Press "Enter" to skip to content

Review Buku Paula Saukko, Doing Research in Cultural Studies: An Introduction to Classical and New Methodological Approaches

Metodologis penelitian tidak lagi menyeramkan ketika saya akhirnya selesai membaca buku Paula Saukko, Doing Research in Cultural Studies. Dengan penuturan sederhana nan cermat, Saukko mengajak pembacanya untuk memahami bahwa kekuatan dari studi ini terletak pada gaya penulisannya sekaligus akar permasalahan yang diangkat: pengalaman hidup sehari-hari kah? hidup orang lain? etnografi media?. Menariknya, Saukko sedari awal mempertegaskan bahwa tidak ada satu penelitian pun yang bersifat “objektif” malah dengan “ke-objektif-an” lah telah terjadi kekerasan epistemik dari peneliti ke subjek penelitiannya. Mau tidak mau suatu penelitian yang “Cultural Studies” harus mempunyai kedekatan antara si peneliti dengan fenomena yang tengah ditelitinya.

1

one of the arguments of this book is that research methodologies are never ‘objective’ but always located, informed by particular social positions and historical moments and their agendas.

Sebagaimana argumentasi Saukko, dalam penelitian Cultural Studies memang sulit untuk menemukan sifat objektif karena anggapan adanya “jarak” antara peneliti dengan fenomena malah bisa menyebabkan suara dari subjek tidak akan terdengar (atau lagi-lagi dibungkam). Pernyataan ini berangkat dari kegelisahannya sebagai seseorang yang pernah mengalami anoreksia. Banyak penelitian sosial berkutat pada kata ‘disordered‘ atau simptom dimana orang dengan anoreksia tidak menyadari kondisi dirinya. Padahal menurutnya, itu tidaklah selalu benar. Alih-alih berusaha membuktikkan bahwa bisa saja ada resistensi di dalam fenomena ‘eating disorder‘, Saukko mencari tatanan wacana atau diskursus apa yang mengkonstruksi fenomena ini.

Rekomendasi bacaan:
The Anorexic Self A Personal, Political Analysis of A Diagnostic Discourse by Paula Saukko.

2

Resistance underlined the creative potential of popular culture forms, such as youth cultures and movements, to challenge dominant ideologies and society, even if this potential was not necessarily interpreted to lead to radical, social change.

Beberapa kritik yang diberikan kepada Cultural Studies berkisar kepada manfaat penelitian, sekaligus sukar dan bias ketika melakukan penelitian. Tak jarang banyak yang menganggap remeh karena banyak hasil penelitian bersifat lokal dan mikro, terkadang juga dianggap tidak memiliki pengaruh apapun dalam konteks sosial dan ekonomi. Namun perlu ditekankan bahwa studi ini selalu melihat budaya sebagai arena pertarungan kuasa dan segala hal kecil bisa jadi bentuk resistensi. 

Saukko berargumen ada empat aspek yang bisa diteliti, yaitu: lived experience (pengalaman hidup), discourse (wacana), text (teks), dan social context (konteks sosial). Tentu saja gaya metodologis penelitiannya berbeda. Disinilah menariknya, dari semua cara, ada satu yang paling ditekankannya, yaitu pentingnya refleksi diri (self-reflection) dari peneliti agar bisa kritis melihat fenomena yang tengah diangkatnya. Maka tak jarang, penelitian studi ini menggunakan kata “saya” (I) atau kata ganti orang pertama.

3

Methodology refers to the wider package of both tools and a philosophical and political commitment that come with a particular research ‘approach’.

Lantas, ada berapa macam metodologis yang bisa diterapkan ketika melakukan penelitian Cultural Studies? . Setidaknya ada tiga pendekatan yang ditawarkan oleh Saukko. Pertama, perspektif dari metodologis hermeneutika. Sebagai peneliti kita melakukan penelitian dengan menangkap realita kehidupan orang lain. Penelitian ini bisa menangkap kebenaran nyata dari objek yang sedang kita teliti. Kedua, metodologis postruktualisme. Disini kita mengkaji wacana yang telah mapan dan melakukan dekonstruksi atas wacana itu. Jadi, kita bisa memahami bagaimana representasi terkonstruksi dari objek yang kita liat sehari-hari.  Contohnya, penelitian tentang Edward Said atas orientalisme (melihat perspektif barat atas orang timur. Ketiga, metodologis kontekstualis/realis. Dengan memakai kacamata ini kita bisa melihat hubungan objek yang sedang kita teliti dalam konteks sosial, ekonomi, dan politikal. Kacamata ketiga ini bisa membicarakan masalah hierarkis kekuasaan; kekuasaan dan ketidaksetaraan; atau politik kolonial.

4

I am offering a book that encourages reflexive social and cultural research on social reality in a fashion that is aware of its theoretical and political commitments and their repercussions, strengths and omissions.

Tentu saja dalam melakukan penelitian Cultural Studies ada berbagai cara untuk menganalisis dan menghimpun data. Hal ini pun disampaikan Saukko. Kita sebagai peneliti harus melihat dan memahami gejala fenomena lalu secara reflektif mempertanyakan: teori dan pendekatan apa yang bisa digunakan. Misalnya, kamu hendak meneliti pengalaman hidup sendiri dan orang lain lalu memilih pendekatan hermeneutika. Gaya penulisan dan cara analisis bisa menggunakan: Truthfulness, Self-reflexivity, atau Polyvocality. Atau kamu ingin membongkar grand narration atas diskursus tertentu? Maka cara analisisnya terdiri atas dua: Genealogical historicity (Foucault) atau Deconstructive critique (Derrida). Saya tidak akan membuat rangkuman mengenai hal ini, ada baiknya kamu membaca sendiri tulisan Saukko agar lebih paham dan bisa jadi pembacaan saya pun salah.

5

Namun, berhubung saya tertarik dalam studi pengalaman hidup ada salah satu metode yang ingin saya bahas, yaitu textual optimism. Pendekatan ini saya sukai karena sejalan dengan minat penelitian saya, yaitu aktivitas resistensi, dan subkultur.

Pertama-tama ada hal yang harus diperhatikan ketika menggunakan pendekatan ini, yaitu kecenderungan penelitian berakhir optimis tentang adanya “kemungkinan” resistensi dan perubahan sosial meskipun hasil pemaparan terkesan sukar dan bias. Contohnya pada kajian John Fiske mengenai fans Madonna yang mengungkapkan sikap dan perilaku Lucy selaku fan yang menyimbolkan Madonna sebagai perempuan independen dengan memberdayakan seksualitasnya. Pemikiran ini melampaui banyak kajian kritis studi media yang kerap melihat Madonna dalam perspektif mata laki-laki atau male gaze dan feminisme (simbol patriarki dan kuasa falosentrik). Kajian Fiske menimbulkan pro dan kontro karena meneliti konsumen/konsumsi media dipandang tidak efektif karena tidak merubah struktur dominasi dan hegemonik. Belum lagi posisi Fiske dimana ia berupaya untuk menginterpretasikan pendapat Lucy atas simbol Madonna yang menimbulkan pertanyaan: Sejauh mana peneliti berhak mengintervensi hasil penelitian?.

Sebenarnya menurut pandangan saya ini tergantung dari teori yang dipilih. Teori dan konsep Fiske pun cukup membuat saya mengerenyitkan dahi sampai akhirnya menemukan model resistent reading dari Henry Jenkins, yang merupakan muridnya sendiri.

Rekomendasi bacaan: 
1. Textual Poachers by Henry Jenkins
2. Convergence Culture: Where the Old Media and New Media Collide by Henry Jenkins
3. Fans, Blogger and Gamers: Exploring Participatory Culture by Henry Jenkins

Lebih lanjutnya, Saukko juga dalam bukunya memberikan metode penghimpunan data, salah satunya adalah testimony. Ia menjelaskan “Testimonio, as a genre of writing and as a political strategy, is not necessarily ‘new ethnography’, but it is part of the same historical sensibility and is predicated on a similar commitment to bring forth a silenced experience.” Testimoni dapat dilihat sebagai laporan saksi langsung tentang fenomena yang ingin dibahas oleh peneliti. Data yang berupa testimoni ini tidak dipandang sebagai ‘penulis pribadi’ melainkan ‘perwakilan’ atau ‘utusan’ dari konflik yang tengah dibahas. Dalam arti tertentu, akun pribadi seseorang yang berisikan opininya atas suatu peristiwa bisa digunakan sebagai data testimony dalam penelitian jika ia berbicara untuk mewakili pengalaman kolektif, serta bertujuan untuk mendistribusikan opini tersebut ke audiens metropolitan. Cara penghimpunan data ini bisa efektif bila Anda ingin mengkaji teks media, misalnya berkaitan dengan fans.

*

Demikianlah ulasan singkat mengenai buku Doing Research in Cultural Studies. Bagi saya buku yang hanya bertebal kurang dari 200 halaman ini sangat informatif sebagai pembuka dalam mengenal metode penelitian Cultural Studies.

Sumber:

Saukko, Paula. 2003. Doing Research in Cultural Studies : An Introduction to Classical and New Methodological Approaches. London: Sage Publication.

Leave A Response

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *