Press "Enter" to skip to content

Category: BLOG

Film A Copy of My Mind (2016) – Review

Sekitar mungkin dua tahun lalu layar lebar Indonesia sempat mendapatkan satu kisah paling jujur dan romantis mengenai Jakarta, kota megapolitan yang sesak akan isu moral dan sensitif hingga tak dapat disentuh oleh siapapun. Lewat Selamat Pagi, Malam, Lucky Kuswandi menyindir mengenai kehidupan one night stand, politik, kekuasaan, agama, LGBT hingga persoalan sepele seputar perselingkuhan semata. Di tahun ini, kembali terdapat satu cerita semu tentang polemik realitas Jakarta yang keras, diutarakan oleh Joko Anwar melalui A Copy of My Mind yang menceritakan dua manusia berbeda antara Sari, seorang terapis kecantikan hendak mengubah nasibnya dengan berpindah tempat kerja dan Alek, seorang pemuda tanpa identitas bekerja sebagai pembuat teks terjemahan dvd bajakan. Di tempat penjualan dvd bajakan area glodok nasib mempertemukan mereka, melalui film hingga bercinta mencapai bencana.

Film Goosebumps (2015) – Review

Film Goosebumos diadaptasi dari buku seri horor remaja berjudul sama karangan R.L Stine ini tidak seperti kebanyakan film adaptasi lainnya, Goosebumps membuat jalan cerita berbeda dengan memanfaatkan bermacam karakter monster di dalam bukunya dengan karakter Stine sebagai tokoh utama. Film ini diarahkan oleh Rob Letterman yang sebelumnya telah dikenal dengan Gulliver’s Travels yang juga dibintangi Jack Blake.

Film The Little Prince (2015) – Review

Seorang gadis kecil (The little girl) bersama ibunya (The mother) terdiam di sebuah ruang tunggu. Momen itu menjadi hal penting bagi mereka berdua karena si gadis kecil akan mempresentasikan dirinya dihadapan para petinggi akademi agar dapat masuk di sebuah sekolah terkenal. Ketika proses presentasi, satu pertanyaan terlontar mengenai keinginan apa yang hendak dicapainya ketika dewasa kelak. Bingung sang gadis jatuh pingsan saat itu juga.

Film Parasyte Part I dan II (2015) – Review

Shinichi Izumi yang tengah terlelap mendadak terbangun ketika suatu mahluk berbentuk cacing mendarat di tubuhnya, berusaha melarikan diri namun mahluk tersebut ternyata dapat memasuki tubuhnya melalui sel kulit tangannya. Keesokan harinya, semua yang dianggapnya mimpi sirna seketika lantaran tangan kanannya telah bermutasi menyerupai kepiting dengan satu bola mata.

Film Pendek Sendiri Diana Sendiri (2015) – Review

Sendiri Diana Sendiri (2015) dimulai dengan Diana hanya dapat menatap nanar pada sebuah layar yang sedang mempertunjukkan bagan-bagan romansa tentang pembagian gono-gini dimulai dari harta, waktu hingga cinta. Jari jemari kecilnya terus menekan simbol panah bawah sampai akhirnya mempertanyakan apa maksud presentasi power point di hadapannya itu, dengan santai sang suami, Ari menjawab hendak menikahi wanita lain. Mungkin saat itu hancur lebur sudah hatinya sebagai seorang istri yang akan dimadu.

Film Victoria (2015) – Review

Baru setahun lalu kita dihadirkan dengan karakter Riggan Thomson (diperankan oleh Michael Keaton), seorang aktor panggung Broadway yang berusaha menghidupkan popularitasnya pada film Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu. Film tersebut mampu membuat decak kagum saya sebagai penonton dengan gaya sinematografi tidak biasa, yaitu film yang hampir menyerupai adegan tanpa cut sama sekai dengan genre magical realism. Tata sinematografinya sendiri diarahkan oleh Emmanuel Lubezki (sebelumnya terlibat dalam proyek Gravity). Tetapi apa jadinya bila kali ini ada benar-benar ada film yang dibuat dengan proses pengambilan gambar tanpa cut sama sekali?

Film 3, Alif Lam Mim (2015) – Review

Banyak film bertemakan futuristik dan fiksi ilmiah memberikan gambaran akan  masa depan tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada kehidupan di Bumi setelah ratusan atau bahkan ribuan tahun dari sekarang. Bagian terbaik dari genre film tersebut adalah dengan menawarkan penggambaran bagaimana kemajuan teknologi dan perkembangan kehidupan manusia — Dalam banyak kasus, film jenis ini lebih sering menggambarkan kehidupan manusia yang telah kacau balau, seperti The Terminator (1984), Jurrasic Park (1993), dan The Matrix (1999). Pada ketiga film itu setidaknya digambarkan bagaimana Bumi hancur akibat keserakahan manusia sendiri.

Serial Sense8 (2015) Seasons 1 – Review

Serial Sense 8 memulai cerita dari wanita bernama Angelica (Daryl Hannah) yang hanya memiliki waktu terbatas maka dengan ditemani oleh Jonas Maliki (Naveen Andrews), ia dengan entah bagaimana caranya menampakkan dirinya di berbagai tempat di belahan dunia pada waktu yang sama. “They’ll be hunted…born or unborn. You can give them a fighting chance”, ucap Jonas kepada Angelica. Delapan orang terpilih telah dilihatnya dan mereka pun mampu melihat sosoknya. Tidak beberapa lama kemudian sesosok laki-laki berjanggut putih muncul di belakangnya berlanjut dengan Angelica menembak kepalanya sendiri dan seketika hilanglah sosok Jonas maupun pria misterius di sampingnya. Dengan scoring intensei thrill ini adalah enam menit tiga puluh tiga detik pertama pembukaan pada episode pilot serial Sense8 dengan judul episode ‘Limbic Resonance’.

Resensi Film “Tabula Rasa” : Tak Selezat Daging Rendang

Tabula Rasa_kukuhgiaji

Tabula Rasa merupakan film pertama di Indonesia yang mengangkat kuliner dan menjadikannya sebagai food film Indonesia. Tabula Rasa sendiri disutradarai oleh Adriyanto Dewo dimana ini adalah debut film panjang pertamanya. Selain itu, nama besar yang menggusung film ini adalah Sheila Timothy yang menjadi produser film ini dan sebelumnya telah mencetak film Pintu Terlarang (2009) dan Modus Anomali (2012). Kali pertama Sheila Timothy membuat film bernuansa drama dimana sebelumnya dua filmnya bernuansa Thriller yang dikemas oleh Joko Anwar. Dua film Thriller yang dibuat olehnya berhasil mengusung nama di kancah festival film internasional sudah barang tentu untuk filmnya kali ini ekspekstasi sangat besar dan taruhan besar untuk dia selaku produser yang out of the genre dari film-film sebelumnya.

Film Toilet Blues (2014) – Review

Toilet Blues_kukuhgiaji

Film Toilet Blues (2014) mengisahkan Anjani (diperankan oleh Shirley Anggrainin) bersama Anggalih (diperankan oleh Tim Matindas) sedang duduk termenung di atas rel kereta api, sementara itu seorang pegawai dinas perhubungan tengah memotong dahan pohon pisang. Orang tersebut lalu berjalan menuju Anjani dan Anggalih dengan dahan pohon pisang yang dibawanya dia menutup sesosok mayat lelaki yang habis ditabrak kereta api.

Anjani dan Anggalih lalu bersama menyusuri jalan di rel kereta api. Terdiam tanpa menghabiskan banyak kata, termenung menyusuri jalanan daerah Jawa Tengah diiringi dengan ambience suara Jangkring.