Press "Enter" to skip to content

Category: BLOG

Jurnal #14: Mencoba PDKT dengan Cultural Studies

TANPA terasa satu bulan berlalu begitu cepat semenjak saya kembali menjadi mahasiswa dan memutuskan untuk murtad dari Ilmu Komunikasi. Alih-alih mengambil program pascasarjana Ilmu Komunikasi malah berkat teman (ia seorang lulusan S2 Ilmu Komunikasi), saya akhirnya memilih program studi Kajian Ilmu Budaya dan Media (KBM) di UGM. Kota Yogyakarta lalu menjadi persinggahan saya sementara untuk dua tahun ke depan (semoga saja tidak lebih, berhubung saya juga tak kerasan tinggal di sini).

Namun, keputusan melanjutkan studi di program ini sudah saya pikirkan sejak lama karena ketertarikan saya mengenai kebudayaan, terutama ranah media dan budaya yang bila masih dalam lingkup ilmu komunikasi akan (lagi-lagi) terjebak dalam suatu disiplin yang terkesan ‘deterministik’ dan ‘ahistoris’. Bahkan dari namanya saja sudah terkesan janggal, yaitu peletakkan kata ‘ilmu’ (science) yang seakan-akan menjadikan ‘komunikasi’ itu bisa diukur, padahal harusnya sebagai sebuah disiplin ia memiliki cakupan yang luas, dan bisa memiliki keterkaitan dengan cabang epistimologis lain. Maka mayoritas kita akan menemukan program-program yang sifatnya cenderung terapan, seperti jurnalistik, broadcasting, hubungan masyarakat, dan manajemen komunikasi (terutama dalam prodi S1). Alih-alih menggunakan kurikulum pendidikan yang kritis, mahasiswa lulusan Ilmu Komunikasi kebanyakan (tidak semua) akan (kembali) terjebak dalam paham positivis.

Dan itu juga berdampak bagi saya yang seorang lulusan Ilmu Komunikasi karena mau tidak mau sedikit terjebak dalam ‘positivisme’ ini. Untungnya, saya ketika kuliah S1 menyukai hal-hal berbau kajian media sehingga tidak bego-bego amat walau secara resmi konsentrasi yang saya ambil kala itu adalah Management Media.

Berbeda dengan Ilmu Komunikasi, Cultural Studies sebagai sebuah disiplin menurut saya memiliki suatu nilai-nilai romantis walau kesannya para pemikir dibidang ini kerjanya hanya menggungat suatu teori saja, lalu terjebak dalam pikiran-pikirannya sendiri, kemudian entah ia akan menjadi pesimis, stress, atau berakhir bunuh diri (seperti Guy Debord). Tapi Cultural Studies terus berkembang dan menjadi salah satu disiplin yang meminjam banyak konsep dari postruktrualisme (tanpa melupakan historis sebuah teori terbentuk), dan tetap bertujuan untuk membebaskan manusia dari hegemoni dan/atau ketertindasannya (Ini salah satu nilai romantisnya menurut saya).

Memahami Cultural Studies serasa seperti sedang masa-masa pendekatan menuju pacaran, karena jika diandaikan sebagai sebuah ‘sosok rill’, kita perlu mengetahui sejarah hidupnya, perdebatannya, kelebihannya, maupun kekurangannya.

Tapi akan runyam bila kita mencoba memahami Cultural Studies dengan mengkotak-kotakkannya secara serampangan atau lebih parahnya berusaha membuat formal disiplin ini karena sebagai disiplin akademis, Cultural Studies bisa digauli oleh banyak hal, entah itu gender, kelas, ras, kolonialisme, ekonomi politik, media, dll. Persinggungan ini lah yang akhirnya membuatnya tampak sangat luas dan kadang seolah-olah mirip-mirip dengan disiplin akademis lain. Lalu apa perbedaannya? Sebagai sebuah disiplin, Cultural Studies juga bergerak di luar ranah akademisnya, yaitu dalam bentuk gerakan sosial atau aktivisme yang seringnya mempersoalkan kekuasaan dan politik.

Penuturan di atas juga bukanlah sebuah definisi mutlak dari Cultural Studies. Chris Baker dalam bukunya Cultural Studies, Theory, and Practice menuturkan bahwa “selalu ada suatu Cultural Studies versinya sendiri”. Ini dipengaruhi oleh bagaimana penulis/pembaca dalam memilih kajian-kajian teks yang dibacanya (selektif) yang akan menghasilkan suatu definisi Cultural Studies versi mereka sendiri.

Saya yang kini sedang ‘dijajah’ pikirannya oleh kurikulum KBM UGM mau tidak mau (sementara ini) memahami Cultural Studies melalui karya-karya yang menganut konsep poststruktrualis, seperti Derrida, Foucault, Giddens. Tanpa melupakan karya-karya sebelumnya yang turut memengaruhi lahirnya disiplin akademis ini, dimulai dari Abad Pencerahan (Age of Enlighment), dengan tokoh-tokoh, seperti Matthew Arnold (Arnoldian), Horkheimer, Adorno, Marcuse, Habermas, Gramsci, hingga Spivak yang tidak bisa dilihat sebagai penganut tertentu.

Maka masa-masa PDKT dengan Cultural Studies ini bisa jadi masa yang tidak akan pernah selesai karena akan selalu ada produksi pengetahuan baru, dan bisa saja suatu ketika dalam melihat teori, dan fenomena tertentu saya akan memiliki pandangan berbeda dari waktu ke waktu. Seperti halnya pendiri Frankfurt School ataupun Marx (sebelum lahirnya Cultral Studies), seorang praktisi atau setidaknya penikmat kajian Cultural Studies harus siap memasuki masa-masa denial terhadap teori/paham/pandangan/konsep tertentu yang dulu dianutnya tetapi menurut saya harus tetap memiliki suatu pijakan, yaitu pada misinya untuk emancipatory/enlightment.

BAPAK

PAGI itu, 23 Juli 2018, lebih tepatnya, handphone saya berdering ketika saya sedang berjalan kaki menuju rumah sakit. Ada panggilan masuk dari adik saya. Sebuah obrolan singkat menyoal dimana posisi saya saat itu dan meminta agar segera bergegas untuk ke rumah sakit. Saya diam-diam tahu, mungkin ini waktunya – hari dimana dokter akan menyampaikan sebaris pesan: “Bapak sekarat”.

Tidak ada hal yang perlu dirisaukan. Saya tahu suatu saat ‘hari itu’ akan datang. Bapak mengidap leukemia sudah hampir dua tahun. Dalam masa dua tahun kebelakang itu, kami sekeluarga kerap menemaninya ke rumah sakit. Walau sering juga bapak pergi diam-diam perkara tidak ingin merepotkan anak-anak dan istrinya, atau bahkan rekan kerjanya. Begitulah bapak, romantis dengan caranya sendiri.

Sebenarnya sungguh berat menuliskan hal-hal mengenai bapak. Saya masih dirundung duka mendalam. Suatu ketika di tahlilan pertama bapak, saya tak kuasa menahan tangis melihat tas beliau yang selalu dibawanya kemanapun. Tas yang sudah tua itu membawa lari saya ke pada masa-masa menemani beliau di rumah sakit. Bapak pernah diam-diam ke rumah sakit saat ibu dan adik sedang jalan-jalan ke Bandung, itupun hasil dari paksaannya. “Jangan dikasih tahu, biar aja liburan dulu disana kalau dikasih tahu entar malah langsung pulang”, katanya kepada saya setelah saya sampai di rumah sakit karena diberi tahu olehnya bahwa ia sedang di UGD. Begitulah cara bapak mencintai sesuatu, terutama kepada ibu.

Bapak jarang sekali memberikan sesuatu dalam bentuk fisik. Barang terakhir yang ia berikan kepada saya adalah sebuah tas yang lagi didiskon. Bapak memang tak terlalu suka memakai barang-barang bermerek, bahkan jalan-jalan ke luar negeri.

Saya sebagai anak pertamanya tak pernah sekalipun dituntut untuk menjadi ‘sesuatu’. Hampir semua pilihan hidup yang saya ambil hingga sekarang tidak pernah diintervensi oleh dirinya. Hanya satu kali ia menunjuk saya untuk membuat keputusan penting – itupun menyoal hidupnya. Bukan hidup saya tetapi hidup bapak. Bapak meminta saya mengambil keputusan mengenai pemasangan ventilator di paru-parunya walau ada risiko bapak akan stop jantung saat pemasangan.

Begitu saya mengasihi bapak karena saya tahu hanya itu pilihan yang ia punya. Saya melihat bapak sebagai pejuang – pejuang yang betul-betul berjuang untuk hidup karena itu tidak mungkin saya mengkhianati perjuangan bapak selama ini. Saat itu saya tahu, waktu bapak sudah sedikit lagi. Tak pernah sekalipun air mata saya jatuh ketika menemani bapak. Namun, hari itu saya akhirnya meruntuhkan tembok yang telah dibangun selama ini. Saya menangis di depan bapak.

Sepanjang ingatan saya selama masa dewasa ini, tidak pernah sekalipun saya menangis di depan bapak dan begitu pula bapak kepada saya. Kami enggan menunjukkan risau di hadapan orang lain. Dan kami juga memiliki cara tersendiri untuk mengungkap rasa sayang dan cinta kepada orang terkasihi. Hanya dua kali saya melihat bapak menangis itupun tidak disengaja salah satunya. Bapak menangis ketika kehilangan ibunya, diam-diam, sendirian, di dalam kamar yang gelap. Dan terakhir saya melihat bapak menangis di rumah sakit, ketika rasa sakit sedang menghajarnya habis-habisan. Itu pertama kalinya bapak menunjukkan air matanya di depan saya dan pertama kalinya juga mengeluh mengenai rasa sakit yang menyergap begitu hebatnya. Dan itu juga hari dimana saya pertama kalinya menangis untuk bapak. Sembunyi, diam-diam, di luar ruang UGD. Sama seperti bapak yang kehilangan ibunya mungkin saat itu adalah tangisan saya bahwa saya tahu akan tiba hari dimana saya akan kehilangan bapak dan itu dekat.

Tiga hari kemudian, hari yang saya pikirkan itu akhirnya terjadi. Di dalam satu ruang sempit, saya, ibu, dan adik, beserta kakak-adik bapak berkumpul untuk diberitahukan oleh pihak rumah sakit bahwa kondisi bapak kian memburuk.

Itu adalah hari dimana saya tahu betapa bapak mencintai ibu dengan caranya yang terbilang ajaib.

Bapak menghembuskan napas terakhirnya ketika hanya ada ibu di sisinya. Tidak ada kerabat, saudara, teman, atau bahkan kami anak-anaknya yang menemani. Di waktu terakhirnya, bapak sepertinya ingin sekali menghabiskan waktu bersama ibu walau hanya satu menit saja. Hanya ada ibu di sisi bapak saat itu ketika beberapa jam sebelumnya kami selang-seling bergilir menemani bapak. “Harus selalu ada yang menemani ibu ketika ibu lagi di dalam UGD”, itu pesan saya kepada adik mengingat riwayat ibu yang memiliki stroke.

Mungkin tidak lebih dari lima menit ibu sendirian mendampingi bapak. Tapi dalam waktu yang singkat itu juga, bapak akhirnya bisa benar-benar pergi.

Bapak menutup usia tepat satu bulan setelah ulang tahunnya, 23 Juni 2018 silam. Bapak juga menutup usia tepat di hari Senen Wage, sama seperti hari kelahirannya dulu, 23 Juni 1958. Bapak selesai berjuang tepat di pukul 7 malam ketika seluruh kakak-adiknya telah menemaninya sepanjang hari, sudah bertegur sapa dengannya, dan menyampaikan rasa rindu mereka. Bapak akhirnya benar-benar menutup perjuangannya di samping ibu, berduaan begitu romantisnya, sama seperti hari-hari biasa mereka yang suka bercengkrama di kamar berduaan saja untuk berbincang mengenai keseharian dan juga masa depan anak-anak mereka.

Mengapa saya menulis ini?

Beberapa hari kebelakang atau lebih tepatnya sebulan lalu, saya berdebat dengan diri saya mengenai keperluan menulis hal-hal pribadi seperti ini untuk dikonsumsi oleh publik. Saya memang tidak terlalu gemar berbagi hal-hal semacam ini, paling banter berbagi meme gak jelas. Namun, seperti yang saya singgung di atas saya memiliki cara sendiri untuk menyampaikan cinta kepada orang lain.

Saya mencintai bapak dan begitu kehilangan dirinya. Menulis adalah satu-satunya cara saya untuk menyampaikan kepadanya betapa besar saya mencintainya sebab ia tahu bahwa saya begitu mencintai kegiatan menulis walau tulisan yang saya buat serba remeh temeh.

Ada suatu ketika, ia tiba-tiba saja membagikan alamat website ini di dalam group WA keluarga lalu memberikan emoticon jempol sebagai wujud salutnya kepada saya. Tak pernah sekalipun saya menceritakan keberadaan situs ini kepada keluarga, karena saya merasa ini adalah ruang saya untuk berbagi yang sifatnya ‘private’. Namun, ia malah menemukan situs ini yang lucunya berarti diam-diam dia mencari informasi mengenai saya di Google karena saya tahu persis saat itu saya belum mempublikasikan alamat situs ini di laman profile WA saya dan tak mungkin juga bapak bermain media sosial paling banter ia hanya suka main game semacam Candy Crush.

Maka ini wujud hormat saya juga kepada bapak yang ingin masuk ke dalam ruang ‘private’ anaknya dengan cara sembunyi-sembunyi. Saya ingin memberikan satu tempat spesial bagi dirinya agar saya bisa terus mengenang dirinya sepanjang hayat. Karena ada momen-momen tertentu yang kadang saya lupa bahwa bapak telah tiada.

Terimakasih

Tak luput saya juga ingin menyampaikan rasa terimakasih sedalam-dalamnya kepada Alif, Ani, Dhita, Indah dan Landhyta yang ada di saat bapak pergi dan bisa merangkul saya dan menemani dari sore hingga malam di rumah sakit. Disaat itu, diwaktu-waktu itu, saya tahu saya tak akan pernah sendirian lagi sepanjang hidup saya. Lalu ada juga Mellysa dan Petek yang bercapek-capek dari Bandung dan harus bergegas kembali malam itu juga untuk sekedar hadir mendampingi lalu memberi tawa renyah saat saya sedang berduka. Belum lagi Dayu yang sempat-sempatnya memberikan waktu untuk sekedar mampir ke rumah selepas meeting. I don’t deserve that kind of love from you all.

And for you, my super bestfriend, teman tipar cakung yang selalu mendengar keluh kesah, cerita sehari-hari mengenai hal-hal lain seputar ini yang tak akan pernah bisa saya ceritakan kepada orang lain… thank you for always being there for me

Love,

K

Novel Kumpulan Cerita Cinta Tak Ada Mati – Review

Eka Kurniawan sekali lagi berimajinasi liar dalam Cinta Tak Ada Mati yang menyuguhkan cerita pendek (cerpen) tentang Mardio, bujangan berumur tujuh puluh tahunan yang cinta buta terhadap Melatie selama enam puluh tahun meskipun perempuan itu telah menikah dengan seorang dokter dan memiliki keluarga bahagia. Sama dengan cerpen sebelumnya, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta melalui Mimpi yang terkesan mistis, dalam cerpen kali ini, sekali lagi digambarkan mengenai ketidakwarasan pikiran anak manusia yang tengah disergap cinta, hasrat, dan mimpi. Pada bahwasanya dibalik kedua cerpen ini ada suratan nasihat: “cinta perlu ditakar agar kau tak hilang logika.”

Latar tempat dalam cerpen ini mengambil pusat perkotaan modern tahun 1950-an hingga 2000-an, tidak ada pantai, atau sedikitnya nuansa khas Tasikmalaya yang kerap muncul dalam cerita utama buatan Eka Kurniawan. Mardio dikisahkan sebagai perobek tiket bioskop yang menggoda Melatie dengan menawarkan menonton gratis (karena perempuan itu tergila-gila dengan film). Ada yang menggelitik ketika Darah dan Doa menjadi tontonan pada kencan pertama mereka karena seakan-akan Mardio diibaratkan adalah antitesis dari Kapten Sudarto yang terlibat cinta dengan dua gadis padahal telah beristri.

Lucunya, Melatie juga seakan telah memiliki suratan takdir sebab ia dilahirkan saat kedua orang tuanya menonton Melatie van Java. Melatie mungkin tak ingin bernasib sial seperti Melatie dalam film tersebut, sebab mereka sama-sama putri seorang juragan kaya maka satu hal yang ingin diubah Melatie: Ia tak ingin mempunyai kekasih yang tidak dicintainya. Itulah sebab mengapa ia dan Mardio mungkin memang tidak akan pernah bisa bersatu sebab film adalah kunci nasib tragis percintaan mereka.

Cinta Tak Ada Mati memang cukup panjang sebagai sebuah cerpen tetapi kisah Mardio begitu humanis dan bahkan dapat diamini oleh orang-orang yang sedang patah hati. Sama halnya dengan Kapten Sudarto, Mardio pun pada akhirnya hanya manusia biasa yang bisa memiliki niat keji untuk mendapatkan apa yang ia inginkan walau semua berakhir sebagai imajinasi liar yang enggan diwujudkannya, entah itu perkara dosa atau ketakutan-ketakutannya akan menyakiti perasaan si perempuan. Kini, satu pertanyaan membekas dalam benak saya:

Adakah seorang laki-laki di dunia ini yang mampu mencintai layaknya Mardio terhadap Melatie?

II

Total cerpen dalam kumpulan cerita (kumcer) Cinta Tak Ada Mati berjumlah 13 dimana diantaranya telah dimuat di kumcer sebelumnya maupun media cetak dan daring, misalnya Kutukan Dapur (dimuat di jurnalruang) dan Penjaga Malam (dimuat di Kumpulan Budak Setan). Dalam kumcer ini tak ada satu benang merah melainkan cerita yang berdiri sendiri dengan kegilaan di dalamnya.

Misalnya, perdebatan batin manusia dan tuhan dalam Surau. Karakter Sang Aku yang tengah terjebak di surau karena hujan deras lalu bingung haruskah ia menunaikan salat karena segan kepada guru ngajinya, Ma Soma yang tengah salat di Surau. Tetapi suara-suara dalam pikirannya terus berdebat, “Apa salahnya membuka sepatu, mengambil wudu, dan mendirikan salat?”.

“Tapi untuk apa?” Sang Aku kembali bertanya. Sebab Sang Aku semasa hidupnya selalu dipukul dengan mistar kayu oleh sang Ayah jika ia tidak mendirikan salat. Namun, kini setelah sang Ayah tiada tak ada lagi perih di kakinya maka ketika ia coba-coba tinggalkan salat ternyata semua berlalu begitu saja tanpa ada hukuman, dan ancaman dari Tuhan. Sebab ia diajarkan tidak untuk mencintai Tuhan melainkan takut terhadap mistar sang Ayah. Cerpen ini saya anggap sebagai sindiran problematik kepada ajaran-ajaran agama mengenai kewajiban dan sistem edukasi yang terkadang sarat kekerasan tetapi malah berbuah pada kenihilan. Bisa dibilang sepanjang membaca buku-buku Eka Kurniawan, Surau terasa paling personal dan melekat bagi saya.

Ada lagi cerpen berjudul Caronang, sebuah kisah fantasi mengenai binatang liar Caronang yang ditangkap dan dipelihara lalu ujungnya membawa petaka. Petaka terjadi ketika di suatu hari yang keji, Caronang menarik pelatuk, menembak dua kali, menghajar habis seorang balita hingga tiada. Nasib Caronang tentu berakhir tragis juga dengan dibunuh dan disembelih. Manusia memang sebegitu kejinya kerap menyalahkan pihak tak bersalah padahal ia yang pertama memulai awal petaka. Kritisme Eka Kurniawan terhadap manusia tampak tak usai pada cerita-ceritanya yang selalu dipenuhi oleh nuansa realisme magis.

Hal ini juga berlaku kepada cerpen Tak Ada yang Gila di Kota Ini, ketika suatu kota dihadapkan pada wabah berisikan orang-orang gila yang kemudian di tangkap dan dibuang di tengah Hutan Jati. Alih-alih memberikan fasilitas, dan kehidupan lebih baik, para orang gila ini malah dimonetisasi dengan dijadikan bahan tontonan pada pertunjukan sirkus di setiap musim liburan yang sarat dengan kegiatan seks.

Jadi yang lebih gila siapa? Si manusia yang bikin atraksi orang gila atau si orang gila itu sendiri?

Akhir kata, sebagai seorang pembaca tentu tidak semua cerpen dalam Cinta Tak Ada Mati menarik karena setiap orang memiliki referensinya masing-masing. Beberapa cerpen yang menarik lainnya selain yang telah disebutkan di atas, yaitu Lesung Pipit, Bau Busuk, dan Jimat Sero.

Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Mei – Juni

Ada beberapa hal menarik mengenai drama korea 2018 terbaik seri kedua yang saya buat ini. Pertama, mayoritas daftar memuat drakor bertema action dan misteri yang tidak jauh dari tokoh jaksa dan detektif. Lalu, saya baru tahu juga dari teman kalau di bulan Mei kebanyakan drakor bernuansa drama dan cinta. Pantas saja saya mumet memilih tontonan akhir-akhir ini. Terakhir, tidak ada alasan spesifik atas pemilihan drakor melainkan hanya dari sisi subjektif penulis saja.

Setidaknya ada 5 drama korea 2018 terbaik di seri kedua ini. Dua teratas merupakan daftar tontonan yang saya tetap ikuti (mungkin sampai habis). Tiga sisanya adalah tontonan yang hiatus saya tonton karena alur ceritanya mudah ditebak. Namun, ada kemungkinan saya lanjutkan karena alasan tertentu yang akan diulas di bawah.

Berikut ini daftar drama korea 2018 terbaik yang dirilis pada bulan Mei-Juni

1. Drama Korea Ms. Hammurabi

Berdasarkan novel berjudul sama karangan Moon Yoo-Seok, Ms. Hammurabi berkisah mengenai jaksa muda, Park Cha O Reum (diperankan Go Ara) yang memiliki karakter unik sekaligus mengagumkan. Sebagai tokoh feminis, Jaksa O Reum berusaha mengubah pandangan para jaksa dalam mengadili masyarakat, termasuk mengkritisi hubungan senioritas, dan gap gender di tubuh lembaga kejaksaan.

Ms. Hammurabi memiliki narasi besar terhadap isu-isu hak asasi manusia, terutama membicarakan posisi perempuan dalam tatanan sistem sosial. Misalnya, adegan dimana Jaksa O Reum berusaha mendobrak stigma terhadap hubungan pemerkosaan dan pakaian yang dikenakan korban. Salah satu adegan dengan tedas menampilkan Go Ara membandingkan pakaian terbuka (yang dianggap mengundang berahi) dengan pakaian tertutup (berupa gamis dan cadar syari).

Tentu timbul pro dan kro mengenai adegan ini. Beberapa kalangan feminis berpendapat busana berupa cadar, hijab, dan gamis dapat dianggap sebagai simbol perampasan kebebasan ekspresi terhadap perempuan (sexual oppression). Namun, ada juga pendapat bahwa itu bentuk kebebasan atas perempuan dalam memilih standar kecantikannya sendiri tanpa perlu dikendalikan oleh iklan media massa maupun konstruk budaya.

Narasi yang dihadirkan dalam drakor Ms. Hammurabi tidak hanya menyoal gender, kesetaraan, dan kesamaan saja. Ia juga (misalnya pada episode 8) berbicara mengenai depresi dan tindakan bunuh diri, mengenai relevansinya dengan tekanan dan tuntutan dari pekerjaan, ekspektasi orang tua, serta rumitnya berumah tangga. Masalah ini pun dihadirkan dari dua sisi gender. Pada akhirnya, drakor ini mengajak kita untuk sedikitnya berkontemplasi: apa yang salah dengan sistem masyarakat kita saat ini?

Bagi saya, Ms. Hammurabi adalah salah satu drama korea 2018 terbaik yang dirilis tahun ini, setelah My Ahjussi yang baru saja rampung bulan lalu. Alasan personal saya memilih tetap melanjutkan tontonan ini selain alur cerita karena ada Go Ara dan juga aktor veteran Sung Dong-IL yang kembali bertemu setelah keduanya bersama bermain di drakor Reply 1994.

2. Drama Korea Life on Mars

Drama ini merupakan remake dari serial berjudul sama yang disiarkan di BBC One pada tahun 2006 hingga 2007 sebanyak dua musim. Saya sendiri belum atau bahkan mendengar mengenai serial dari BBC One ini jadi nyaman saja menontonnya (berbeda dengan Suits, karena saya telah menonton musim pertamanya).

Life on Mars merupakan drakor bertema crime yang menerapkan fokus konflik serupa dengan drama sejenis, yaitu kasus pembunuhan berantai. Han Tae Jo (diperankan Jung Kyoung-Ho), anggota forensik Kepolisian Metropolitan Seol, secara misterius terbangun di tahun 1988 setelah tidak sadarkan diri akibat ditembak tepat di kepalanya. Dengan keterbatasan teknologi, Han Tae Jo bersama dengan tim kepolisian yang dipimpin Kang Dong-Cheol (diperankan Park Sung-Woong) berusaha mengungkapkan misteri pembunuhan yang belum diselesaikannya.

Pola cerita ini sebenarnya sama dengan drakor Tunnel – perbedaannya tokoh utamanya dikirimkan ke masa lalu. Salah satu daya tarik drakor ini adalah gaya retro dan modar latar tempat dan waktunya yang membuat saya sebagai penonton cukup takjub. Selain itu, ada aktor Ko Ah-Sung (memerankan polisi wanita Yoon Na-Young) yang terkenal berkat bermain di The Host dan Snowpiercer.

Berbeda dengan Tunnel yang cukup mengecewakan dalam menjelaskan perjalanan waktu, Life on Mars membuat konsep seakan-akan Han Tae Jo tengah berada dalam kondisi koma sehingga ia kerap mendengar suara gumaman dokter yang tengah mengoperasi dan merawatnya. Belum lagi misteri masa kecil Han Tae Jo yang diduga menjadi saksi kasus pembunuh berantai dan ia melupakan hal itu. Setidaknya, kedua misteri ini yang membuat saya tetap bertahan untuk menonton drakor Life on Mars.

Baca juga: Rekomendasi Drama Korea Terbaik 2018 Januari – April

Itulah kedua drama yang saya ikuti dan tidak bosan ketika menonton setiap episodenya. Selanjutnya, di bawah ini disajikan 3 rekomendasi drakor lainnya yang menurut saya bisa dijadikan tontonan ringan.

1. Drama Korea Lawless Lawyer

Seperti judulnya, drakor ini memuat banyak unsur kekerasan dalam proses investigasi yang dilakukan oleh para penegak hukum di Kota Gisung. Tema sentral yang diangkat adalah pembalasan dendam Bong Sang-Pil (diperankan Lee Joon-Gi) kepada Jaksa Cha Moon-Sook (Lee Hye-Jung). Kemudian terlibatlah pengacara Ha Jae-Yi (diperankan Seo Ye-Ji) dengan rencana Bong Sang-Pil berkat ibu mereka ternyata korban dari kekejian Jaksa Cha Moon-Sook.

Alur kisah Lawless Lawyer bagi saya sangat sederhana bahkan tidak ada istimewanya sama sekali. Unsur percintaan antara Bong Sang-Pil dan Ha Jae-Yi pun kurang terbangun dan terkesan terburu-buru alih-alih ingin terkesan menyerupai drama barat. Salah satu yang membuat saya akan melanjutkan menonton drakor ini adalah Lee Hye-Jung yang memikat ketika bermain di drama Mother.

2. Drama Korea Are You Human?

What a waste! Itu komentar pertama saya ketika menonton drakor ini. Padahal Are You Human? Memiliki potensi besar menjadi drakor action yang baik. Ceritanya bertemakan konflik keluarga terhadap perseteruan tahta perusahaan dimana Nam Shin (diperankan Seo Kang-Joon) dipisahkan secara paksa dari ibunya Oh Ro-Ra (Kim Sung-Ryoung). Akibat dilanda kesedihan mendalam, Oh Ro-Ra membuat robot android menyerupai anaknya yang dinamakan sama jug. Lalu masalah muncul ketika robot android tersebut mesti menggantikan Nam Shin yang asli di Korea.

Tidak ada wacana apapun yang dihadirkan dalam drama ini melainkan hanya tontonan drama ringan yang berujung pada percintaan antara manusia dan robot dan cinta segitiga atau sampai bujur sangkar. Namun, yang perlu diacungi jempol memang visual grafisnya tampak memiliki modal bahkan sampai syuting di Republik Ceko. Sebelumnya drakor bertema sci-fic yang berhenti saya tonton adalah Circle. Namun, saya tertarik untuk mengikut Are You Human? Barangkali ada kejutan karena saya juga baru menonton empat episode saja.

3. Drama Korea Investigation Couple

Apa jadinya bila pria dingin berprofesi sebagai dokter forensik selama 10 tahun bertemu dengan jaksa wanita dengan karakter sukaria? Lazimnya drakor bisa jadi dua orang ini akan jatuh cinta atau menjadi dekat layaknya sahabat. Tidak ada kasus spesial (sepanjang empat episode saya tonton), belum ada juga perkembangan karakter yang signifikan dan ceritanya pun terkesan lambat. Namun, nyaman ditonton karena satu episode berdurasi 30 menit saja. Investigation Couple mungkin akan saya lanjutkan tonton lagi karena baru kali ini tokoh dokter forensik diangkat sebagai tokoh utama yang diperankan Jung Jae-Young. Oh iya, ada Joon Ki (Lee Yi-Kyung) dari Welcome to Waikiki juga bermain disini.

Itulah beberapa rekomendari drama korea 2018 terbaik menurut versi saya yang layak menjadi teman tontonan setiap minggunya.

Jurnal #12: Sepuluh Ribu Rupiah

Suatu hari ada pesan masuk ke dalam akun saya di website yang mempertemukan antar pekerja lepas atau istilah bekennya “freelancer” dengan klien. Isi pesan itu menawari saya pekerjaan, kira-kira begini isinya: Halo budget kami 1 juta untuk 100 artikel, masing-masing @850 kata. Temanya SEO, Sosmed, Email Marketing, dll. Tinggal cari sumber artikel luar dan menuliskan kembali ke dalam bahasa Indonesia.

Selepas membacanya, saya biasa-biasa saja melihat penawaran demikian sebab diawal berprofesi sebagai penulis lepas pernah saya hanya dihargai Rp4.860,00/tulisan dengan minimal 500 kata. Sejak itu saya kapok-se-kapok-kapok-nya, mikir seribu kali sebelum menerima pekerjaan yang berhubungan dengan penulisan.

Mula-mula saya berpikir – apakah itu memang harga pasar untuk seorang penulis, terutama jasa penulisan SEO? Paling mentok dihargai sepuluh ribu rupiah, itupun dengan tuntutan menulis 10 sampai ratusan artikel. Seperti juga penawaran diatas, harga satu juta itu bahkan belum termasuk dipotong pajak yang diberlakukan pihak website (yang menurut saya fair).

Adalah waktu yang tak pernah diperhitungkan para pencari jasa penulisan ini. Waktu untuk mencari sumber, mengolah data, dan menuangkannya ke dalam kalimat yang rapi dan sesuai EYD. Adalah SEO yang kemudian membuat tulisan murah – sebab kini menulis tak lagi menyoal indahnya rima kata tapi berapa banyak kata kunci yang bisa disematkan demi meraih peringkat teratas di Google. Adalah jumlah kata yang selalu menentukan harga sebuah artikel yang sering tak manusiawi. Tapi patutkah kita menyudutkan para klien-klien dermawan ini?

Penulis Juga Bersalah

Saya pernah terjebak didalam dilema: belum memiliki portofolio tulisan yang mumpuni dan tidak mungkin memasang harga mahal. Mau tak mau saya terimalah pekerjaan menulis yang menaruh harga dibawah Rp10.000/artikel. Setiap menulis ada getir dalam hati saya, bahwa suka tidak suka: saya menulis ala kadarnya, yang penting jadi, ada kata kunci, dan sesuai minimal jumlah kata.

Bahkan sering tak rela bila tulisan melebihi jumlah kata dan akhirnya berkutat kepada cara untuk menghemat penggunaan kata dalam satu paragraf. Lambat laun saya semakin gerah pada kenyataan: portofolio telah saya miliki, ulasan baik dari klien ada tetapi lowongan pekerjaan menulis dan tawaran selalu berkutat disitu – SEPULUH RIBU RUPIAH. Dan saya menyadari, penulis-penulis yang telah bergelimpangan jobs selalu mengambil pekerjaan jenis itu. Menulis 10 artikel untuk harga sebaik-baiknya Rp130.000,00.

Alasannya lagi-lagi tak jauh dari: kata kunci SEO dan template. Penulis model ini sudah memiliki bagan tulisan yang hanya tinggal meletakkan kata disana-sini, diganti ini-itu dan yang penting enak dibaca. Maka jangan kaget, bila artikel-artikel daring isinya gak jelas semua. Terkadang bisa juga cuman hasil terjemahan Google yang di-copypaste begitu saja. Buset…

Adakah perubahan yang telah saya lakukan? YA. Saya berhenti fokus mencari uang. Walau suka mikir, “kalau seratus ribu itu ditumpuk juga lama-lama jadi sejuta, kalau sejuta itu juga ditumpuk lama-lama jadi sepuluh juta”, sambil menghisap sebatang kretek di bawah rembulan. Tapi sampai kapan? Berapa jutaan artikel tidak berkualitas yang mesti saya hasilkan untuk meraih pundi-pundi uang itu? Belum lagi rasa kecewa dan kesal liat hasil tulisan sendiri.

“Terus kenapa gak nulis aja dengan bagus walau dibayar murah?” – UDAH. UDAH DICOBA. Tapi capek sendiri dan dongkol. Bikin gak sehat jiwa, udah keringetan nulis, nyari referensi dari sana sini, buka KBBI dan Thesaurus buat banyakin kata-kata baru. Uang yang cair ke rekening cuman SEPULUH RIBU. (ya tidak sepuluh ribu karena rata-rata saya nulis puluhan artikel, silahkan kalkulasi sendiri).

Saya akhirnya menyalahkan diri sendiri dan mulai selektif memilih pekerjaan. Ada masa dimana satu minggu menganggur atau pernah juga sebulan karena daftar lowongan penulisan isinya bikin saya mau koprol di tengah jalan.

Apakah harga saya membaik? YA. Saat ini seminimal-minimalnya saya menulis dengan harga Rp50.000,00/artikel dan tak jarang juga Rp100,000,00. Saya juga memilih tema yang dibahas, disesuaikan dengan kefasihan saya. Dan hampir semua tulisan saya tidak ada sangkut pautnya dengan teknik SEO.

Pada akhirnya, kembali lagi, penulis lah yang harus cerdas dalam memilih pekerjaan. Harus berani menghargai dirinya sendiri. Buat penulis-penulis lepas di luar sana, jangan pernah merasa rendah dengan kualitas dan hasil tulisan kalian. Saya selalu bilang pada diri saya sendiri, “tulisan saya memang masih jauh dari kata sempurna tapi bukan berarti murahan.”

Film A Quiet Place (2018) – Review

Keberadaan unsur suara dalam adegan horor selalu menjadi faktor penting bagi kebanyakan pembuat film untuk menakuti-nakuti penonton namun film A Quiet Place (2018) malah sebaliknya, ia menjadikan suara sebagai musuh dan penonton turut diajak untuk diam sepanjang menyaksikan perjuangan keluarga Abbot untuk bertahan hidup dari kejaran para monster yang telah menginvasi Bumi.

Di awal cerita kita tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Bumi? Mengapa keluarga Abbot berbicara secara berbisik-bisik serta menggunakan bahasa isyarat? Bahkan upaya keras mereka menghindari timbulnya suara tampak dari absennya alas kaki sepanjang mereka berduli. Maka ketika unsur suara membahana untuk pertama kalinya penonton tersadar ada monster yang mengintai mereka melalui suara.

Regan (Millicent Simmonds) dan Lee (Krasinki)

Pada paruh pertama film kita mulai paham bahwa keluarga Abbot menguasai bahasa isyarat karena memiliki anak perempuan yang tuna rungu, yaitu Regan (Millicent Simmonds), ini menjadi detail penting mengenai konsep dunia post-apocalyptic kreasi Bryan Woods dan Scott Beck dimana manusia masih menguasai bahasa verbal dan kejadian invasi belum berlangsung lama walau dampak kerusakan terlihat global. Selain itu, konflik utamanya mulai jelas, yaitu Evelyn (Emily Blunt) sedang mempersiapkan proses kelahiran anaknya. Maka siap-siap bergidik ngeri membayangkan Evelyn harus menahan rintihan dan jeritan selama proses melahirkan. Belum lagi mengakali suara tangisan bayinya yang baru lahir.

Di tangan John Krasinski, film A Quiet Place tidak hanya meneror namun juga menjelma menjadi drama yang sentimentil mengenai hubungan antara orang tua dan anak ditengah-tengah rasa bersalah dan kehilangan menghantui mereka.

Hubungan Lee (Krasinki) dan Regan serta putranya, Marcus (Noah Juppet) yang terkesan rumit tapi sederhana ini menjadi modal yang membuat penonton akan bersimpati terhadap Lee dan Regan juga mungkin akan sedikit dongkol dengan karakter Marcus yang perajuk. Evelyn memang sedikit terabaikan hingga di paruh kedua film dengan ditampilkan sebagai sosok ibu yang berusaha tegar agar tidak menjadi beban bagi suami dan kedua anaknya. Namun ketika film memasuki babak klimaks, ia berubah menjadi sosok heroik demi menyelamatkan bayi di dalam perutnya serta suami dan kedua anaknya yang tengah terancam oleh para monster.

Bila ditinjau dengan saksama, formula penceritaan yang dipakai dalam film A Quiet Place sangat-sangatlah umum, biasa-biasa saja dan tidak istimewa. Pola tiga babak dan tensi emosi yang dimainkan dalam naskah film ini sangat familiar ditemukan pada ratusan film horor sejenis. Lantas apa yang menjadikan A Quiet Place begitu popular, dikagumi bahkan sanggup menaklukan pendapatan film blockbusters sekelas Pacific Rim: Uprising (2018) dan Ready Player One (2018)?

Keluarga Abbot dalam A Quiet Place

First, we miss the old days. Menjamurnya film horor di bioskop bukan berarti bukti kualitas film terjamin. Fiilm sekelas The Conjuring (2013) sekalipun lagi-lagi masih menjual adegan-adegan ritual, hantu, iblis dan pengusiran setan. Padahal di era klasik kita bisa mendapati film The Shining (198) atau Suspiria (1977) yang absurd dan Let the Right One In (2008) yang mencekam atmosirnya tanpa perlu bersusah payah menakut-nakuti penontonnya.

Kedua, not engaged in any politics or social movements. Hollywood yang sedang diamuk massa karena gap gender, ras, dan orientasi seksual membuat banyak film tampak harus memiliki isu dan muatan yang berkaitan dengan masalah tersebut, bahkan sekaliber film horor yang ranahannya jauh dari kata drama atau kampanye sosial ikut juga ketarik. Seperti yang baru-baru ini saja terjadi kepada film fiksi ilmiah A Wrinkle in Time (2018) yang mempromosikan diri sebagai film diverse dan wajib ditonton karena tokoh utamanya orang kulit hitam. Atau Ghostbusters (2016) yang ingin menjadi film feminis namun berujung reverse sexism. Akhirnya, mereka malah gagal di box office.

Kehadiran film A Quiet Place seperti angin segar dalam dunia sinema yang tidak selalu melulu harus sarat akan pesan dan isu sosial. Kesuksesan film ini juga menjadi bukti bagi film horor yang menggunakan kesederhanaan dalam bercerita, yaitu The Babadok (2014), Don’t Breathe (2016) dan Get Out (2017). Terlepas dari isu rasial dalam Get Out mengenai diskriminasi yang diterima orang kulit hitam di Amerika, film besutan Jordan Peele ini tidak berlebihan atau menjual isu rasial dalam filmnya. Tata cara bertutur yang logis dan tidak memaksa memainkan peran penting untuk diterima oleh penonton.

Sekali lagi, film A Quiet Place menjadi tontonan yang cukup menghibur sekaligus mencekam dan membangkitkan nostalgia mengenai dunia sinema yang tidak rumit. Tapi kita memang masih jauh dari kata ‘ideal’ untuk masalah representasi dan masih banyak rintangan untuk melaluinya.

Membaca Dua Novel Young Adult LGBTQ Karya Shaun David Hutchinson

Setelah saya direkomendasikan teman untuk membaca novel young adult Benjamin Alire Sáenz, Aristotle and Dante Discover the Secret of the World tahun lalu, saya jadi keranjingan membaca novel yang penuh diversity, terutama isu LGBTQ+ karena saya masih awam membaca novel-novel tersebut. Melalui situs Goodreads, saya tanpa sengaja terpapar penulis yang aktif menulis dengan karakter homoseksual, yaitu Shaun David Hutchinson.

Hutchinson sendiri sangat aktif membagi pengalamannya soal coming out as a gay man dan kesehatan mental di twitter dan situsnya. Tak ayal novel karangannya tidak jauh-jauh dari soal depresi dan penerimaan diri.

We Are the Ants

Bagaimana rasanya bila kita diminta untuk memilih membinasakan atau menyelamatkan dunia? Henry Denton yang diculik terus menerus secara misterius oleh alien yang disebutnya ‘the Sluggers’ dihadapkan pada pilihan itu. Waktu yang ia miliki hanya 144 hari sebelum dunia berakhir. Dan ia harus memutuskan apakah dunia pantas untuk diselamatkan.

Masalahnya Denton sudah terlalu banyak mengalami rasa kehilangan. Pertama, Jesse, kekasihnya yang bunuh diri pada suatu malam tanpa meninggalkan sepucuk surat. Lalu, sahabatnya, Audrey berdusta mengenai kematian Jesse. Kemudian, Marcus, teman bercintanya di kubikel kamar mandi sekolah kerap merundungnya sebagai homoseksual. Terakhir, kehadiran Diego membuat dirinya merasa bersalah terhadap Jesse.

Sepanjang membaca tentu saya menerka-nerka: Metafora apa yang berusaha digambarkan Hutchinson dalam We Are the Ants melalui karakter Denton? Mengapa the Sluggers memilih menculik Denton? Atau sebenarnya tidak pernah ada yang namanya the Sluggers, kecuali hasil imaji liar buah dari beban hidup Denton?

Setelah membaca saya menyadari gagasan dalam We Are the Ants sangat jelas, yaitu keterusterangan lebih penting ketimbang kebohongan. Denton yang kerap diculik alien merupakan kiasan bagi dirinya yang meminta pertolongan ke orang-orang disekitarnya. Bahkan dari judulnya saja ‘semut’ merupakan simbol dari koloni – Semut tidak dapat hidup sendirian, mereka butuh para semut lainnya untuk bergotong royong membangun sarang dan mengumpulkan makanan.

Melalui tangan dingin Hutchinson, novel ini sama sekali jauh dari kata lebay, cheesy dan norak. Dengan bumbu-bumbu sains dan tugas dari Ms. Faraci kita akan menyelami dunia fiksi ilmiah yang unik. Isu bunuh diri tergambarkan secara tedas. Karakter Jesse yang bunuh diri merupakan gambaran dari kesahihan persoalan itu sendiri. Depression isn’t a war you win. It’s a battle you fight every day. You never get to stop, never get to rest. It’s one bloody fray after another.

We Are the Ants memiliki pesan di dalam goresan kisahnya walau tidak secara gamblang namun subtil. Bila diperhatikan tidak ada adegan dimana Henry, Jesse dan Diego perlu mengungkapkan orientasi seksual mereka dan tidak semua tokoh digambarkan sebagai orang kulit putih dengan gender spesifik. Hutchinson berhasil mengambarkan representasi dunia yang ideal mengenai kesetaraan dan keragaman.

The Five Stages of Andrew Brawley

Tidak semegah We Are the Ants namun kisah Andrew Brawley masih dapat dinikmati dan cenderung lebih kelam dibandingkan hidup Denton. Andrew atau Drew telah bertahun-tahun tinggal di rumah sakit, ia gemar membuat novel grafis, berbagi cerita fiktif kepada perawat, dan pasien anak-anak serta mengelabui kematian. Drew sadar ia tidak seharusnya hidup dan kini kematian terus mengincarnya.

Di novel ini, Hutchinson menggunakan grafis sebagai penanda masa lalu Drew, terkadang ada tipikal orang yang lebih tenang mengutarakan lewat gambar ketimbang kata. Drew salah satunya. Tentu saya juga bertanya-tanya: Mengapa Drew tidak berani keluar dari rumah sakit sementara dirinya bukan penderita social phobia? Bagaimana mungkin tidak ada sekalipun orang mencarinya? Sedikit demi sedikit beban traumatik masa lalu Drew terbongkar melalui karakter ‘Pasien F’ dalam novel grafis yang dibuatnya.

Disinilah saya merasa ‘Pasien F’ adalah wujud dari depresi yang tergambarkan dengan konkret. Ketika pelan-pelan tubuh ‘Pasien F’ mulai dimutilasi, mungkin seperti itu pula rasa depresi dimana penderita mulai kehilangan gelora untuk hidup atau bahkan sekedar bernapas rasanya sungguh berat. What if you don’t kill yourself? What if you just stop wanting to live?

Selama membaca terkadang ada sisi saya berempati dan turut kesal dengan karakter Drew yang irasional dan self-absorbed. Lalu sebagai karakter utama pun kisah Drew tidaklah semagnetis percintaan Lexi dan Trevor yang diikat kematian. Walapun tidak dipungkiri hubungan Drew dan Rusty yang tarik ulur juga memikat. Kadang membaca buku ini perlu sedikit menahan napas atau terdiam sejenak kala Drew dan Rusty mengungkap masa lalu mereka yang pekat.

Konflik coming out disini juga menjadi isu sentral lewat Rusty yang mengalami tindak perundungan hingga ia akhirnya mati rasa – kehilangan hasrat untuk mencintai dan mengagumi, ketika hatinya telah menjadi batu maka ia mempertanyakan: Apakah fisiknya mengalami hal serupa? Pilu rasanya membaca penuturan Rusty menyoal hidupnya dan keputusannya untuk menyakiti dirinya sendiri, bukan untuk memberikan rasa sakit kepada dirinya melainkan perundungnya yang ternyata berakhir sia-sia.

The Five Stages of Andrew Brawley terbilang berani dan vulgar dalam mendemonstrasikan tindak bunuh diri dan melukai diri sendiri (self-harm). Rasa-rasanya penulis seperti menaruh pengalamannya hingga membuat keseluruhan cerita Drew dan Rusty terasa begitu personal dan dekat. Kehilangan, kenestapaan, ketakutan tergambarkan dengan sangat detail seolah-olah sedang membaca buku diari.

Novel ini berbicara mengenai harapan lewat pertemuan kecil yang tidak disengaja. Kisah Drew dan Rusty yang berakhir di pelaminan terbaca dengan jelas sejak pertemuan pertama mereka. Tapi seperti ada magnet yang membuat The Five Stages of Andrew Brawley tidak menjemukan untuk tetap dinikmati sampai tuntas.

Rekomendasi Film Thriller Korea Terbaik – Bagian 1

Sudah cukup lama saya ingin membuat daftar panjang film thriller Korea terbaik namun enggan menulis karena sulit menentukan film yang pantas diletakkan di posisi pertama. Oleh karena itu, diputuskan untuk membaginya saja menjadi beberapa tulisan lalu secara adil menyampaikan alasan personal memuja-muja film tersebut ketimbang meletakkan standarisasi pada angka teratas dan terbawah.

Pada bagian awal tulisan ini, ada beberapa faktor mengapa saya memilih judul film di bawah untuk dibahas terlebih dahulu. Pertama, saya memuliakan film tersebut karena telah melampaui ekspektasi saya (twist dan alur cerita tak terduga). Selanjutnya, kelihaian sutradara dalam memvisualisasikan naskah dengan alur cerita yang tidak biasa. Lalu, isu dan orisinalitas cerita yang saya anggap unik untuk diangkat. Terakhir, atmosfer film terampil dalam menimbulkan perasaan tegang, gelisah, dan takut.

Berikut ini daftar rekomendasi film thriller korea terbaik menurut saya!

1. Memories of Murder (2003)

Berdasarkan kejadian nyata, film ini mengisahkan dua detektif yang berupaya membongkar kasus pembunuhan berantai di Provinsi Gyunggi, kota Hwaseong, Korea Selatan. Berlatar tahun 1986, sejumlah perempuan ditemukan tewas setelah diperkosa lalu dibunuh dengan kejam: mereka diikat serta dibekap dengan stoking.

Kasus ini sangat terkenal dan terus dibahas hingga sekarang karena menjadi Cold Case “kasus tidak terselesaikan”. Kasus ini terjadi pada pertengahan September 1986 hingga April 1991 dan selama periode waktu tersebut setidaknya ada 10 korban yang semuanya adalah wanita. Bahkan ada penyintas yang bersaksi bahwa tersangka adalah pemuda berumur 20-tahunan dan tampak biasa saja.

Kontroversi selama penyelidikan timbul karena pihak kepolisian ditekan militer dan melakukan pemaksaan kepada para tersangka agar mengakui tindak kriminal. Bahkan total tersangka sampai lebih 20.000 orang. Imbasnya terjadi aksi bunuh diri seorang pemuda dengan keterbatasan mental yang dituduh sebagai pelaku.

Film yang disutradarai dan ditulis Joon-ho Bong ini kurang lebih mengambil referensi dengan kejadian nyata di atas. Detektif Park Doo-Man (Kang-ho Song) dan Detektif Sae Tae-Yoon (Sang-kyung Kim) berkolaborasi untuk menemukan pelaku, beberapa adegan investigasi yang terjadi kala itu turut ditampilkan. Paling menonjol bagaimana naskah menambahkan sisi cerita fiktif dimana pelaku dapat dianalisis dan penyidik menemukan titik terang tersangka sebenarnya walau ternyata setiap petunjuk sama sekali tidak berkaitan satu sama lain.

Tempo cerita dalam film ini cenderung lamban namun tidak berbelit-belit apalagi menjemukan malah penonton turut diajak untuk membongkar kasus dan ikut berprasangka. Film ini tidak seperti kebanyakan film thriller Korea lainnya yang bertemakan balas dendam. Memories of Murder tampil sebagai film sederhana dengan kualitas dan kepawaian bercerita luar biasa.

Akhir kisah yang melaju ke tahun 2003 dimana Park Doo-Man telah menjadi pebisnis lalu mengunjungi tempat kejadian perkara adalah interpretasi terbaik mengenai sosok tersangka kasus Hwaseong dan salah satu pengalaman sinema terbaik yang pernah saya alami. Empat menit terakhir dalam Memories of Murder merupakan adegan paling adiluhung bagi saya dan bisa dikatakan sebagai salah satu penutup film terbaik sepanjang masa.

2. Oldboy (2003)

Dari semua film bertemakan balas dendam, Oldboy adalah maha karya sempurna yang tidak hanya mengedepankan aksi laga atau sekedar bermain dengan ketegangan saja tetapi naskahnya memang benar-benar keji, kontroversial dan vulgar. Masuk dalam rangkaian The Vengence Trilogy dari Park Chan-Wook, film ini memang tidak bisa dibahas bila tidak mengungkit dua film lainnya karena ketiganya sama-sama berfokus pada hubungan orang tua dan anak serta rasa kehilangan.

Bila Symphaty for My Vengence (2002) adalah hasil coba-coba yang berujung pada tragedi dan Lady Vengence (2005) condong kepada menuntut balas dengan bengis. Maka Oldboy identik terhadap perpaduan keduanya melalui cerita manis getir para tokohnya.

Mengisahkan Dae-su Oh (Min-sik Choi) yang diculik secara misterius dan disekap selama lima belas tahun lalu dilepaskan dengan perintah untuk menemukan pelakunya dalam waktu lima hari, yang tak lain dan tak bukan adalah Woo-jin Lee (Ji-tae Yu). Min-sik bersama Mi-do (Hye-jeong Kang) berusaha menyingkap alasan penculikan tersebut dan ternyata menuntun kepada dosa yang pernah dilakukan Dae-su puluhan tahun silam kepada Woo-jin.

Begitu banyak adegan yang dikatakan tersohor, misal adegan perkelahian Dae-su tanpa henti di lorong selama tiga menit dengan senjata palunya (one take) dan menjadi salah satu adegan paling bersejarah dalam dunia sinema. Atau kekuatan visual dan cerita ketika Dae-su bertemu dengan Woo-jin diiringi suara latar persetubuhan antara dirinya dan Mi-do yang memilukan dan menjadi penutup paling nahas yang pernah ada dalam film thriller manapun. Oldboy tidaklah dapat diprediksi dan mampu mengaburkan batas moralitas manusia.

Oldboy masuk ke dalam daftar film thriller korea terbaik bagi saya karena membuat saya selama menonton terperanjat, geleng-geleng kepala dan sesak napas menanti akhir nasib setiap karakter. Saya ingat betul kali pertama menonton film ini, mulut saya menganga dan mata melotot karena tak percaya naskahnya begitu dramatis.

3. The Wailing (2016)

Bila kamu penikmat film thriller Korea pasti akan penasaran mengapa saya memasukkan The Wailing dalam daftar awal ini. Bagaimana dengan I Saw the Devil (2010) atau The Man from Nowhere (2010)? Hematnya, dua film itu masih berkutat pada balas dendam dan tak etis rasanya jika menempatkan film-film sejenis dalam daftar yang sama. Maka saya berusaha memberikan pilihan dengan ragam cerita.

Film besutan Hong-jin Na ini pantas untuk masuk dalam deretan awal karena ceritanya berakar pada kejadian transendental. Kisah bermula dari sejumlah kematian misterius yang terjadi di Gokseong, Jeollanam-do dan diduga penyebabnya adalah jamur liar beracun. Namun desas desus warga desa menuntun Jong-go (Kwak Do-won) kepada seorang pria jepang misterius tak bernama (Jun Kunimura) yang dicurigai sebagai pelaku.

The Wailing diibaratkan sebagai perpaduan antara teknik prosedural detektif dalam Memories of Murder ditambah menyajikan sosok iblis yang epik dalam The Cabin in The Woods (2012) tanpa melupakan unsur pengusiran setan ala-ala The Exorcist (1973). Memang film ini rumit, dari segi cerita belum lagi tokoh hilir mudik dengan peran tak terduga. Kita akan terus digiring untuk menebak-nebak siapa sesungguhnya sosok iblis tersebut. Semakin dalam ditelusuri maka semakin ragu juga kita atas kebenaran peristiwa yang terjadi di Gokseong.

Hubungan ayah anak antara Jong-Go dengan putrinya, Hyo-jin (Hwan-hee Kim) sebagai konflik dalam film ini juga membuat darah mendidih bagi yang menonton. Belum lagi kehadiran sosok perempuan misterius (Woo-he Chun) yang seolah-olah ingin menyelamatkan Hyo-jin namun terkesan juga sebagai sang iblis. The Wailing sama sekali tidak memberikan petunjuk terhadap yang hitam dan putih melainkan semuanya hanyalah abu-abu dan semu.

Sosok tuhan yang absen dalam diri Jong-go pun menjadi penanda bahwa tak semua harus bergantung pada iman. Namun, ketika disudutkan pada keimanan itu sendiri, mau tidak mau kita selaku penonton akan turut berkontemplasi menyoal percaya atau tidak terhadap hal yang bersifat niskala.

Bagi saya, The Wailing adalah puisi kepada sosok tuhan yang selalu digambarkan sebagai penguasa atas semesta padahal ia tak berdaya bila hambanya tak percaya atas eksistensinya. Tapi bisa jadi juga merupakan kritik kepada manusia yang selalu kufur terhadap tuhannya. Keruwetan naskah dan orisinalitas cerita ini lah yang membawa saya mendapuk The Wailing sebagai salah satu film thriller Korea terbaik.

Baca juga: Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Januari - April

Itulah tiga film thriller Korea terbaik bagi saya yang pantas untuk dinikmati, setidaknya satu kali dalam hidup. Daftarnya memang pendek, tidak seperti tulisan sejenis yang sifatnya top list dan bisa memuat hingga 10 daftar judul, saya lebih memilih untuk memberikan resensi atas opini saya setelah menonton secara detail ketimbang sekedar memberikan sinopsis dan ulasan singkat saja.

Sebaik-baiknya rekomendasi, ia adalah tulisan bersifat saran yang mesti disajikan dengan baik dan tanggung jawab agar kelak pembaca dapat memutuskan dan menimbang sendiri layak atau tidaknya ia untuk turut menikmati deretan rekomendasi tersebut.

Jurnal #11: Perjalanan Hidup Bersama Buku

Malam ini saya sedikit terusik ketika tengah membaca novel Han Kang berjudul Human Acts yang diterjemahkan oleh Deborah Smith.

“Seberapa besar membaca buku telah memengaruhi hidup dan kepribadian saya?”, pertanyaan itu terlontar begitu saja, tak ada angin, tak ada hujan.

Sembari menatap langit-langit kamar saya berusaha menyelami kembali bagaimana saya bisa tumbuh menjadi pemuda seperti saat ini. Lantas saya menilik kebelakang, buku apa yang pertama kali saya kagumi?

Jawabannya terbagi atas dua zaman. Pertama masa di kanak-kanak saat saya menikmati buku seri Lima Sekawan karangan Claude Voilier. Saya selalu terkagum-kagum dengan aneka petualangan yang harus dihadapi Julian, Dick, Anne, Georgina dan Timothy bahkan tak jarang sampai memimpikannya. Kedua saat memasuki Sekolah Menengah Atas ketika tanpa sengaja menemukan novel The Noticer: Sometimes, all a Person Needs is a Little Perspective karangan Andy Andrews di rak buku Intermedia.

Dua buku itu membekas karena mengajarkan dua hal penting mengenai hidup: Pertama, kehidupan selalu dipenuhi tantangan dan memiliki teman merupakan hal terindah di dunia dan yang kedua, apresiasi terhadap diri sendiri serta kemampuan untuk memahami bahwa setiap orang itu terlahir berbeda.

Sedari dulu saya memang anak yang selalu memperkarakan banyak hal bahkan terkecil sekalipun. Semakin saya tumbuh dewasa semakin saya paham bahwa ada ketertarikan saya terhadap isu-isu yang topiknya soal kemanusiaan. Tak banyak yang tahu memang bahwa saya gemar sekali membaca semenjak remaja.

Perkenalan saya terhadap bacaan itu pertama kali terjadi saat SMA, ketika menemukan buku Dunia Sophie di tempat peminjaman novel dan komik dekat rumah. Tebal bukunya bikin saya minta ampun dan saya malah tetap membaca diam-diam karena takut menimbulkan stigma negatif jika ketahuan orang tua. Karena segala sesuatu yang dilabeli ‘filsafat’ mengandung arti kata ‘ateis’ atau tak bertuhan bagi mereka. Saya ingat sensasinya – saya merasa saya adalah Sophie yang tengah dikirimi surat oleh Hilde melalui buku tebal tersebut. Tak perlu ada yang tahu dan ini rahasia saya sendiri.

Entah bagaimana semenjak saya mengonsumsi ragam buku, saya mulai suka sesuatu yang berbau klasik. Telatnya saya atas hal ini mau tau mau juga disebabkan referensi orang tua yang tidak mengenal dengan baik karya seni dan entah bagaimana saya tumbuh menjadi sangat sensitif soal karya seni. Saya mulai menikmati dan berusaha memahami bahwa seni itu ibarat mata uang yang selalu mempunya sisi lain.

Koleksi-koleksi bacaan saya yang terus bertambah lambat laun menjadi beban karena nihilnya teman berdiskusi sebab saya menutup diri sebagai seorang pembaca. Pasalnya, saya menganggap bacaan saya ‘aneh’ dan tidak cocok dengan lingkungan sekitar saya. Saya tumbuh sebagai orang yang terbuka atas beragam gagasan sementara lingkungan saya sangat udik, disinilah bibit perseteruan antara saya dan tuhan mulai tumbuh.

Menyadari hal itu, dulu saya membelah diri menjadi dua kepribadian. Pertama, yang teman-teman ketahui saya sebagai sosok periang, suka bercanda dan patuh pada sistem. Kedua, penyendiri yang di dalam kamar bisa habis-habisan diam termenung untuk membaca, menonton atau sibuk berimajinasi.

Saya terus berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan dengan ekspektasi yang diharapkan. Sementara, saya juga tenggelam dalam buku, larut dalam kata-kata yang selalu saya harap ada nama saya disana. Namun nama itu tak pernah tergores di kisah manapun.

Sampai kapan terus begitu?

Persinggungan saya dengan Perpustakaan Batu Api saat kuliah mengubah jalur hidup saya. Sepasang suami istri yang merupakan pemilik perpustakaan tersebut bisa dibilang satu dari beberapa hal baik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Kami kadang suka bertegur sapa, entah itu di perpustakaan atau pusat perbelanjaan Griya untuk membahas ala kadarnya mengenai novel-novel Stephen King, karya Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, Mochtar Lubis, Djenar, dsb atau menikmati guyonan novel kontroversial, misalnya Lolita. Jangan singgung nama Goenawan Mohamad karena tak sedikitpun saya tertarik membaca buku-bukunya.

Seringkali saya ditawari diskusi atau sekedar mengopi di teras perpustakaan yang selalu saya ikuti dengan alasan ‘ada keperluan di kampus’. Tapi tak jarang pula saya ikut terlibat selama acara dilakukan di dalam kampus bukan di perpustakaan. Mengapa demikian? Entah mengapa saya agaknya merasa terintimidasi dengan kemungkinan-kemungkinan peserta di perpustakaan memiliki wawasan lebih ketimbang saya. Walaupun jelas pemikiran itu salah. Tapi tak ada manusia yang sempurna di dunia ini memang.

Lalu bagaimana Batu Api bisa mengubah saya? Jawabannya sesederhana saya menemukan orang untuk bertukar pikiran dan mendapatkan referensi yang baik. Kebetulan lingkungan kuliah saya condong kepada penikmat film yang tentunya saya cintai dari lubuk hati paling dalam. Namun Batu Api memberikan secercah harapan yang selalu saya sembunyikan diam-diam. Dari situ saya mulai pelan-pelan membicarakan buku dengan orang-orang di sekitar. Kadang ada yang menyerengit bingung tapi tak banyak pula yang memberikan aneka referensi bahkan meminjami buku mereka.

Kepribadian saya akhirnya pelan-pelan berubah dan mulai terbuka. Manusia-manusia di sekitar saya menyadari bahwa memang pola berpikir saya berbeda melalui referensi buku bacaan saya. Walau tak jarang juga bila di suatu sore di depan Gedung 2 Kampus ada yang suka memperkarakan hal-hal aneh, entah itu menyoal ketuhanan atau keimanan. Tak usah jauh-jauh, kala mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya pun berseteru dengan rekan saat menyampaikan pendapat saya mengenai kegiatan ibadah.

Pada akhirnya, buku tidak hanya mempertemukan saya dengan dunia tapi juga memperkenalkan saya dengan sederet manusia. Lewat buku saya bertemu dengan ragam orang dan lewat buku pula saya bisa memahami karakter mereka. Karena buku bacaan yang kita segani merupakan cerminan dari watak pribadi kita sendiri.

Jurnal #10: Pengalaman Menggunakan Kindle Paperwhite

Tanpa terasa sudah lebih dari satu tahun saya membaca buku dengan perangkat Kindle Paperwhite buatan Amazon. Berkat perangkat elektronik dengan resolusi 300-ppi itu saya bisa membaca dengan nyaman selayaknya membaca buku versi cetak. Daya tahan penggunaannya pun terbilang lama, bisa mencapai tiga minggu (klaim: dua bulan/30 menit sehari) bila hanya digunakan selama 1 sampai 3 jam sehari.

Sayangnya, masih banyak pembaca buku di Indonesia yang awam dengan Kindle atau bahkan masih ragu dan sering melontarkan pertanyaan, “Apa sih enaknya baca ebook?” Kalau ditanya seperti itu saya hanya menjawab, “ya enak lah, gak berat”. Terlebih buat saya yang mobilitasnya (dulu) tinggi serta malas membaca buku di malam hari karena harus menyalakan lampu. Dengan Kindle segalanya serba mudah.

Saya mampu menyimpan hingga ratusan atau ribuan buku dalam perangkat yang memiliki muatan memori 4GB itu. Mengapa bisa begitu? Sederhana sebenarnya. Sebab buku-buku digital versi ‘.mobi’ khusus Kindle berukuran 500kb sampai 10mb. Tidak ada yang sampai gigabyte jadi ruang penyimpanan sangat besar.

Gak Sayang Beli Buku Digital?

Harus saya akui awalnya saya bertanya demikian juga. Apalagi membeli buku di Amazon tidak jauh berbeda harganya dengan versi cetak. Tentu sebagai bookholder, saya ingin merasakan memegang kertas, melihat sampul judul dan memajangnya di meja dan lemari di kamar. Namun zaman sudah berubah, bergerak kearah yang lebih maju dimana semua penyimpanan kini berbasis cloud.

Selain itu, jujur saja saya juga jarang membeli buku-buku di Amazon, kecuali terbitan terbaru. Kenapa? Karena saya juga sudah memiliki data penyimpanan buku-buku sebesar 3GB, berkat membeli Kindle di Tokopedia. Sungguh murah hati sang penjual, semoga dilimpahkan rahmat dan dimudahkan hidupnya. Beragam judul buku dari penulis era klasik sampai modern bahkan filsuf Plato pun tersedia. Bila kamu berminat bisa mengunjungi tokonya disini.

Nah, gak cuman itu juga tersedia satu situs yang menyediakan beragam buku fiksi, non fiksi, jurnal penelitian, resep, dan sebagainya. Data penyimpanannya mungkin berjumlah jutaan dan tersedia banyak file ekstensinya. Jadi kamu bisa unduh khusus untuk membaca di iBooks ( .epub ), atau ponsel dengan pdf/e-reader. Kamu bisa mengaksesnya di Library Genesis (silahkan klik gambar diatas).

 “Jadi kamu ngebajak buku? Gak mendukung nasib industri buku? Gak mendukung penulis-penulis independen itu?”, said SJW.

Bagi kalian yang menuntut ini, yah gimana yah… namanya juga dikasih kesempatan jadi bisa berbuat kejahatan. Walau saya sebenarnya juga enggan untuk melakukan hal demikian tetapi karena terhimpit dana finansial dan terutama ingin menikmati bacaan buku lama, akhirnya saya yah mengunduh buku-buku dengan ilegal.

Tapi bukan berarti kelak saya gak mengoleksi buku-buku tersebut. Dengan adanya acara Big Bad Wolf dan Indonesia International Book Fair, saya jadi bisa membeli buku-buku yang telah saya baca dengan harga lebih murah. Buku karangan Charles Dickens pun saya miliki, baik fisik maupun digital di Kindle. Seperti yang telah diungkit sebelumnya, saya juga membeli buku di Amazon apabila ada buku terbitan baru yang tidak akan pernah mungkin bisa saya dapatkan secara ilegal.

Rasanya Membaca di Kindle

Koleksi Buku di Kindle

Saya sangat suka sekali membaca dengan Kindle, terlebih lagi buku-buku berbahasa inggris karena dengan mudah menemukan arti dari satu kata atau menerjemahkan satu kalimat sekaligus dengan fitur google translate yang terpasang di perangkat. Belum lagi bisa berbagi buku yang lagi saya baca di media sosial dan Goodreads langsung melalui Kindle.

Bayangkan betapa sulitnya membaca dalam bentuk fisik bila menemukan satu kata yang sulit. Kita harus mencari artinya di kamus terlebih dahulu. Jadinya malah kerja dua kali sementara Kindle tinggal klik langsung keluar deh artinya. Bahkan gak perlu menggunakan akses Wifi karena kamus disediakan dalam versi offline.

Masalah saya dengan pembendaharaan kata yang kurang bila baca buku literatur yang memakai bahasa segambreng apaan tau itu lah bisa dengan mudah mengerti untuk menyusun makna setiap paragraf yang ditulis penulis. Selain itu, terbantu juga dalam melatih percakapan dan memahami bahasa inggris lebih baik.

Nah, untuk Kindle yang saya miliki sendiri, yaitu Paperwhite memang dirancang untuk membaca saja tidak seperti Kindle Fire yang lebih berfungsi seperti Tablet atau iPad. Yah kalau dipikir-pikir pada akhirnya Kindle versi tablet sama seperti membaca buku di iBooks melalui iPad. Gak ada istimewanya deh.

Maka walau memakan harga yang cukup mahal (saya beli sekitar dua juta), saya merasa sangat worth it dengan kebutuhan membaca saya. Akhirnya saya bisa membaca, dan cukup membeli novel dan buku Indonesia juga menghindari beli buku terjemahan dan impor yang seharga ratusan ribu rupiah.

Baca Juga: Tips Menggunakan Kindle Paperwhite