Press "Enter" to skip to content

Category: BLOG

Drama Korea The Guardians (2017) – Review

Drama korea besutan stasiun televisi MBC ini berkisah mantan detektif Jo Soo-Ji (Lee Si-Young) yang bekerjasama dengan peretas handal Kong Kyung-Soo (Key ‘SHINee’) dan Seo Bo-Mi (Kim Seul-Gi) untuk menyingkap ragam kasus yang berkaitan dengan masa lalu mereka. Dibantu dengan seorang pemimpin rahasia, mereka hendak membongkar skandal Ketua Jaksa Yoon Seung-Ro (Choi Moo-Sung).

Namun, aksi mereka selalu terhambat akibat ulah Jaksa Senior Jang Do-Han (Kim Young-Kwang). Di satu sisi, unit gabungan kepolisian dan jaksa yang beranggotakan Kim Eun-Joong (Kim Tae-Hoon) dan Lee Son-Ae (Kim Sun Young) hendak menangkap Soo-ji yang berstatus buronan. Misi rahasia mereka pun berpacu dengan waktu untuk mengungkap misteri serta skandal yang berkaitan erat dengan masa lalu mereka dan sang pimpinan.

Sebagai drama yang penuh dengan intrik dan misteri, The Guardians memiliki penyajian cerita intens dibalut aksi laga mencenangkan, tidak seperti kebanyakan drama korea sejenis lainnya. Aksi pembuka dimana Soo-Ji mengendarai motor di jalan besar untuk menangkap penjahat yang bergulir ke masa silamnya tampil tanpa cela. Masing-masing episode yang berdurasi kurang lebih 30 menit pun terasa efektif untuk merangkai setiap kisah dari karakter yang ada.

Walaupun d korea The Guardians memiliki karakter yang banyak tapi setiap tokoh memiliki tempat dan posisi yang penting bahkan hampir setara dengan tidak berfokus hanya kepada Soo-Ji saja. Tidak hanya itu, satu hal yang perlu dikagumi adalah twist yang tersajikan disetiap akhir episode bisa memaksa penonton untuk binge watch secepat mungkin.

Park Solomon berperan sebagai Yoon Shi-Wan

Aktor Park Solomon yang berperan sebagai Yoon Shi-Wan, remaja sosiopat yang membunuh Jo Yoo Na (Ham Na-Young), anak perempuan Jo Soo-Ji sangat menarik perhatian sebagai sosok ultimate villain di drama ini. Park Solomon mengingatkan saya selaku penonton kepada karakter serupa, yaitu musuh di drama Voice (2017), Mo-Tae Go yang diperankan Kim Jae-Wook.

Baik Mo-Tae Go dan Yoon Shi-Wan merupakan sosiopat yang terbentuk akibat orang tua mereka yang tidak peduli dan akhirnya tumbuh menjadi pembunuh berdarah dingin yang tak kenal takut karena memiliki kuasa atas hukum. Tetapi sisi menarik dari The Guardians adalah menampilkan sosok musuh yang masih dibawah umur dengan kecerdasan manipulasi luar biasa serta lebih karismatik ketimbang Mo-Tae Go.

Salah satu karakter yang menonjol juga adalah anti-hero dari drama ini, yaitu sang pemimpin yang misterius. Tidak butuh waktu lama untuk membongkar siapa sosok yang bermain dalam kejaksaan, tim gabungan khusus dan pengatur gerak-gerik Jo Soo-Ji dan timnya. Karakter anti-hero ini bisa dibilang sosok sempurna sebagai seorang protagonis dan antagonis sekaligus.

Yoon Seung-Ro (Choi Moo-Sung) dan Jang Do-Han (Kim Young-Kwang)

Penonton bisa berempati sekaligus membenci perihal tindakan si pemimpin yang bermuara hilangnya nyawa seseorang yang sentral di drama The Guardians. Karakter ini pun mengingat saya pada tokoh Lee Chang-Joon yang diperankan Yoo Jae-Myung di drama Stranger (2017) produksi stasiun tvN, dimana ia mesti terlibat dalam kasus korupsi bahkan membunuh untuk menjatuhkan penguasa hukum di Korea.

Jika kamu penggemar drama Voice dan Stranger, ada kemungkinan besar akan menikmati intens cerita dari The Guardians. Walaupun isu sosial yang dibawakan lebih minim, karena cenderung berupa teori konspirasi politik dan aparat hukum yang bertindak semena-mena atas kekuasaannya. Sementara Voice disetiap kisahnya menampilkan isu masyarakat dengan cerita yang bersimbah darah bahkan penuh sensor sana sini. Dan Stranger berpusat kepada pembunuhan berantai alih-alih untuk membocorkan kebobrokan kejaksaan. The Guardians masih tetap menyenangkan dan menghibur untuk dinikmati hingga akhir.

Sayangnya drama ini ditutup dengan cerita yang menggantung seakan menunjukkan ada potensi musim kedua. Hingga kini masih belum ada kabar resmi mengenai produksi musim kedua dari drama ini. Akhir cerita yang memiliki banyak plot hole dengan nasib tragis karakter anti-hero nya menimbulkan tanda tanya besar bagi penonton yang berharap mendapatkan akhir kisah yang pasti. Nasib Jo Soo-Ji, Kong Kyung-Soo, dan Seo Bo-Mi yang berkeliaran di jalanan pun menimbulkan tanda tanya besar: apakah mereka telah mendekam di penjara? Atau masih berusaha membongkar kasus lainnya? Dan bagaimana nasib sosiopat Yoon Shi-Wan?

Sila menonton dan jangan lupa baca review drama korea lainnya di situs ini!

The Guardians Drama Korea

Drama Korea Stranger (2017) – Review

Stranger atau nama lainnya Secret Forest (2017) adalah drama korea besutan stasiun televisi tvN yang sukses besar, baik dari rating maupun penghargaan, terbukti mengisi daftar 10 serial televisi international terbaik dari The New York Times. Permintaan musim keduanya pun melonjak pasca berakhir dengan kisah menggantung yang berisyarat ada kemungkinan cerita akan berlanjut. Lantas, apa yang menjadikan serial ini berkesan?

Drama ini mengisahkan Hwang Shi-Mok (Cho Seung-Woo), jaksa yang berusaha membongkar kasus pembunuhan Park Mo-Sung (Eom Hyo-Seop), dimana korban terlibat dengan kasus korupsi dan penyediaan jasa wanita hiburan kepada para penguasa Korea Selatan. Jaksa Hwang kemudian bekerja sama dengan polisi wanita, Han Yeo-Jin (Bae Doo-Na) untuk membongkar kasus tersebut.

Bergelimangnya drama dengan cerita serupa tidak menampikkan keistimewaan Stranger, karena karakter utamanya adalah sosok dingin yang rasional, logis dan tidak memiliki emosi sama sekali. Pasca melakukan operasi otak, Hwang terpaksa tidak bisa merasakan emosi apapun dan membuatnya memilih profesi jaksa yang malah menjadikannya musuh bagi lembaganya sendiri.

Sementara karakter utama wanita yang diperankan Bae Doo-Na adalah wanita yang humoris, penuh ekspresi dan gemar menggambar. Dua tokoh ini akan menjadi tali yang menghubungkan setiap misteri untuk membongkar kasus korupsi yang dilakukan Lembaga Kejaksaan Korea Selatan.

Menonton Stranger membutuhkan konsentrasi ekstra karena dialog yang panjang serta detail yang mengagumkan. Misalnya, ekspresi Yoon Se-Won (Lee Kyung-Hyung) yang tersinggung ketika Yeo-Jin mengatakan roti pemberiannya tidak terlalu enak. Ini merupakan detail dari status ekonomi Se-Won yang tampak kurang berada ketimbang rekan lainnya. Atau juga momen dimana Hwang pertama kalinya meluapkan emosi ketika salah satu rekannya tewas terbunuh. Pencarian emosi yang dilakukan Hwang menjadi kisah tersendiri yang tak dapat dilewatkan.

Drama yang ditulis Lee Soo-Yeon ini memang memiliki penceritaan lambat dengan karakter yang banyak namun memiliki peran penting tapi terkadang sekilas ditampilkan. Posisi Hwang yang tidak mempercayai siapapun, kecuali Yeo-Jin pun dapat turut dirasakan saya selaku penonton. Setiap menikmati episode, saya harus berpikir keras: Siapa dan bagaimana hal ini terjadi lalu benarkah pelaku pembunuhan Mo-Sung tergabung dalam tim investigasi khusus yang dipimpin Hwang?

Bisa dikatakan moto dari drama ini ‘everyone is a suspect’, setiap orang berpotensi untuk mencederai hasil penyelidikan. Namun tim yang solid mengaburkan prediksi kita antara mana yang kawan dan mana lawan. Bahkan ketika akhirnya misteri terbongkar, bisa jadi kamu akan turut berempati mengenai alasan pelaku membunuh Mo-Sung dan mempertanyakan perihal benar atau salah di dunia yang penuh kejahatan ini.

Young Eun-So (Shin Hye-Sun)

Seperti yang sudah disinggung juga mengenai karakter yang banyak malah menjadi kelemahan terbesar bagi Stranger karena kurangnya pengembangan tokoh akibat terlalu berfokus kepada Hwang dan Yeo-Jin. Karakter seperti Lee Chang-Joon (Yoo Jae-Myung), Young Eun-So (Shin Hye-Sun), dan Seo Dong-Jae (Lee Joon-Hyuk) yang turut andil besar dalam misteri sedikit kurang tereksplorasi, terutama Young Eun-So yang seharusnya mendapatkan porsi lebih besar di layar kaca.

Setidaknya tidak ada plot hole yang ditemukan dalam Stranger, jelas naskah tersusun rapih dan menjadi salah satu drama korea yang terbaik dari segi cerita buat saya. Tercatat hanya ada dua drama korea yang saya segani dari segi penceritaan, yaitu Signal (2016) dan Voice (2017). Bahkan dua drama yang bernuansa misteri, thriller dan suspense tersebut memiliki ragam kasus berbeda disetiap episodenya sehingga lebih mudah membuatnya fokus, ketimbang Stranger yang lebih pelik dan rumit karena merajut kisah yang berkesinambungan satu sama lain dan bermuara pada konspirasi besar. Belum lagi keterlibatan tema politik dan penyalahgunaan kekuasaan oleh Lembaga Kejaksaan.

Yoon Se-Won (Lee Kyu-Hyung)

Deretan pemainnya pun tampil ciamik dalam memerankan tokohnya, dimulai dari Cha Seung-Woo yang tampil tanpa emosi hingga Lee Joon-Hyuk sebagai jaksa yang gemar hinggap sana sini untuk mendapatkan keinginannya. Bahkan mungkin saja kita bisa menyukai karakter Seo Dong-Jae yang berengsek dan penuh muslihat ini. Berbicara tentang tokoh juga, Salah satu pemain baru yang turut menjadi perhatian adalah Lee Kyu-Hyung yang memerankan sosok dengan perubahan karakter sangat besar dipenghujung akhir drama. Bila kamu menyukai Kyu-Hyung maka sila menonton Prison Playbook (2017), dimana ia memerankan pria gay yang humoris di penjara, bahkan ia menjadi headline dalam drama tersebut.

Drama ini juga menarik karena dua pemain utamanya sempat hiatus dari pertelevisian korea, tercatat serial drama terakhir Cho Seung-Woo adalah God’s Gift – 14 Days pada tahun 2014. Sementara Bae Doo-Na tampak mengisi karirnya dengan film-film internasional, seperti Jupiter Ascending dan Cloud Atlas, bahkan ia turut bermain dalam serial Netflix Sense 8. Pertemuan kedua pemain ini membawa nuansa sendiri dalam Stranger walaupun tidak ada kisah romansa sama sekali, bisa dibilang karisma kedua pemain mampu membuat penonton tergugah.

Kesuksesan Stranger pun membuahkan musim kedua (dari sumber berita yang beredar) dan akan siap mengudara di pertengahan tahun depan disebabkan penulis naskahnya sedang sibuk menyusun naskah untuk drama terbarunya yang berjudul Live (2018) dengan tokoh utamanya juga diperankan oleh Cho Seung-Woo.

Akhir kata, mau tidak mau saya perlu meletakkan Stranger sebagai drama korea misteri terfavorit saat ini dan menyingkirkan Signal serta Voice di jajaran teratas. Namun tetap yang menjadi posisi terbaik adalah Prison Playbook.

Sila menonton dan jangan lupa baca review drama korea lainnya di situs ini!

Novel Fiksi AROMA KARSA – Review

AROMA KARSA mengambil tema besar mitos dan legenda yang jelas hadir dalam bentuk cerita realisme magis. Terkisahkan Janira Prayagung meminta agar Raras Widyani Priyagung, cucu perempuan semata wayangnya untuk menemukan bunga bernama Puspa Karsa yang konon memiliki kekuatan besar untuk mengendalikan kehendak.

Raras, wanita dengan karakter preservasionis ini akhirnya menyiapkan rencana selepas kegagalan misi pertamanya bersama Prof. Sudjamiko untuk menemukan Puspa Karsa. Sayangnya, ia menyadari ada yang luput dari skema perencanaan tersebut, yaitu ‘orang yang tepat’.

Beberapa puluh tahun kemudian, Jati Wesi, pemuda dengan kemampuan indera penciuman diluar nalar tanpa sengaja hidupnya beririsan dengan keluarga Prayagung akibat mengimitasi Puspa Ananta, parfum merek buatan perusahaan Kemara. Dirinya dimaklumat untuk menjadi karyawan seumur hidup. Ia bertemu dengan perempuan bernama Tanaya Suma, anak Raras yang memiliki kemampuan penciuman sama dengan dirinya.

Melalui aroma, novel terbaru buatan Dewi Lestari (sapaan akrab, Dee) ini berusaha membongkar dunia olfaktori dari tokoh Jati dan Suma yang berpetualang untuk menemukan Puspa Karsa yang hanya dapat dilacak melalui aroma. Tidak hanya itu saja hadir pula kisah mitos dari perwayangan lengkap dengan penggunaan bahasa Aksara Hanacaraka (Aksara Jawa). Memang bukan Dee namanya bila tidak menjadikan mitos sebagai dasar dari realitas.

SEBAGAI seorang pembaca, selepas menikmati Aroma Karsa terlihat cetak biru naskah ini terbagi menjadi dua kisah, sebut saja dunia realitas dan magis. Realitas adalah kisah dimana Jati dan Suma bertemu yang menghantarkan mereka pada ekspedisi Puspa Karsa dan bertemu dengan tokoh Nurdin Suroso, Khalil Batarfi, Anung Linglung, Yustinus Herlambang, Iwan Satyana, Jindra Mahameru, dan Arya Jayadi.

Selanjutnya, magis adalah kisah dimana mereka mesti menemukan Desa Dwarapala yang terletak secara misterius di Gunung Lawu dan hanya aroma yang dapat membuka jalan ke desa tersebut. Disanalah kisah epik terjadi tatkala misteri Puspa Karsa lambat laun terbongkar dan menghantarkan mereka kepada petualangan bersama Empu Smarakandi, Pucang, Sinom dan Elar Manyura.

Sayangnya, Dee terlalu bermain dalam pengenalan karakter di kisah realitas dan melupakan detail-detail penting ketika masuk ke dalam dunia magis ciptaannya, yaitu Desa Dwarapala dengan sekelumit istilah yang mungkin asing bagi mereka yang tak akrab seminimalnya dengan perwayangan, seperti Batara-Batari (dewa-dewi), dan Banaspati (mahluk halus/gaib menyerupai manusia). Ketika mengakhiri babak kejujuran (bab 42), cerita yang harusnya dieksekusi secara apik malah sedikit membosankan dan terkesan terburu-buru hingga akhir.

Banyaknya karakter-pun jadi sumber masalah walau pada bab-bab awal telah terjalin dengan rapih dan memiliki porsi tepat. Namun disayangkan ketika memperkenalkan tokoh-tokoh ‘mistis’ yang dinanti-nantikan ini, saya selaku pembaca malah merasa hambar karena tidak ada yang bisa menimbulkan simpati bagi saya kepada tokoh-tokoh tersebut. Bahkan kematian beberapa tokoh-pun hanya sentilan drama saja bagi saya.

Permasalahan penokohan ini juga ada di Intelegensi Embun Pagi (seri terakhir Supernova) dengan nyaris 700 halaman cuman menyisakan keringat dan migrain selepas membacanya. Tapi untungnya di Aroma Karsa tidak demikian, buku ini masih bisa dinikmati separuhnya dan sisanya bisa ditoleransi karena bisa jadi Dee mencoba menolerir jumlah halaman yang cukup terjangkau dan tidak melelahkan untuk dibaca.

Bila diminta membandingkan, petualangan Gio, Zarah dan kawan-kawan dalam IEP untuk menaklukan portal di Bukit Jambul masih lebih seru ketimbang perjalanan Jati menuju Dwarapala.

Sampul Judul Aroma Karsa (Sumber: https://hot.detik.com/celebofthemonth/book/d-3875909/pre-order-novel-cetak-aroma-karsa-dimulai-hari-ini)

DIBUKA melalui sebuah penemuan lontar kuno, tampak sahih memang menjerumuskan pembaca Aroma Karsa kepada petualangan mendebarkan yang penuh dengan gaib dan horor, contohnya kemunculan Kiongkong (kelabang raksaksa) dan Hyang Arimong (harimau raksaksa) di Gunung Lawu. Ini jelas berada di jalur ekspektasi saya untuk menemukan mahluk-mahluk gaib ini dalam Aroma Karsa.

Entah mengapa juga pemunculan tokoh dengan gelar jawa, misalnya Sanghyang Batara Randu, Sanghyang Batari Karsa, Sanghyang Batari Wit Jumantara Rekta, dan Sanghyang Batara Jati Doreng tidak saya prediksi muncul dan menjadi kekhasan sendiri bagi novel ini. Unsur jawa keraton sangat kental tidak seperti novel Dee sebelumnya yang sarat akan moderinitas.

Hanya satu keluhan saya, yaitu hubungan asmara antara Suma dan Arya yang terkesan sia-sia bahkan didramatisasi sebagai kebutuhan konflik batin Suma dan Jati untuk merajut asmara. Dipikir-pikir bila menghilangkan Arya sekalipun bukan masalah yang berarti dalam penceritaan, kecuali: Sebegitu pentingkah ia menjadi stylist Jati?

Membaca Aroma Karsa terasa seperti menikmati dongeng wayang modern. Sekali lagi Dee membuktikan bahwa dia merupakan penulis modern fantasi yang sukses menghantarkan cerita epik dengan rasa nusantara.

Novel Fiksi LAUT BERCERITA – Review

LAUT BERCERITA mengambil latar kejadian tahun 1998 dimana para aktivis mahasiswa diculik, disiksa dan hilang rimbanya hingga saat ini. Melalui dua tokoh dengan perwatakan yang berbeda, yaitu Biru Laut, mahasiswa sastra inggris UGM yang idealis dan Asmara Jati, adiknya yang pragmatis dan berstatus calon dokter, novel ini berusaha menceritakan kembali bagaimana nasib mereka yang dihilangkan dan ditinggalkan.

Biru Laut adalah lelaki yang sensitif dengan diksi dan kalimat yang melahirkan jiwa nasionalis untuk melahirkan kebebasan bagi Indonesia dengan melawan rezim orde baru Soeharto bersama kawan-kawannya di kelompok Winatra dan Wirasena. Sayangnya, perjalanan Laut tidak mulus karena harus melewati sekelumit derita akibat investigasi dari intel milik pemerintah yang penuh teror.

Dua tahun selepas menghilangnya Laut, Jati bersama Tim Komisi Orang Hilang berusaha menemukan jejak-jejak 13 aktivis mahasiswa yang tak kunjung pulang ke rumah. Dalam novel ini tersaji dua kubu, pertama mereka yang menolak kemungkinan yang hilang telah mati dan kedua yang rasionalis berpikir bahwa mereka bisa jadi telah dibunuh oleh aparat. Jati adalah kubu kedua yang merasa tersiksa melihat kedua orang tuanya masih menanti Laut untuk pulang di setiap hari minggu.

Terlepas dari kata “fiksi” yang melekat dalam novel ini, rentetan peristiwa yang terjadi dalam LAUT BERCERITA adalah hasil investigasi penulis sebagai wartawan untuk mencari cerita mengenai kejadian penculikan Maret 1998 melalui kisah Nezar Patria, salah satu korban penculikan yang dikembalikan. Maka hasilnya jelas detail dengan penggambaran yang telah diceritakan korban kepada media massa.

Contohnya, momen penyiksaan yang melibatkan tonjokan, setrum hingga tidur di balok es selama seharian. Belum lagi sesederhana makanan nasi bungkus yang disajikan bagi para tahanan tak berdosa itu. Tak elak rasa ngeri dan nyata membanjiri imaji para pembaca mengenai betapa kejamnya aparat keamanan negara yang seharusnya melindungi warganya.

Leila S. Chudori selaku penulis juga menyertakan beberapa kejadian serupa, berupa penculikan dan pembunuhan mahasiwa di belahan dunia yang dianggap simpatisan kelompok kiri. Insiden Gwangju yang terjadi pada tahun 1980 di Korea Selatan yang menewaskan ratusan warga dan pelajar merupakan momentum dimana kisah-kisah rezim otoriter macam ini bukan sekedar dongeng belaka.

Berbicara mengenai kualitas penceritaan, saya sebagai penggemar tulisan beliau cukup dipuaskan dari segi cerita bukan teknik menulis. Ada beberapa kesan janggal yang saya temukan sepanjang membaca beberapa bab dalam LAUT BERCERITA. Pertama, gaya tutur dan pemilihan diksi yang monoton dan membosankan tidak seperti 9 dari Nadira yang kerap mencampur adukkan kisah-kisah perwayangan dengan detail. Lalu adegan bercinta antara Laut dan Anjani mengingatkan saya pada adegan persetubuhan Dimas Suryo dan Surti Anandari dalam Pulang. Jadi agak membosankan ketika ada adegan yang seakan repetitif dari novel sebelumnya (sama-sama bercinta di atas meja dapur). Pencantuman lagu-lagu seperti Blackbird –The Beatles atau Mother of Dissapeared – U2 pun tak cukup kuat menemani adegan-adegan vital pada cerita malah nyanyian para pelaut solor yang menemani karakter Alex Parson lebih terasa hangat, dekat dan membumi.

Banyaknya jumlah karakter yang tidak tergarap dengan baik pun menjadi kelemahan paling besar dalam novel ini. Nyaris tidak ada yang berkesan bahkan kurang tergambarkan, semisal tokoh Kinan yang cukup menyita perhatian saya sebagai pembaca. Apa yang mendasarinya sebegitu nekat dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi buruh? Mengapa Naratama bisa selalu kabur dari aksi penangkapan mahasiswa? Alasan apa Kinan bisa begitu mempercayai Naratama? Walaupun novel ini berpusat pada kisah kakak-adik, Laut dan Jati tapi agak sayang melewatkan karakter yang dominan ini. Belum lagi sosok intel dalam kelompok Winatra dan Wirasena yang kurang bumbu “misteri”-nya.

LAUT BERCERITA mungkin bisa dibilang novel tersederhana karangan Leila saat ini. Ceritanya tidak berfokus pada desparasidos (penghilangan orang secara paksa) melainkan karakter-karakter yang terjebak dipusaran tragedi itu. Sayangnya, Leila malah terjebak untuk menceritakan runtutan peristiwa dengan rinci ketimbang mengeksplorasi jiwa-jiwa karakter yang tertindas melalui diksi yang cantik, elegan dan tegas.

Terlepas dari itu, karakter Kinan, Anjani dan Asmara adalah apresiasi tertinggi karena menggambarkan wanita sebagai tokoh yang kuat dan feminis. Terutama ketika Anjani menggambar mural Ramayana modern dengan sosok Sita menyelamatkan Rama yang diculik. Emansipasi wanita disematkan sebagai keping kecil milik Leila, begitu pula mungkin pilihan-pilihan musik yang senantiasa kerap hadir di dalam novelnya.

Selain itu novel ini merupakan angin segar bagi dunia sastra dan novel nge-pop di Indonesia karena masih ada yang mau mengangkat tragedi yang bisa jadi pelan-pelan mulai terlupakan, baik oleh kita dan pemerintah (yang sengaja menutup mata). Ditengah kecamuk kehadiran novel-novel bergenre drama dan percintaan yang laku di pasaran, LAUT BERCERITA membuktikan masih ada yang menolak lupa.

Film Mokumenter hUSh (2016) – Review

hUSh berusaha mendobrak sistem patriarki melalui perempuan bernama Cinta Ramlan (diperankan Cinta Ramlan) yang menyampaikan kegelisahannya mengenai kesenjangan antar gender, dimana korban selalu saja perempuan. Cinta berusaha mengajak berdiskusi bagaimana wanita kerap kali dipandang rendah bila menyukai hal-hal bersifat cabul padahal semua orang menyukai seks. Lelaki yang berhasil memperawani pacarnya dianggap sebagai simbol maskulinitas sementara perempuan yang tidak lagi perawan dianggap wanita murahan.

Memang agak sulit bagi saya untuk tidak mengkaitkan bagaimana hubungan hUSh dengan kumpulan cerita pendek Djenar yang juga sutradara di film mokumenter ini. Saya sudah membaca semua buku-buku Djenar, maka tak bisa dipersalahkan bila sepanjang menonton hUSh saya langsung teringat oleh satu paragraf dalam kumpulan cerita pendek Djenar berjudul Jangan Main-Main dengan Kelaminmu di kisah Saya di Mata Sebagian Orang dari sudut pandang ‘saya’ berjenis kelamin perempuan:

Sebagian orang menganggap saya munafik.

Sebagian lagi menganggap saya pembual.

Sebagian lagi menganggap saya sok gagah.

Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Sebagian lagi menganggap saya murahan!

hUSh jelas tidak berdasarkan pada kisah pendek ini namun ada satu kesamaan yang pasti: narasi hanya dari satu sudut pandang perempuan yang berusaha berbicara terbuka mengenai gagasan-gagasan dalam pikirannya yang selama ini dibungkam masyarakat atas nama moralitas.

Gagasan ini tidak hanya menyoal terbelunggunya pikiran wanita saja namun lebih jauh lagi ketika pembicaraan masa lalu Cinta yang dilecehkan oleh salah satu anggota keluarganya sejak belia. Terpapar dengan jelas bagaimana pelaku mengambil hati Cinta, sampai merasa nyaman dan tak merasa ada yang salah ketika mereka bermain asmara di ranjang: semua karena ketidaktahuan Cinta soal seks. Dan dengan tegas pun ia bertutur: Ini bukan perkosaan tapi pelecehan. Sampai akhirnya Ia menyadari apa yang dilakukannya merupakan kegiatan seksual, menuntunnya kepada perasaan bersalah berkepanjangan lantas menghakimi dirinya sendiri.

Bukan sekali Djenar bermain-main dengan kisah seperti ini, sebelumnya dalam cerita pendek Menyusu Ayah (karya yang menghantarkannya sebagai penulis fenomenal), Ia menceritakan tokoh fiksi Nayla yang rindu menyusu penis ayahnya, sebagai bukti dirinya telah diperdaya dan dilecehkan sang ayah bahkan sejak balita.

hUSh pada akhirnya tidak berusaha mendikte atau membenarkan segala macam perilaku Cinta, dia hanya berusaha jujur dan mendengarkan tanpa perlu mengadili si pencerita – karena itu lah yang dibutuhkan para penyintas kekerasan seksual.

Film Pendek Maryam (2014) – Review

Film pendek Maryam menceritakan Yam, seorang asisten rumah tangga yang dihari natal mesti menjaga Tuan, yaitu pria dengan autisme yang memaksanya ke gereja untuk menghadiri perayaan Misa bersama. Ia tak kuasa menolak keinginan sang Tuan walau batin meronta karena diusik keimanannya. Ditambah Nyonya memintanya untuk tidak menghubungi selama ia pergi liburan. Dari sini kita mulai menyelami bagaimana Maryam sebagai sosok yang mesti tunduk pada orang yang menempati kelas di atasnya, yakni Tuan dan Nyonya.

Tetapi bila hanya sekedar mempersoalkan eksistensi strata sosial dalam Maryam tentu rasanya mustahil mengingat narasi yang disampaikan Sidi Saleh sangat pelik untuk disederhanakan seperti itu. Bisa jadi, relasi kekuasaan yang ada malah berasal dari agama yang seolah-olah menyudutkan Maryam si empunya nama yang erat dengan tokoh di agama-agama samawi, seperti Islam dan Kristen.

Maka gagasan yang paling dekat adalah: Apakah Maryam berbicara bagaimana personalitas orang seringkali dilihat berdasar pada agama? Pertanyaan ini hadir tatkala Yam tidak hanya mengubah model jilbabnya saja namun juga menangis di hadapan Bunda Maria. Apakah ini representasi Yam sebagai hasil konstruksi dalam Islam maupun Kristen?

Bukti lain hadir saat Tuan mempertanyakan mengapa Yam masih saja bekerja padahal sedang mengandung. Keterhimpitan ekonomi selalu menjadi faktor utama, bahkan Yam mengakui janin yang dikandungnya tidak memiliki ayah. Seakan menjadi pernyataan bahwa bisa jadi ia adalah Maryam, wanita yang hamil tanpa laki-laki karena tengah mengandung anak yang suci dari pemberian Tuhan.

Sidi Saleh tampaknya ingin mempersilahkan kita selaku penonton untuk memaknai film pendeknya secara bebas berdasarkan pengalaman masing-masing. Sepertinya tidak pas bila melihat Maryam dari sudut pandang teologis juga, karena film pendek ini lebih berbicara soal antara yang berkuasa dan tidak berkuasa, entah itu diakibatkan sistem sosial ataupun konstruksi agama.

Film Dokumenter Masih Ada Asa (2015) – Review

Masih Ada Asa (2015) menceritakan dua sudut pandang penyintas. Pertama, Ati, perempuan muslim yang tinggal di Kabupaten Sikka, Ngolo, Flores. Ati mengisahkan ketika dirinya menjadi korban pemerkosaan oleh anggota DPRD. Lalu, Ros, perempuan nasrani yang hijrah ke Ibukota untuk mencari kehidupan lebih baik setelah menjadi korban pemerkosaan oleh 11 orang. Ati dan Ros hanyalah segelintir dari ribuan perempuan penyintas kekerasan seksual yang berasal dari Maumere, Flores.

Yuda Kurniawan, selaku sutradara berusaha mengungkapkan bagaimana realita keji ini dapat terjadi dari dua sudut pandang perempuan, berbeda agamadengan satu tujuan: berjuang melanjutkan hidupnya kembali tanpa melupakan gelombang masa lalu yang pernah menerkam mereka.

Tanpa disertai narasi karena tidak ingin mengintervensi kisah mereka berdua, Yuda menghadirkan secara jujur dan lugas agar penonton dapat mengambil kesimpulan sendiri setelah menonton film dokumenter berdurasi 85 menit ini.

Sungguh sulit untuk menceritakan pengalaman menonton Masih Ada Asa, selain karena kepolosannya yang menghadirkan keseharian kedua penyintas, pelan-pelan film ini juga mampu menusuk batin dan menampar habis-habis penonton: Apa yang sudah saya lakukan saat ini? Pertanyaan ini terus bergeming sebagai bukti kita selaku masyarakat masih belum menyadari betapa mendesak kasus kekerasan terhadap perempuan untuk segera dihentikan.

Ada beberapa catatan penting yang dapat diambil dari Masih Ada Asa. Pertama, Tindak kekerasan seksual dapat terjadi tanpa peduli busana apa yang dikenakan. Ati berpakaian serba tertutup bahkan berhijab namun dirinya tidak lepas dari mangsa predator yang tak punya akal. Kedua, penyintas menerima tindakan yang sama dari ibu mereka, yaitu ditampar ketika mendapati mereka telah diperkosa. Ketiga, akhir kasus yang berbeda dimana Ati tidak mendapatkan keadilan bagi dirinya, karena sang dewan memiliki kekebalan hukum sementara Ros menerima keadilan dengan pelaku dijerat hukuman 3 tahun penjara walau harus menerima ancaman serta iming-iming harta untuk menghentikan kasusnya. Terakhir, keberadaan lembaga TRUK-F sebagai pendamping penyintas dari perlindungan hingga penanganan kasus.

Peran keluarga dan lembaga sosial menjadi penting disini untuk membantu penyintas dalam menghadapi masa trauma serta mendapatkan keadilan. Tanpa dukungan, banyak kisah para penyintas yang berakhir tak lebih dari sekedar angin lalu.

Film Pendek Buang (2013) – Review

Andri Cung dan William Chandra, sebagai sutradara film pendek Buang (2013) sah-sah saja membuat alur maju-mundur agar penonton dibuat penasaran apa yang tengah dinanti Mbak Mar bersama Rasyid dan Suster Marissa di pesisir laut dengan latar waktu bulan puasa, tepatnya 5 September 2011. Walau jelas, ketika adegan bergulir nyaris satu tahun silam, penonton mulai menerka-nerka:

Apakah Siti yang mereka tunggu kehadirannya?

Buang (atau dalam bahasa inggris The Disposal) merupakan elegi menyoal rentannya modus operandi dalam bentuk perdagangan manusia. Pada tahun 2012-2015 saja tercatat ada 861 kasus perdagangan orang dengan 70% korbannya merupakan perempuan dan anak. Dengan tokoh utama anak perempuan berumur 14 tahun bernama Siti, film pendek ini menyajikan secara eksplisit bagaimana lingkaran setan ini tak akan pernah berhenti.

Alkisah, Siti diiming-imingi teman almarhum bapaknya untuk mengadu nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri. Namun, harapan dan cita-citanya pupus ketika Ia menjadi korban perdagangan manusia dan tindakan kekerasan seksual dibawah umur. Di usia yang begitu belia, Ia dihadapi kenyataan pahit untuk menghadapi pria pedofil bahkan akhirnya dibuang ke Jakarta ketika dianggap tak layak pakai lagi.

Sementara, Sulton yang diperankan Surya Saputra kerap kali mengulang-ulang betapa dekat dirinya dengan almarhum ayah Siti bahkan kerelaaannya meminjamkan sejumlah uang kepada Uti (Ibu Siti). Tetapi Sulton tidak hanya bermain-main dengan kemanisan saja nyatanya dia memberikan gertakan kepada Uti, banyak utang yang ditanggung belum termasuk bunga yang harus dibayarkannya. Uti meragu sementara Siti terlena dengan janji-jani manis Sulton. Kemiskinan dan keterbatasan pilihan selalu menjadi faktor utama alasan seseorang percaya untuk memilih jalan hidup sebagai pekerja di luar negeri.

Buang tidak main-main dalam merepresentasikan isu perdagangan manusia serta tidak menyederhanakan logika bagaimana lingkaran setan ini tetap terus berlanjut hingga sekarang. Sutradara berani menyajikan adegan pemerkosaan yang dilakukan pria dewasa kepada Siti secara frontal. Dampaknya: Penonton dibuat gelisah dan geram, mengapa bisa membiarkan hal ini terus terjadi? Atau bisa jadi baru menyadari telah sedemikian parah kasus perdagangan manusia begitu pula efeknya kepada korban.

Memang akan sungguh rumit untuk mengupas kronologis bagaimana perdagangan manusia dapat terjadi apalagi dalam medium film pendek, alih-alih merumitkan atau sekedar memberikan pesan moral belaka, Buang justru terasa sebaliknya. Hal yang jelas adalah gagasan kasus ini dapat dimulai dan diakhiri oleh orang yang sama – dalam artian mereka yang kita anggap terpercaya bisa jadi tersangka utama.

Mbak Mar, Rasyid, dan Suster Marissa pada akhirnya menjadi tokoh yang tidak memahami bagaimana mengakhiri tragedi yang tak berkesudahan ini diakibatkan keterbatasan yang mereka miliki, dapat dilihat ketiga tokoh ini sebagai perwakilan dari Lembaga Sosial Masyarakat, Mahasiswa dan Instansi Agama. Bisa jadi Buang sebenarnya sentilan untuk abstainnya negara dalam memerangi masalah ini.

Film Marlina The Murderer in Four Acts (2017) – Review

Marlina The Murderer in Four Acts mempersembahkan kisah seorang janda yang ditinggal mati suaminya tiba-tiba, melalui empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession dan The Birth – yang membawa dirinya lebih jauh mengenal ketimpangan hubungan relasi kuasa atas gender. Mouly Surya, selaku sutradara menghadirkan kisah penuh dendam yang diselimuti budaya patriarki dibalik visual luas nan indah di Sumba, Nusa Tenggara.

Film ini mengisahkan Marlina (Marsha Timothy), perempuan paling beruntung di dunia, tidak hanya dicuri semua ternaknya namun hendak ditiduri pula oleh tujuh pria dalam satu malam. Tak mau pasrah pada nasib, ia nekat meracuni mereka, sayangnya, Markus (Egi Fedly), sang ketua perampok keburu memperkosanya. Maka, sebilah parang melesat menembus lehernya, ketika Marlina tepat berada di atas tubuhnya.

Merasa perlu mencari keadilan, Marlina menenteng kepala Markus dengan maksud ke kantor polisi. Dalam penungguannya, ia bertemu dengan Novi, seorang perempuan yang tengah hamil sepuluh bulan.

Kesemerawutan Hidup Perempuan

Dalam babak kedua The Journey, tokoh Novi (Dea Panendra) menjadi sentral melalui dialog sensual yang menggambarkan seksisme begitu kental dalam budaya masyarakat Sumba dan berlaku pula di Indonesia secara general. Disini, Novi menyampaikan kegelisahannya soal perempuan dan birahi. Karakternya dengan lugas menuturkan nafsu seksualnya meningkat dikala sedang hamil muda lalu sering dikritik ibu mertua mengenai wanita tidak boleh begini dan begitu. Novi menjadi sosok yang melawan seksisme atas dirinya dengan mengambil hak-hak dan keinginan pribadinya.

Walaupun begitu, ia masih naif ketika Marlina berkisah dirinya habis diperkosa. Novi bergegas mengajaknya ke gereja untuk mengaku dosa sementara Marlina tak merasa dirinya berdosa. Perdebatan ini menjadi penting untuk didiskusikan dengan melihat dari sudut pandang penyintas dan orang luar. Apakah Marlina berdosa telah membunuh Markus? Apakah ia bersalah atas apa yang ia lakukan? Alih-alih memberikan pembenaran atau penghakiman kepada tokoh Marlina, Mouly Surya bermain-main dengan surealisme, melalui serangkaian adegan dari representasi rasa bersalah, ketakutan ataupun kegelisahan Marlina atas perbuatannya kepada Markus.

Maka, sampailah dia pada babak The Confession yang berujung kesia-siaan.

Wanita sejak lahir memang kadung sial, mungkin itu yang hendak disampaikan dalam babak ini. Sejak awal, dialog ditekankan bahwa pemerkosaan itu bisa dinikmati tidak hanya pelaku namun korbannya pula. Marlina terperanjat ketika polisi yang meng-interograsinya membutuhkan hasil visum kekerasan seksual. Keterkejutan ini bisa jadi terhubung dengan adegan pemerkosaan, ia berada dalam posisi women on top atau mengambil alih kegiatan seksual dengan menjadi pihak dominan sementara kasus pemerkosaan kental dengan unsur kekejaman atau sadisme.

Disini hukum Indonesia dikritik atas aksi pemerkosaan harus selalu meninggalkan bekas legam di tubuh korbannya. Padahal pelecehan seksual tidak hanya berkutat pada hal-hal yang violence tapi bisa meliputi tindakan yang disebut Sexual Coercion. Menilik kebelakang, peristiwa Marlini ini bisa diakui kebenarannya dengan melihat berita tempo silam dimana proses penyidik mewawancarai penyintas pemerkosaan dengan membubuhkan diksi ‘nyaman’. Sebobrok itukah hukum di Indonesia terhadap perempuan? Secara eksplisit, Mouly Surya menyampaikannya pada adegan Marlina menanti di ruang tunggu dengan para polisi asik bermain tenis tanpa memperdulikan dirinya.

Adegan kelahiran dan pembunuhan terakhir menjadi penutup pada babak The Birth. Novi dan Marlina menyelamatkan satu sama lain, menunjukan kuasa perempuan yang tidak membutuhkan laki-laki untuk membela diri. Pengulangan adegan terjadi ketika Novi memenggal kepala Franz (Yoga Pratama) yang tengah memperkosa Marlina. Novi terbebas dari penjara moralitas ketika dihadapkan pilihan rumit: diam atau melawan.

Pada adegan yang sempit kala Novi tengah menjalani persalinan, sosok suami Marlina yang dimumikan menjadi representasi penting mengenai kedudukan laki-laki yang sejatinya tidak berdaya dengan kemaskulinitasannya.

Marlina The Murderer in Four Acts memang jelas bisa dikategorikan sebagai film feminis, bentuk respon atas tindakan opresi pada perempuan yang diindikasikan oleh diskriminasi, marginalisasi dan kekerasan. Semua karakter perempuannya kuat dan berani dalam bertindak ataupun bertutur ditengah-tengah tekanan budaya partiarki.

Novel Fiksi My Heart and Other Black Holes – Review

WACANA bunuh diri seringkali diperdebatkan, entah itu dikaitkan dengan moral, agama maupun pakem budaya yang kerap berujung malah mengadili si eksekutor tanpa sempat mempertanyakan hal terpenting: “Mengapa?” My Heart and Other Black Holes berusaha menjawab dilematis ini melalui sudut pandang dua remaja yang hendak bunuh diri bersama, Ayzel dan Roman yang dipertemukan melalui daring situs bernama ‘Smooth Passage’.

Tidak seperti 13 Reasons Why, buku perdana yang ditulis Jasmine Warga ini lebih realistis dan terkesan tidak mengada-ngada. Memfokuskan antara kisah Ayzel dan Roman yang sama-sama memiliki hantu di masa lalu. Melalui sudut pandang pertama dari Ayzel, My Heart and Other Black Holes tampak jujur berusaha menggambarkan bagaimana pemikiran bunuh diri bisa terjadi dan hal kecil apa yang mampu mencegahnya.

Ayzel, remaja perempuan ini begitu menderita pasca kejadian sang ayah membunuh Brian Jackson, dirinya dihantui mengenai kemungkinan dapat menderita gangguan jiwa seperti ayahnya sementara Roman adalah remaja lelaki yang dihantui perasaan bersalah karena menjadi penyebab kematian adik perempuannya. Baik Ayzel maupun Roman menyimpan lubang hitam di hati masing-masing yang tidak lagi bisa disembuhkan.

17 April merupakan tanggal yang disepakati mereka berdua untuk melakukan bunuh diri bersama dengan cara terjun dari bukit besar di atas Sungai Ohio. Waktu yang tersisa bagi mereka hanyalah satu bulan namun selama masa itu, Ayzel dan Roman menyelami karakter serta latar belakang satu sama lain, membuka tabir dan memunculkan pilihan antara terus bertahan hidup atau tetap mengakhirinya.

Cerita Sederhana

Saya jarang membaca buku yang memiliki tema suicidal behavior dan baru-baru ini tertarik berkat serial 13 Reasons Why yang sempat saya kagumi namun setelah saya amati kembali ternyata terlalu banyak hal mengada-ngada, dilebih-lebihkan serta tidak konsisten ketika berbicara mengenai pemikiran bunuh diri dari sosok si eksekutor, Hannah Baker.

Berbeda dengan 13 Reasons Why, novel My Heart and Other Black Heart lebih mengedepankan karakter yang membumi dengan masalah nyata yang bisa dialami siapa saja dan kapan saja. Karakter Ayzel maupun Roman sama-sama berjuang untuk hidup dengan versinya masing-masing. Walaupun memiliki akhir yang terkesan menyederhanakan proses bantuan kepada si pelaku bunuh diri, novel ini menuturkan bahwa tindakan bunuh diri dapat terjadi kepada siapa saja dan hal terkecil yang dapat kita lakukan adalah mendengarkan dan memahami tanpa perlu memberikan segudang nasihat yang tidak berarti.

Keunggulan besar novel ini terletak pada cara Jasmine Warga bercerita dengan kata-kata yang sangat sederhana namun seakan menyihir saya sebagai pembaca. My Heart and Other Black Heart begitu mudah dicerna walau jelas tersirat begitu banyak problematika di dunia namun tidak boleh sekalipun kita menyerah karenanya.


Judul: My Heart and Other Black Heart | Pengarang: Jasmine Warga | Penerbit: HarperCollins/Balzer+Bray | Jumlah Halaman: 302 (Kindle Edition) | Bahasa: Inggris