Press "Enter" to skip to content

Category: BLOG

Novel Fiksi Cantik Itu Luka – Review

700-cil2015

Cantik itu Luka membuktikkan eksistensi karya sastra Indonesia yang berkelas dunia. Telah diterjemahkan lebih dari 20 bahasa, novel pertama Eka Kurniawan ini jelas masuk dalam daftar buku wajib dibaca.

Mungkin benar apa adanya apabila terlintas sosok ‘Pramoedya Ananta Toer’ ketika membaca sederatan tulisan milik Eka Kurniawan terlebih lagi tulisan pertamanya adalah Sastra Realisme Sosial pada macam karya milik Pramoedya, sehingga lambat laun tulisan-tulisannya mungkin membawa rasa tersendiri bagi mereka yang telah akrab dengan tulisan Pram.

Begitu pula Cantik itu Luka yang pertama kali terbit tahun 2002 dan digadang-gadang sebagai salah satu tulisan otentik paling mengangumkan yang pernah ada dengan memaparkan serangkaian sejarah Indonesia secara detail dalam bentuk kisah fantasi yang surealis dengan mencampurkan filsafat dan mitos serta keagamaan berbenturan dengan penyimpangan seksualitas.

Cerita dibuka dengan pemaparan yang surealis :

“Ketika pada suatu sore di akhir pekan bulan maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematiannya”.

Bergidik ngeri namun menimbulkan sejumlah deretan pertanyaan terutama mengenai waktu latar belakang kejadian yang sengaja tidak disajikan oleh sang penulis.

Lambat laun, pelan dan pasti sesuai dengan sinopsisnya terceritakanlah mengenai bagaimana kematian sosok Dewi Ayu, seorang pelacur yang terkenal akan kecantikannya di seluruh pelosok Halimunda. Dia mati setelah beberapa hari melahirkan anak keempatnya yang tidak diketahui siapa gerangan bapaknya. Anak tersebut lahir begitu buruk rupanya tidak seperti dengan ketiga anak gadis lainnya yang kesemuanya cantik. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberikan nama Si Cantik kepada anak yang baru dilahirkannya dan dia mati setelahnya atas dasar kehendaknya.

Hingga suatu masa dia hidup kembali, bertemulah ia dengan Si Cantik yang kini telah menjadi perempuan dewasa dengan sosok sesuai dengan doa-doanya : Anak bayi yang hidungnya menyerupai colokan listrik, telinganya sebagai telinga panci, mulutnya sebagai mulut celengan dan rambutnya menyerupai sapu dengan kulit serupa komodo dan kaki serupa kura-kura. Maka, berbanggalah dia atas itu semua.

“Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin.” – Dewi Ayu. (hal. 4)

Kenyataannya mau cantik atau tidak, kutukan tersebut selalu mengitari kehidupan Dewi Ayu, ketika Si Cantik ternyata hamil secara misterius tanpa gerangan mengetahui ayahnya – sama seperti yang terjadi dengan ibunya sendiri sepanjang hayat.

Maka, ketimbang melanjutkan perjalanan hidup Si Cantik, Eka selaku penulis memundurkan waktu pada masa sebelum Dewi Ayu menjadi sesosok pelacur  – ketika dia hanyalah sesosok gadis Belanda yang jatuh cinta pada seorang pria tua bernama Ma Gedik yang belum pernah ditatapnya dan dipaksa kawin dengannya akibat terobsesi dengan kisah cinta pria itu dengan Ma Iyang, yang menghilang ditelan kabut ketika lari bersama Ma Gedik diatas gunung demi cinta mereka berdua. Walaupun akhirnya, di hari selepas pernikahan mereka, Ma Gedik memutuskan kabur menjerit-jerit bagai tengah melihat setan dan terjun dari puncak bukit, terhempas ke bebatuan dan wajah-nya babak belur seperti daging cincang.

Konstruksi sejarah yang dinamis

Setelah itu cerita berjalan bagaikan mozaik yang terkonstruksi dengan dinamis. Pelan-pelan para pembaca akan dibawa kembali kepada masa kekuasaan Jepang di tanah ibu pertiwi.

Dewi Ayu yang merupakan produk asli Belanda terpaksa harus mendiami kamp selama dua tahun, dipaksa bekerja dan hidup dalam nelangsa kesusahaan tiada habis bahkan merelakan keperawanannya kepada petugas sipir demi mendapatkan dokter yang dapat mengobati ibu temannya (Ola) yang tengah sakit walau ironinya, ibu itu telah mati sebelum sang dokter sempat merawatnya.

Nasib kemudian membawanya pada rumah Mama Kalong dengan kehidupan yang lebih layak, akomodasi dan fasilitas manusiawi serta asupan  makanan sehat dan bergizi. Tidak hanya dia sendirian saja yang menikmati itu melainkan beberapa teman seumurannya, termasuk Ola. Dan itu semua dibayar dengan harga mahal, yaitu tubuh mereka atau dengan kata lain disitulah pertama kali Dewi Ayu menjadi seorang pelacur.

Inilah kali pertama pembaca akan menyadari tempo waktu yang ada pada Cantik itu Luka melalui penggambaran tokoh Dewi Ayu sebagai budak seks atau lebih dikenal Jugun Ianfu pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia di tengah berkecamuknya perang Asia-Pasifik atau perang dunia kedua, tahun 1943-1945.

Jugun Ianfu berasal dari kata Jepang yang berarti ‘perempuan penghibur’  (comfort woman) tentara kekaisaran Jepang dimasa perang Asia Pasifik. Pada praktiknya, wanita-wanita ini bukanlah sekedar penghibur semata melainkan budak seksual yang brutal, terancana, dan terorganisir secara rapih.

Sama halnya dengan Dewi Ayu, pada kesejarahannya para Jugun Ianfu ini dijanjikan banyak hal seperti sekolah gratis, pekerjaan rumah tangga, pelayan atau bisa pula yang tercantum pada Cantik itu Luka, yaitu dibayang-bayangi pekerjaan sebagai sukarelawan Palang Merah Indonesia (PMI) namun pahitnya dijadikan sebagai seorang pelacur.

Mereka kemudian tinggal di rumah bordil a’la jepang yang disebut Ian-jo, biasanya terdapat dibekas asrama peninggalan Belanda, markas militer Jepang dan rumah-rumah penduduk yang sengaja dikosongkan. Tempat-tempat itu biasanya dijaga ketat oleh tentara Jepang.

Malam itu Dewi Ayu mendengar dari kamar-kamar mereka, jeritan-jeritan histeris, perkelahian yang masih berkelanjutan, beberapa bahkan berhasil melarikan diri dari kamar dalam keadaan telanjang sebelum tentara berhasil menangkap dan melemparkannya kembali ke atas tempat tidur. Mereka melolong selama persetubuhan yang mengerikan itu ….  (hal. 86)

Kebanyakan kaum  Jugun Ianfu  dapat digolongkan sebagai perempuan yang berasal dari keluarga baik-baik. Di antaranya masih ada yang gadis, bahkan di bawah umur. Ancaman pihak militer Jepang membuat mereka takut menolak. Praktik budak seks ini diadakan sebagai wujud perayaan atau pesta kepada tentara Jepang agar dapat menghilangkan kegilaan mereka terhadap perang. karenanya, kerap kali sering terjadi pemerkosaan massal ataupun ‘Sadomasokhisme’ . Tidak mengagetkan apabila banyak perempuan yang ditemukan mati  telanjang seusai melayani hasrat berahi para tentara.

II

Rekam sejarah lain yang dapat ditemukan dan meruntun sejarah dalam Cantik itu Luka adalah perseteruan antara Sang Shudanco dan Kamerad Kliwon hingga berujung kepada Maman Gendeng. Masing-masing tiga pria tersebut mewakili perbedaan zaman namun menyambung ibarat benang merah yang tidak dapat terputuskan.

Dewi Ayu akhirnya melahirkan tiga anak perempuan yang sangat cantik di Halimunda, bernamakan Alamanda, Adinda dan Maya Dewi. Mereka bertiga masing-masing mewakili sifat binal, keras kepala dan ketegaran sosok ibunya.

Karena saat ini kita sedang membicarakan mengenai konstruksi sejarah dalam Cantik itu Luka maka semua dimulai dengan berkembangnya kelompok golongan kiri yang kala itu dikenal dengan sebutan Komunisme – para simpatisan Marxist yang setia hingga akhir hayat.

Adalah Kamerad Kliwon yang merupakan simbol dari Kekuasaan Komunis di wilayah Halimunda yang berseteru dengan Sang Shodanco, perwakilan dari lambang kekuatan tentara poros kanan atau veteran pejuang yang haus akan pengakuan.

Dikisahkan dalam Cantik itu Luka, Komunisme muncul sejak masa perang dan kependudukan Belanda namun akhirnya kembali di panggung politik setelah Jepang menyerah pada tahun 1945. Disela-sela pertumbuhannya terdapat pergerakan buruh nelayan yang merasa bahwa para penguasa di Halimunda (dalam hal ini Shodanco) telah rakus dengan menggunakan kapal-kapal besar untuk mengeruk hasil kekayaan laut sehingga para nelayan hidup penuh kekurangan. Disinilah peran Kamerad Kliwon dalam membangun perspektif mengenai komunisme, yang serba adil dan sama rata. Sehingga lambat-laun banyak masyarakat, terutama buruh yang mengikuti jalan sang Kamerad untuk menjadi seorang komunis.

Hingga tentu seperti yang kita ketahui dampak komunisme menyebar di seluruh pelosok Indonesia maka dengan kekuasaan otoriter tentara yang berada ditangan Soeharto kala itu, media tidak lagi memberitakan dengan dasar sebagai watchdog tetapi sebagai alat propaganda untuk menanam benih kebencian kepada komunis bahkan terjadi pelarangan penerbitan bagi media-media yang tidak mematuhi peraturan negara.

Semua laporan tampaknya begitu simpang-siur, dan satu-satunya informasi yang bisa didapat hanyalah radio yang sama sekali tak bisa dipercaya, sebab sejak pagi mereka melaporkan hal yang sama seolah itu telah direkam dan kasetnya diputar berulang-ulang: Telah terjadi kudeta yang gagal dari Partai Komunis karena tentara segera menyelamatkan negara dan mengambil-alih-kekuasaan untuk sementara. Laporan baru datang: Presiden berada dalam tahanan rumah. Semuanya serba membingungkan. (hal.302)

Terkenal-lah kemudian seperti yang telah kita ketahui nyaris setengah abad mengenai peristiwa berdarah Gerakan 30 September, sebagai ‘kudeta komunis’, membunuh jenderal golongan kanan TNI dan mayatnya dibuang di sumur. Hingga sampai saat ini spekulasi kebenaran mengenai keterlibatan partai komunis untuk pembunuhan para jenderal tidak menyakinkan atau bahwa Soeharto mengorganisir peristiwa, secara keseluruhan atau sebagian dan mengkambinghitamkan kepada komunis. Amerika Serikat sebagai salah satu negara penentang paham komunis pun ikut ambil bagian dengan tersiar kabar CIA adalah dalang dibalik semua perseteruan tersebut.

Langkah selanjutnya jelas adalah melakukan pembantaian massal terhadap para komunis di seluruh Indonesia. Tidak hanya sang komunis sendiri yang dieksekusi bahkan para keluarga, kerabat atau temannya sekalian ikut mati di gorong-gorong karena dituduh sebagai simpatisan dan pendukung komunis dan itu semua dilakukan tanpa dasar dalil yang kuat.

Teror berdarah menyebar dan setelahnya propaganda mengerikan ditanamkan sedari dini kepada anak-anak mengenai kekejaman orang komunis yang tidak diketahui kebenaran tunggalnya pada saat itu.

Melalui Cantik itu Luka, sketsa pembunuhan para anggota komunis di Halimunda disajikan secara lantang, tegas dan frontal. Semua itu dimulai dari secara mendadak dengan ketidakdatangan koran pada pagi hari di halaman rumah partai PKI Halimunda, dan Kamerad Kliwon tetap menunggu walau kabar burung mengatakan para dewan utama Partai Komunis telah ditangkap dan ditahan karena dituduh melakukan kudeta.

Mereka dibunuh, baik oleh tentara reguler dan terutama oleh orang-orang anti-komunis yang bersenjata golok dan pedang dan arit dan apapun yang bisa membunuh, di tepi jalan dan membiarkan mayat mereka di sana sampai membusuk. Kota Halimunda seketika dipenuhi mayat-mayat seperti itu, tergeletak di selokan dan kebanyakan di pinggiran kota, di kaki bukit dan di tepi sungai, di tengah jembatan dan di semak belukar. Mereka kebanyakan terbunuh ketika mencoba melarikan diri setelah menyadari Partai Komunis hanya meninggalkan sisa-sisa reputasinya yang telah usang. (Hal. 312-313)

Dalam pembersihan anti-komunis, diperkirakan 500.000 komunis dicurigai telah dibunuh, dan PKI secara efektif dihilangkan. Dan paham-paham komunis yang serba Anti Pancasila dan Anti Agama tersebar seantero nusantara padahal menjadi kiri adalah berkomitmen terhadap pembebasan, perubahan, keadilan, dan kesetaraan.

Namun Eka nyatanya memiliki sense of humor yang satir juga, dengan menampilkan wujud propagandanya (pasca pembantaian) sebagai hantu-hantu komunis yang kembali bangkit dan menghantui para tentara dan seluruh warga di pelosok Halimunda.

Serangan hantu-hantu itu, hantu-hantu orang komunis, paling dahsyat dirasakan oleh Sang Shodancho. Selama bertahun-tahun sejak peristiwa pembantaian tersebut, ia menderia insomnia yang parah, dan kalau-pun tidur ia menderita tidur berjalan […] semua orang di kota itu merasakan hantu-hantu tersebut, mengenali dan takut oleh mereka […] (hal.354)

III

Kisah lantas segera bergulir menuju perseteruan antara polisi dengan para preman yang menimbulkan kekerasan dan keresahan di Halimunda. Maman Gendeng sebagai pemimpin para kelompok preman merupakan ikonik ‘Gali’ (Gabungan Anak Liar) yang dimasa kejayaannya harus dihentikan dengan penembakan misterius (petrus) yang ramai pada tahun 1980-an karena meresahkan masyarakat terutama di daerah Jakarta dan Jawa Tengah.

Pada zaman petrus, dalam sehari, di berbagai kota hampir dipastikan ada  saja mayat-mayat dalam keadaan tangan terikat atau dimasukkan dalam karung yang diletakkan begitu saja, di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai dan kebun. Mayat itu selalu identik dengan tato di dada dan kepala berlubang ditembus peluru.

Operasi itu dilakukan pada malam hari, untuk tidak menimbulkan kepanikan massal, penduduk kota. Para prajurit menyebar dalam pakaian sipil bersenjata, juga para penembak gelap, menuju kantong-kantong para begundal […] Pembantaian berlangsung di malam kedua, dan malam ketiga, serta malam keempat, kelima, dan keenam serta ketujuh. Operasi itu berlangsung sangat cepat, nyaris menghabiskan seluruh persediaan begundal di Halimunda […] (hal. 445-446)

Pada tahun 1983 tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Pada Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di an­­taranya 15 orang tewas ditembak. Ta­hun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di an­taranya tewas ditembak. Komnas HAM mencatat terdapat sekitar 2.000 korban selama petrus bergentayangan. Hingga kini siapa para petrus itu masih menjadi misteri.

Mencatat Perilaku Seksual

Buku ini memang padat tetapi benar tersaji dengan elok karena tiada kecacatan pada pangkal ujung ceritanya. Selain mengambil ide mengenai sejarah di Indonesia, salah satu unsur yang menarik dalam Cantik itu Luka adalah bagaimana perilaku penyimpangan seksual disajikan dengan detal – teramat detail yang bagi mereka belum akrab dengan bacaan seperti ini mungkin bisa bergumam : Ini buku binal banget sih!. Tapi inilah salah satu daya tariknya dengan dapat menembus keterbatasan antara norma, budaya dan agama yang seringkali dilihat oleh masyarakat namun tutup mata, telinga dan hati tetapi bergumam hingga esok hari.

Pertama, incest. Dewi Ayu adalah anak dari pasangan Aneu Stammler dan Henri Stammler. Dimana mereka satu ayah, yaitu Ted Stammler. Mereka berdua hidup serumah sejak masih orok, dan keduanya jatuh cinta satu sama lain lalu dipergoki tengah bercinta dan akhirnya kabur dan meninggalkan Dewi Ayu yang masih merah berbalut selimut di dalam keranjang di depan pintu. Berpuluh-puluh tahun kemudian hasrat percintaan sedarah ini berimbas kepada cucu Dewi Ayu, yaitu Kristan (anak dari Kamerad Kliwon dan Adinda) memperkosa sepupunya sendiri, Rengganis (anak dari Maman Gendeng dan Maya Dewi) dan mencintai sepupu lainnya, Nurul Aini (anak dari Sang Shudando dan Alamanda) serta meniduri bibinya sendiri, Si Cantik.

Hubungan sedarah ini sudah tidak asing sebenarnya, folklor Indonesia mencatat terdapat beberapa cerita mengenai hubungan incest sejak zaman dahulu kala, seperti Sangkuriang yang jatuh cinta pada ibunya, Dayang Sumbi maupun kisah antara Prabu Watugunung yang menikahi delapan ratus tiga orang wanita sekaligus dengan dua diantaranya adalah, ibu kandungnya, Dewi Sinta dan anak kandungnya, Dewi Tumpak

Kedua, Bestiality. Kisah folklor di Halimunda mengenai Rengganis Sang Putri yang mengawini seeekor anjing. Ini kemudian bergulir ketika Rengganis, anak Maman Gendeng dan Maya Dewi mengaku diperkosa oleh anjing di toilet sekolah dan hamil karenanya. Ini juga terpaparkan dari bagaimana perilaku Kristan yang bertingkah menyerupai anjing dikarenakan cemburu dan ingin menarik hati Nurul Aini yang menyukai anjing.

Tapi ia kemudian sungguh-sungguh sering memamerkan dirinya sendiri sebagai anjing. Bukan karena gila, tapi sebagian besar sebagai upaya untuk menarik perhatian Ai. Jika mereka tengah berjalan bertiga, mungkin pulang sekolah atau sekedar jalan-jalan sore, dan ia melihat seekor anjing di kejahuan, Krisan akan menggonggong. “Guk, guk, guk!” teriaknya. Atau kadangkala ia jadi anjing kecil yang kesakitan, “Kaing, kaing,”, dan lain kali jadi ajak yang tengah melolong di malam hari, “auuuunnnnggg…” (hal. 420-421).

Menempatkan ikonik ‘anjing’ atau ‘ajak’ dalam Cinta itu Luka terkadang mengingatkan pada sesosok Tumang, seekor anjing yang mengawini Dayang Sumbi dan akhirnya memiliki anak manusia, bernama Sangkuriang. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, “from bestiality to incest.”

Ketiga, Sadomasokhisme. Ini jelas terang-terangan terpaparkan bagaimana perilaku hasrat seksual Sang Shudanco yang memperkosa Alamanda dengan mengikatnya di atas kasur dalam keadaan telanjang bulat dan diperkosanya ia berhari-hari terus menerus tanpa ampun. Sang Sudancho adalah potret pemerkosa sadis yang bertindak berdasarkan dorongan sadistik atas korban (Alamanda) yang tidak bersedia, tetapi tidak melukai serius dan tidak membunuh.

Keempat, Pedofilia. Walau tidak secara gamblang tersajikan dalam Cantik itu Luka ini adalah kritik seputar pernikahan di bawah umur yang kerap terjadi di masyarakat rural, seorang anak gadis belum berdarah dinikahkan oleh seorang pria tua, entah itu untuk menaikkan status sosial atau terlilit hutang pihutang. Melalui penggambaran Maya Dewi yang kala itu masih berumur dua belah tahun lah tersirat dengan menikahi Maman Gendeng, preman berumur kepala tiga.

Kelima, Spectrophilia. Bagi yang awam – kecenderungan seksual ini adalah mereka yang mengaku telah berhubungan badan dengan roh atau hantu. Sebenarnya bisa ‘iya’ atau ‘tidak’ penyimpangan seksual ini terhadap di Cantik itu Luka namun tetap menarik untuk diikut ketika melihat wacana Si Cantik yang jatuh cinta dan bersetubuh dengan seorang pria yang tidak dapat dilihat oleh Rosinah maupun Dewi Ayu walau jelas – itu adalah Kristan yang dibantu oleh kekuatan magis. Bukti-buktinya memang tidak cukup untuk mencantumkan kecenderungan seksualitas ini tetapi walaupun “iya” maka yang dialami oleh Si Cantik adalah incubus – Roh atau hantu laki-laki yang mengambil tubuh laki-laki dewasa untuk becinta dengan wanita dan menghamilinya.

Sedikit perdebatan : Kritan tengah stress karena telah mencintai dan bernafsu oleh wanita cantik, sepupunya sendiri dan kemudian digagasi oleh sesosok iblis untuk menemui si Cantik yang buruk rupa. Secara tubuh mungkin memang dia tidak dirasuki tetapi secara pikiran, ia telah dimanipulasi oleh sang iblis yang menyebarkan dendam kepada keturunan Dewi Ayu.

Sebab cantik itu luka. (hal. 478)

***

Memahami Cantik itu Luka

Saya mencatat terhadap diri saya sendiri masih kurang dalam membaca serangkaian sekelibat sastra indonesia yang berhubungan dengan sejarah atau filsafah bahkan cenderung masih belum mau menyentuh karya-karya Pramoedya Ananta Toer entah kenapa. Tetapi yang terdekat adalah Seno Gumira Ajidarma, serangkaian kumpulan cerita pendek beliau telah saya baca, beberapa diantaranya adalah Penembak Misterius, Negeri Kabut (Country of Mist), Matinya Seorang Penari Telanjang, Iblis Tidak Pernah Mati, Saksi Mata, Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta serta novel lepasnya Negeri Senja dan karya non-fiksinya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Yah memang kebanyakan buku-buku lama beliau yang telah saya selesai lahap.

Sehingga, berdasakan modal referensi itu saya melihat kedekatan antara merangkai sebuah jalinan cerita asmara mengenai sejarah yang surealis. Dahulu, saya sempat bersinggungan dengan Pulang milik Leila S Chudori yang menceritakan tentang para pejuang dicap komunis dan dibuang dari negerinya sendiri. Berkisah seputar konflik pada tahun sebelum dan setelah 1965. Saya pikir itu novel yang hebat (dan sampai sekarang tetap demikian), tetapi Cantik itu Luka ternyata bukan lagi hebat tapi magis karena dapat menciptakan sebuah tali berkesinambungan puluhan tahun lamanya yang terjadi di bumi ibu pertiwi.

Mitos-mitos yang dihadirkan juga begitu dekat dengan kita, seperti perihal mengenai seekor babi yang berubah menjadi manusia yang memberikan dampak ketakutan bagi para petani. Hal kecil tersebut yang ditemukan dalam Cantik itu Luka menjadi sangat berkesan. Cerita ini bukanlah seputar sejarah belaka tetapi hasrat dendam jahat yang dipenuhi dengan kekuatan supranatural, yaitu hantu penasaran Ma Gedik yang murka oleh perilaku Dewi Ayu kepadanya dan mendendam hingga puluhan tahun lamanya.

Membaca Cantik itu Luka memang harus bersabar selain karena banyaknya muatan referensi, kisah tidak logisnya suka bikin kepala mendidih duluan – sederhananya seperti ini, kita tidak bisa memandang satu dunia dengan satu sisi pada lembaran kertas tetapi harus melihat satu sisi lainnya tetapi jelas itu adalah satu lembar kertas. Itulah yang saya pahami pada buku ini, dia menawarkan dua sisi, antara yang nyata dan tidak nyata tetapi berada di satu dimensi yang sama. Dan itu kerap kali bersinggungan dengan realitas sehari-hari kita.

Kalau dibilang sebagai kegelisahan penulis – saya lebih memahami Canti itu Luka adalah sebuah karya fantasi dengan pencapaian yang fantastis. Berlatar belakang sejarah bukan serta merta menjadi inti ceritanya kan? walau jelas bisa saja. Dibuka dengan kalimat gaib, Eka Kurniawan memang pandai betul menghisap orang yang haus dengan cerita berkelas eropa seperti ini. Buku ini sendiri telah memenangkan penghargaan bergengsi World Reader’s Award dan telah diterjemahkan dalam 28 bahasa.

Sumber Bacaan dan Rujukan

https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia_(1965-1966)

https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_di_Indonesia_1965%E2%80%931966

http://www.kompasiana.com/galihretno/jugun-ianfu-potret-kelam-wanita-indonesia_5517e08b81331101699de586

http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=2495&type=4

http://indoprogress.com/2016/05/siapakah-yang-sampah-komunisme-atau-fasisme/

https://id.wikipedia.org/wiki/Penembakan_misterius

http://historia.id/modern/petrus-kisah-gelap-orba

http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-mereka-yang-lolos-dari-petrus-di-zaman-soeharto.html

http://albumkisahwayang.blogspot.sg/2014/10/watugunung-krama.html

https://www.goodnewsfromindonesia.org/2016/03/24/berkat-cantik-itu-luka-tasikmalaya-mendunia

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/03/160321_majalah_bincang_ekakurniawan

Film Ghostbusters (2016) – Review

Ghosbusters (2016) seharusnya merupakan pesta perayaan bagi para feminist di dunia dimana Paul Feig selaku sutradara mengubah para aktor utamanya menjadi wanita dengan harapan membungkam sistem partiarki yang ada. Feig sebelumnya juga telah akrab dalam menyampaikan isu-isu demikian, seperti The Heat (2013) dan Spy (2015) yang menempatkan wanita sebagai karakter hero. Namun bertentangan dengan itu semua, Feig malah membuat film yang sangat politikal dan tampak menyerang ras tertentu dalam bentuk komedi yang menyerupai sindiran dan akhirnya dianggap serius oleh banyak kalangan bahkan semenjak penayangan trailer-nya, angka ketidaksukaan hampir mendekati satu juta dan menjadikannya sebagai trailer film paling banyak tidak disukai sepanjang sejarah Youtube berdiri.

Serial Stranger Things (2016) Season 1 – Review

Can you just imagine what will happen when Stephen Spielberg is directing Stephen King story?. I know, it’s going to be awesome and this happened with a new supernatural show on Netflix, Stranger Things which created by The Duffer Brothers. Trust me, from the moment you press play on this one, you will be hooked in and you may don’t want to leave your room.

Film Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) – Review

Ada Apa Dengan Cinta 2 kembali mengisahkan percintaan Cinta dan Rangga setelah empat belas tahun berlalu namun perasaan hati Cinta tidak berubah sedikitpun kepada Rangga yang telah meninggalkannya ke New York. Walaupun telah hadir Trian, sosok lelaki pengisi hatinya, nyatanya darah muda masih berdesir membayangkan setiap asmara puitis sejak masa putih abu-abu.

JURNAL #3 : Malam di Rantepao

KETIKA aku sedang asik bercengkrama dengan diri sendiri sembari ditemani secangkir kopi hangat tiba-tiba saja Bung Tomo dan Mas Farid menghampiriku yang sedang asik duduk sendirian di kursi rotan kayu depan kamar penginapan.

“Mau keluar mas?, cari kopi?”, ujar Bung Tomo.

JURNAL #2 : Kabut Kelam di Tana Toraja

Malam semakin larut semenjak kepergian kami dari Taman Batu Karst. Perjalanan kali ini ternyata tidak semulus tadi. Kabut mendadak menerjang disusul hujan deras dan petir menggelegar. Rute ke arah Rantepao tidak dapat dibayangkan epiknya, curam dan jurang terjal di sisi kanan dan kiri. Lalu lintas berkelok-kelok. Menanjaki pegunungan adalah medan yang harus kami hadapi.

JURNAL #1 : Mendung di Tanah Sulawesi Selatan

Atas bujuk rayu ibuku dan berdialog dengan diri sendiri maka kuputuskanlah untuk menerima tawaran berlibur di tanah kelahirannya, Sulawesi Selatan dengan mengambil perjalanan trip bersama Jalan2Terus yang tak sama sekali bisa ditebak dari open trip berakhir menjadi private trip karena kekurangan peserta. Maka, berangkatlah saya, ibu, dan adik pada tanggal 22 Maret 2016 dari Jakarta. Perencanaan trip sendiri dimulai dari tanggal 23-27 Maret 2016 namun karena tidak ingin berkejaran dengan waktu maka satu minggu penuh kami manfaatkan untuk mengeksplorasi kepulauan yang terkenal dengan Tana Toraja nya itu. Tidak ideal memang menjamah semua tempat dengan waktu sesempit itu, tetapi apabila memang ada waktu di lain hari saya meyakinkan diri untuk kembali berjumpa dengan tempat yang telah menghasilkan banyak cerita ini.

Film Deadpool (2016) – Review

Dalam dunia fiksi, konsep ‘The Hero‘ lebih dikenal dengan karakter protagonis yang mengemban kewajiban untuk menjaga perdamaian dunia dan biasanya berada dalam dua kegiatan antara keberanian dan pengorbanan. Tetapi di era postmodern ini konsep semacam itu sudah tidak berlaku bahkan cenderung menawarkan kebaruan dengan menampilkan sosok hero (pahlawan) yang memiliki cara pandang akan dunia sangat berbeda, sebut saja Maleficient atau Watchmen. Konsep hitam putih kini hampir tidak berlaku karena semua orang dapat mendefinisikan pahlawan dengan berbeda-beda maka dari itu dikenal bermacam karakter dengan julukan Anti hero – Pahlawan yang melakukan aktivitasnya dengan brutal, tanpa ampun dan kebanyakan merugikan banyak orang. Salah satunya adalah Deadpool yang merupakan alter ego dari Wade Wilson.

Cerita bermula dengan Wilson di diagnosa kanker stadium akhir yang lalu memutuskan menerima tawaran pengobatan untuk menjadikannya mutant. Ternyata hal itu berujung membawanya kepada penderitaan, dengan teknik pengobatan berbahaya agar merangsang adrenalinnya untuk membangunkan gen mutant di tubuhnya. Perseteruan antara dia dengan Ajax, ilmuan yang menangani dirinya membawa petaka. Laboratorium tempatnya dirawat terbakar dan naas dia ikut di dalamnya. Tentu saja kisah tidak berakhir sampai disini, kekuatan yang dimilikinya adalah menyembuhkan diri layaknya Wolverine maka dia kembali bangkit dari kematian dan berusaha membalas dendam kepada Ajax karena telah membuat wajahnya menjadi buruk rupa.

Pahlawan Banyak Gaya!

Deadpool / Wade Wilson adalah karakter superhero yang memiliki gangguan kejiwaan terutama dalam masalah personality disorder. Baik di film maupun komiknya karakter pahlawan satu ini sering berbicara sendiri seakan-akan menampatkan dirinya dalam panel komik dan sebagai tokoh utama di dalamnya. Motif balas dendamnya pun hanya karena wajahnya buruk rupa dan malu apabila kembali bertemu dengan tunangannya. Takut ditolak karena ia telah menjadi jelek!. Bahkan di awal film kita disuguhkan bagaimana sikap dari Wilson sendiri, yaitu memiliki rasa percaya diri berlebihan, sibuk dengan fantasi sendiri, dan berperilaku arogan juga sombong.

Maka jelas  memang Wilson memiliki Narcisstic Personality Disorder (NPD), gangguan psikologi ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi untuk kepentingan dirinya dan juga rasa ingin dikagumi. Salah satu ciri paling kentara pada penderita gangguan ini adalah terlalu mendramasitir sesuatu, sering berpura-pura dan anti-sosial.

Sepanjang film berjalan Wilson hanya berada di lingkaran orang-orang terdekatnya, yaitu Weasel (pemilik bar dan terlihat sebagai teman dekatnya), Vanessa (tunangannya), Dopinder (supir taksi), dan Al si Buta (pemilik rumah tempatnya tinggal). Dia cenderung menjauhi komunitas semacam X-Men yang mengajaknya bergabung, yaitu Colossus dan Negasonic Teenage Warhead.

Selain itu, Deadpool adalah karakter pahlawan pertama yang difilmkan dengan orientasi Panseksual. Pemilik orientasi ini memiliki ketertarikan kepada orang lain tanpa memandang identitas gender atau jenis kelamin, berarti bisa saja tertarik pada laki-laki, perempuan, transgender, atau interseks. Akan tetapi, bukan berarti mereka menyukai semua orang. Beberapa panseksual memiliki preferensi fisik. Di tahun 2013, Gerry Dugan, pengarangnya mengkonfirmasikan melalui akun twitternya bahwa karakter anti-hero ini memiliki orientasi pansexual.

He said, “I’ve been dogged with the DP sexuality questions for years. It is a bit tiring. He is NO sex and ALL sexes. He is yours and everyone else’s. So not dismissive, but rather the epitome of inclusive”. [¹]

Walaupun di film pertamanya ini belum ada keterbukaan mengenai orientasi tersebut seperti dengan komiknya tetapi semoga saja keterbukaan itu bisa diberikan melalui sekuelnya yang telah diberi lampu hijau rumah produksinya, Twentieth Century Fox Production. Menarik bila membayangkan Deadpool berkencan dengan seorang pria. Dalam komiknya sendiri, dia seringkali menggoda spiderman dan beberapa karakter superhero lainnya. Sementara filmnya masih condong menghadirkan jokes seksualitas, seperti mencium pria dan tembakan tepat di duburnya.

Sang Sutradara sendiri Tim Miller telah mengkonfirmasikan melalui wawancara [²] bahwa Deadpool versi film akan pansexual dan ‘hyper seksual’. Karater ini sendiri juga memiliki julukan ‘Merc with a mouth‘.

Film yang Nyeleneh!

Secara keseluruhan film Deadpool sangat nyeleneh apabila dilihat dari sisi konten. Rating R (Restricted) / dewasa 17+ pantas untuknya karena memiliki lawakan dewasa dengan adegan brutal bersimbah darah. Hal yang patut dipuji adalah bagaimana komedi cerdas tersampaikan dengan mengkritik universe X-Men yang semakin sulit diikuti atau Liam Neeson adalah ayah yang buruk pada Trilogi Taken. Untuk orang-orang yang memiki referensi film sedikit mungkin tidak mungkin sulit menemukan letak komedi dalam film ini selain adegan baku tembak nyeleneh tentunya.

Film serba nyeleneh ini tidak juga lepas dari kritik. Secara cerita ditemukan banyak kelemahan karena material yang ada hanya opening dari penciptaan karakter hero ini. Temponya sangat cepat hingga tidak terasa bahwa durasinya memakan 108 menit. Semua tertupi akibat komedi yang disampaikan oleh Miller. Film ini buat saya pribadi tidak menyisakan banyak bekas kecuali jokes segarnya.


Deadpool | 2016 | Durasi: 108 menit | Sutradara: Tim Miller | Produksi: 20th Century Fox | Negara: USA | Pemeran: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, T.J Miller, Ed Skrein, Karan Soni

Resensi Film Pendek “Bubar, Jalan!” : Potret Anak-anak dalam Prosesi Upacara Bendera

Berbicara mengenai peran anak-anak dalam film pendek di Indonesia, rasanya masih begitu jarang digali karena kebanyakan mereka hanya direpresentasikan sebagai tokoh pendamping yang polos atau lagi-lagi hanya bermain dengan sekedar isu moral, seperti The Flowers and the Bee oleh Monica Vanesa Tedja yang mengangkat tema seksualitas dalam kacamata anak-anak. Berbanding dengan itu tidak ada salahnya padahal menjadikan tokoh anak-anak sebagai pribadi yang jenaka tanpa selalu melulu menyandingkannya dengan berbagai fenomena sosial. Senoaji Julius, misalnya. Melalui Gazebo dan 2b, ia bercerita mengenai potret anak dalam masa sekolah yang penuh imajinasi dan komedi. Resepnya sederhana: make-it-believe kepada para penonton. Ia juga tidak lupa untuk melakukan pendalaman karakter yang harus diakui sangat luar biasa.

Hal itu pula yang setidaknya berusaha dilakukan oleh Gerry Fairus Irsan. Dalam Bubar, Jalan! ia memperkenalkan komedi visual nyaris tanpa dialog, bermain melalui teknik penyuntingan gambar serta bertaruh dengan resep make-it-believe di film pendek terbarunya itu. Uniknya, pembuat film ini meletakkan lahan sempit untuk bercerita, yaitu prosesi upacara bendera oleh murid sekolah dasar dengan berbagai macam realitas yang ditangkap oleh kamera senyata-nyatanya.

Bubar, Jalan! bercerita tentang Ahong – seorang anak laki-laki yang bertugas untuk memimpin upacara bendera. Ia merasa tertekan dengan tanggung jawab yang dipikulnya itu. Entah dari sering buang air, kaki gemetaran, dan banjir keringat selama upacara berlangsung. Sepanjang perjalanan, disuguhkan bagaimana ia harus melawan rasa paniknya, ditonton oleh ratusan murid dan guru yang tampak menjadi ketakutan tersendiri baginya.

Realita prosesi upacara bendera

Menariknya pembuat film tidak sekedar ingin mempertunjukkan bagaimana satu anak manusia harus mengendalikan rasa takutnya masih ada potret anak-anak hadir untuk sekedar memperlihatkan bagaimana kisah masa sekolah dasar mereka. Contohnya, adegan dimana dua murid bersembunyi di dalam toilet untuk melarikan diri dari prosesi upacara bendara. Hal-hal lumrah yang sering dilakukan oleh kita yang malas untuk berpanas-panasan di lapangan. Atau, bendera yang tengah dikibarkan oleh pasukan pengibar dalam posisi terbalik .

Menarik juga sebenarnya apa yang berusaha ditawarkan dalam film pendek berdurasi kurang lebih sepuluh menit ini. Sayangnya, Gerry Fairus Irsan masih kurang melakukan pengamatan dalam usaha mempertontonkan tingkah jenaka anak-anak kala berada di kegiatan pengibaran bendera itu. Eksekusinya serba nanggung baik dari segi cerita maupun komedinya. Masih banyak hal yang dapat dieksplorasi sesungguhnya pada lahan sempit itu justru itulah tantangannya. Sepuluh menit sepertinya durasi yang sangat singkat dengan cerita sepotensial bubar, Jalan!.

Kita bisa melihatnya melalui karya Senoaji Julius, Gazebo yang menggunakan lahan sempit untuk bercerita juga, yaitu perpustakaan sekolah. Atau, Lembar Jawaban Kita milik Sofyana Ali Bindiar dengan kritikannya terhadap pelaksanaan ujian nasional di Indonesia. mereka berdua berani untuk keluar jalur dari realitas yang ‘nyata’ dengan maksud bermain-main dalam penuturan di filmnya, seperti Gazebo misalnya, mempertunjukkan bagaimana para anak-anak SD berlayar di atas meja ataupun berperangan ala Amerika dengan suku Indian. Atau juga, teknik-teknik menyontek yang dilakukan oleh murid sekolah dalam Lembar Jawaban Kita yang dirasa mustahil dan tidak mungkin dilakukan. Namun, kedua pembuat film itu mampu membuat penonton percaya akan imaji yang mereka tawarkan. Dan itulah yang belum dapat ditemukan pada Bubar, Jalan!.

Pendalaman karakter pun masih belum potensial. Sebaris pertanyaan terbesar ‘kenapa pemimpin upacara bendera itu bernama Ahong?, memiliki ras tionghoa?, dengan kata lain bukan pribumi?’. Apa yang sesungguhnya berusaha diberikan oleh Gerry selaku sutradara pada filmnya. Walaupun penokohan Ahong sebagai ras tionghoa bukanlah isu sentral dalam Bubar, jalan! namun masalah terbesarnya ketika pertanyaan ‘kenapa’ itu tidak dapat terjawab melalui filmnya. Atau sebenarnya semua hanya kebetulan belaka saja atau bisa jadi merupakan curhatan personal dari si pembuat film.

Meski begitu bukan berarti Bubar, Jalan! gagal dalam segala eksekusinya. Secara keseluruhan, film pendek ini bisa menaruh hati bagi para penonton yang telah dewasa untuk sekedar bernostalgia pada masa-masa pengibaran bendera mereka apalagi bagi mereka yang mengalami nasib serupa dengan Ahong.

Gerry Fairus Irsan telah berani mengambil risiko untuk membuat film yang jarang dilirik oleh pembuat film lainnya,  Berani menempatkan tema unik untuk diceritakan adalah salah satu bekal yang berarti bagi rekam kesejarahan film pendek di Indonesia. Bubar, Jalan! akhirnya tampak sebagai sebuah film eksperimental: bermain-main dari segi cerita, teknis dan penuturannya.


Bubar, Jalan! | 2015 | Durasi: 10 menit | Sutradara: Gerry Fairus Irsan | Produksi: Rumahku Films | Negara: Indonesia | Pemeran: Ivan Fauzan, Nastiar F, Mohammad Aditya.

Film Surat dari Praha (2016) – Review

Saya ingat betul dulu ada sebuah film Indonesia yang meminta saya selaku penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu nasional sebelum cerita dimulai. Pertunjukkan rasa nasionalisme dan kebanggaan akan Tanah Air ini cukup menarik perhatian banyak kalangan, ada yang mengatakan berlebihan tetapi tidak sedikit juga yang menyanjung dan memuji-muji film berjudul Soekarno arahan Hanung Bramanyto itu. Saya sendiri tidak merasa terkesan baik terhadap filmnya maupun pembukaan semacam itu tetapi malah untuk pertama kalinya harus saya akui Surat dari Praha arahan Angga Dwimas Sasongko ini mampu membuat saya bergidik mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh sekelompok orang tua yang terasingkan karena ideologinya. Seperti perkataan Soe Hok Gie, “lebih baik terasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan”.