Press "Enter" to skip to content

Category: RESENSI FILM

Kumpulan artikel resensi film pilihan penulis, bisa dalam bentuk resensi maupun daftar rekomendasi tontonan pilihan dari berbagai genre dan topik.

Review Film Indonesia, POCONG: The Origin (2019)

Dewasa ini, film horor Indonesia kembali marak bergentayangan di bioskop. Hantu lokal jadi primadona meskipun dikemas ala “hollywood”, bergaya barat, dan tampak malu-malu menunjukkan jati diri hantu-hantu dan peristiwa-peristiwa lokal terkait kemunculannya. Untungnya hal ini tidak terjadi pada film POCONG: The Origin berkat tangan dingin Monty Tiwa, yang satu dekade lalu menghasilkan karya emas Keramat (2009), yang saya dapuk sebagai film terseram bahkan hingga saat ini.

Mengisahkan Ananta (Surya Saputra), pembunuh berdarah dingin yang divonis mati dan telah dieksekusi dua kali tapi tak kunjung mati jua. Setelah akhirnya mati, Sasthi (Nadya Arina), anak tunggal Ananta meminta kepada kepala sipir untuk menguburkan jasad ayahnya di kampung kelahiran sang ayah. Sipir bernama Yama (Samuel Rizal) lalu ditugaskan untuk mengantar jasad ditemani Sasthi dan selama perjalanan mereka mengalami gangguan gaib. Sementara itu, di tanah kelahiran Ananta sebuah tragedi mengerikan terjadi dan warga memprotes kedatangan jasad Ananta karena disinyalir memiliki ilmu gaib Banaspati dan akan membawa petaka.

Berbeda dengan kebanyakan film horor, POCONG: The Origin tidak menggunakan formula ‘jump scare’ norak yang dimana-mana selalu ada sosok penampakan mengerikan. Di sudut gang kecil, di sudut kamar mandi, dan/atau di langit-langit kamar yang umum ditemukan hampir di seluruh mayoritas adegan film horor Indonesia. Film ini memiliki dasar cerita solid dan juga berusaha membawa cerita klasik urban yang sering kita dengar sehari-hari sebagai bumbu horornya. Dan ini teruji sangat efektif. Terutama bagi mereka yang pernah mengalami kejadian serupa.

Tenang saja film ini tidak akan memiliki adegan lari-lari dikejar pocong lalu dalam gelap gulita satu persatu karakter mati secara misterius hingga tersisa satu orang. Hampir sebagian besar film ini menceritakan kengerian perjalanan Yama dan Sasthi: dari tiba-tiba mobil mati mendadak hingga suara tawa nyaring mengerikan menggema. Namun POCONG: The Origintidak hanya perkara horor semata melainkan juga hubungan intimasi antara anak dan ayah.

Dengan durasi 91 menit, POCONG: The Origin juga sama sekali tidak membuat lelah menontonnya padahal ruang bercerita dalam film sangat sempit: di jalan dan di dalam mobil sementara adegan puncaknya di tanah kelahiran Ananta tersaji sangat apik meskipun terbilang singkat. Beberapa hal yang cukup menganggu bagi saya adalah seperti penataan soundtrack/scoring yang mood-nya membingungkan ketika adegan di hutan – entah itu bernuansa sedih, seram, atau bahagia? Juga pemilihan judul ‘The Origin‘ tampak masih belum bisa lepas dari pengaruh frasa judul film horor barat.

Terlepas dari catatan di atas akan sangat disayangkan jika kita melewatkan film horor Monty Tiwa ini di tengah-tengah homogen cerita pada film horor Indonesia POCONG: The Origin membawa angin segar.

Trailer Pocong: The Origin (2019)

Film A Quiet Place (2018) – Review

Keberadaan unsur suara dalam adegan horor selalu menjadi faktor penting bagi kebanyakan pembuat film untuk menakuti-nakuti penonton namun film A Quiet Place (2018) malah sebaliknya, ia menjadikan suara sebagai musuh dan penonton turut diajak untuk diam sepanjang menyaksikan perjuangan keluarga Abbot untuk bertahan hidup dari kejaran para monster yang telah menginvasi Bumi.

Di awal cerita kita tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Bumi? Mengapa keluarga Abbot berbicara secara berbisik-bisik serta menggunakan bahasa isyarat? Bahkan upaya keras mereka menghindari timbulnya suara tampak dari absennya alas kaki sepanjang mereka berduli. Maka ketika unsur suara membahana untuk pertama kalinya penonton tersadar ada monster yang mengintai mereka melalui suara.

Regan (Millicent Simmonds) dan Lee (Krasinki)

Pada paruh pertama film kita mulai paham bahwa keluarga Abbot menguasai bahasa isyarat karena memiliki anak perempuan yang tuna rungu, yaitu Regan (Millicent Simmonds), ini menjadi detail penting mengenai konsep dunia post-apocalyptic kreasi Bryan Woods dan Scott Beck dimana manusia masih menguasai bahasa verbal dan kejadian invasi belum berlangsung lama walau dampak kerusakan terlihat global. Selain itu, konflik utamanya mulai jelas, yaitu Evelyn (Emily Blunt) sedang mempersiapkan proses kelahiran anaknya. Maka siap-siap bergidik ngeri membayangkan Evelyn harus menahan rintihan dan jeritan selama proses melahirkan. Belum lagi mengakali suara tangisan bayinya yang baru lahir.

Di tangan John Krasinski, film A Quiet Place tidak hanya meneror namun juga menjelma menjadi drama yang sentimentil mengenai hubungan antara orang tua dan anak ditengah-tengah rasa bersalah dan kehilangan menghantui mereka.

Hubungan Lee (Krasinki) dan Regan serta putranya, Marcus (Noah Juppet) yang terkesan rumit tapi sederhana ini menjadi modal yang membuat penonton akan bersimpati terhadap Lee dan Regan juga mungkin akan sedikit dongkol dengan karakter Marcus yang perajuk. Evelyn memang sedikit terabaikan hingga di paruh kedua film dengan ditampilkan sebagai sosok ibu yang berusaha tegar agar tidak menjadi beban bagi suami dan kedua anaknya. Namun ketika film memasuki babak klimaks, ia berubah menjadi sosok heroik demi menyelamatkan bayi di dalam perutnya serta suami dan kedua anaknya yang tengah terancam oleh para monster.

Bila ditinjau dengan saksama, formula penceritaan yang dipakai dalam film A Quiet Place sangat-sangatlah umum, biasa-biasa saja dan tidak istimewa. Pola tiga babak dan tensi emosi yang dimainkan dalam naskah film ini sangat familiar ditemukan pada ratusan film horor sejenis. Lantas apa yang menjadikan A Quiet Place begitu popular, dikagumi bahkan sanggup menaklukan pendapatan film blockbusters sekelas Pacific Rim: Uprising (2018) dan Ready Player One (2018)?

Keluarga Abbot dalam A Quiet Place

First, we miss the old days. Menjamurnya film horor di bioskop bukan berarti bukti kualitas film terjamin. Fiilm sekelas The Conjuring (2013) sekalipun lagi-lagi masih menjual adegan-adegan ritual, hantu, iblis dan pengusiran setan. Padahal di era klasik kita bisa mendapati film The Shining (198) atau Suspiria (1977) yang absurd dan Let the Right One In (2008) yang mencekam atmosirnya tanpa perlu bersusah payah menakut-nakuti penontonnya.

Kedua, not engaged in any politics or social movements. Hollywood yang sedang diamuk massa karena gap gender, ras, dan orientasi seksual membuat banyak film tampak harus memiliki isu dan muatan yang berkaitan dengan masalah tersebut, bahkan sekaliber film horor yang ranahannya jauh dari kata drama atau kampanye sosial ikut juga ketarik. Seperti yang baru-baru ini saja terjadi kepada film fiksi ilmiah A Wrinkle in Time (2018) yang mempromosikan diri sebagai film diverse dan wajib ditonton karena tokoh utamanya orang kulit hitam. Atau Ghostbusters (2016) yang ingin menjadi film feminis namun berujung reverse sexism. Akhirnya, mereka malah gagal di box office.

Kehadiran film A Quiet Place seperti angin segar dalam dunia sinema yang tidak selalu melulu harus sarat akan pesan dan isu sosial. Kesuksesan film ini juga menjadi bukti bagi film horor yang menggunakan kesederhanaan dalam bercerita, yaitu The Babadok (2014), Don’t Breathe (2016) dan Get Out (2017). Terlepas dari isu rasial dalam Get Out mengenai diskriminasi yang diterima orang kulit hitam di Amerika, film besutan Jordan Peele ini tidak berlebihan atau menjual isu rasial dalam filmnya. Tata cara bertutur yang logis dan tidak memaksa memainkan peran penting untuk diterima oleh penonton.

Sekali lagi, film A Quiet Place menjadi tontonan yang cukup menghibur sekaligus mencekam dan membangkitkan nostalgia mengenai dunia sinema yang tidak rumit. Tapi kita memang masih jauh dari kata ‘ideal’ untuk masalah representasi dan masih banyak rintangan untuk melaluinya.

Rekomendasi Film Thriller Korea Terbaik – Bagian 1

Sudah cukup lama saya ingin membuat daftar panjang film thriller Korea terbaik namun enggan menulis karena sulit menentukan film yang pantas diletakkan di posisi pertama. Oleh karena itu, diputuskan untuk membaginya saja menjadi beberapa tulisan lalu secara adil menyampaikan alasan personal memuja-muja film tersebut ketimbang meletakkan standarisasi pada angka teratas dan terbawah.

Pada bagian awal tulisan ini, ada beberapa faktor mengapa saya memilih judul film di bawah untuk dibahas terlebih dahulu. Pertama, saya memuliakan film tersebut karena telah melampaui ekspektasi saya (twist dan alur cerita tak terduga). Selanjutnya, kelihaian sutradara dalam memvisualisasikan naskah dengan alur cerita yang tidak biasa. Lalu, isu dan orisinalitas cerita yang saya anggap unik untuk diangkat. Terakhir, atmosfer film terampil dalam menimbulkan perasaan tegang, gelisah, dan takut.

Berikut ini daftar rekomendasi film thriller korea terbaik menurut saya!

1. Memories of Murder (2003)

Berdasarkan kejadian nyata, film ini mengisahkan dua detektif yang berupaya membongkar kasus pembunuhan berantai di Provinsi Gyunggi, kota Hwaseong, Korea Selatan. Berlatar tahun 1986, sejumlah perempuan ditemukan tewas setelah diperkosa lalu dibunuh dengan kejam: mereka diikat serta dibekap dengan stoking.

Kasus ini sangat terkenal dan terus dibahas hingga sekarang karena menjadi Cold Case “kasus tidak terselesaikan”. Kasus ini terjadi pada pertengahan September 1986 hingga April 1991 dan selama periode waktu tersebut setidaknya ada 10 korban yang semuanya adalah wanita. Bahkan ada penyintas yang bersaksi bahwa tersangka adalah pemuda berumur 20-tahunan dan tampak biasa saja.

Kontroversi selama penyelidikan timbul karena pihak kepolisian ditekan militer dan melakukan pemaksaan kepada para tersangka agar mengakui tindak kriminal. Bahkan total tersangka sampai lebih 20.000 orang. Imbasnya terjadi aksi bunuh diri seorang pemuda dengan keterbatasan mental yang dituduh sebagai pelaku.

Film yang disutradarai dan ditulis Joon-ho Bong ini kurang lebih mengambil referensi dengan kejadian nyata di atas. Detektif Park Doo-Man (Kang-ho Song) dan Detektif Sae Tae-Yoon (Sang-kyung Kim) berkolaborasi untuk menemukan pelaku, beberapa adegan investigasi yang terjadi kala itu turut ditampilkan. Paling menonjol bagaimana naskah menambahkan sisi cerita fiktif dimana pelaku dapat dianalisis dan penyidik menemukan titik terang tersangka sebenarnya walau ternyata setiap petunjuk sama sekali tidak berkaitan satu sama lain.

Tempo cerita dalam film ini cenderung lamban namun tidak berbelit-belit apalagi menjemukan malah penonton turut diajak untuk membongkar kasus dan ikut berprasangka. Film ini tidak seperti kebanyakan film thriller Korea lainnya yang bertemakan balas dendam. Memories of Murder tampil sebagai film sederhana dengan kualitas dan kepawaian bercerita luar biasa.

Akhir kisah yang melaju ke tahun 2003 dimana Park Doo-Man telah menjadi pebisnis lalu mengunjungi tempat kejadian perkara adalah interpretasi terbaik mengenai sosok tersangka kasus Hwaseong dan salah satu pengalaman sinema terbaik yang pernah saya alami. Empat menit terakhir dalam Memories of Murder merupakan adegan paling adiluhung bagi saya dan bisa dikatakan sebagai salah satu penutup film terbaik sepanjang masa.

2. Oldboy (2003)

Dari semua film bertemakan balas dendam, Oldboy adalah maha karya sempurna yang tidak hanya mengedepankan aksi laga atau sekedar bermain dengan ketegangan saja tetapi naskahnya memang benar-benar keji, kontroversial dan vulgar. Masuk dalam rangkaian The Vengence Trilogy dari Park Chan-Wook, film ini memang tidak bisa dibahas bila tidak mengungkit dua film lainnya karena ketiganya sama-sama berfokus pada hubungan orang tua dan anak serta rasa kehilangan.

Bila Symphaty for My Vengence (2002) adalah hasil coba-coba yang berujung pada tragedi dan Lady Vengence (2005) condong kepada menuntut balas dengan bengis. Maka Oldboy identik terhadap perpaduan keduanya melalui cerita manis getir para tokohnya.

Mengisahkan Dae-su Oh (Min-sik Choi) yang diculik secara misterius dan disekap selama lima belas tahun lalu dilepaskan dengan perintah untuk menemukan pelakunya dalam waktu lima hari, yang tak lain dan tak bukan adalah Woo-jin Lee (Ji-tae Yu). Min-sik bersama Mi-do (Hye-jeong Kang) berusaha menyingkap alasan penculikan tersebut dan ternyata menuntun kepada dosa yang pernah dilakukan Dae-su puluhan tahun silam kepada Woo-jin.

Begitu banyak adegan yang dikatakan tersohor, misal adegan perkelahian Dae-su tanpa henti di lorong selama tiga menit dengan senjata palunya (one take) dan menjadi salah satu adegan paling bersejarah dalam dunia sinema. Atau kekuatan visual dan cerita ketika Dae-su bertemu dengan Woo-jin diiringi suara latar persetubuhan antara dirinya dan Mi-do yang memilukan dan menjadi penutup paling nahas yang pernah ada dalam film thriller manapun. Oldboy tidaklah dapat diprediksi dan mampu mengaburkan batas moralitas manusia.

Oldboy masuk ke dalam daftar film thriller korea terbaik bagi saya karena membuat saya selama menonton terperanjat, geleng-geleng kepala dan sesak napas menanti akhir nasib setiap karakter. Saya ingat betul kali pertama menonton film ini, mulut saya menganga dan mata melotot karena tak percaya naskahnya begitu dramatis.

3. The Wailing (2016)

Bila kamu penikmat film thriller Korea pasti akan penasaran mengapa saya memasukkan The Wailing dalam daftar awal ini. Bagaimana dengan I Saw the Devil (2010) atau The Man from Nowhere (2010)? Hematnya, dua film itu masih berkutat pada balas dendam dan tak etis rasanya jika menempatkan film-film sejenis dalam daftar yang sama. Maka saya berusaha memberikan pilihan dengan ragam cerita.

Film besutan Hong-jin Na ini pantas untuk masuk dalam deretan awal karena ceritanya berakar pada kejadian transendental. Kisah bermula dari sejumlah kematian misterius yang terjadi di Gokseong, Jeollanam-do dan diduga penyebabnya adalah jamur liar beracun. Namun desas desus warga desa menuntun Jong-go (Kwak Do-won) kepada seorang pria jepang misterius tak bernama (Jun Kunimura) yang dicurigai sebagai pelaku.

The Wailing diibaratkan sebagai perpaduan antara teknik prosedural detektif dalam Memories of Murder ditambah menyajikan sosok iblis yang epik dalam The Cabin in The Woods (2012) tanpa melupakan unsur pengusiran setan ala-ala The Exorcist (1973). Memang film ini rumit, dari segi cerita belum lagi tokoh hilir mudik dengan peran tak terduga. Kita akan terus digiring untuk menebak-nebak siapa sesungguhnya sosok iblis tersebut. Semakin dalam ditelusuri maka semakin ragu juga kita atas kebenaran peristiwa yang terjadi di Gokseong.

Hubungan ayah anak antara Jong-Go dengan putrinya, Hyo-jin (Hwan-hee Kim) sebagai konflik dalam film ini juga membuat darah mendidih bagi yang menonton. Belum lagi kehadiran sosok perempuan misterius (Woo-he Chun) yang seolah-olah ingin menyelamatkan Hyo-jin namun terkesan juga sebagai sang iblis. The Wailing sama sekali tidak memberikan petunjuk terhadap yang hitam dan putih melainkan semuanya hanyalah abu-abu dan semu.

Sosok tuhan yang absen dalam diri Jong-go pun menjadi penanda bahwa tak semua harus bergantung pada iman. Namun, ketika disudutkan pada keimanan itu sendiri, mau tidak mau kita selaku penonton akan turut berkontemplasi menyoal percaya atau tidak terhadap hal yang bersifat niskala.

Bagi saya, The Wailing adalah puisi kepada sosok tuhan yang selalu digambarkan sebagai penguasa atas semesta padahal ia tak berdaya bila hambanya tak percaya atas eksistensinya. Tapi bisa jadi juga merupakan kritik kepada manusia yang selalu kufur terhadap tuhannya. Keruwetan naskah dan orisinalitas cerita ini lah yang membawa saya mendapuk The Wailing sebagai salah satu film thriller Korea terbaik.

Baca juga: Rekomendasi Drama Korea 2018 Terbaik Januari - April

Itulah tiga film thriller Korea terbaik bagi saya yang pantas untuk dinikmati, setidaknya satu kali dalam hidup. Daftarnya memang pendek, tidak seperti tulisan sejenis yang sifatnya top list dan bisa memuat hingga 10 daftar judul, saya lebih memilih untuk memberikan resensi atas opini saya setelah menonton secara detail ketimbang sekedar memberikan sinopsis dan ulasan singkat saja.

Sebaik-baiknya rekomendasi, ia adalah tulisan bersifat saran yang mesti disajikan dengan baik dan tanggung jawab agar kelak pembaca dapat memutuskan dan menimbang sendiri layak atau tidaknya ia untuk turut menikmati deretan rekomendasi tersebut.

Film Mokumenter hUSh (2016) – Review

hUSh berusaha mendobrak sistem patriarki melalui perempuan bernama Cinta Ramlan (diperankan Cinta Ramlan) yang menyampaikan kegelisahannya mengenai kesenjangan antar gender, dimana korban selalu saja perempuan. Cinta berusaha mengajak berdiskusi bagaimana wanita kerap kali dipandang rendah bila menyukai hal-hal bersifat cabul padahal semua orang menyukai seks. Lelaki yang berhasil memperawani pacarnya dianggap sebagai simbol maskulinitas sementara perempuan yang tidak lagi perawan dianggap wanita murahan.

Memang agak sulit bagi saya untuk tidak mengkaitkan bagaimana hubungan hUSh dengan kumpulan cerita pendek Djenar yang juga sutradara di film mokumenter ini. Saya sudah membaca semua buku-buku Djenar, maka tak bisa dipersalahkan bila sepanjang menonton hUSh saya langsung teringat oleh satu paragraf dalam kumpulan cerita pendek Djenar berjudul Jangan Main-Main dengan Kelaminmu di kisah Saya di Mata Sebagian Orang dari sudut pandang ‘saya’ berjenis kelamin perempuan:

Sebagian orang menganggap saya munafik.

Sebagian lagi menganggap saya pembual.

Sebagian lagi menganggap saya sok gagah.

Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Sebagian lagi menganggap saya murahan!

hUSh jelas tidak berdasarkan pada kisah pendek ini namun ada satu kesamaan yang pasti: narasi hanya dari satu sudut pandang perempuan yang berusaha berbicara terbuka mengenai gagasan-gagasan dalam pikirannya yang selama ini dibungkam masyarakat atas nama moralitas.

Gagasan ini tidak hanya menyoal terbelunggunya pikiran wanita saja namun lebih jauh lagi ketika pembicaraan masa lalu Cinta yang dilecehkan oleh salah satu anggota keluarganya sejak belia. Terpapar dengan jelas bagaimana pelaku mengambil hati Cinta, sampai merasa nyaman dan tak merasa ada yang salah ketika mereka bermain asmara di ranjang: semua karena ketidaktahuan Cinta soal seks. Dan dengan tegas pun ia bertutur: Ini bukan perkosaan tapi pelecehan. Sampai akhirnya Ia menyadari apa yang dilakukannya merupakan kegiatan seksual, menuntunnya kepada perasaan bersalah berkepanjangan lantas menghakimi dirinya sendiri.

Bukan sekali Djenar bermain-main dengan kisah seperti ini, sebelumnya dalam cerita pendek Menyusu Ayah (karya yang menghantarkannya sebagai penulis fenomenal), Ia menceritakan tokoh fiksi Nayla yang rindu menyusu penis ayahnya, sebagai bukti dirinya telah diperdaya dan dilecehkan sang ayah bahkan sejak balita.

hUSh pada akhirnya tidak berusaha mendikte atau membenarkan segala macam perilaku Cinta, dia hanya berusaha jujur dan mendengarkan tanpa perlu mengadili si pencerita – karena itu lah yang dibutuhkan para penyintas kekerasan seksual.

Film Pendek Maryam (2014) – Review

Film pendek Maryam menceritakan Yam, seorang asisten rumah tangga yang dihari natal mesti menjaga Tuan, yaitu pria dengan autisme yang memaksanya ke gereja untuk menghadiri perayaan Misa bersama. Ia tak kuasa menolak keinginan sang Tuan walau batin meronta karena diusik keimanannya. Ditambah Nyonya memintanya untuk tidak menghubungi selama ia pergi liburan. Dari sini kita mulai menyelami bagaimana Maryam sebagai sosok yang mesti tunduk pada orang yang menempati kelas di atasnya, yakni Tuan dan Nyonya.

Tetapi bila hanya sekedar mempersoalkan eksistensi strata sosial dalam Maryam tentu rasanya mustahil mengingat narasi yang disampaikan Sidi Saleh sangat pelik untuk disederhanakan seperti itu. Bisa jadi, relasi kekuasaan yang ada malah berasal dari agama yang seolah-olah menyudutkan Maryam si empunya nama yang erat dengan tokoh di agama-agama samawi, seperti Islam dan Kristen.

Maka gagasan yang paling dekat adalah: Apakah Maryam berbicara bagaimana personalitas orang seringkali dilihat berdasar pada agama? Pertanyaan ini hadir tatkala Yam tidak hanya mengubah model jilbabnya saja namun juga menangis di hadapan Bunda Maria. Apakah ini representasi Yam sebagai hasil konstruksi dalam Islam maupun Kristen?

Bukti lain hadir saat Tuan mempertanyakan mengapa Yam masih saja bekerja padahal sedang mengandung. Keterhimpitan ekonomi selalu menjadi faktor utama, bahkan Yam mengakui janin yang dikandungnya tidak memiliki ayah. Seakan menjadi pernyataan bahwa bisa jadi ia adalah Maryam, wanita yang hamil tanpa laki-laki karena tengah mengandung anak yang suci dari pemberian Tuhan.

Sidi Saleh tampaknya ingin mempersilahkan kita selaku penonton untuk memaknai film pendeknya secara bebas berdasarkan pengalaman masing-masing. Sepertinya tidak pas bila melihat Maryam dari sudut pandang teologis juga, karena film pendek ini lebih berbicara soal antara yang berkuasa dan tidak berkuasa, entah itu diakibatkan sistem sosial ataupun konstruksi agama.

Film Dokumenter Masih Ada Asa (2015) – Review

Masih Ada Asa (2015) menceritakan dua sudut pandang penyintas. Pertama, Ati, perempuan muslim yang tinggal di Kabupaten Sikka, Ngolo, Flores. Ati mengisahkan ketika dirinya menjadi korban pemerkosaan oleh anggota DPRD. Lalu, Ros, perempuan nasrani yang hijrah ke Ibukota untuk mencari kehidupan lebih baik setelah menjadi korban pemerkosaan oleh 11 orang. Ati dan Ros hanyalah segelintir dari ribuan perempuan penyintas kekerasan seksual yang berasal dari Maumere, Flores.

Yuda Kurniawan, selaku sutradara berusaha mengungkapkan bagaimana realita keji ini dapat terjadi dari dua sudut pandang perempuan, berbeda agamadengan satu tujuan: berjuang melanjutkan hidupnya kembali tanpa melupakan gelombang masa lalu yang pernah menerkam mereka.

Tanpa disertai narasi karena tidak ingin mengintervensi kisah mereka berdua, Yuda menghadirkan secara jujur dan lugas agar penonton dapat mengambil kesimpulan sendiri setelah menonton film dokumenter berdurasi 85 menit ini.

Sungguh sulit untuk menceritakan pengalaman menonton Masih Ada Asa, selain karena kepolosannya yang menghadirkan keseharian kedua penyintas, pelan-pelan film ini juga mampu menusuk batin dan menampar habis-habis penonton: Apa yang sudah saya lakukan saat ini? Pertanyaan ini terus bergeming sebagai bukti kita selaku masyarakat masih belum menyadari betapa mendesak kasus kekerasan terhadap perempuan untuk segera dihentikan.

Ada beberapa catatan penting yang dapat diambil dari Masih Ada Asa. Pertama, Tindak kekerasan seksual dapat terjadi tanpa peduli busana apa yang dikenakan. Ati berpakaian serba tertutup bahkan berhijab namun dirinya tidak lepas dari mangsa predator yang tak punya akal. Kedua, penyintas menerima tindakan yang sama dari ibu mereka, yaitu ditampar ketika mendapati mereka telah diperkosa. Ketiga, akhir kasus yang berbeda dimana Ati tidak mendapatkan keadilan bagi dirinya, karena sang dewan memiliki kekebalan hukum sementara Ros menerima keadilan dengan pelaku dijerat hukuman 3 tahun penjara walau harus menerima ancaman serta iming-iming harta untuk menghentikan kasusnya. Terakhir, keberadaan lembaga TRUK-F sebagai pendamping penyintas dari perlindungan hingga penanganan kasus.

Peran keluarga dan lembaga sosial menjadi penting disini untuk membantu penyintas dalam menghadapi masa trauma serta mendapatkan keadilan. Tanpa dukungan, banyak kisah para penyintas yang berakhir tak lebih dari sekedar angin lalu.

Film Pendek Buang (2013) – Review

Andri Cung dan William Chandra, sebagai sutradara film pendek Buang (2013) sah-sah saja membuat alur maju-mundur agar penonton dibuat penasaran apa yang tengah dinanti Mbak Mar bersama Rasyid dan Suster Marissa di pesisir laut dengan latar waktu bulan puasa, tepatnya 5 September 2011. Walau jelas, ketika adegan bergulir nyaris satu tahun silam, penonton mulai menerka-nerka:

Apakah Siti yang mereka tunggu kehadirannya?

Buang (atau dalam bahasa inggris The Disposal) merupakan elegi menyoal rentannya modus operandi dalam bentuk perdagangan manusia. Pada tahun 2012-2015 saja tercatat ada 861 kasus perdagangan orang dengan 70% korbannya merupakan perempuan dan anak. Dengan tokoh utama anak perempuan berumur 14 tahun bernama Siti, film pendek ini menyajikan secara eksplisit bagaimana lingkaran setan ini tak akan pernah berhenti.

Alkisah, Siti diiming-imingi teman almarhum bapaknya untuk mengadu nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri. Namun, harapan dan cita-citanya pupus ketika Ia menjadi korban perdagangan manusia dan tindakan kekerasan seksual dibawah umur. Di usia yang begitu belia, Ia dihadapi kenyataan pahit untuk menghadapi pria pedofil bahkan akhirnya dibuang ke Jakarta ketika dianggap tak layak pakai lagi.

Sementara, Sulton yang diperankan Surya Saputra kerap kali mengulang-ulang betapa dekat dirinya dengan almarhum ayah Siti bahkan kerelaaannya meminjamkan sejumlah uang kepada Uti (Ibu Siti). Tetapi Sulton tidak hanya bermain-main dengan kemanisan saja nyatanya dia memberikan gertakan kepada Uti, banyak utang yang ditanggung belum termasuk bunga yang harus dibayarkannya. Uti meragu sementara Siti terlena dengan janji-jani manis Sulton. Kemiskinan dan keterbatasan pilihan selalu menjadi faktor utama alasan seseorang percaya untuk memilih jalan hidup sebagai pekerja di luar negeri.

Buang tidak main-main dalam merepresentasikan isu perdagangan manusia serta tidak menyederhanakan logika bagaimana lingkaran setan ini tetap terus berlanjut hingga sekarang. Sutradara berani menyajikan adegan pemerkosaan yang dilakukan pria dewasa kepada Siti secara frontal. Dampaknya: Penonton dibuat gelisah dan geram, mengapa bisa membiarkan hal ini terus terjadi? Atau bisa jadi baru menyadari telah sedemikian parah kasus perdagangan manusia begitu pula efeknya kepada korban.

Memang akan sungguh rumit untuk mengupas kronologis bagaimana perdagangan manusia dapat terjadi apalagi dalam medium film pendek, alih-alih merumitkan atau sekedar memberikan pesan moral belaka, Buang justru terasa sebaliknya. Hal yang jelas adalah gagasan kasus ini dapat dimulai dan diakhiri oleh orang yang sama – dalam artian mereka yang kita anggap terpercaya bisa jadi tersangka utama.

Mbak Mar, Rasyid, dan Suster Marissa pada akhirnya menjadi tokoh yang tidak memahami bagaimana mengakhiri tragedi yang tak berkesudahan ini diakibatkan keterbatasan yang mereka miliki, dapat dilihat ketiga tokoh ini sebagai perwakilan dari Lembaga Sosial Masyarakat, Mahasiswa dan Instansi Agama. Bisa jadi Buang sebenarnya sentilan untuk abstainnya negara dalam memerangi masalah ini.

Film Marlina The Murderer in Four Acts (2017) – Review

Marlina The Murderer in Four Acts mempersembahkan kisah seorang janda yang ditinggal mati suaminya tiba-tiba, melalui empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession dan The Birth – yang membawa dirinya lebih jauh mengenal ketimpangan hubungan relasi kuasa atas gender. Mouly Surya, selaku sutradara menghadirkan kisah penuh dendam yang diselimuti budaya patriarki dibalik visual luas nan indah di Sumba, Nusa Tenggara.

Film ini mengisahkan Marlina (Marsha Timothy), perempuan paling beruntung di dunia, tidak hanya dicuri semua ternaknya namun hendak ditiduri pula oleh tujuh pria dalam satu malam. Tak mau pasrah pada nasib, ia nekat meracuni mereka, sayangnya, Markus (Egi Fedly), sang ketua perampok keburu memperkosanya. Maka, sebilah parang melesat menembus lehernya, ketika Marlina tepat berada di atas tubuhnya.

Merasa perlu mencari keadilan, Marlina menenteng kepala Markus dengan maksud ke kantor polisi. Dalam penungguannya, ia bertemu dengan Novi, seorang perempuan yang tengah hamil sepuluh bulan.

Kesemerawutan Hidup Perempuan

Dalam babak kedua The Journey, tokoh Novi (Dea Panendra) menjadi sentral melalui dialog sensual yang menggambarkan seksisme begitu kental dalam budaya masyarakat Sumba dan berlaku pula di Indonesia secara general. Disini, Novi menyampaikan kegelisahannya soal perempuan dan birahi. Karakternya dengan lugas menuturkan nafsu seksualnya meningkat dikala sedang hamil muda lalu sering dikritik ibu mertua mengenai wanita tidak boleh begini dan begitu. Novi menjadi sosok yang melawan seksisme atas dirinya dengan mengambil hak-hak dan keinginan pribadinya.

Walaupun begitu, ia masih naif ketika Marlina berkisah dirinya habis diperkosa. Novi bergegas mengajaknya ke gereja untuk mengaku dosa sementara Marlina tak merasa dirinya berdosa. Perdebatan ini menjadi penting untuk didiskusikan dengan melihat dari sudut pandang penyintas dan orang luar. Apakah Marlina berdosa telah membunuh Markus? Apakah ia bersalah atas apa yang ia lakukan? Alih-alih memberikan pembenaran atau penghakiman kepada tokoh Marlina, Mouly Surya bermain-main dengan surealisme, melalui serangkaian adegan dari representasi rasa bersalah, ketakutan ataupun kegelisahan Marlina atas perbuatannya kepada Markus.

Maka, sampailah dia pada babak The Confession yang berujung kesia-siaan.

Wanita sejak lahir memang kadung sial, mungkin itu yang hendak disampaikan dalam babak ini. Sejak awal, dialog ditekankan bahwa pemerkosaan itu bisa dinikmati tidak hanya pelaku namun korbannya pula. Marlina terperanjat ketika polisi yang meng-interograsinya membutuhkan hasil visum kekerasan seksual. Keterkejutan ini bisa jadi terhubung dengan adegan pemerkosaan, ia berada dalam posisi women on top atau mengambil alih kegiatan seksual dengan menjadi pihak dominan sementara kasus pemerkosaan kental dengan unsur kekejaman atau sadisme.

Disini hukum Indonesia dikritik atas aksi pemerkosaan harus selalu meninggalkan bekas legam di tubuh korbannya. Padahal pelecehan seksual tidak hanya berkutat pada hal-hal yang violence tapi bisa meliputi tindakan yang disebut Sexual Coercion. Menilik kebelakang, peristiwa Marlini ini bisa diakui kebenarannya dengan melihat berita tempo silam dimana proses penyidik mewawancarai penyintas pemerkosaan dengan membubuhkan diksi ‘nyaman’. Sebobrok itukah hukum di Indonesia terhadap perempuan? Secara eksplisit, Mouly Surya menyampaikannya pada adegan Marlina menanti di ruang tunggu dengan para polisi asik bermain tenis tanpa memperdulikan dirinya.

Adegan kelahiran dan pembunuhan terakhir menjadi penutup pada babak The Birth. Novi dan Marlina menyelamatkan satu sama lain, menunjukan kuasa perempuan yang tidak membutuhkan laki-laki untuk membela diri. Pengulangan adegan terjadi ketika Novi memenggal kepala Franz (Yoga Pratama) yang tengah memperkosa Marlina. Novi terbebas dari penjara moralitas ketika dihadapkan pilihan rumit: diam atau melawan.

Pada adegan yang sempit kala Novi tengah menjalani persalinan, sosok suami Marlina yang dimumikan menjadi representasi penting mengenai kedudukan laki-laki yang sejatinya tidak berdaya dengan kemaskulinitasannya.

Marlina The Murderer in Four Acts memang jelas bisa dikategorikan sebagai film feminis, bentuk respon atas tindakan opresi pada perempuan yang diindikasikan oleh diskriminasi, marginalisasi dan kekerasan. Semua karakter perempuannya kuat dan berani dalam bertindak ataupun bertutur ditengah-tengah tekanan budaya partiarki.

Serial 13 Reasons Why (2017) Seasons 1- Review

Manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial maka komunikasi merupakan kebutuhan fundamental yang tidak dapat dihindari. Lantas, apa jadinya bila kita teralienisasi dari lingkungan?

Melalui serial 13 Reasons Why yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Jay Asher, kita akan melihat bagaimana sosok Hannah Baker (Katherine Langford) yang dipenuhi dengan beragam ekspektasi di masa remajanya terpaksa harus menelan kenyataan pahit dengan memutuskan mengakhiri hidup akibat menerima penindasan dan pelecehan berulang kali di Liberty High School dari orang-orang yang dulu dianggapnya sebagai teman.

Dalam 13 Reasons Why, semua memang akan tampak begitu membingungkan karena semua karakter memiliki latar belakang kuat dan terkadang seakan minta dikasihani walaupun sebenarnya mereka menjadi penyebab utama alasan Hannah bunuh diri.

Alkisah, Clay Jensen (Dylan Minnete) menemukan satu buah kotak misterius yang diberi label bertuliskan namanya di depan rumah. Sesuai peraturan film bergenre misteri tentu Clay penasaran dan ternyata ia mendapati setumpuk audio kaset yang diberi label angka dari satu sampai tiga belas di kedua sisinya. Tujuh buah audio kaset dan satu buah peta membuat dirinya diterpa rasa kebingungan.

Selanjutnya, sudah pasti ia berusaha menemukan cara mendengarkan audio kaset itu dan kini ia harus menerima fakta ketika berhasil memutar audio kaset misterius itu dan mendengar suara renyah yang tak asing lagi di telinganya. Suara perempuan yang dulu ditaksirnya — perempuan bernama Hannah Baker yang beberapa minggu sebelumnya melakukan aksi bunuh diri.

CLAY

Hello, boys and girls. Hannah Baker here. Live and in stereo.” Clay tampak terkejut mendengar suara itu dan terlebih lagi ketika Hannah menyatakan bahwa barang siapa yang menerima rekaman tersebut berarti ia merupakan salah satu alasan dirinya memutuskan untuk bunuh diri.

Dalam 13 Reasons Why hanya ada dua aturan main, pertama: dengarkan, dan kedua: teruskan kaset itu kepada orang setelah nomor kaset yang berisikan kisahmu. Ingin lari dan berusaha tidak mendengarkan? Hannah telah mempersiapkan rencana cadangan dengan mengancam akan mempublikasikan rekaman audio tersebut ke publik apabila peraturan yang dibuatnya dilanggar.

Lalu apakah 13 Reasons Why hanya berbicara soal balas dendam dari orang yang mati bunuh diri?

Remaja Bunuh Diri dalam Adaptasi Televisi

Kita semua tentu tahu konsekuensi dari bunuh diri tetapi tidak semua tahu bagaimana mencegah tindakan tersebut. 13 Reasons Why melihat urgensi itu dan berusaha menyampaikan sejatinya tindakan atau aksi kecil dapat memicu tingkat depresi seseorang. Serial terbaru Netflix ini mampu menghadirkan atmosfir yang semakin gelap setiap episodenya. Total ada 13 episode di musim pertama yang berarti ada 13 alasan akan dikemukakan oleh Hannah mengenai alasan di balik tindakan bunuh dirinya.

Serial ini akan memiliki rasa kedekatan karena tersaji sangat realistis dan jarang terekspos media, seperti latar tempat di tembok kamar mandi yang dipenuh kata caci makian tidak lagi menjadi penyaji rasa namun bumbu utama mengenai hal kecil yang seringkali dihiraukan padahal memicu tindakan perundungan. Maupun penggunaan kata-kata kasar kerap kali digunakan oleh para tokoh yang notabanenya masih menginjak masa remaja.

Semua tentu tahu dan pernah mengalami masa liar remaja yang identik dengan kata ‘pemberontakan’. Hannah ingin merasakan itu semua, menikmati pesta dan bir, ciuman pertama juga memiliki banyak sahabat. Namun keinginan-keinginan itulah yang membawanya menuju petaka.

justin

Justin Foley (Brandon Flynn) adalah kesialan pertamanya. Jatuh cinta membawanya kepada keterpurukan ketika foto tak senonoh tersebar luas keseantero sekolah dan menciptakan rumor dirinya sebagai seorang ‘wanita murahan’ yang sebenarnya tidak pernah terjadi hal demikian. Kemudian perlahan-lahan dia mulai kehilangan satu persatu temannya, dikhianati hingga dilecehkan.

Angket sederhana yang tidak lebih dari sekedar body shaming membawa Hannah hancur. Jiwanya rusak ketika hal kecil berupa potongan kertas bergambar kelinci diambil tanpa dia ketahui. Satu-satunya komunikasi yang dia dapatkan terputus sudah, lalu sisa apalagi? Apa yang mesti dipertahakankan? Hannah berusaha mencari jawaban walau alih-alih telah menyiapkan serangkaian rencana untuk bunuh diri.

Ketika dia berusaha untuk sekali lagi meminta pertolongan, tidak ada seorang pun yang mendengarnya apalagi hendak mencegahnya. Teman, orang tua, maupun guru tidak ada yang mampu memahami apa yang kini tengah bergejolak dipikiran Hannah. Ironisnya, kata-kata ‘menghakhiri hidup’ yang keluar dari mulutnya hanya dianggap sekedar guyonan belaka. Penyesalan selalu datang terlambat bukan?

Melalui rekaman itu, Hannah berusaha membuka diri kepada mereka yang dianggapnya menjadi serangkaian alasan kenapa dia memutuskan untuk bunuh diri. Mungkin Hannah tidak akan pernah tahu alasan mengapa mereka melakukan beragam tindakan buruk kepada dirinya namun setidaknya mereka kini tahu apa yang dirasakan oleh Hannah.

Di akhir episode, adegan Hannah memotong pergelangan tanggannya dan tak lama kemudian ditemukan oleh kedua orang tuanya merupakan pesan tak tersirat yang menyatakan bunuh diri bukanlah tindakan heroik melainkan tindakan keji karena menyakiti perasaan orang-orang yang mencintai dirinya dengan setulus hati.

Sepanjang menonton 13 Reasons Why bisa dipastikan akan timbul rasa tidak nyaman, seperti resah, sesal hingga bersalah ketika kita selaku penonton menyadari mungkin saja telah melakukan hal serupa dengan para tokoh yang menjadi penyebab alasan Hanna bunuh diri. Entah sebagai pihak yang tertindas, menindas maupun tutup mata atas apa yang jelas-jelas terjadi di depan mata.

Serial ini pun menjadi sangat penting karena membicarakan isu yang masih belum berani untuk diangkat ke publik secara nyata. Isu bunuh diri pada remaja masihlah dipandang sebelah mata, ada memang yang peduli namun tidak sedikit juga yang hanya memandangnya sebagai angin lalu. Depresi faktanya tidak memandang umur bahkan berdasarkan data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2014, tindakan bunuh diri menjadi urutan kedua di daftar 10 penyebab kematian bagi remaja berumur 15-24 tahun di United States. Serial ini berusaha menyadarkan kita untuk segera bertindak cepat dan berusaha agar tidak ada lagi remaja yang berakhir seperti Hannah Baker.

13 Reasons Why tidak berbicara menyoal mencari pertolongan namun lebih kepada bagaimana merubah sikap kita sebagai manusia yang harus lebih baik daripada sebelumnya. Menolong sesama tanpa perlu mempertimbangkan banyak hal. Karena di luar sana, banyak remaja seperti Hannah Baker yang tertindas, kesepian dan kebingungan untuk meraih pertolongan.

“Some of you cared… none of you cared enough.” – Hannah Baker

Film Pendek Sendiri Diana Sendiri (2015) – Review

Diana hanya dapat menatap nanar pada sebuah layar yang sedang mempertunjukkan bagan-bagan romansa tentang pembagian gono-gini dimulai dari harta, waktu hingga cinta. Jari jemari kecilnya terus menekan simbol panah bawah sampai akhirnya mempertanyakan apa maksud presentasi power point di hadapannya itu, dengan santai sang suami, Ari menjawab hendak menikahi wanita lain. Mungkin saat itu hancur lebur sudah hatinya sebagai seorang istri yang akan dimadu.