Review Buku Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital

Review Buku Kuasa Media di Indonesia

Dalam buku Kuasa Media di Indonesia, Ross Tapsell berupaya menjawab dua pertanyaan terkait oligarki media di Indonesia. Pertama, apa dampak revolusi digital dalam produksi berita dan informasi? Kedua, bagaimana perubahan media digital di Indonesia memengaruhi cara kekuasaan digunakan?

Ia berpendapat bahwa teknologi digital membawa Indonesia ke dua arah. Di satu sisi memberikan keuntungan kepada kaum oligarki sementara pada saat yang sama bisa digunakan warga sebagai media kontra.

Tapsell tampak dipengaruhi oleh semangat sarjana amerika Henry Jenkins dalam memandang konvergensi media dan sebagian besar buku terbarunya ini mengkritik bagaimana pemilik media melakukan ekspansi bisnis melalui cara konglomerasi dan konsentrasi.

Review

Kuasa Media di Indonesia terbagi atas lima pembahasan. Pertama, Medium dan Pesan membahas seputar kemunculan para konglomerasi media dan dampak teknologi digital sebagai “medium” menggeser bentuk konten atau “pesan”.  Kedua, Para Konglomerat Digital mengupas secara rinci bagaimana digitalisasi memengaruhi ekonomi-politik media arus utama di Indonesia.

Bagi Tapsell, digitalisasi mengarah kepada konglomerasi dan konsentrasi efeknya adalah matinya media-media lokal atau tergerusnya independensi media ini akibat dibeli oligark. Menariknya lagi, ia bahkan membeberkan sifat oligapoli media di Indonesia dimana oligark media mesti menyiapkan kotak set-top untuk mendapatkan izin multipleksing dari pemerintah. Pada sebuah kesimpulan ia menyatakan:

“Teknologi digital telah menciptakan sebuah model bisnis baru bagi sebagian besar media arus utama di Indonesia. Saya menyebut model ini sebagai “Konglomerasi Digital”. Saat perusahaan-perusahaan media besar berkembang menjadi konglomerat digital, banyak perusahaan media profesional yang lebih kecil berhadapan dengan buah simalakama: menjadi bagian dari konglomerat digital atau berisiko tutup.

[Hal. 7]

Ketiga, Para Oligark Media berisikan seputar lanskap media di Indonesia yang multi-oligarki dan bagaimana pemilik media berperan dalam kekuasaan politik, terlibat dalam pemilu dan juga dekat dengan calon dan/atau presiden.

BACA JUGA  Henry Jenkins dan Budaya Konvergensi: Persinggungan Antara Media Lama dan Baru

Tapsell beragumen ada tiga tren besar yang muncul berkenaan oligarki media di Indonesia: pemilik media semakin kuat secara politik, semakin kaya pula, dan juga perusahaan makin menyerupai dinasti (sebab kemimpinan atau top management diberikan kepada anak si pemilik media).

Selanjutnya pada bagian keempat dan kelima buku Kuasa Media di Indonesia, adalah pembahasan Media Kontra-Oligarki dan Ekosistem Digital yang menggambarkan kemunculan Jokowi sebagai antitesa dari oligarki: ia berasal dan berjuang untuk rakyat karena itu muncul media-media partisipatoris yang mendukung kampanyenya menjadi gubernur dan presiden.

Review Kuasa Media di indonesia

Umumnya, oleh Tapsell disampaikan bahwa penggagas berasal dari kelas kelas menengah, urban, Jakarta, dan muda. Di sini ia menganalisis bagaimana media arus utama kewalahan dan mau tidak mau terjebak dalam tren pemberitaan blusukan Jokowi: suka atau tidak suka.

Terlihat, media digital memungkinkan individu atau kolektif untuk menciptakan pemberitaan yang melawan dominasi dari media arus utama. Ia menyebutnya sebagai “Media Kontra-Oligarki”:

“Istilah “media kontra-oligarki” sangat penting untuk memahami cara minoritas berdaya Indonesia yang memiliki akses internet untuk memengaruhi media dan politik di era digital. Media kontra-oligarki ada pada saat platform digital digunakan untuk melawan atau merebut wacana dominan dari para oligark media. Hal ini bisa mencakup platform digital yang dicipta secara independen, maupun juga gerakan yang mendorong perombakan di dalam konglomerasi media besar yang dimiliki para oligark.

[hal. 186]

Kekuatan-kekuatan minoritas berdaya ini tersampaikan dalam berbagai wujud selama pemilu, misalnya adalah Kawal Pemilu yang merupakan situs untuk menjawab keresahan warga atas hasil quick count pemilu 2014 silam. Atau juga gerakan Teman Ahok yang berupaya mengumpulkan KTP penduduk Jakarta untuk memajukan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Calon Gubernur Jakarta melalui jalur independen.

BACA JUGA  Review Esai Laura Mulvey: Visual Pleasure and Narrative Cinema

Intinya, dalam melakukan kajian media di Indonesia meski menggunakan perspektif ekonomi-politik kita tidak harus selalu melihat warga sebagai yang tak berdaya, karena di setiap operasi kekuasaan selalu ada bentuk-bentuk resistensi yang perlu kita pertimbangkan.

Buku Kuasa Media di Indonesia sudah selayaknya menjadi bacaan penting dan wajib bagi akademisi, terutama di bidang Komunikasi, dan Kajian Budaya dan Media.

Akhir kata, saya memberikan hormat kepada penerjemah, yaitu Wisnu Prasetya Utomo yang mampu menerjemahkan tulisan bahasa inggris menjadi bahasa indonesia yang renyah dan sangat enak dibaca bahkan tampak tidak kaku dan terkesan sebagai ‘buku terjemahan’.

Leave A Response

Leave a Reply

Close
%d bloggers like this: