ‘waktu’ – bahwa waktu tidak dapat menjadi sebuah ukuran kuantitas maupun kualitas dalam hal cinta. Cinta itu datang dan pergi silih berganti. Tidak ada sesuatu yang pasti ketika kita memberikan tentang cinta. Bahka untuk para manula sekalipun.

Kebebasan dalam mencinta mungkin juga bisa dijadikan sebuah alternatif untuk menikmati film pendek ini ketimbang berpikir berbelit-belit tentang cerita romansa dipenuhi air mata. Kebebasan dalam mencinta sangat terlihat dari film ini, sekali lagi – dari usia para tokoh yang saling mencinta serta akhir perjalanan cinta yang tiada urung sering dijumpa. Ditambah kelawakan khas remaja yang sedang dipucuk cinta dihadirkan melalui tingkah manula yang lawas dipenuhi canda tawa.

Ninndi Raras membawa GULA-GULA USIA sebagai sebuah ruang bersenda gurau para manula yang mesra dipenuhi dengan tempo yang sangat lambat di filmnya serta pemilihan audio yang sangat tempoe doeloe menambah rasa mesra zaman dahulu namun dengan tingkah jenaka masa remaja kekinian yang dihadirkan lewat manula. Kita tertawa, kita tersentuh, kita iba, dan kita merasa dekat dengan film ini. entah bagaimana film ini seakan-akan menjadi sebuah refleksi bagaimana kita bila tua nanti.

UDHAR (2014)

Menonton Udhar seperti sedang melihat lukisan abtrak yang sebenarnya mungkin atau tidak mungkin bisa kita ketahui makna dari ke-abstrakan-nya namun sekalipun kita tidak mengerti kita cuman bisa melihat mematung akan ke-abstrakan-nya dan terbawa akan ke-misteriusan-nya.

Seorang ibu terdiam mematung dibawah gelapnya malam ditemani dengan lilin-lilin yang menyala akibat mati lampu. Si ibu sedang gelisah tentang penglihatannya dimana cincinnya hilang ketika haji dan kemudian dilihat oleh seseorang namun anehnya orang tersebut seakan tidak menyadari kehadiran si cincin maupun si ibu.

Kegelisahan si ibu ini semakin menjadi dengan percakapan tentang pengobatan alternatif yang sedang marak terjadi. Ilmu gaib merajalela dan si tetangga bergosip di depan pintu rumah si ibu mempertanyakan apa pendapat si ibu ini yang telah haji ini. Rupanya status sosial si ibu ini telah naik hanya kerena dia berstatus haji. Si ibu ini menanggapi dengan respon bahwasanya dia masih tetap percaya pengobatan medis namun tetap sembari meminum air zam-zam yang didoa-doakan.

Jangan lupakan anak si ibu tersebut yang malah dengan jenakanya sedang memotong-motong daun pisang lalu sembari ibunya mengobrol dengan si tetangga yang tak tampak rupanya, si anak tiba-tiba berteriak keluar rumah mengutarakan kebingungannya tentang si romo yang bertelanjang dada. Sindiran? Entahlah. Bisa juga sindiran bisa juga tidak. Semua tergantung bagaimana interpretasi yang distimulikan di otak kita ketika menontonnya.

Menikmati UDHAR tidak bisa disamakan seperti menonton bola ditemani kopi dan kretek. Harus dipenuhi rasa penasaran, kehati-hatian, kewaspadaan dan kenikmatan tertentu takut-takut ada satu adegan yang terlewat tanpa kita sadari. Sehingga malah seakan-akan ada warna yang menghilang dari lukisan abstrak yang tengah kita amati.

Kembali berlanjut ke cerita, si ibu yang sedang gelisah tentang statusnya yang naik sebagai haji ini kemudian terkejut di dalam rumahnya ada tikus. Si ibu kemudian berteriak-teriak ketakutan dan berusaha membunuh si tikus dengan tindakan lawak satir dimana lalu secara tidak sengaja si ibu terpeleset dan meronta-ronta meminta pertolongan kepada si anak. Si ibu kemudian anehnya malah menyeret-nyeret dirinya menggapai sebuah tong berisi air. Apakah isi tong tersebut adalah air zam-zam?, apakah ini sebuah sindiran atas proses penderitaan rasa sakit manusia yang kemudian tanpa adanya ikhtiar langsung menyerah kepada yang maha kuasa?.

Lagi-lagi kita dibuat pusing dengan film UDHAR yang walaupun sebenarnya sepusing apapun masih tetap dapat kita nikmati bersama.

Mungkin Tunggul Banjaransari selaku pembuat film ini ingin menyindir akan sebuah ke-statusan semata dari hal yang berjudulkan kata ‘haji’ yang padahal orang yang naik haji tersebut hanyalah orang biasa saja bukan seorang kyai ataupun ulama namun malah akhirnya merasa terjebak dengan ke-statusan sebagai seorang seorang haji tersebut.

Tunggul Banjaransari di dalam film UDHAR menampilkan sebuah teknik yang tak lazim terlihat dengan pengambilan gambar melalui si ibu dan si anak tanpa pernah memperlihatkan tokoh atau lawan main bicara si kedua tokoh tersebut. Sebuah sudut yang tak kasat mata dihadirkan di dalam film pendek ini. lagi-lagi apakah ini sindiran bahwasanya sesuatu itu belum dapat diyakini kebenarannya apabila kita belum secara nyata merasakan hal tersebut secara batiniah maupun inderawi.

Jangan pernah berusaha membenarkan sesuatu yang abstrak dengan berusaha melukiskannya kembali menjadi sesuatu yang indah dan enak dipandang. Sesuatu yang abstrak bahkan dapat lebih dinikmati dibandingkan sesuatu yang normal apa adanya. Begitu pula dengan UDHAR jangan pernah sekali-kali berusaha menerka atau mematenkan makna didalamnya karena kita tidak punya kuasa didalamnya kecuali si pembuatnya. Kita hanya punya hak untuk menerka-nerka isinya dengan membiarkan segala sesuatunya seperti apa adanya. Lagipula, apabila kita berhenti untuk menerka-nerka isinya tidaklah itu sesuatu yang menjemukan karena hidup akan lebih menyenangkan bila dipenuhi dengan tanda tanya.

A LADDY CADDY WHO NEVER SAW A HOLE IN ONE (2013)

Golf adalah sebuah perangkat permainan paling borjuis dan kapitalis dimana tempat permainannya selalu dijadikan tempat para negotiator dalam mendiskusikan hal-hal yang berujung pada ketidakadilan. Di arena yang bisa dibilang penuh dengan kepicikan dan dipenuhi dengan hal tak berperikemanusian selalu digambarkan dengan arena megah dan luas serta mewah dipenuhi dengan rumput hijau yang mahal. Tidak untuk di film pendek A Laddy Caddy, arena golf digambarkan sebagai sebuah padang sawah yang jelas-jelas bukan tempat untuk bermain golf. Ada sebuah tafsir ganda akan makna yang mungkin ingin disampaikan di dalam film ini.

Nona Kedi adalah seorang wanita yang telah naik kelas dan menjadi asisten dalam permainan golf, ditemani dengan seorang lelaki yang terlihat dari kelas bawah. Mereka bersama bermain golf di sawah. Tapi hubungan antara Nona Kedi dan lelaki ini seakan-akan telah saling lama kenal dengan berangkat dari kelas bawah bersama namun si wanitanya naik kelas tapi lelakinya tidak. Adanya kecemburuan sosial didalamnya, kecemburuan akan status yang didasarkan pada jenis kelamin dengan bagaimana si lelaki merasa tidak senang dengan naiknya status sosial si perempuan.”susumu tambah gedhe” ujar si lelaki yang dijawab Nona Kedi, “Banyak laki-laki yang aku temani”. Menariknya visual yang disampikan dengan si lelaki tersebut menggunakan stik golf menyentuh dada si Nona Kedi. Apakah ini sebuah tafsir yang dilakukan secara visual tenang makna akan beringasnya kehidupan di arena pertandingan golf antara lelaki dan perempuan?.

Ketika status sosial dan jenis kelamin dipertanyakan dalam arena golf, lagi-lagi tafsir lain datang. Beberapa mobil jeep datang di sawah tersebut diikuti dengan si lelaki yang terus berbincang dengan si Nona Kedi. Seakan-akan si sawah telah menyatu dengan lapangan golf si lelaki ini meminta stik golf dimana Nona Kedi memberikan stik tersebut dan dengan sekali ayun langsung masuk ke lubang. “Hole in One” ujar si lelaki. Si lelaki tersenyum puas seakan-akan dia telah menang dari perang. Sebaliknya Nona Kedi malah terdiam dan seakan tidak puas dengan yang apa dilihatnya.

Dilema multi tafsir pun terjadi di dalam film pendek A Laddy Caddy ini. Si Nona Kedi tidak percaya dengan Hole – In – One yang jelas-jelas adalah sebuah keberuntungan semata dengan peluang nyaris tidak ada. Si Nona Kedi ternyata adalah orang yang tidak percaya akan keberuntungan dan bahkan tidak pernah melihat keberuntungan. Maka dari itu, ketika si lelaki meminta agar si Nona Kedi melihatnya berusaha kembali merebut tanahnya (baca: sawah yang dijadikan arena permainan golf) malah memilih untuk menyingkir dan pergi menjauh karena dia sudah mengetahui hasilnya. Hole – In – One.

Tentunya perjuangan si lelaki itu tidak seperti dengan hole-in-one yang dilakukannya. Perjuangannya pun pada akhirnya kandas oleh kaum-kaum proletar dan kapitalis. Setelah berjuang habis-habisan untuk mendapatkan kembali tanahnya akhirnya mati juga si lelaki. Tanah yang dulunya berupa sawah akhirnya menjadi sebuah lapangan golf untuk orang-orang borjuis yang sadar bahwa tanah yang mereka injak tersebut penuh dengan tangis dan darah dari orang-orang kaum bawah yang menolak kalah.

Kelam dan suram. Dibongkarnya tentang kepahitan sebuah lapangan golf yang penuh dengan ketidakadilan, ketidakberdayaan kepada status sosial dengan alih-alih menampilkan semata tentang perbedaan kelas yang disangkutpautkan dengan jenis kelamin itulah mungkin yang ingin disampaikan di film pendek ini.

A Laddy Caddy Who Never Saw A Hole In One merupakan film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen dan telah menerima penghargaan di Busan International Film Festival untuk Sonje Award dan sekarang berhasil masuk di nominasi ladrang Festival Film Solo 2014 dan memenangkannya.

ONOMASTIKA

Onomastika (yang berarti hari pemberian nama) adalah sebuah film yang menceritakan seorang bocah lelaki yang menyadari bahwa ada sebuah sekat pembatas antara dirinya dengan orang lain, yaitu dia tak bernama. Bocah lelaki tersebut (dia yang tak bernama) baru memahami ketika seorang anak perempuan menanyakan namanya namun dia tidak dapat menjawabnya. Aneh. Sejak lahir dia tidak memiliki nama. Bocah lelaki tersebut kemudian meminta kakeknya untuk memberikannya nama.

Bukanlah hal yang mudah dalam mencari nama. Itulah perjuangan si bocah lelaki tersebut dalam mencari akan jawaban kenapa dia tak bernama dan kenapa dia tak kunjung diberikan nama. Kedua orang tua si bocah lelaki ini keburu tiada sebelum memberikannya nama sehingga dia hanya tinggal dengan si kakek yang selalu dimintanya untuk diberikan nama. “Tidakkah si kakek seharusnya merasa lelah maupun rishi ketika si bocah lelaki selalu diminta diberi nama?”, tapi mirisnya ternyata hidup si kakek malah bergonta-ganti nama demi dapat menerbitkan tulisannya.

Berlatarkan tempat di pinggiran desa di Kutai Negara, perjalanan si bocah lelaki tak bernama itu pun dimulai.

What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet” (kutipan kata dari William Shaskespeare). Apalah arti sebuah nama apabila ketika sesuatu yang kita namakan ‘mawar’ ketika dinamakan dengan nama yang berbeda akan tetap tercium harum yang sama. Itulah pernyataan yang diberikan oleh Shaskespeare yang sampai sekarang masih kita ingat dengan jelas. Mungkin, Onomastika berusaha mengunggkap makna dari perkataan Shaskespeare tersebut.

Apalah arti sebuah nama? Ketika ternyata sebuah nama menjadi sebuah hal yang sangat penting dibandingkan apapun. Tanpa nama membuat kita terbatas dalam melakukan segala hal, seperti contoh paling kecil adalah mendapatkan hak untuk pendidikan atau bersekolah. Si bocah lelaki yang tak bernama ini mengalami dilema ketika dirinya ingin bersekolah namun kenyataannya dia tak memiliki nama padahal persyaratan utamanya dia harus memiliki identitas diri sehingga dengan kata lain si yang tak bernama ini harus bernama.

Memohon dan meminta kepada si kakek agar diberikan nama namun malah si kakek menyarankan agar si bocah tersebut mencari nama yang baik untuk dirinya sendiri. Si bocah lelaki tersebut kemudian meminta bantuan kepada seorang tokoh agama, ketika dipertanyakan tentang nama yang baik dia malah menjawab ‘tuhan saja mempunyai banyak nama’. Terdiam lah si bocah. Mungkin didalam benaknya terngiang-ngiang: ‘seberapa pentingkah sebuah nama itu?’.

Tanpa sadar sebenarnya kita diajak kembali mengulas sejarah. Mengulas sejarah kelam ketika sebuah identitas menjadi hal yang sangat penting dan bahkan sebuah nama menjadi hal yang paling berbahaya dan brutal. Dengan sebuah nama sesuatu dapat dicari, dimaki, ditangkap, dan dihilangkan. Hingga akhirnya lebih baik berganti nama atau tidak mempunyai nama sama sekali atau mungkin diasingkan.

Inilah sindiran yang disampaikan oleh Onomastika, lewat si kakek yang selalu berganti nama agar tulisannya dapat diterbitkan dengan aman serta melalui si bocah tak bernama yang terasing karena tidak punya nama.

Apakah sebuah nama itu menjadi suatu hal yang sangat penting?. Ya. Nama menjadi sebuah hal yang penting ketika tanpa nama kita tidak mempunyai hak-hak yang seharusnya kita dapatkan. Kita diajak merenung kembali seputar pertanyaan-pertanyaan: “kenapa kita harus bernama?”, “kenapa tiba-tiba nama itu menjadi sebuah pokok hal penting sebagai syarat utama untuk mendapatkan sesuatu?”. Kita seakan-akan diajak merenung, berfikir, dan mengintrospeksi diri kita tentang sejauh mana kita mengenal diri kita sendiri dengan nama yang melekat di diri kita.

Sepertinya Loeloe Hendra menjadikan Onomastika sebagai ruang untuknya dalam menyampaikan kegelisahan-kegelisahan yang dia alami. Ketika nama disandingkan dengan kebutuhan agama, politik, budaya, dan sebagainya Onomastika tidak berusaha melawan itu, tidak berusaha meluruskan bahwa nama itu bukanlah hal yang penting bahwa tanpa nama pun kita bisa menjadi sesuatu. Onomastika menyerah pada keadaan yang ada, mencabik-cabik perasaan akan ketidakadilan yang terjadi dimana-mana, memberikan bukti bahwa terjadinya pengasingan akibat tanpa nama.

Film pendek ini jauh dari sempurna, masih banyak yang bias tentang apa yang ingin disampaikan tapi nyatanya dengan ketidaksempurnaan itu semua terasa cukup dan tak berlebih dalam penyampaiannya. Ketika selesai menonton ini yang tersisa hanyalah sebuah makna yang mempertanyakan tentang sebuah nama.

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment