Press "Enter" to skip to content

Category: BLOG

Film HEADSHOT (2016) – Review

Tujuh tahun telah berlalu sejak pertama kali Rumah Dara (2009) ditayangkan di layar sinema Indonesia, semenjak itu pula nama ‘The MO Brothers’ (sebutan duo sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel) semakin dikenal khalayak luas. Nuansa film mereka yang penuh darah dan ‘sakit jiwa’ adalah ciri khasnya. Maka, Headshot (2016) sudah jelas ditunggu-tunggu bagi mereka para penggemar yang kangen dengan ‘mandi darah’ dan jelas kerinduan itu telah dibayar tuntas. Dari awal hingga akhir baku hantam seakan tidak berhenti terus menerus, penonton tidak sekalipun dibiarkan bernapas sama halnya dengan Don’t Breath (2016) atau You’re Next (2013).

Tetapi anehnya tidak terlalu banyak yang dapat dibicarakan dari Headshot (2016), selain kebrutalan bertubi-tubi ibarat roller coaster yang membuat jantung berdetak tidak karuan. Ketika keluar dari bioskop, detakan itu malah terlupakan hingga tidak tersisa sama sekali di permukaan. Lantas satu pertanyaan tersisa, “ada apa dengan ‘The MO Brothers’?”.

Dara (Shareefa Daanish)- Rumah Dara (2009)
Rumah Dara (2009)

Sepak terjang ‘The MO Brothers’ paling fenonemal dimulai dari Rumah Dara (2009), sebuah film bergenre slasher yang saat itu belum dilirik oleh pasar perfilman Indonesia namun mampu menembus dan mencetak banyak penonton serta menorehkan berbagai adegan yang tidak akan dapat dilupakan. Shareefa Daanish, dengan gilanya dapat memerankan tokoh Ibu Dara, seorang pembunuh berdarah dingin dan kanibal. Hal-hal berkesan, seperti tusuk konde sebagai alat membunuh hingga pekikan jeritan “Enak Kan ?!” menjadi momen terngehe. Mau dikatakan menyerupai The Texas Chainsaw Massacre (1974) pun tidak tega karena ini film level B yang bisa jadi cult. Satu keluarga terjebak di rumah yang berisikan pembunuh berdarah dingin sudah menjadi premis untuk berpuluh-puluh film bergenre serupa. Hematnya, ‘The MO Brothers’ berhasil menjadikan Rumah Dara tidak ‘ke-hollywood-an’ namun masih menyentuh suasana lokal dengan gaya belanda dan pemujaan setannya. Jelas, akhirnya saya menanti film mereka selanjutnya.

VHS 2 - Segment 'Save Haven'
VHS 2 – Segment ‘Safe Haven’

Tapi tampaknya saya harus bersabar karena untuk melihat kolaborasi mereka berdua tidak akan dalam waktu dekat. Butuh waktu lima tahun untuk menonton kembali karya mereka tetapi setidaknya VHS 2 (2013) berhasil menyembuhkan rasa rindu saya dengan terlibatnya Timo Tjahjanto dan Gareth Evans dalam segmen ‘Safe Haven’, menceritakan dokumenter tentang kelompok aliran sesat yang terrnyata hendak memanggil iblis ke bumi. Adegan ngehe kembali muncul, dimulai dari bunuh diri massal dengan menembakkan diri secara berbarengan hingga Epy Kusnandar yang meledakkan dirinya hingga tercerai berai. Banjir darah dimana-mana rasa Rumah Dara (2009) kental begitu ada. Perpaduan Timo dengan Gareth ternyata bekerja sangat efektif.

Killers (2014)
Killers (2014)

Maka, kemunculan Killers (2014) jelas ditunggu-tunggu. ‘The MO Brothers’ kembali muncul dengan membawa embel-embel kisah psikologi thriller. Bayangkan sebuah drama thriller yang pasti akan berdarah-darah dan ‘sakit’nya pasti keterlaluan walaupun membayangkan akan menyerupai Oldboy (2003) jelas masih tidak mungkin setidaknya banyak harapan untuk film yang berkolaborasi dengan negara Jepang ini. Menceritakan Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura) dan Bayu Aditya (Oka Antara), terpisah jarak ribuan kilometer namun terhubung oleh minat yang sama, membunuh. Namun menariknya, film kedua kolaborasi antara Timo dan Kimo sama sekali tidak memiliki tendensi mengikuti jejak dari pendahulunya, yaitu Rumah Dara. Ceritanya jauh berbeda, tidak lagi sekedar adu bacok melainkan adu otak. “The MO Brothers” tampaknya berusaha mati-matian membuktikan bahwa mereka dapat membuat film berkelas. Dan mereka berhasil. Walau masih bermain di jalur aman, Killers tetap dapat dinikmati iramanya dengan banyak adegan super ngehe yang gila juga – walau terkadang mengingatkan saya akan referensi beberapa film serupa.

screen-shot-2016-12-10-at-10-04-23-pm
Headshot (2016)

Dua tahun kemudian, Headshot (2016) muncul dengan lagi-lagi seperti film pendahulu ‘The MO Brothers’ berhasil membawa penghargaan dan apresiasi di kancah perfilman internasional. Bercerita mengenai Ailin (Chelsea Olivia), dokter magang yang merawat Ishmael (Iko Uwais), pria misterius yang amnesia dan ternyata memiliki ikatan dengan Mr. Lee (Sunny Pang), gembong kriminal paling ditakuti yang menculik anak-anak kecil lalu dicuci otaknya dan dijadikan pembunuh berdarah dingin.

Selepas menonton Headshot saya merasakan bahwa film ini tampak berada di bayang-bayang The Raid 2 (2014), secara alur cerita dan karakter. Walau ‘The MO Brother’ telah melakukan hal paling hebat, yaitu melepas karakter Rama pada Iko Uwais dengan menjadikannya sosok berbeda melalui tokoh Ishmael/Abdi. Beberapa dialog terkesan tidak natural dan kedekatan antara Ailin dan Ishmael juga kurang terbangun. Motifnya tidak jelas dan beberapa babak berasa tidak beraturan.

Durasi nyaris dua jam memang tidak terasa sama sekali mengingat adegan baku hantam yang berdarah tidak berhenti-henti disajikan. Sepanjang menonton dipastikan kata hardikan selalu keluar karena temponya yang cepat sekali dan muncratan darah dimana-mana. Sayangnya, ‘The MO Brother’ kurang bisa memaksimalkan frekuensi drama antara Ailin dan Ishmael juga hubungan Ishmael dengan Mr. Lee dan Rika (Julie Estelle), Tejo (David Hendrawan), Tano (Zack Lee), serta Besi (Very Tri Yulisman). Semuanya jadi serba nanggung, ‘The MO Brother’ tampak tergesa-gesa dan seolah-olah hanya ingin mempertunjukkan adegan silat dan baku tembak saja dengan melupakan memanusiakan para karakternya. Akhirnya, saya selaku penonton tidak memiliki kedekatan dengan para karakter juga ceritanya.

Padahal Headshot memiliki potensi besar sebagai film dwilogi atau trilogi macam Kill Bill. Karakter Ailin yang berlatar belakang dokter tampak kurang dikembangkan, saya agak berharap di penghujung film, dia menjadi sosok bad-ass yang dapat membunuh mengingat kemampuannya sebagai dokter. Banyak hal yang sepertinya dapat digali lebih dalam oleh ‘The MO Brothers’. Pastinya yang jelas saya rindu dengan karakter-karakter ngehe yang tidak dapat dilupakan dan saat ini hanya dapat ditemukan dalam sosok ‘Ibu Dara’. Sebagai film akhir tahun, ‘The MO Brothers’ berhasil melakukan hal yang gila dengan menutup tahun ini dengan banjir darah bertabur aksi yang mencenangkan.


Headshot (2016) |  Durasi : 117 menit | Sutradara : Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel | Negara : Indonesia | Pemeran : Iko Uwais, Chelasea Islan, Sunny Pang, Julie Estelle, David Herndrawan, Zack Lee, Very Tri Yulisman

Jurnal #7 : Menyoal Karir, Masa Depan dan Gelak Tawa Para Pecundang

Selepas menanggalkan status ‘Mahasiswa’, saya sekiranya mempertanyakaan langkah apa yang selanjutnya akan saya ambil : ‘Sebagai apa?’ dan ‘Untuk apa?’. Mempersoalkan masa depan selalu membikin kepala saya sakit hingga akhirnya pilihan berlibur, menghabiskan waktu, dan bersantai menjadi yang utama hingga terlena, terbuai oleh hidup yang tidak mempunyai kegiatan. Toh, ternyata tidak melakukan apapun selain tidur, cukup menyenangkan pula!.

Novel Kumpulan Cerita Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi – Review

Judul : Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

Pengarang : Eka Kurniawan

Editor :  Ika Yuliana Kurniasih

Tebal Halaman : 170

Penerbit PT Bentang Pustaka

Cetakan Ketiga, April 2016

ISBN : 978-602-291-072-5

Novel Fiksi Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas – Review

Berahi manusia kerap kali dimaknai Eka Kurniawan sebagai perangai nafsu yang tidak hanya dalam konteks erotisme namun realisme juga, terbukti melalui dua bukunya, Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004). Setelah sepuluh tahun absen dalam dunia penulisan kini ia kembali menceritakan bagaimana aktivitas seksual sebagai perwujudan dari kemarukan manusia dalam buku terbarunya Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014).

Film Don’t Breath (2016) – Review

Fade Alvarez sekali lagi membuktikkan bahwa ia seorang masterpiece untuk film bergenre thriller, setelah sebelumnya berkreasi dengan remake Evil Dead (2013) yang dipenuhi galonan darah. Kali ini, Alvarez membuat alterego dari Daredevil, sebagai wujud kakek tua renta veteran militer yang rumahnya dijadikan target perampokan oleh tiga orang ‘anak baru gede’.

Cerita bermula tatkala Money (Daniel Zovatto) menemukan informasi mengenai alterego Daredevil (Stephen Lang) – The Blind Man yang memiliki sejumlah uang jutaan dolar di dalam rumah tua nya. Maka, Rocky (Jane Levy) dan Alex (Dylan Minnette) turut serta bergabung dalam aksi perampokan yang nantinya akan dipenuhi aksi mematikan dan permainan petak umpet sepanjang sembilan puluh menit.

Setting : Berbicara mengenai setting tempat di rumah tua, nampaknya Alvarez belum mau move on dari Evil Dead dan senang mengeksplorasi bagaimana rumah dijadikan sebagai tempat kejadian perkara. Dengan memanfaatkan ruang sempit dan satu lokasi, tentunya sesak napas dan kejar-kejaran semakin bikin jantung memburu, sepanjang film rasanya memang sulit untuk bernapas selama menonton Don’t Breath.

Karakter : Ini kisah dua anak yang tidak bahagia dengan kehidupannya ditambah satu anak yang masih pubertas dan ingin ikut nakal. Mengenai pendalaman karakter, aksi segerombolan pencuri amatir berhasil dimainkan dengan baik oleh Zovatto, Levy dan Minnette. Walau dirasanya telalu cepat mengakhiri karakter Zovatto, dan sudah dipertunjukkan terlebih dahulu pula di trailer-nya. Karena berhubung sepanjang film para karakter ini hanya bermain petak umpet, jadi tidak terlalu masalah dengan karakter yang tipis dan tampak ‘just regular people trapped in a fucked up stupid situation” walau tetap yang mencuri perharian adalah Levy dan Lang sendiri. Lang sebagai pria buta dengan suara nge-bass membikin semakin getir dan panas saja menonton film ini.

Story : Yang paling membuat kejutan adalah twist-nya yang membuat darah semakin mendidih. Ketika sepanjang lima puluh menit awal Rocky dan Alex berusaha bermain petak umpet dengan si pria buta, ternyata diketahui si buta ini juga kriminal yang menyekap seorang wanita (pelaku penyebab tewasnya anak si buta) ; horor semakin menjadi-jadi ketika adegan memasuki mode night vision – terlalu banyak adegan yang membikin sesak napas, brutal, dan menegangkan.

Alvarez tahu betul cara mempermainkan horor thrill. Sensasi klaustrofobia dan rasa frustasi yang mencekam berhasil masuk ke dalam setiap frame adegan di Don’t Breath. Salah satu film yang bisa dijadikan rujukan adalah You’re Next, dengan setting yang sama, cerita yang sama, tetapi lebih brutal, sadis dan mengerikan. Setidaknya tahun ini, Don’t Breath masuk ke dalam jajaran list film memorable.

Don’t Breath (2016) |  Durasi : 88 menit | Sutradara : Fade ALvarez | Negara :USA | Pemeran : Stephen Lang, Jade Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto

JURNAL #6 : Catatan Selepas Menghadiri Gathering dari MatahariMallCom

seminarmataharimall

Bekasi (02/09/2016) – Siapa sangka ditanggal terakhir pada bulan Agustus kemarin saya mendapatkan email dari “Top Blog Indonesia” mengenai seputar pelaksanaan roadshow dan edukasi dari MatahariMallCom yang akan membahas tentang affiliate program serta bagaimana para blogger dapat menghasilkan uang dari websitenya. Acara ini berupa Talkshow dan Gathering “Smart Income Through Affiliate Marketing” pada Jumat, 2 September 2016 bertempatkan di  Ballroom Hotel Imperial Aston Bekasi, Jalan KH Noer Ali no 177, Bekasi Barat.

JURNAL #5 : Sepenggal Pemikiran di Awal September

Bekasi (01/09/2016) – Ketika matahari masih enggan untuk berbagai hangat, saya mendadak menyadari telah begitu lama atau lebih tepatnya urung untuk menulis hal-hal berbau personal, seperti curahan hati atau kegelisahan-kegelisahan di website yang baru saja lahir ini. Tapi bukan di website ini saja gejala keurungan itu ada, media sebelumnya pun hanya berkutat seputar informasi resensi film. Beberapa menit kemudian saya menyadari bahwa menyampaikan gagasan dan keluhan itu penting : bukan agar dibaca banyak orang tetapi menjadi rekam jejak saya selaku penulis mengenai seberapa dangkal pemikiran saja di kemudian hari.

Film Ghibli dan Lima Karakter Perempuan Terfavorit

Apa hal yang paling sering muncul dalam setiap film Ghibli? Menurut saya pribadi, kebanyakan semuanya sarat akan isu terutama masalah lingkungan dan kemanusiaan. Mereka menjadi fenomena yang terus dibicarakan karena permasalahan yang tidak kunjung selesai.

Tentu saja barisan film yang memvisualisasikan seputar fenomena ini teramat banyak, tetapi Ghibli dengan animasinya memberikan sebuah nuansa tersendiri: cerita anak-anak yang penuh warna, ceria namun diam-diam memberikan pesan yang gelap.

JURNAL #4 : Catatan Selepas Menghadiri Limited Screening Spirited Away

Jakarta (20/08/2016) – Sebelumnya, saya tidak pernah menyangka akan diberikan kesempatan untuk hadir dalam Limited Screening Spirited Away dan bertemu dengan sang legenda, Toshio Suzuki  hanya dengan berbekal mengisi sebuah survey dari Kaninga Pictures. Kenyataanya, survey tersebut diikuti oleh 3.564 orang yang berarti peruntungan untuk menjadi salah satu dari 150 orang yang beruntung untuk menghadiri penayangan terbatas itu sekitar 4.2%. Maka, mau tidak mau keberuntungan adalah salah satu faktor utama untuk mendapatkan kesempatan itu dan saya adalah salah satu dari 150 orang beruntung lainnya.

Film Restorasi Tiga Dara (1987) – Review

Setelah Lewat Djam Malam, ada Tiga Dara yang berhasil direstorasi dan kembali dipertontonkan kepada publik. Keduanya adalah film Usmar Ismail, meski berada di tangan yang sama namun jauh dari kata serupa. Usmar Ismail sendiri menonjol sebagai pelopor film Indonesia dengan film pertamanya Darah dan Doa – yang diakui sebagai film pertama, diproduksi oleh Perusahaan Film Indonesia (Perfini) yang juga memproduksi dua film yang kini telah direstorasi dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Menariknya, estetika dari Tiga Dara sangatlah berbeda dari dua film Usmar Ismail sebelumnya, disebabkan Perfini mengalami krisis keuangan sehingga mau tidak mau Usmar Ismail harus kompromi membuat film komersil yang jauh dari visinya dalam memproduksi film.