Drama Korea Voice (2017) – Review

Kang Kwon-Joo (Lee Ha-Na)

Tampaknya OCN terus berusaha membayang-bayangi tvN sebagai stasiun televisi yang memproduksi drama crimethriller terbaik saat ini. Drama korea Voice hadir sebagai pelengkap kesuksesan produksi drama lain dari OCN tahun lalu, yaitu Tunnel (2017) dan Save Me (2017) yang meraih rating bagus.

Dengan tempo cerita cepat berbalut aksi berdarah, Voice sempat menerima peringatan dari lembaga sensor di Korea yang berakibat sensor disana sini. Kim Hong-Sun selaku sutradara mengkukuhkan drama ini sebagai salah satu drama terbaik tahun lalu dan menghasilkan musim kedua yang kabarnya siap tayang pertengahan tahun depan.

Mengisahkan Kang Kwon-Joo (Lee Ha-Na), ahli analisa suara (voice profiler) yang berambisi menangkap pembunuh berantai yang membunuh ayahnya dan istri detektif Moo Jin-Hyuk (Jang Hyuk). Kwon-joo dan Jin-Hyuk lantas bergabung dalam tim Golden Hours (Waktu Genting) di pusat pelayanan telepon darurat 112 untuk mengungkap pembunuhan berantai yang melibatkan Mo Tae-Goo (Kim Jae-Wook). Selain itu, mereka juga harus mampu memecahkan ragam kasus dalam tenggat waktu yang cepat.

Voice: Waktu adalah Musuh

Drama korea Voice mengklaim bahwa kasus yang tersajikan diangkat dari kasus nyata dan dekat dengan kehidupan masyarakat: perdagangan manusia, penculikan, korupsi hingga penjualan organ ilegal. Mengambil pola serupa dari drama Signal (2016) yang mereferensi kasus-kasus besar dan belum terselesaikan yang akhirnya bermuara untuk memecahkan satu kasus besar.

Moo Jin-Hyuk (Jang Hyuk)

Perbedaannya, Signal menekankan pada alur cerita yang pelik belum lagi bumbu fiksi ilmiah berupa melintas waktu. Sementara Voice berfokus terhadap kasus yang hanya selesai dalam hitungan jam bahkan menit. Penonton akan dibuat berdebar jantungnya dan penasaran bagaimana kedua detektif dapat menyelamatkan korbannya sambil berpacu dengan waktu.

Dari semua kasus, saya sangat terkagum-kagum ketika Jin-Hyuk dan Sim Dae-Sik (Baek Sung-Hyun) berusaha memecahkan misteri di Pusat Perlindungan Nakwon yang melibatkan tunawisma ingin membunuh dokter disana dan meminta diselamatkan. Bagi saya itu salah satu misteri yang mencenangkan karena melibatkan konspirasi rumah sakit, perdagangan manusia, dan penjualan organ.

Salah satu keunikan drama korea Voice juga dari orisinalitas karakter pembunuh berantai dengan senjata berupa bola besi. Kebanyakan drama korea sejenis kerap mengambil referensi pembunuh berantai dari kasus nyata, misal Kasus Hwaseong (paling banyak jadi referensi). Di drama ini, karakter psikopatnya adalah seorang anak kaya raya dan kebal terhadap hukum. Sayangnya, keunikan ini tidak dibarengi dengan pendalaman karakter yang mendalam. Si pembunuh hanya diposisikan sebagai anak yang salah didikan dan kebetulan saja kaya raya sehingga tidak takut melakukan tindak kriminal.

Tae-Goo bisa dikatakan pembunuh paling vulgar yang pernah saya temukan dalam drama korea karena ia tak segan-segan mengkeringkan darah dalam tubuh korbannya untuk digunakan ia mandi. Sayangnya irasional sang pembunuh terkesan kekanak-kanakan dan impulsif dalam mengambil tindakan. Bahkan sulit untuk mendefinisikan karakter Tae-Goo, entah ia sebagai sosiopat atau psikopat.

Mo Tae-Goo (Kim Jae-Wook)

Terbukti ketika Kwon-Joo dan Jin-Hyuk menyadari Tae-Goo adalah pembunuh yang mereka cari selama ini. Mereka berusaha mencari bukti keterlibatan Tae-Goo agar bisa dituntut secara hukum. Tetapi alur sedikit dangkal dan terburu-buru untuk diceritakan walaupun telah ada dua episode tambahan (pengaruh rating). Maksudnya, sekelas psikopat yang kaya raya, Tae-Goo memiliki potensi untuk memanipulasi kedua detektif tersebut. Menyembunyikan kejadian perkara dan bertindak lebih rasional untuk bisa menghancurkan lawannya. Rasa-rasanya terlalu mudah bagi Tae-Goo untuk ditangkap, malah terkesan dikerdilkan.

Untungnya, hal ini dapat ditutupi melalui kepawaian Jae-Wook dalam memerankan sosok sosiopat berdarah dingin. Ia menjadi bintang dalam drama korea ini dan mau tidak mau kita sedikit berempati atas dirinya yang butuh pengakuan. Beberapa latar tempat pun cukup berkesan, misalnya tempat jagal Tae-Goo yang mengerikan. Ruang berbentuk persegi itu sangat otentik dan kelam.

Voice bisa menjadi referensi bagi kamu yang ingin menikmati drama korea tanpa perlu jengah dengan adegan-adegan romantis yang bikin kepala cenat-cenut. No romance at all.

Sila menonton dan jangan lupa baca review drama korea lainnya di situs ini!

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment