Press "Enter" to skip to content

Category: BLOG

Film Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) – Review

Ada Apa Dengan Cinta 2 kembali mengisahkan percintaan Cinta dan Rangga setelah empat belas tahun berlalu namun perasaan hati Cinta tidak berubah sedikitpun kepada Rangga yang telah meninggalkannya ke New York. Walaupun telah hadir Trian, sosok lelaki pengisi hatinya, nyatanya darah muda masih berdesir membayangkan setiap asmara puitis sejak masa putih abu-abu.

JURNAL #3 : Malam di Rantepao

KETIKA aku sedang asik bercengkrama dengan diri sendiri sembari ditemani secangkir kopi hangat tiba-tiba saja Bung Tomo dan Mas Farid menghampiriku yang sedang asik duduk sendirian di kursi rotan kayu depan kamar penginapan.

“Mau keluar mas?, cari kopi?”, ujar Bung Tomo.

JURNAL #2 : Kabut Kelam di Tana Toraja

Malam semakin larut semenjak kepergian kami dari Taman Batu Karst. Perjalanan kali ini ternyata tidak semulus tadi. Kabut mendadak menerjang disusul hujan deras dan petir menggelegar. Rute ke arah Rantepao tidak dapat dibayangkan epiknya, curam dan jurang terjal di sisi kanan dan kiri. Lalu lintas berkelok-kelok. Menanjaki pegunungan adalah medan yang harus kami hadapi.

JURNAL #1 : Mendung di Tanah Sulawesi Selatan

Atas bujuk rayu ibuku dan berdialog dengan diri sendiri maka kuputuskanlah untuk menerima tawaran berlibur di tanah kelahirannya, Sulawesi Selatan dengan mengambil perjalanan trip bersama Jalan2Terus yang tak sama sekali bisa ditebak dari open trip berakhir menjadi private trip karena kekurangan peserta. Maka, berangkatlah saya, ibu, dan adik pada tanggal 22 Maret 2016 dari Jakarta. Perencanaan trip sendiri dimulai dari tanggal 23-27 Maret 2016 namun karena tidak ingin berkejaran dengan waktu maka satu minggu penuh kami manfaatkan untuk mengeksplorasi kepulauan yang terkenal dengan Tana Toraja nya itu. Tidak ideal memang menjamah semua tempat dengan waktu sesempit itu, tetapi apabila memang ada waktu di lain hari saya meyakinkan diri untuk kembali berjumpa dengan tempat yang telah menghasilkan banyak cerita ini.

Film Deadpool (2016) – Review

Dalam dunia fiksi, konsep ‘The Hero‘ lebih dikenal dengan karakter protagonis yang mengemban kewajiban untuk menjaga perdamaian dunia dan biasanya berada dalam dua kegiatan antara keberanian dan pengorbanan. Tetapi di era postmodern ini konsep semacam itu sudah tidak berlaku bahkan cenderung menawarkan kebaruan dengan menampilkan sosok hero (pahlawan) yang memiliki cara pandang akan dunia sangat berbeda, sebut saja Maleficient atau Watchmen. Konsep hitam putih kini hampir tidak berlaku karena semua orang dapat mendefinisikan pahlawan dengan berbeda-beda maka dari itu dikenal bermacam karakter dengan julukan Anti hero – Pahlawan yang melakukan aktivitasnya dengan brutal, tanpa ampun dan kebanyakan merugikan banyak orang. Salah satunya adalah Deadpool yang merupakan alter ego dari Wade Wilson.

Cerita bermula dengan Wilson di diagnosa kanker stadium akhir yang lalu memutuskan menerima tawaran pengobatan untuk menjadikannya mutant. Ternyata hal itu berujung membawanya kepada penderitaan, dengan teknik pengobatan berbahaya agar merangsang adrenalinnya untuk membangunkan gen mutant di tubuhnya. Perseteruan antara dia dengan Ajax, ilmuan yang menangani dirinya membawa petaka. Laboratorium tempatnya dirawat terbakar dan naas dia ikut di dalamnya. Tentu saja kisah tidak berakhir sampai disini, kekuatan yang dimilikinya adalah menyembuhkan diri layaknya Wolverine maka dia kembali bangkit dari kematian dan berusaha membalas dendam kepada Ajax karena telah membuat wajahnya menjadi buruk rupa.

Pahlawan Banyak Gaya!

Deadpool / Wade Wilson adalah karakter superhero yang memiliki gangguan kejiwaan terutama dalam masalah personality disorder. Baik di film maupun komiknya karakter pahlawan satu ini sering berbicara sendiri seakan-akan menampatkan dirinya dalam panel komik dan sebagai tokoh utama di dalamnya. Motif balas dendamnya pun hanya karena wajahnya buruk rupa dan malu apabila kembali bertemu dengan tunangannya. Takut ditolak karena ia telah menjadi jelek!. Bahkan di awal film kita disuguhkan bagaimana sikap dari Wilson sendiri, yaitu memiliki rasa percaya diri berlebihan, sibuk dengan fantasi sendiri, dan berperilaku arogan juga sombong.

Maka jelas  memang Wilson memiliki Narcisstic Personality Disorder (NPD), gangguan psikologi ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi untuk kepentingan dirinya dan juga rasa ingin dikagumi. Salah satu ciri paling kentara pada penderita gangguan ini adalah terlalu mendramasitir sesuatu, sering berpura-pura dan anti-sosial.

Sepanjang film berjalan Wilson hanya berada di lingkaran orang-orang terdekatnya, yaitu Weasel (pemilik bar dan terlihat sebagai teman dekatnya), Vanessa (tunangannya), Dopinder (supir taksi), dan Al si Buta (pemilik rumah tempatnya tinggal). Dia cenderung menjauhi komunitas semacam X-Men yang mengajaknya bergabung, yaitu Colossus dan Negasonic Teenage Warhead.

Selain itu, Deadpool adalah karakter pahlawan pertama yang difilmkan dengan orientasi Panseksual. Pemilik orientasi ini memiliki ketertarikan kepada orang lain tanpa memandang identitas gender atau jenis kelamin, berarti bisa saja tertarik pada laki-laki, perempuan, transgender, atau interseks. Akan tetapi, bukan berarti mereka menyukai semua orang. Beberapa panseksual memiliki preferensi fisik. Di tahun 2013, Gerry Dugan, pengarangnya mengkonfirmasikan melalui akun twitternya bahwa karakter anti-hero ini memiliki orientasi pansexual.

He said, “I’ve been dogged with the DP sexuality questions for years. It is a bit tiring. He is NO sex and ALL sexes. He is yours and everyone else’s. So not dismissive, but rather the epitome of inclusive”. [¹]

Walaupun di film pertamanya ini belum ada keterbukaan mengenai orientasi tersebut seperti dengan komiknya tetapi semoga saja keterbukaan itu bisa diberikan melalui sekuelnya yang telah diberi lampu hijau rumah produksinya, Twentieth Century Fox Production. Menarik bila membayangkan Deadpool berkencan dengan seorang pria. Dalam komiknya sendiri, dia seringkali menggoda spiderman dan beberapa karakter superhero lainnya. Sementara filmnya masih condong menghadirkan jokes seksualitas, seperti mencium pria dan tembakan tepat di duburnya.

Sang Sutradara sendiri Tim Miller telah mengkonfirmasikan melalui wawancara [²] bahwa Deadpool versi film akan pansexual dan ‘hyper seksual’. Karater ini sendiri juga memiliki julukan ‘Merc with a mouth‘.

Film yang Nyeleneh!

Secara keseluruhan film Deadpool sangat nyeleneh apabila dilihat dari sisi konten. Rating R (Restricted) / dewasa 17+ pantas untuknya karena memiliki lawakan dewasa dengan adegan brutal bersimbah darah. Hal yang patut dipuji adalah bagaimana komedi cerdas tersampaikan dengan mengkritik universe X-Men yang semakin sulit diikuti atau Liam Neeson adalah ayah yang buruk pada Trilogi Taken. Untuk orang-orang yang memiki referensi film sedikit mungkin tidak mungkin sulit menemukan letak komedi dalam film ini selain adegan baku tembak nyeleneh tentunya.

Film serba nyeleneh ini tidak juga lepas dari kritik. Secara cerita ditemukan banyak kelemahan karena material yang ada hanya opening dari penciptaan karakter hero ini. Temponya sangat cepat hingga tidak terasa bahwa durasinya memakan 108 menit. Semua tertupi akibat komedi yang disampaikan oleh Miller. Film ini buat saya pribadi tidak menyisakan banyak bekas kecuali jokes segarnya.


Deadpool | 2016 | Durasi: 108 menit | Sutradara: Tim Miller | Produksi: 20th Century Fox | Negara: USA | Pemeran: Ryan Reynolds, Morena Baccarin, T.J Miller, Ed Skrein, Karan Soni

Resensi Film Pendek “Bubar, Jalan!” : Potret Anak-anak dalam Prosesi Upacara Bendera

Berbicara mengenai peran anak-anak dalam film pendek di Indonesia, rasanya masih begitu jarang digali karena kebanyakan mereka hanya direpresentasikan sebagai tokoh pendamping yang polos atau lagi-lagi hanya bermain dengan sekedar isu moral, seperti The Flowers and the Bee oleh Monica Vanesa Tedja yang mengangkat tema seksualitas dalam kacamata anak-anak. Berbanding dengan itu tidak ada salahnya padahal menjadikan tokoh anak-anak sebagai pribadi yang jenaka tanpa selalu melulu menyandingkannya dengan berbagai fenomena sosial. Senoaji Julius, misalnya. Melalui Gazebo dan 2b, ia bercerita mengenai potret anak dalam masa sekolah yang penuh imajinasi dan komedi. Resepnya sederhana: make-it-believe kepada para penonton. Ia juga tidak lupa untuk melakukan pendalaman karakter yang harus diakui sangat luar biasa.

Hal itu pula yang setidaknya berusaha dilakukan oleh Gerry Fairus Irsan. Dalam Bubar, Jalan! ia memperkenalkan komedi visual nyaris tanpa dialog, bermain melalui teknik penyuntingan gambar serta bertaruh dengan resep make-it-believe di film pendek terbarunya itu. Uniknya, pembuat film ini meletakkan lahan sempit untuk bercerita, yaitu prosesi upacara bendera oleh murid sekolah dasar dengan berbagai macam realitas yang ditangkap oleh kamera senyata-nyatanya.

Bubar, Jalan! bercerita tentang Ahong – seorang anak laki-laki yang bertugas untuk memimpin upacara bendera. Ia merasa tertekan dengan tanggung jawab yang dipikulnya itu. Entah dari sering buang air, kaki gemetaran, dan banjir keringat selama upacara berlangsung. Sepanjang perjalanan, disuguhkan bagaimana ia harus melawan rasa paniknya, ditonton oleh ratusan murid dan guru yang tampak menjadi ketakutan tersendiri baginya.

Realita prosesi upacara bendera

Menariknya pembuat film tidak sekedar ingin mempertunjukkan bagaimana satu anak manusia harus mengendalikan rasa takutnya masih ada potret anak-anak hadir untuk sekedar memperlihatkan bagaimana kisah masa sekolah dasar mereka. Contohnya, adegan dimana dua murid bersembunyi di dalam toilet untuk melarikan diri dari prosesi upacara bendara. Hal-hal lumrah yang sering dilakukan oleh kita yang malas untuk berpanas-panasan di lapangan. Atau, bendera yang tengah dikibarkan oleh pasukan pengibar dalam posisi terbalik .

Menarik juga sebenarnya apa yang berusaha ditawarkan dalam film pendek berdurasi kurang lebih sepuluh menit ini. Sayangnya, Gerry Fairus Irsan masih kurang melakukan pengamatan dalam usaha mempertontonkan tingkah jenaka anak-anak kala berada di kegiatan pengibaran bendera itu. Eksekusinya serba nanggung baik dari segi cerita maupun komedinya. Masih banyak hal yang dapat dieksplorasi sesungguhnya pada lahan sempit itu justru itulah tantangannya. Sepuluh menit sepertinya durasi yang sangat singkat dengan cerita sepotensial bubar, Jalan!.

Kita bisa melihatnya melalui karya Senoaji Julius, Gazebo yang menggunakan lahan sempit untuk bercerita juga, yaitu perpustakaan sekolah. Atau, Lembar Jawaban Kita milik Sofyana Ali Bindiar dengan kritikannya terhadap pelaksanaan ujian nasional di Indonesia. mereka berdua berani untuk keluar jalur dari realitas yang ‘nyata’ dengan maksud bermain-main dalam penuturan di filmnya, seperti Gazebo misalnya, mempertunjukkan bagaimana para anak-anak SD berlayar di atas meja ataupun berperangan ala Amerika dengan suku Indian. Atau juga, teknik-teknik menyontek yang dilakukan oleh murid sekolah dalam Lembar Jawaban Kita yang dirasa mustahil dan tidak mungkin dilakukan. Namun, kedua pembuat film itu mampu membuat penonton percaya akan imaji yang mereka tawarkan. Dan itulah yang belum dapat ditemukan pada Bubar, Jalan!.

Pendalaman karakter pun masih belum potensial. Sebaris pertanyaan terbesar ‘kenapa pemimpin upacara bendera itu bernama Ahong?, memiliki ras tionghoa?, dengan kata lain bukan pribumi?’. Apa yang sesungguhnya berusaha diberikan oleh Gerry selaku sutradara pada filmnya. Walaupun penokohan Ahong sebagai ras tionghoa bukanlah isu sentral dalam Bubar, jalan! namun masalah terbesarnya ketika pertanyaan ‘kenapa’ itu tidak dapat terjawab melalui filmnya. Atau sebenarnya semua hanya kebetulan belaka saja atau bisa jadi merupakan curhatan personal dari si pembuat film.

Meski begitu bukan berarti Bubar, Jalan! gagal dalam segala eksekusinya. Secara keseluruhan, film pendek ini bisa menaruh hati bagi para penonton yang telah dewasa untuk sekedar bernostalgia pada masa-masa pengibaran bendera mereka apalagi bagi mereka yang mengalami nasib serupa dengan Ahong.

Gerry Fairus Irsan telah berani mengambil risiko untuk membuat film yang jarang dilirik oleh pembuat film lainnya,  Berani menempatkan tema unik untuk diceritakan adalah salah satu bekal yang berarti bagi rekam kesejarahan film pendek di Indonesia. Bubar, Jalan! akhirnya tampak sebagai sebuah film eksperimental: bermain-main dari segi cerita, teknis dan penuturannya.


Bubar, Jalan! | 2015 | Durasi: 10 menit | Sutradara: Gerry Fairus Irsan | Produksi: Rumahku Films | Negara: Indonesia | Pemeran: Ivan Fauzan, Nastiar F, Mohammad Aditya.

Film Surat dari Praha (2016) – Review

Saya ingat betul dulu ada sebuah film Indonesia yang meminta saya selaku penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu nasional sebelum cerita dimulai. Pertunjukkan rasa nasionalisme dan kebanggaan akan Tanah Air ini cukup menarik perhatian banyak kalangan, ada yang mengatakan berlebihan tetapi tidak sedikit juga yang menyanjung dan memuji-muji film berjudul Soekarno arahan Hanung Bramanyto itu. Saya sendiri tidak merasa terkesan baik terhadap filmnya maupun pembukaan semacam itu tetapi malah untuk pertama kalinya harus saya akui Surat dari Praha arahan Angga Dwimas Sasongko ini mampu membuat saya bergidik mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh sekelompok orang tua yang terasingkan karena ideologinya. Seperti perkataan Soe Hok Gie, “lebih baik terasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan”.

Film A Copy of My Mind (2016) – Review

Sekitar mungkin dua tahun lalu layar lebar Indonesia sempat mendapatkan satu kisah paling jujur dan romantis mengenai Jakarta, kota megapolitan yang sesak akan isu moral dan sensitif hingga tak dapat disentuh oleh siapapun. Lewat Selamat Pagi, Malam, Lucky Kuswandi menyindir mengenai kehidupan one night stand, politik, kekuasaan, agama, LGBT hingga persoalan sepele seputar perselingkuhan semata. Di tahun ini, kembali terdapat satu cerita semu tentang polemik realitas Jakarta yang keras, diutarakan oleh Joko Anwar melalui A Copy of My Mind yang menceritakan dua manusia berbeda antara Sari, seorang terapis kecantikan hendak mengubah nasibnya dengan berpindah tempat kerja dan Alek, seorang pemuda tanpa identitas bekerja sebagai pembuat teks terjemahan dvd bajakan. Di tempat penjualan dvd bajakan area glodok nasib mempertemukan mereka, melalui film hingga bercinta mencapai bencana.

Film Goosebumps (2015) – Review

Film Goosebumos diadaptasi dari buku seri horor remaja berjudul sama karangan R.L Stine ini tidak seperti kebanyakan film adaptasi lainnya, Goosebumps membuat jalan cerita berbeda dengan memanfaatkan bermacam karakter monster di dalam bukunya dengan karakter Stine sebagai tokoh utama. Film ini diarahkan oleh Rob Letterman yang sebelumnya telah dikenal dengan Gulliver’s Travels yang juga dibintangi Jack Blake.

Film The Little Prince (2015) – Review

Seorang gadis kecil (The little girl) bersama ibunya (The mother) terdiam di sebuah ruang tunggu. Momen itu menjadi hal penting bagi mereka berdua karena si gadis kecil akan mempresentasikan dirinya dihadapan para petinggi akademi agar dapat masuk di sebuah sekolah terkenal. Ketika proses presentasi, satu pertanyaan terlontar mengenai keinginan apa yang hendak dicapainya ketika dewasa kelak. Bingung sang gadis jatuh pingsan saat itu juga.