Press "Enter" to skip to content

Category: BLOG

Rekomendasi Film Thriller Korea Terbaik – Bagian 1

Sudah cukup lama saya ingin membuat daftar panjang film thriller Korea terbaik namun enggan menulis karena sulit menentukan film yang pantas diletakkan di posisi pertama. Oleh karena itu, diputuskan untuk membaginya saja menjadi beberapa tulisan lalu secara adil menyampaikan alasan personal memuja-muja film tersebut ketimbang meletakkan standarisasi pada angka teratas dan terbawah.

Pada bagian awal tulisan ini, ada beberapa faktor mengapa saya memilih judul film di bawah untuk dibahas terlebih dahulu. Pertama, saya memuliakan film tersebut karena telah melampaui ekspektasi saya (twist dan alur cerita tak terduga). Selanjutnya, kelihaian sutradara dalam memvisualisasikan naskah dengan alur cerita yang tidak biasa. Lalu, isu dan orisinalitas cerita yang saya anggap unik untuk diangkat. Terakhir, atmosfer film terampil dalam menimbulkan perasaan tegang, gelisah, dan takut.

Berikut ini daftar rekomendasi film thriller korea terbaik menurut saya!

1. Memories of Murder (2003)

Berdasarkan kejadian nyata, film ini mengisahkan dua detektif yang berupaya membongkar kasus pembunuhan berantai di Provinsi Gyunggi, kota Hwaseong, Korea Selatan. Berlatar tahun 1986, sejumlah perempuan ditemukan tewas setelah diperkosa lalu dibunuh dengan kejam: mereka diikat serta dibekap dengan stoking.

Kasus ini sangat terkenal dan terus dibahas hingga sekarang karena menjadi Cold Case “kasus tidak terselesaikan”. Kasus ini terjadi pada pertengahan September 1986 hingga April 1991 dan selama periode waktu tersebut setidaknya ada 10 korban yang semuanya adalah wanita. Bahkan ada penyintas yang bersaksi bahwa tersangka adalah pemuda berumur 20-tahunan dan tampak biasa saja.

Kontroversi selama penyelidikan timbul karena pihak kepolisian ditekan militer dan melakukan pemaksaan kepada para tersangka agar mengakui tindak kriminal. Bahkan total tersangka sampai lebih 20.000 orang. Imbasnya terjadi aksi bunuh diri seorang pemuda dengan keterbatasan mental yang dituduh sebagai pelaku.

Film yang disutradarai dan ditulis Joon-ho Bong ini kurang lebih mengambil referensi dengan kejadian nyata di atas. Detektif Park Doo-Man (Kang-ho Song) dan Detektif Sae Tae-Yoon (Sang-kyung Kim) berkolaborasi untuk menemukan pelaku, beberapa adegan investigasi yang terjadi kala itu turut ditampilkan. Paling menonjol bagaimana naskah menambahkan sisi cerita fiktif dimana pelaku dapat dianalisis dan penyidik menemukan titik terang tersangka sebenarnya walau ternyata setiap petunjuk sama sekali tidak berkaitan satu sama lain.

Tempo cerita dalam film ini cenderung lamban namun tidak berbelit-belit apalagi menjemukan malah penonton turut diajak untuk membongkar kasus dan ikut berprasangka. Film ini tidak seperti kebanyakan film thriller Korea lainnya yang bertemakan balas dendam. Memories of Murder tampil sebagai film sederhana dengan kualitas dan kepawaian bercerita luar biasa.

Akhir kisah yang melaju ke tahun 2003 dimana Park Doo-Man telah menjadi pebisnis lalu mengunjungi tempat kejadian perkara adalah interpretasi terbaik mengenai sosok tersangka kasus Hwaseong dan salah satu pengalaman sinema terbaik yang pernah saya alami. Empat menit terakhir dalam Memories of Murder merupakan adegan paling adiluhung bagi saya dan bisa dikatakan sebagai salah satu penutup film terbaik sepanjang masa.

2. Oldboy (2003)

Dari semua film bertemakan balas dendam, Oldboy adalah maha karya sempurna yang tidak hanya mengedepankan aksi laga atau sekedar bermain dengan ketegangan saja tetapi naskahnya memang benar-benar keji, kontroversial dan vulgar. Masuk dalam rangkaian The Vengence Trilogy dari Park Chan-Wook, film ini memang tidak bisa dibahas bila tidak mengungkit dua film lainnya karena ketiganya sama-sama berfokus pada hubungan orang tua dan anak serta rasa kehilangan.

Bila Symphaty for My Vengence (2002) adalah hasil coba-coba yang berujung pada tragedi dan Lady Vengence (2005) condong kepada menuntut balas dengan bengis. Maka Oldboy identik terhadap perpaduan keduanya melalui cerita manis getir para tokohnya.

Mengisahkan Dae-su Oh (Min-sik Choi) yang diculik secara misterius dan disekap selama lima belas tahun lalu dilepaskan dengan perintah untuk menemukan pelakunya dalam waktu lima hari, yang tak lain dan tak bukan adalah Woo-jin Lee (Ji-tae Yu). Min-sik bersama Mi-do (Hye-jeong Kang) berusaha menyingkap alasan penculikan tersebut dan ternyata menuntun kepada dosa yang pernah dilakukan Dae-su puluhan tahun silam kepada Woo-jin.

Begitu banyak adegan yang dikatakan tersohor, misal adegan perkelahian Dae-su tanpa henti di lorong selama tiga menit dengan senjata palunya (one take) dan menjadi salah satu adegan paling bersejarah dalam dunia sinema. Atau kekuatan visual dan cerita ketika Dae-su bertemu dengan Woo-jin diiringi suara latar persetubuhan antara dirinya dan Mi-do yang memilukan dan menjadi penutup paling nahas yang pernah ada dalam film thriller manapun. Oldboy tidaklah dapat diprediksi dan mampu mengaburkan batas moralitas manusia.

Oldboy masuk ke dalam daftar film thriller korea terbaik bagi saya karena membuat saya selama menonton terperanjat, geleng-geleng kepala dan sesak napas menanti akhir nasib setiap karakter. Saya ingat betul kali pertama menonton film ini, mulut saya menganga dan mata melotot karena tak percaya naskahnya begitu dramatis.

3. The Wailing (2016)

Bila kamu penikmat film thriller Korea pasti akan penasaran mengapa saya memasukkan The Wailing dalam daftar awal ini. Bagaimana dengan I Saw the Devil (2010) atau The Man from Nowhere (2010)? Hematnya, dua film itu masih berkutat pada balas dendam dan tak etis rasanya jika menempatkan film-film sejenis dalam daftar yang sama. Maka saya berusaha memberikan pilihan dengan ragam cerita.

Film besutan Hong-jin Na ini pantas untuk masuk dalam deretan awal karena ceritanya berakar pada kejadian transendental. Kisah bermula dari sejumlah kematian misterius yang terjadi di Gokseong, Jeollanam-do dan diduga penyebabnya adalah jamur liar beracun. Namun desas desus warga desa menuntun Jong-go (Kwak Do-won) kepada seorang pria jepang misterius tak bernama (Jun Kunimura) yang dicurigai sebagai pelaku.

The Wailing diibaratkan sebagai perpaduan antara teknik prosedural detektif dalam Memories of Murder ditambah menyajikan sosok iblis yang epik dalam The Cabin in The Woods (2012) tanpa melupakan unsur pengusiran setan ala-ala The Exorcist (1973). Memang film ini rumit, dari segi cerita belum lagi tokoh hilir mudik dengan peran tak terduga. Kita akan terus digiring untuk menebak-nebak siapa sesungguhnya sosok iblis tersebut. Semakin dalam ditelusuri maka semakin ragu juga kita atas kebenaran peristiwa yang terjadi di Gokseong.

Hubungan ayah anak antara Jong-Go dengan putrinya, Hyo-jin (Hwan-hee Kim) sebagai konflik dalam film ini juga membuat darah mendidih bagi yang menonton. Belum lagi kehadiran sosok perempuan misterius (Woo-he Chun) yang seolah-olah ingin menyelamatkan Hyo-jin namun terkesan juga sebagai sang iblis. The Wailing sama sekali tidak memberikan petunjuk terhadap yang hitam dan putih melainkan semuanya hanyalah abu-abu dan semu.

Sosok tuhan yang absen dalam diri Jong-go pun menjadi penanda bahwa tak semua harus bergantung pada iman. Namun, ketika disudutkan pada keimanan itu sendiri, mau tidak mau kita selaku penonton akan turut berkontemplasi menyoal percaya atau tidak terhadap hal yang bersifat niskala.

Bagi saya, The Wailing adalah puisi kepada sosok tuhan yang selalu digambarkan sebagai penguasa atas semesta padahal ia tak berdaya bila hambanya tak percaya atas eksistensinya. Tapi bisa jadi juga merupakan kritik kepada manusia yang selalu kufur terhadap tuhannya. Keruwetan naskah dan orisinalitas cerita ini lah yang membawa saya mendapuk The Wailing sebagai salah satu film thriller Korea terbaik.

Baca juga: Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Januari - April

Itulah tiga film thriller Korea terbaik bagi saya yang pantas untuk dinikmati, setidaknya satu kali dalam hidup. Daftarnya memang pendek, tidak seperti tulisan sejenis yang sifatnya top list dan bisa memuat hingga 10 daftar judul, saya lebih memilih untuk memberikan resensi atas opini saya setelah menonton secara detail ketimbang sekedar memberikan sinopsis dan ulasan singkat saja.

Sebaik-baiknya rekomendasi, ia adalah tulisan bersifat saran yang mesti disajikan dengan baik dan tanggung jawab agar kelak pembaca dapat memutuskan dan menimbang sendiri layak atau tidaknya ia untuk turut menikmati deretan rekomendasi tersebut.

Jurnal #11: Perjalanan Hidup Bersama Buku

Malam ini saya sedikit terusik ketika tengah membaca novel Han Kang berjudul Human Acts yang diterjemahkan oleh Deborah Smith.

“Seberapa besar membaca buku telah memengaruhi hidup dan kepribadian saya?”, pertanyaan itu terlontar begitu saja, tak ada angin, tak ada hujan.

Sembari menatap langit-langit kamar saya berusaha menyelami kembali bagaimana saya bisa tumbuh menjadi pemuda seperti saat ini. Lantas saya menilik kebelakang, buku apa yang pertama kali saya kagumi?

Jawabannya terbagi atas dua zaman. Pertama masa di kanak-kanak saat saya menikmati buku seri Lima Sekawan karangan Claude Voilier. Saya selalu terkagum-kagum dengan aneka petualangan yang harus dihadapi Julian, Dick, Anne, Georgina dan Timothy bahkan tak jarang sampai memimpikannya. Kedua saat memasuki Sekolah Menengah Atas ketika tanpa sengaja menemukan novel The Noticer: Sometimes, all a Person Needs is a Little Perspective karangan Andy Andrews di rak buku Intermedia.

Dua buku itu membekas karena mengajarkan dua hal penting mengenai hidup: Pertama, kehidupan selalu dipenuhi tantangan dan memiliki teman merupakan hal terindah di dunia dan yang kedua, apresiasi terhadap diri sendiri serta kemampuan untuk memahami bahwa setiap orang itu terlahir berbeda.

Sedari dulu saya memang anak yang selalu memperkarakan banyak hal bahkan terkecil sekalipun. Semakin saya tumbuh dewasa semakin saya paham bahwa ada ketertarikan saya terhadap isu-isu yang topiknya soal kemanusiaan. Tak banyak yang tahu memang bahwa saya gemar sekali membaca semenjak remaja.

Perkenalan saya terhadap bacaan itu pertama kali terjadi saat SMA, ketika menemukan buku Dunia Sophie di tempat peminjaman novel dan komik dekat rumah. Tebal bukunya bikin saya minta ampun dan saya malah tetap membaca diam-diam karena takut menimbulkan stigma negatif jika ketahuan orang tua. Karena segala sesuatu yang dilabeli ‘filsafat’ mengandung arti kata ‘ateis’ atau tak bertuhan bagi mereka. Saya ingat sensasinya – saya merasa saya adalah Sophie yang tengah dikirimi surat oleh Hilde melalui buku tebal tersebut. Tak perlu ada yang tahu dan ini rahasia saya sendiri.

Entah bagaimana semenjak saya mengonsumsi ragam buku, saya mulai suka sesuatu yang berbau klasik. Telatnya saya atas hal ini mau tau mau juga disebabkan referensi orang tua yang tidak mengenal dengan baik karya seni dan entah bagaimana saya tumbuh menjadi sangat sensitif soal karya seni. Saya mulai menikmati dan berusaha memahami bahwa seni itu ibarat mata uang yang selalu mempunya sisi lain.

Koleksi-koleksi bacaan saya yang terus bertambah lambat laun menjadi beban karena nihilnya teman berdiskusi sebab saya menutup diri sebagai seorang pembaca. Pasalnya, saya menganggap bacaan saya ‘aneh’ dan tidak cocok dengan lingkungan sekitar saya. Saya tumbuh sebagai orang yang terbuka atas beragam gagasan sementara lingkungan saya sangat udik, disinilah bibit perseteruan antara saya dan tuhan mulai tumbuh.

Menyadari hal itu, dulu saya membelah diri menjadi dua kepribadian. Pertama, yang teman-teman ketahui saya sebagai sosok periang, suka bercanda dan patuh pada sistem. Kedua, penyendiri yang di dalam kamar bisa habis-habisan diam termenung untuk membaca, menonton atau sibuk berimajinasi.

Saya terus berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan dengan ekspektasi yang diharapkan. Sementara, saya juga tenggelam dalam buku, larut dalam kata-kata yang selalu saya harap ada nama saya disana. Namun nama itu tak pernah tergores di kisah manapun.

Sampai kapan terus begitu?

Persinggungan saya dengan Perpustakaan Batu Api saat kuliah mengubah jalur hidup saya. Sepasang suami istri yang merupakan pemilik perpustakaan tersebut bisa dibilang satu dari beberapa hal baik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Kami kadang suka bertegur sapa, entah itu di perpustakaan atau pusat perbelanjaan Griya untuk membahas ala kadarnya mengenai novel-novel Stephen King, karya Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, Mochtar Lubis, Djenar, dsb atau menikmati guyonan novel kontroversial, misalnya Lolita. Jangan singgung nama Goenawan Mohamad karena tak sedikitpun saya tertarik membaca buku-bukunya.

Seringkali saya ditawari diskusi atau sekedar mengopi di teras perpustakaan yang selalu saya ikuti dengan alasan ‘ada keperluan di kampus’. Tapi tak jarang pula saya ikut terlibat selama acara dilakukan di dalam kampus bukan di perpustakaan. Mengapa demikian? Entah mengapa saya agaknya merasa terintimidasi dengan kemungkinan-kemungkinan peserta di perpustakaan memiliki wawasan lebih ketimbang saya. Walaupun jelas pemikiran itu salah. Tapi tak ada manusia yang sempurna di dunia ini memang.

Lalu bagaimana Batu Api bisa mengubah saya? Jawabannya sesederhana saya menemukan orang untuk bertukar pikiran dan mendapatkan referensi yang baik. Kebetulan lingkungan kuliah saya condong kepada penikmat film yang tentunya saya cintai dari lubuk hati paling dalam. Namun Batu Api memberikan secercah harapan yang selalu saya sembunyikan diam-diam. Dari situ saya mulai pelan-pelan membicarakan buku dengan orang-orang di sekitar. Kadang ada yang menyerengit bingung tapi tak banyak pula yang memberikan aneka referensi bahkan meminjami buku mereka.

Kepribadian saya akhirnya pelan-pelan berubah dan mulai terbuka. Manusia-manusia di sekitar saya menyadari bahwa memang pola berpikir saya berbeda melalui referensi buku bacaan saya. Walau tak jarang juga bila di suatu sore di depan Gedung 2 Kampus ada yang suka memperkarakan hal-hal aneh, entah itu menyoal ketuhanan atau keimanan. Tak usah jauh-jauh, kala mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya pun berseteru dengan rekan saat menyampaikan pendapat saya mengenai kegiatan ibadah.

Pada akhirnya, buku tidak hanya mempertemukan saya dengan dunia tapi juga memperkenalkan saya dengan sederet manusia. Lewat buku saya bertemu dengan ragam orang dan lewat buku pula saya bisa memahami karakter mereka. Karena buku bacaan yang kita segani merupakan cerminan dari watak pribadi kita sendiri.

Jurnal #10: Pengalaman Menggunakan Kindle Paperwhite

Tanpa terasa sudah lebih dari satu tahun saya membaca buku dengan perangkat Kindle Paperwhite buatan Amazon. Berkat perangkat elektronik dengan resolusi 300-ppi itu saya bisa membaca dengan nyaman selayaknya membaca buku versi cetak. Daya tahan penggunaannya pun terbilang lama, bisa mencapai tiga minggu (klaim: dua bulan/30 menit sehari) bila hanya digunakan selama 1 sampai 3 jam sehari.

Sayangnya, masih banyak pembaca buku di Indonesia yang awam dengan Kindle atau bahkan masih ragu dan sering melontarkan pertanyaan, “Apa sih enaknya baca ebook?” Kalau ditanya seperti itu saya hanya menjawab, “ya enak lah, gak berat”. Terlebih buat saya yang mobilitasnya (dulu) tinggi serta malas membaca buku di malam hari karena harus menyalakan lampu. Dengan Kindle segalanya serba mudah.

Saya mampu menyimpan hingga ratusan atau ribuan buku dalam perangkat yang memiliki muatan memori 4GB itu. Mengapa bisa begitu? Sederhana sebenarnya. Sebab buku-buku digital versi ‘.mobi’ khusus Kindle berukuran 500kb sampai 10mb. Tidak ada yang sampai gigabyte jadi ruang penyimpanan sangat besar.

Gak Sayang Beli Buku Digital?

Harus saya akui awalnya saya bertanya demikian juga. Apalagi membeli buku di Amazon tidak jauh berbeda harganya dengan versi cetak. Tentu sebagai bookholder, saya ingin merasakan memegang kertas, melihat sampul judul dan memajangnya di meja dan lemari di kamar. Namun zaman sudah berubah, bergerak kearah yang lebih maju dimana semua penyimpanan kini berbasis cloud.

Selain itu, jujur saja saya juga jarang membeli buku-buku di Amazon, kecuali terbitan terbaru. Kenapa? Karena saya juga sudah memiliki data penyimpanan buku-buku sebesar 3GB, berkat membeli Kindle di Tokopedia. Sungguh murah hati sang penjual, semoga dilimpahkan rahmat dan dimudahkan hidupnya. Beragam judul buku dari penulis era klasik sampai modern bahkan filsuf Plato pun tersedia. Bila kamu berminat bisa mengunjungi tokonya disini.

Nah, gak cuman itu juga tersedia satu situs yang menyediakan beragam buku fiksi, non fiksi, jurnal penelitian, resep, dan sebagainya. Data penyimpanannya mungkin berjumlah jutaan dan tersedia banyak file ekstensinya. Jadi kamu bisa unduh khusus untuk membaca di iBooks ( .epub ), atau ponsel dengan pdf/e-reader. Kamu bisa mengaksesnya di Library Genesis (silahkan klik gambar diatas).

 “Jadi kamu ngebajak buku? Gak mendukung nasib industri buku? Gak mendukung penulis-penulis independen itu?”, said SJW.

Bagi kalian yang menuntut ini, yah gimana yah… namanya juga dikasih kesempatan jadi bisa berbuat kejahatan. Walau saya sebenarnya juga enggan untuk melakukan hal demikian tetapi karena terhimpit dana finansial dan terutama ingin menikmati bacaan buku lama, akhirnya saya yah mengunduh buku-buku dengan ilegal.

Tapi bukan berarti kelak saya gak mengoleksi buku-buku tersebut. Dengan adanya acara Big Bad Wolf dan Indonesia International Book Fair, saya jadi bisa membeli buku-buku yang telah saya baca dengan harga lebih murah. Buku karangan Charles Dickens pun saya miliki, baik fisik maupun digital di Kindle. Seperti yang telah diungkit sebelumnya, saya juga membeli buku di Amazon apabila ada buku terbitan baru yang tidak akan pernah mungkin bisa saya dapatkan secara ilegal.

Rasanya Membaca di Kindle

Koleksi Buku di Kindle

Saya sangat suka sekali membaca dengan Kindle, terlebih lagi buku-buku berbahasa inggris karena dengan mudah menemukan arti dari satu kata atau menerjemahkan satu kalimat sekaligus dengan fitur google translate yang terpasang di perangkat. Belum lagi bisa berbagi buku yang lagi saya baca di media sosial dan Goodreads langsung melalui Kindle.

Bayangkan betapa sulitnya membaca dalam bentuk fisik bila menemukan satu kata yang sulit. Kita harus mencari artinya di kamus terlebih dahulu. Jadinya malah kerja dua kali sementara Kindle tinggal klik langsung keluar deh artinya. Bahkan gak perlu menggunakan akses Wifi karena kamus disediakan dalam versi offline.

Masalah saya dengan pembendaharaan kata yang kurang bila baca buku literatur yang memakai bahasa segambreng apaan tau itu lah bisa dengan mudah mengerti untuk menyusun makna setiap paragraf yang ditulis penulis. Selain itu, terbantu juga dalam melatih percakapan dan memahami bahasa inggris lebih baik.

Nah, untuk Kindle yang saya miliki sendiri, yaitu Paperwhite memang dirancang untuk membaca saja tidak seperti Kindle Fire yang lebih berfungsi seperti Tablet atau iPad. Yah kalau dipikir-pikir pada akhirnya Kindle versi tablet sama seperti membaca buku di iBooks melalui iPad. Gak ada istimewanya deh.

Maka walau memakan harga yang cukup mahal (saya beli sekitar dua juta), saya merasa sangat worth it dengan kebutuhan membaca saya. Akhirnya saya bisa membaca, dan cukup membeli novel dan buku Indonesia juga menghindari beli buku terjemahan dan impor yang seharga ratusan ribu rupiah.

Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Januari – April

Rekomendasi Drama Korea 2018 terbaik sebenarnya wujud dari perekaman data tontonan yang telah saya tonton sepanjang tahun ini dan diharapkan akan terus saya lakukan kedepan karena semenjak pertengahan tahun lalu, saya mulai menikmati drama Korea (drakor) dengan ragam genre yang telah saya ulas beberapa di situs ini. Lambat laun saya mulai sadar pola penceritaan yang terus berulang, misalnya karakter pria dingin dan wanita riang. Nyaris semua drakor memakai teknik ini, karena itu saya lebih selektif dalam memilih tontonan, terlepas dari rating dan pemain. Toh, saya juga gak terlalu akrab dengan aktor-aktris Korea juga sungkan untuk melihat angka rating.

Saat ini saya baru menemukan setidaknya ada 5 drama korea terbaik 2018 di mulai dari Januari – April. Pemilihan daftar tontonan ini didasarkan beberapa alasan. Pertama, karakter wanita menonjol dan berperan penting dalam cerita. Lalu, pembagian peran antara aktor wanita dan pria tidak timpang. Terakhir, bukan merupakan lanjutan dari musim pertama atau antologi serial. Berikut ini daftar drama korea 2018 terbaik menurut versi saya.

5. Drama Korea Mother

Remake dari drama Jepang berjudul sama, Mother (2018) berkisah Hye-Na (Heo Yool), anak SD yang mengalami kekerasan oleh ibunya, Ja Young (Ko Sung-Hee) serta selalu dirisak teman sekelasnya. Soo-Jin (Lee Bo-Young), guru baru di sekolahnya menyadari kejanggalan perilaku Hye-Na. Dia memutuskan untuk menculik Hye-Na dengan mengakali kematian bocah tersebut dan membuat ibu serta kekasihnya, Seol Ak (Son Seok-Koo) menjadi calon tersangka.

Saya belum atau mungkin tidak akan pernah menonton drama aslinya yang dari Jepang itu. Namun, alur cerita selama dua episode terajut rapih walau cerita terkesan agak lambat. Permainan emosi sangat menonjol disini. Keakraban Hye-Na dan Soo-Jin merupakan entitas dari tokoh anak yang luka karena orang tuanya.

Kepiawaian pemain dalam memerankan karakternya juga mengena. Misalnya, Son Seok-Koo, aktor pendatang baru yang menjadi tokoh antagonis ini memiliki karisma sendiri. Bagi yang awam mungkin tidak mengenal sosoknya namun sepak terjang karirnya pertama kali terekspos kala beradu peran bersama Donna-Bae di serial Sense 8.  Selain itu, Lee Bo-Young juga mengingatkan kita kembali pada perannya sebagai seorang ibu yang kehilangan anak di God’s Gift 14 Days. Dengan total 16 episode yang telah rampung, drakor Mother siap membuat mata penontonnya sembab.

4. Drama Korea Welcome to Waikiki

Siapa sangka ternyata drama berkisah hidup tiga pemuda, Kang Dong-Goo (Kim Jung-Hyn), Cheon Joon-Ki (Lee Yi-Kyung) dan Bong Doo-Sik (Son Seung-Won) di rumah singgah mereka ini akan sangat menghibur dan mengundang gelak tawa. Permasalahan dimulai ketika menemukan bayi misterius tergeletak begitu saja di kamar mereka. Akibat teler, mereka tidak memiliki ingatan apapun mengenai bayi perempuan itu.

Welcome to Waikiki (2018) bisa dibilang sangat sederhana dalam menyampaikan kisah komedi romantisnya. Disini aktor utama dan pendukunglah yang menghidupkan serial melalui guyonan yang terkadang receh dan tidak masuk logika namun mujarab menyampaikan lawakannya. Melalui tokoh Kang Seo-Jin (Go Won-Hee), adik Dong-Goo yang memiliki pertumbuhan kumis sangat cepat akan tampak karakter perempuan juga dominan dan tidak bisa diremehkan. Begitu pula tokoh Han Yoon-A (Jung In-Su) sebagai orang tua tunggal yang harus menghidupi anak semata wayangnya.

Walaupun masih berkutat pada kisah percintaan yang nampak akan bermuara ke arah mana. Drama korea ini masih bisa dinikmati oleh kamu yang ingin menyantap tayangan tanpa perlu menguras daya pikir sebab hanya perlu tertawa terbahak-bahak saja. Saat ini Welcome to Waikiki sudah berjalan hingga 14 episode dan akan berakhir di bulan April dengan total 20 episode.

Baca Juga: Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Mei – Juni
3. Drama Korea A Poem A Day

Entah bagaimana saya selalu kedapatan menyukai drama besutan stasiun televisi tvN. Mungkin karena ceritanya yang terasa realistis dan tidak berlebihan. Maka daftar selanjutnya adalah A Poem a Day (2018) yang mengisahkan kehidupan para fisioterapis, perawat dan pakar radiologi. Setelah berbondong-bondong drakor menyajikan kehidupan para dokter bedah, dari rumah sakit nasional hingga kecil di pelosok akhirnya kita bertemu dengan para dokter di bidang yang kerap diremehkan rekan sejawatnya.

Mengisahkan Woo Bo-Young (Lee Yoo-Bi), pecinta puisi ini terpaksa menjadi fisioterapis karena terhimpit masalah finansial. Dia berusaha keras menjadi dokter tetap di rumah sakit tempatnya bekerja walau kemampuannya sama sekali tak pernah diakui. Hingga kedatangan Ye Jae-Wook (Lee Joon-Hyuk), dokter fisioterapis baru yang mengubah keadaan itu karena tertarik dengan puisi-puisi dan karakter Bo-Young. Masalahnya kemunculan Shin Min-Hoo (Jang Dong-Yoon), peserta pelatihan di rumah sakit ia bekerja akan menjadi pengganggu karir Bo-Young.

Jauh dari adegan operasi, drakor a poem a day lebih fokus pada intrik dan stigma yang dihadapi dokter tanpa gelar speasialis. Jujur, drama ini sungguh ketebak bagaimana akhir kisahnya nanti tapi karena wujud fisioterapis yang jarang diangkat bisa menjadi potensi sendiri bagi perkembangan cerita nantinya. Bagi saya pribadi, peran Jae-Wook yang sangat berbeda di drama ini dari Stranger (2017) adalah alasan saya menonton dan juga sedikit terhibur dengan kumpulan puisi di dalamnya. Walau agak terganggu dengan karakter wanita yang pematih.

2. Drama Korea Live

Mengisahkan dilema perjalanan hidup anggota kepolisian, Live (2018) mengajak penontonnya untuk menyalami kehidupan dari sebelum hingga sesudah seseorang dinyatakan anggota polisi. Menariknya, naskah ditulis benar-benar seimbang dengan kata lain tidak berusaha membenarkan dan menggurui penonton soal benar atau salah atas tindakan para polisi. Penonton dituntun untuk memahami bagaimana proses pengambilan keputusan secara singkat yang harus dilalui mereka.

Kisah berawal dari Han Jung-O (Jung Yu-Mi) dan Yeom Sang-Soo (Lee Kwang-Soo) yang memulai karir mereka di kantor kepolisian Hongil bersama mentor mereka, Oh Yong-Chan (Bae Sung-Woo). Mereka bertiga masing-masing memiliki beban hidup, Jung-O dengan ibunya yang memiliki masalah kesehatan mental, Sang-Soo yang ditinggal kakak lelakinya dan kini hidup dengan ibunya serta Yong-Chan yang harus bercerai dengan istrinya, An Jang-Mi (Bae Jong-Ok).

Drama satu ini berjalan sangat lambat karena pendekatan karakter dilakukan benar-benar detail dan personal. Misalnya, mengenalkan karakter Jung-O dan Sang-Soo dari awal mereka tidak mendapatkan pekerjaan dan memilih menjadi polisi lalu menjalani kehidupan sebagai anggota pelatihan saja sudah memakan dua episode. Beragamnya karakter juga menjadi nilai lebih karena setiap tokoh punya kekhasan sendiri yang bila disebutkan satu-satu akan sangat panjang. Dari yang penuh karisma hingga tukang korup. Kasus-kasus yang disajikan juga dekat dengan isu sosial, misal kekerasan antar pelajar, pelacuran dan perdagangan manusia.

1. Drama Korea My Mister

Best Korean drama I’ve watched so far this year. Kalimat itu keluar ketika saya menyelesaikan episode pertamanya yang berdurasi 90 menit. My Mister atau My Ajusshi mengisahkan perjuangan hidup dua orang yang diterpa tragedi. Lee Ji-An (IU) terjebak oleh masa lalunya dan Park Dong-Hoon (Lee Sun-Kyun) terancam karir dan pernikahannya. Lantas dengan konflik sederhana itu mengapa drama ini bisa dikatakan bagus?

Pertama, tidak seperti drama sejenis yang memiliki ragam konflik disetiap episodenya, drakor yang baru mengudara akhir bulan lalu ini benar-benar fokus pada satu masalah serta penyelesaiannya. Lalu, dua saudara laki-laki Dong-Hoon, yaitu Park Sang-Hoon (Park Ho-San) dan Park Gi-Hoon (Song Sae-Byeok) bukan sekedar pemanis cerita tetapi mereka turut menjadi karakter utama dalam cerita yang berdiri sendiri. Serta, kehidupan dan pengembangan karakter Ji-An yang tidak tertebak menjadi daya tarik bagi saya. Terakhir, adegan kekerasan dihadirkan secara eksplisit dan bahkan sangat vulgar melihat Ji-An yang dipukul dan ditendang. Beberapa alasan ini yang menjadikan saya sangat menunggu-nunggu episode terbarunya setiap minggu.

Realitis dan terbuka dalam menyajikan cerita adalah keunggulan drakor My Mister. Walaupun malah menjadi kontroversi bagi penonton akibat adegan kekerasan dan juga diduga akan ada bumbu percintaan antara Ji-An dan Dong-Hoon yang usianya terpaut jauh. Namun menurut saya malah dua masalah ini yang menjadikan drama korea ini terbaik karena berani menyajikan secara nyata isu-isu sosial yang terjadi di sekitar kita.

Jangan lupa juga, lagu penggiring yang benar-benar pas untuk menuntun kita menikmati pendalaman karakter yang dilakukan IU dan Sun-Kyun. Lagi pula sepanjang empat episode, belum terlihat apakah benar akan ada hubungan romantis antara Ji-An dan Dong-Hoon melainkan hanya tarik-ulur dua orang yang sama-sama terluka? Drama My Mister bisa dibilang sangat irit dialog karena condong bermain pada visual ekpresi para pemainnya.

Itulah beberapa rekomendari drama korea 2018 terbaik menurut versi saya yang layak menjadi teman tontonan setiap minggunya.

Jurnal #9: Borong Buku di Big Bad Wolf 2018

Untuk kali pertama, akhirnya saya berkunjung ke Big Bad Wolf 2018 (BBW) berkat beberapa ulasan netizen yang cukup baik di lini masa. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang diwarnai keluhan akibat antri untuk membayar yang lama hingga panitia tidak koperatif dengan pembeli. Demi mendapatkan koleksi buku yang saya cari maka bersama dua teman bertandanglah kami ke ICE BSD, Tangerang, sekitar pukul tujuh pagi.

Beberapa pengunjung terlihat hilir mudik di dekat pintu masuk, ada pula yang sudah membawa belanjaan. BBW 2018 memang kembali dibuka selama 24 jam hingga tanggal 9 April 2018. Tak ayal banyak yang memilih untuk berbelanja kala subuh ketimbang siang atau sore hari yang mungkin akan melonjak jumlah pengunjungnya. Kami pun cukup was-was takut ternyata pengunjung sudah membludak mengingat waktu berkunjung (30/03/18) jatuh pada libur panjang. Nyatanya, pengunjung masih sepi dan cukup lenggang untuk mencari buku.

Porsi buku tahun ini masih lebih besar dikategori anak, ketimbang fiksi atau buku lainnya. Dan buat kamu yang mencari buku-buku keluaran tahun 2017-2018 mending segera urungkan niat karena kebanyakan novel fiksi edaran lama, paling banter terbitan 2015-2016. Saya pun dari jauh hari memang sudah menargetkan hanya ingin membeli buku yang pantas dikoleksi, mengingat saya memiliki Kindle dan lebih gemar membaca di perangkat buatan Amazon tersebut.

Tentunya bagi para nerd dan geeks sudah cukup tahu apa saja yang mesti disiapkan, seperti daftar buku yang ingin dibeli, membawa makanan dan minuman, hingga menyiapkan uang tunai atau debit serta mengatur total dana yang akan dikeluarkan. Saya pun telah menyusun sampai 20 judul buku (dan nama pengarangnya) juga memperkirakan dana yang akan saya habiskan. Lantas apakah memang se-worthit itu datang ke Big Bad Wolf 2018?

Harga Kompetitif

Digaung-gaungkan dengan diskon 60%-80%, siapa yang tidak tergiur untuk membeli buku-buku impor yang tersedia di BBW 2018? Melihat unggahan di Instagram pun membuat saya tergiur melihat novel-novel sastra seharga 60 ribu yang padahal harga aslinya bisa jadi 200 sampai 300 ribu. Selain itu, porsi terbitan novel fiksi lebih banyak independen ketimbang terbitan popular dari New Directions, atau sejenisnya. Pasti menjadi surga dunia buat saya yang kesulitan menemukan buku fiksi keluaran terbitan indie. Paling-paling cuman bisa membeli di amazon dalam bentuk digital di Kindle.

Tatto Atlas – Buku yang saya beli di BBW 2018

Novel fiksi khusus dewasa-muda (young adult) pun cukup beragam, tidak cuman sekedar drama romantis saja. Saya menemukan None of The Above nya I. W. Gregorio, berkisah tentang Kristin Lattimer, remaja perempuan yang ternyata intersex. Buku-buku semacam ini tidak akan mudah dicari di toko buku, seperti Gramedia atau Periplus. Mengapa? Karena terlalu niche peminatnya. Sebetulnya saya juga mencari The Apocalypse of Elena Mendoza, History is All You Left Me, dan All Out: The No-Longer-Secret Stories of Queer Teens Throughout the Ages. Sayang tidak saya temukan. Bahkan I’ll Give You the Sun yang sebelumnya saya lihat ada di Instagram mendadak raib ketika saya cari.

Khusus kategori literatur, saya bisa menemukan The Japanese Lover, The Good Earth, The Good Children, dan The Arc of Swallow. Padahal fokus saya mencari buku-buku Han Kang, misalnya Human Acts dan The Vegetarian. Bahkan Lolita pun tidak saya temukan. Lagi-lagi antara stok yang memang telah habis atau memang saya keburu keliyengan mencarinya. Saya pun berhasil membeli 11 buku dengan kisaran harga 60-85 ribu rupiah saja!

Beragam Jenis Buku
Novel Grafis di Big Bad Wold 2018

Ada buku apa aja sih di Big Bad Wolf 2018? Apa aja ada! Dari mulai non fiksi, biografi, sejarah, sampai cooking, furniture, dan komik grafis Marvel. Cuman kurang manga aja. Buat kamu para pecinta buku tutorial menggambar atau do-it-yourself (DIY) juga bisa menemukannya disini. Harga yang ditawarkan kisaran ratusan ribu rupiah karena berwarna dengan kertas glossy yang bagus. Saya tak terlalu mengulik judul buku disini. Pokoknya buku yang dijual di Big Bad Wolf banyak banget.

Metode Pembayaran

Tidak seperti dua tahun sebelumnya yang hanya bisa menggunakan kartu Mandiri dan menimbulkan keluhan bagi para pengunjung. Tahun ini, Big Bad Wolf 2018 bisa menggunakan semua kartu debit dari bank manapun yang pasti memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Saya sebagai orang yang cashless pun merasa beruntung bisa membayar dengan kartu debit BCA. Soalnya agak keki dan serem juga bawa setumpuk uang. Selain itu, kamu juga bisa mendaftarkan diri menjadi anggota BBW 2018. Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, keuntungan member Big Bad Wold adalah tambahan diskon untuk beberapa judul buku tertentu.

Lama gak antrinya? Gak sama sekali. Walaupun jalur antriannya seakan panjang tetapi karena pengunjung baru mulai muncul sekitar pukul 10, kami berjalan saja dengan santai menuju meja kasir. Bahkan karena ada pembayar yang tidak sadar kalau ada meja kasir di depan yang kosong hingga menimbulkan antrian panjang, saya dengan centil berjalan maju ke depan dan langsung membayar yang diikuti teman saya beserta beberapa pengunjung lainnya. Efek kurang tidur dan belanja di pagi hari tampaknya.

Kesimpulannya, saya merasa sangat puas datang ke Big Bad Wolf 2018. Terlebih lagi benar-benar hanya menguras dana untuk buku, tidak membeli makanan bahkan minuman atau merchandise sama sekali. Selanjutnya, kami memilih untuk mencari makan di AEON bermodalkan Shuttle dari ICE BSD yang gratis.

Jurnal #8: Melantur Bersama Cantik itu Luka

Beberapa pekan lalu saya baru saja menyelesaikan Laut Bercerita dan Aroma Karsa. Kedua buku itu bisa dibilang memberikan angin segar bagi buku fiksi karangan penulis Indonesia. Sayangnya, tidak ada yang membuat saya puas, sepuas-puasnya, seperti lepas membaca Cantik itu Luka. Ada hal yang janggal dan mau diulang bagaimanapun cerita-cerita itu sepi, tak istimewa atau begitu-gitu saja.

Keranjingan saya membaca novel Indonesia pun turut memudar dan mulai berpikir-pikir: apa musababnya? Menilik kebelakang saya pun mulai memahami ada rasa haus yang menggerogoti pikiran saya mengenai kurangnya keberagaman karakter dalam pelbagai novel fiksi karangan penulis Indonesia. Sebenarnya tulisan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Cantik itu Luka, namun buku ini ada di depan mata saya, saya pajang karena selalu terpesona pada setiap rima kata di dalamnya.

Lantas keberagaman apa yang saya maksud tidak ada?

Sesederhana dari penokohan, buku-buku yang kebanyakan saya baca seringkali bermuara dengan karakter orang Jawa, sungguh minim menemukan tokoh yang berasal dari Nusa Tenggara atau bahkan Papua sebagai tokoh utama. Apa yang saya tuturkan ini juga sebenarnya bisa jadi salah dan dipertanyakan kebenarannya. Bisa jadi memang saya saja yang cenderung membeli buku dengan referensi demikian. Tapi namanya juga ‘melantur’, biarkan lah saya bertutur sesuka hati.

Lanjut lagi. Salah satu poin kekurangan terbesar adalah keberagaman masalah identitas diri. Ketika novel-novel fiksi di luar sudah mulai bergerak dengan memperkaya karakter, misalnya queer, gay, lesbian, dan trans. Kita masih cenderung konstan menceritakan percintaan pasangan heteroseksual. Bila ada pun paling banter cerita-cerita di website atau terbitan terbatas dan bukan buku populer. Satu yang bisa saya temukan, yaitu Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Itu pun akhirnya menjadi selentingan di akhir seri Supernova.

Ada lagi, yaitu isu gangguan kejiwaan. Banyak beragam novel mancanegara, misalnya 13 Reasons Why dan My Heart and Other Black Holes yang menjadi populer karena membahas isu bunuh diri terhadap remaja. Hal-hal ini penting sebagai representasi kepada masyarakat bahwa: kalian tidak sendirian. Ada yang mewakili diri kalian. Repsentasi pada akhirnya menjadi penting untuk menyatakan itu adalah hal umum dan bisa diatasi, pengalaman kalian nyata dan bukan sekedar fiksi.

Berbagai karangan novel mancanegara berlomba-lomba untuk membuat novel dengan ragam karakter dan isu-isu sosial yang dekat bagi dewasa muda. Sementara kita masih berkutat, entah itu novel cinta-cinta-an remaja ‘teenlit’ atau juga membahas kembali sejarah yang tak bosan-bosannya. Sejarah memang tak dapat dilupakan dan perlu selalu digaungkan. Tetapi bukan menjadi keharusan selalu berpacu pada pakem cerita yang berdasarkan fakta. Kadang membubuhkan fiksi ilmiah atau misteri yang menyimpang tak ada masalah selama tetap memiliki nilai pakem pada historisnya.

Saya bermimpi untuk menemukan satu buku karangan penulis Indonesia yang dipenuhi dengan keberagaman tokoh, dari sabang sampai marauke, dari heteroseksual hingga aseksual, dari yang beragama hingga tidak beragama. Dan semua tersajikan tanpa diskriminasi melainkan mempertanyakan gagasan-gagasan isu humanis. Kapan?

Drama Korea Voice (2017) – Review

Tampaknya OCN terus berusaha membayang-bayangi tvN sebagai stasiun televisi yang memproduksi drama crimethriller terbaik saat ini. Drama korea Voice hadir sebagai pelengkap kesuksesan produksi drama lain dari OCN tahun lalu, yaitu Tunnel (2017) dan Save Me (2017) yang meraih rating bagus.

Dengan tempo cerita cepat berbalut aksi berdarah, Voice sempat menerima peringatan dari lembaga sensor di Korea yang berakibat sensor disana sini. Kim Hong-Sun selaku sutradara mengkukuhkan drama ini sebagai salah satu drama terbaik tahun lalu dan menghasilkan musim kedua yang kabarnya siap tayang pertengahan tahun depan.

Mengisahkan Kang Kwon-Joo (Lee Ha-Na), ahli analisa suara (voice profiler) yang berambisi menangkap pembunuh berantai yang membunuh ayahnya dan istri detektif Moo Jin-Hyuk (Jang Hyuk). Kwon-joo dan Jin-Hyuk lantas bergabung dalam tim Golden Hours (Waktu Genting) di pusat pelayanan telepon darurat 112 untuk mengungkap pembunuhan berantai yang melibatkan Mo Tae-Goo (Kim Jae-Wook). Selain itu, mereka juga harus mampu memecahkan ragam kasus dalam tenggat waktu yang cepat.

Voice: Waktu adalah Musuh

Drama korea Voice mengklaim bahwa kasus yang tersajikan diangkat dari kasus nyata dan dekat dengan kehidupan masyarakat: perdagangan manusia, penculikan, korupsi hingga penjualan organ ilegal. Mengambil pola serupa dari drama Signal (2016) yang mereferensi kasus-kasus besar dan belum terselesaikan yang akhirnya bermuara untuk memecahkan satu kasus besar.

Moo Jin-Hyuk (Jang Hyuk)

Perbedaannya, Signal menekankan pada alur cerita yang pelik belum lagi bumbu fiksi ilmiah berupa melintas waktu. Sementara Voice berfokus terhadap kasus yang hanya selesai dalam hitungan jam bahkan menit. Penonton akan dibuat berdebar jantungnya dan penasaran bagaimana kedua detektif dapat menyelamatkan korbannya sambil berpacu dengan waktu.

Dari semua kasus, saya sangat terkagum-kagum ketika Jin-Hyuk dan Sim Dae-Sik (Baek Sung-Hyun) berusaha memecahkan misteri di Pusat Perlindungan Nakwon yang melibatkan tunawisma ingin membunuh dokter disana dan meminta diselamatkan. Bagi saya itu salah satu misteri yang mencenangkan karena melibatkan konspirasi rumah sakit, perdagangan manusia, dan penjualan organ.

Salah satu keunikan drama korea Voice juga dari orisinalitas karakter pembunuh berantai dengan senjata berupa bola besi. Kebanyakan drama korea sejenis kerap mengambil referensi pembunuh berantai dari kasus nyata, misal Kasus Hwaseong (paling banyak jadi referensi). Di drama ini, karakter psikopatnya adalah seorang anak kaya raya dan kebal terhadap hukum. Sayangnya, keunikan ini tidak dibarengi dengan pendalaman karakter yang mendalam. Si pembunuh hanya diposisikan sebagai anak yang salah didikan dan kebetulan saja kaya raya sehingga tidak takut melakukan tindak kriminal.

Tae-Goo bisa dikatakan pembunuh paling vulgar yang pernah saya temukan dalam drama korea karena ia tak segan-segan mengkeringkan darah dalam tubuh korbannya untuk digunakan ia mandi. Sayangnya irasional sang pembunuh terkesan kekanak-kanakan dan impulsif dalam mengambil tindakan. Bahkan sulit untuk mendefinisikan karakter Tae-Goo, entah ia sebagai sosiopat atau psikopat.

Mo Tae-Goo (Kim Jae-Wook)

Terbukti ketika Kwon-Joo dan Jin-Hyuk menyadari Tae-Goo adalah pembunuh yang mereka cari selama ini. Mereka berusaha mencari bukti keterlibatan Tae-Goo agar bisa dituntut secara hukum. Tetapi alur sedikit dangkal dan terburu-buru untuk diceritakan walaupun telah ada dua episode tambahan (pengaruh rating). Maksudnya, sekelas psikopat yang kaya raya, Tae-Goo memiliki potensi untuk memanipulasi kedua detektif tersebut. Menyembunyikan kejadian perkara dan bertindak lebih rasional untuk bisa menghancurkan lawannya. Rasa-rasanya terlalu mudah bagi Tae-Goo untuk ditangkap, malah terkesan dikerdilkan.

Untungnya, hal ini dapat ditutupi melalui kepawaian Jae-Wook dalam memerankan sosok sosiopat berdarah dingin. Ia menjadi bintang dalam drama korea ini dan mau tidak mau kita sedikit berempati atas dirinya yang butuh pengakuan. Beberapa latar tempat pun cukup berkesan, misalnya tempat jagal Tae-Goo yang mengerikan. Ruang berbentuk persegi itu sangat otentik dan kelam.

Voice bisa menjadi referensi bagi kamu yang ingin menikmati drama korea tanpa perlu jengah dengan adegan-adegan romantis yang bikin kepala cenat-cenut. No romance at all.

Sila menonton dan jangan lupa baca review drama korea lainnya di situs ini!

Drama Korea Prison Playbook (2017) – Review

Disutradarai Shin Won-Ha, tangan dingin pembuat seri Reply, drama korea terbarunya yang berjudul Prison Playbook (judul lain: Wise Prison Life) ini tampak memanusiakan para tahanan yang telah melakukan tindak kriminal, dimulai dari pencurian, penggunaan narkoba, hingga pembunuhan. Beragamnya karakter tidak menyurutkan drama berjumlah 16 episode ini untuk menyuguhkan kisah masa lalu setiap pemain dengan hangat. Tidak hanya menguras air mata, drama produksi saluran televisi tvN ini juga mengundang gelak tawa kala menyaksikan kelakuan konyol para tahanan.

Mengisahkan Kim Je-Hyeok (Park Hae-Soo), pelambung bola (pitcher) terbaik Korea yang mendekam di penjara akibat didakwa melakukan kekerasan berlebihan yang menjurus pembunuhan kepada pelaku penyerang seksual adik perempuannya. Je-Hyeok bersama sahabatnya Lee Joon-Ho (Jung Kyoung-Ho), sipir di Penjara Seobu berusaha bertahan hidup dan berbagi kisah dengan tahanan lain di dalam satu sel sempit.

Namun, karena popularitas Je-Hyeok, beberapa tahanan merasa dirinya diistimewakan walaupun mendapatkan sel dan perilaku yang sama. Suatu ketika, ia ditikam Ddolmani (Ahn Chang-Hwan) yang berimbas pada kerusakan saraf lengan kirinya yang selalu digunakan untuk melempar bola. Dibantu para tahanan dan sipir di penjara, ia hendak menumbuhkan semangat dan motivasinya kembali sebagai pemain baseball.

Kisah Para Tahanan di Penjara

Prison Playbook tidak hanya berfokus kepada perjalanan karir dan percintaan Je-Hyeok belaka tapi juga setiap tahanan mendapatkan porsi penceritaan dan mau tak mau kita turut berempati. Sebagai lambang tempat yang penuh kekerasan, penjara ternyata bisa menjadi rumah hangat untuk berbagi cerita. Kontroversial dalam drama korea ini adalah sosok pria gay, Yoo Han-Yang (Lee Kyu-Hyung) yang menjadi sorotan karena tingkah konyolnya akibat efek menggunakan narkoba.

Dari Kiri ke Kanan: Song Ji-Won (Kim Joon-Han) dan Song Ji-Won (Kim Joon-Han)

Tidak tanggung-tanggung percintaannya dengan Song Ji-Won (Kim Joon-Han) pun mendapatkan porsi seimbang dengan karakter lainnya. Berbeda dengan drama korea sejenis yang kerap menampilkan ‘kecenderungan pasangan gay’ sebagai sosok bromance belaka yang juga dilakukan oleh sang sutradara dalam Reply 1997 (2012) dan Reply 1994 (2013) atau cinta tak berbalas dalam Reply 1988 (2015-2016). Prison Playbook menjadi momen bagi saluran televisi populer di Korea untuk menampilkan karakter homoseksual yang tidak menghakimi, mendiskriminasi dan penuh steorotipe negatif, karena tidak sulit untuk mencintai karakter Han-Yang terlepas dari orientasi seksualnya.

Sipir Paeng (Jung Woong-In)

Lucunya lagi, ketimbang karakter Je-Hyeok yang harusnya menjadi sorotan dalam drama ini, bagi saya malah sipir Paeng (Jung Woong-In) yang menjadi perhatian terbesar. Sosoknya yang identik tidak ada wibawanya bahkan kerap berkata kasar namun diam-diam sangat memerhatikan kesejahteraan para tahanan dan bisa dikatakan sebagai sosok ayah di penjara.

Sipir Paeng merupakan tali untuk merajut kisah para tahanan selain Je-Hyeok. Ia menjadi sosok yang peduli terhadap Han-Yang yang hendak melepas ketergantungan narkoba, mempercayai kebenaran kasus Kapten Yoo (Jung Hae-In) yang dituduh membunuh yuniornya, dan memanusiakan Kim Min-Cheol (Choi Moo-Sung), tahanan yang sempat menerima hukuman mati lalu kemudian diremisi menjadi 25 tahun.

He is the heart of the show and we can’t resist to not love him more and more, and crying so hard in the last episode. Penghargaan terakhir Je-Hyeok kepada sipir Paeng menjadi bukti bahwa sang sutradara pun turut menjadikan karakter ini sebagai jantung dari drama Prison Playbook.

Bukan berarti juga karakter Je-Hyeok tertutup akibat banyak karakter yang gemilang. Park Hae-Soo mampu menghidupkan karakter pelambung bola yang kecewa akan kemalangan hidupnya tapi juga berempati terhadap sesamanya. Je-Hyeok tergambarkan sebagai sosok pria sederhana yang lambat dalam berpikir dan tidak memiliki kemampuan apapun selain bermain baseball. Bahkan ia menjadi teman dekat Han-Yang dan satu-satunya orang yang bersedia meminjamkan paha untuk Han-Yang tiduri.

Tidak hanya itu saja, Je-Hyeok kerap membantu sesama tahanan dengan diam-diam walaupun perlu memanfaatkan popularitasnya sebagai selebritis bahkan juga mengancam masa tahanannya. Hal itulah yang membuat ia begitu dicintai dan dilindungi sesama tahanan lainnya. He is a hero who think he is not. Segala hal yang dilakukannya bersifat impulsif dan akhirnya ia menjadi karakter yang paling naif dibandingkan tahanan lainnya.

Membandingkan dengan Drama Lainnya

Selaku penonton, ini pertama kalinya saya merasa sangat begitu tersentuh dan mencintai setiap karakter dalam satu drama. Sebut saja serial serupa milik Netflix Orange Is the New Black yang paling banter hanya tiga atau lima orang saja yang akan saya ingat dan merasa empati pada mereka. Sementara Prison Playbook mampu membuat saya mengasihani Ddolmani, menolerir Dokter Go (Jung Min-Sung) yang sering kali membuat petisi dan berujung menyusahkan tahanan lainnya, menangis hebat terhadap hubungan Jean Valjean (Kang Seung-Yoon) dan Min-Cheol, kehilangan berat Kaiseuteu (Park Ho-San), dan tertawa keras terhadap kecepatan berbicara sipir Song (Kang Ki-Doong).

Setiap karakter mampu mencuri perhatian disetiap episode dan itulah keunggulan drama korea ini yang tidak dimiliki drama sejenisnya. Bisa dibilang Prison Plabook adalah salah satu drama korea paling diverse dan versatile, dari segi penceritaan dan penokohan. Sampai saat ini saya belum bisa menemukan drama korea serupa dibandingkan dengan drama lain yang sering memiliki cerita atau karakter utama sama, misalnya Signal (2016) dengan Tunnel (2017) dari segi kasus pembunuhan berantai, Voice (2017) dengan The Guardians (2017) dari segi sosok musuh sosiopat, Radiant Office (2017) dengan Jugglers (2017) dari segi sosok karakter utama prianya.

Shin Won-Ho selaku sutradara dan produser pun memberikan adanya sinyal positif untuk musim kedua Prison Playbook, tergantung dari cerita yang ingin disampaikan. Dan bila menjadi seri pun bisa jadi senasib dengan seri Reply yang berupa antologi. Menghadirkan karakter baru dengan cerita berbeda namun tidak menutup kemungkinan bersinggungan dengan karakter di musim pertamanya. Bila benar demikian saya bertaruh mereka akan berusaha menampilkan kembali Paeng, Joon-Ho, Han-Yang atau Kapten Yoo di musim kedua kelak.

Pada akhirnya, Prison Playbook mengajarkan kepada kita selaku penonton bahwa masa lalu tidak selalu mendefinisikan seseorang. Penjara bukan menjadi label untuk mengatakan seseorang sebagai penjahat. Hal yang terpenting adalah masa kini dan masa depan. Selalu ada kesempatan kedua bagi mereka yang ingin menggapainya. Drama ini mengingatkan kita bahwa selalu ada harapan disetiap himpitan hidup.

Sila menonton dan jangan lupa baca review drama korea lainnya di situs ini!

Han-Yang coming out to Je-Hyeok and Joon-Ho is daebak ~

Drama Korea The Guardians (2017) – Review

Drama korea besutan stasiun televisi MBC ini berkisah mantan detektif Jo Soo-Ji (Lee Si-Young) yang bekerjasama dengan peretas handal Kong Kyung-Soo (Key ‘SHINee’) dan Seo Bo-Mi (Kim Seul-Gi) untuk menyingkap ragam kasus yang berkaitan dengan masa lalu mereka. Dibantu dengan seorang pemimpin rahasia, mereka hendak membongkar skandal Ketua Jaksa Yoon Seung-Ro (Choi Moo-Sung).

Namun, aksi mereka selalu terhambat akibat ulah Jaksa Senior Jang Do-Han (Kim Young-Kwang). Di satu sisi, unit gabungan kepolisian dan jaksa yang beranggotakan Kim Eun-Joong (Kim Tae-Hoon) dan Lee Son-Ae (Kim Sun Young) hendak menangkap Soo-ji yang berstatus buronan. Misi rahasia mereka pun berpacu dengan waktu untuk mengungkap misteri serta skandal yang berkaitan erat dengan masa lalu mereka dan sang pimpinan.

Sebagai drama yang penuh dengan intrik dan misteri, The Guardians memiliki penyajian cerita intens dibalut aksi laga mencenangkan, tidak seperti kebanyakan drama korea sejenis lainnya. Aksi pembuka dimana Soo-Ji mengendarai motor di jalan besar untuk menangkap penjahat yang bergulir ke masa silamnya tampil tanpa cela. Masing-masing episode yang berdurasi kurang lebih 30 menit pun terasa efektif untuk merangkai setiap kisah dari karakter yang ada.

Walaupun d korea The Guardians memiliki karakter yang banyak tapi setiap tokoh memiliki tempat dan posisi yang penting bahkan hampir setara dengan tidak berfokus hanya kepada Soo-Ji saja. Tidak hanya itu, satu hal yang perlu dikagumi adalah twist yang tersajikan disetiap akhir episode bisa memaksa penonton untuk binge watch secepat mungkin.

Park Solomon berperan sebagai Yoon Shi-Wan

Aktor Park Solomon yang berperan sebagai Yoon Shi-Wan, remaja sosiopat yang membunuh Jo Yoo Na (Ham Na-Young), anak perempuan Jo Soo-Ji sangat menarik perhatian sebagai sosok ultimate villain di drama ini. Park Solomon mengingatkan saya selaku penonton kepada karakter serupa, yaitu musuh di drama Voice (2017), Mo-Tae Go yang diperankan Kim Jae-Wook.

Baik Mo-Tae Go dan Yoon Shi-Wan merupakan sosiopat yang terbentuk akibat orang tua mereka yang tidak peduli dan akhirnya tumbuh menjadi pembunuh berdarah dingin yang tak kenal takut karena memiliki kuasa atas hukum. Tetapi sisi menarik dari The Guardians adalah menampilkan sosok musuh yang masih dibawah umur dengan kecerdasan manipulasi luar biasa serta lebih karismatik ketimbang Mo-Tae Go.

Salah satu karakter yang menonjol juga adalah anti-hero dari drama ini, yaitu sang pemimpin yang misterius. Tidak butuh waktu lama untuk membongkar siapa sosok yang bermain dalam kejaksaan, tim gabungan khusus dan pengatur gerak-gerik Jo Soo-Ji dan timnya. Karakter anti-hero ini bisa dibilang sosok sempurna sebagai seorang protagonis dan antagonis sekaligus.

Yoon Seung-Ro (Choi Moo-Sung) dan Jang Do-Han (Kim Young-Kwang)

Penonton bisa berempati sekaligus membenci perihal tindakan si pemimpin yang bermuara hilangnya nyawa seseorang yang sentral di drama The Guardians. Karakter ini pun mengingat saya pada tokoh Lee Chang-Joon yang diperankan Yoo Jae-Myung di drama Stranger (2017) produksi stasiun tvN, dimana ia mesti terlibat dalam kasus korupsi bahkan membunuh untuk menjatuhkan penguasa hukum di Korea.

Jika kamu penggemar drama Voice dan Stranger, ada kemungkinan besar akan menikmati intens cerita dari The Guardians. Walaupun isu sosial yang dibawakan lebih minim, karena cenderung berupa teori konspirasi politik dan aparat hukum yang bertindak semena-mena atas kekuasaannya. Sementara Voice disetiap kisahnya menampilkan isu masyarakat dengan cerita yang bersimbah darah bahkan penuh sensor sana sini. Dan Stranger berpusat kepada pembunuhan berantai alih-alih untuk membocorkan kebobrokan kejaksaan. The Guardians masih tetap menyenangkan dan menghibur untuk dinikmati hingga akhir.

Sayangnya drama ini ditutup dengan cerita yang menggantung seakan menunjukkan ada potensi musim kedua. Hingga kini masih belum ada kabar resmi mengenai produksi musim kedua dari drama ini. Akhir cerita yang memiliki banyak plot hole dengan nasib tragis karakter anti-hero nya menimbulkan tanda tanya besar bagi penonton yang berharap mendapatkan akhir kisah yang pasti. Nasib Jo Soo-Ji, Kong Kyung-Soo, dan Seo Bo-Mi yang berkeliaran di jalanan pun menimbulkan tanda tanya besar: apakah mereka telah mendekam di penjara? Atau masih berusaha membongkar kasus lainnya? Dan bagaimana nasib sosiopat Yoon Shi-Wan?

Sila menonton dan jangan lupa baca review drama korea lainnya di situs ini!

The Guardians Drama Korea

Drama Korea Stranger (2017) – Review

Stranger atau nama lainnya Secret Forest (2017) adalah drama korea besutan stasiun televisi tvN yang sukses besar, baik dari rating maupun penghargaan, terbukti mengisi daftar 10 serial televisi international terbaik dari The New York Times. Permintaan musim keduanya pun melonjak pasca berakhir dengan kisah menggantung yang berisyarat ada kemungkinan cerita akan berlanjut. Lantas, apa yang menjadikan serial ini berkesan?

Drama ini mengisahkan Hwang Shi-Mok (Cho Seung-Woo), jaksa yang berusaha membongkar kasus pembunuhan Park Mo-Sung (Eom Hyo-Seop), dimana korban terlibat dengan kasus korupsi dan penyediaan jasa wanita hiburan kepada para penguasa Korea Selatan. Jaksa Hwang kemudian bekerja sama dengan polisi wanita, Han Yeo-Jin (Bae Doo-Na) untuk membongkar kasus tersebut.

Bergelimangnya drama dengan cerita serupa tidak menampikkan keistimewaan Stranger, karena karakter utamanya adalah sosok dingin yang rasional, logis dan tidak memiliki emosi sama sekali. Pasca melakukan operasi otak, Hwang terpaksa tidak bisa merasakan emosi apapun dan membuatnya memilih profesi jaksa yang malah menjadikannya musuh bagi lembaganya sendiri.

Sementara karakter utama wanita yang diperankan Bae Doo-Na adalah wanita yang humoris, penuh ekspresi dan gemar menggambar. Dua tokoh ini akan menjadi tali yang menghubungkan setiap misteri untuk membongkar kasus korupsi yang dilakukan Lembaga Kejaksaan Korea Selatan.

Menonton Stranger membutuhkan konsentrasi ekstra karena dialog yang panjang serta detail yang mengagumkan. Misalnya, ekspresi Yoon Se-Won (Lee Kyung-Hyung) yang tersinggung ketika Yeo-Jin mengatakan roti pemberiannya tidak terlalu enak. Ini merupakan detail dari status ekonomi Se-Won yang tampak kurang berada ketimbang rekan lainnya. Atau juga momen dimana Hwang pertama kalinya meluapkan emosi ketika salah satu rekannya tewas terbunuh. Pencarian emosi yang dilakukan Hwang menjadi kisah tersendiri yang tak dapat dilewatkan.

Drama yang ditulis Lee Soo-Yeon ini memang memiliki penceritaan lambat dengan karakter yang banyak namun memiliki peran penting tapi terkadang sekilas ditampilkan. Posisi Hwang yang tidak mempercayai siapapun, kecuali Yeo-Jin pun dapat turut dirasakan saya selaku penonton. Setiap menikmati episode, saya harus berpikir keras: Siapa dan bagaimana hal ini terjadi lalu benarkah pelaku pembunuhan Mo-Sung tergabung dalam tim investigasi khusus yang dipimpin Hwang?

Bisa dikatakan moto dari drama ini ‘everyone is a suspect’, setiap orang berpotensi untuk mencederai hasil penyelidikan. Namun tim yang solid mengaburkan prediksi kita antara mana yang kawan dan mana lawan. Bahkan ketika akhirnya misteri terbongkar, bisa jadi kamu akan turut berempati mengenai alasan pelaku membunuh Mo-Sung dan mempertanyakan perihal benar atau salah di dunia yang penuh kejahatan ini.

Young Eun-So (Shin Hye-Sun)

Seperti yang sudah disinggung juga mengenai karakter yang banyak malah menjadi kelemahan terbesar bagi Stranger karena kurangnya pengembangan tokoh akibat terlalu berfokus kepada Hwang dan Yeo-Jin. Karakter seperti Lee Chang-Joon (Yoo Jae-Myung), Young Eun-So (Shin Hye-Sun), dan Seo Dong-Jae (Lee Joon-Hyuk) yang turut andil besar dalam misteri sedikit kurang tereksplorasi, terutama Young Eun-So yang seharusnya mendapatkan porsi lebih besar di layar kaca.

Setidaknya tidak ada plot hole yang ditemukan dalam Stranger, jelas naskah tersusun rapih dan menjadi salah satu drama korea yang terbaik dari segi cerita buat saya. Tercatat hanya ada dua drama korea yang saya segani dari segi penceritaan, yaitu Signal (2016) dan Voice (2017). Bahkan dua drama yang bernuansa misteri, thriller dan suspense tersebut memiliki ragam kasus berbeda disetiap episodenya sehingga lebih mudah membuatnya fokus, ketimbang Stranger yang lebih pelik dan rumit karena merajut kisah yang berkesinambungan satu sama lain dan bermuara pada konspirasi besar. Belum lagi keterlibatan tema politik dan penyalahgunaan kekuasaan oleh Lembaga Kejaksaan.

Yoon Se-Won (Lee Kyu-Hyung)

Deretan pemainnya pun tampil ciamik dalam memerankan tokohnya, dimulai dari Cha Seung-Woo yang tampil tanpa emosi hingga Lee Joon-Hyuk sebagai jaksa yang gemar hinggap sana sini untuk mendapatkan keinginannya. Bahkan mungkin saja kita bisa menyukai karakter Seo Dong-Jae yang berengsek dan penuh muslihat ini. Berbicara tentang tokoh juga, Salah satu pemain baru yang turut menjadi perhatian adalah Lee Kyu-Hyung yang memerankan sosok dengan perubahan karakter sangat besar dipenghujung akhir drama. Bila kamu menyukai Kyu-Hyung maka sila menonton Prison Playbook (2017), dimana ia memerankan pria gay yang humoris di penjara, bahkan ia menjadi headline dalam drama tersebut.

Drama ini juga menarik karena dua pemain utamanya sempat hiatus dari pertelevisian korea, tercatat serial drama terakhir Cho Seung-Woo adalah God’s Gift – 14 Days pada tahun 2014. Sementara Bae Doo-Na tampak mengisi karirnya dengan film-film internasional, seperti Jupiter Ascending dan Cloud Atlas, bahkan ia turut bermain dalam serial Netflix Sense 8. Pertemuan kedua pemain ini membawa nuansa sendiri dalam Stranger walaupun tidak ada kisah romansa sama sekali, bisa dibilang karisma kedua pemain mampu membuat penonton tergugah.

Kesuksesan Stranger pun membuahkan musim kedua (dari sumber berita yang beredar) dan akan siap mengudara di pertengahan tahun depan disebabkan penulis naskahnya sedang sibuk menyusun naskah untuk drama terbarunya yang berjudul Live (2018) dengan tokoh utamanya juga diperankan oleh Cho Seung-Woo.

Akhir kata, mau tidak mau saya perlu meletakkan Stranger sebagai drama korea misteri terfavorit saat ini dan menyingkirkan Signal serta Voice di jajaran teratas. Namun tetap yang menjadi posisi terbaik adalah Prison Playbook.

Sila menonton dan jangan lupa baca review drama korea lainnya di situs ini!