Film Dokumenter Masih Ada Asa (2015) – Review

Masih Ada Asa (2015) menceritakan dua sudut pandang penyintas. Pertama, Ati, perempuan muslim yang tinggal di Kabupaten Sikka, Ngolo, Flores. Ati mengisahkan ketika dirinya menjadi korban pemerkosaan oleh anggota DPRD. Lalu, Ros, perempuan nasrani yang hijrah ke Ibukota untuk mencari kehidupan lebih baik setelah menjadi korban pemerkosaan oleh 11 orang. Ati dan Ros hanyalah segelintir dari ribuan perempuan penyintas kekerasan seksual yang berasal dari Maumere, Flores.

Yuda Kurniawan, selaku sutradara berusaha mengungkapkan bagaimana realita keji ini dapat terjadi dari dua sudut pandang perempuan, berbeda agamadengan satu tujuan: berjuang melanjutkan hidupnya kembali tanpa melupakan gelombang masa lalu yang pernah menerkam mereka.

Tanpa disertai narasi karena tidak ingin mengintervensi kisah mereka berdua, Yuda menghadirkan secara jujur dan lugas agar penonton dapat mengambil kesimpulan sendiri setelah menonton film dokumenter berdurasi 85 menit ini.

Sungguh sulit untuk menceritakan pengalaman menonton Masih Ada Asa, selain karena kepolosannya yang menghadirkan keseharian kedua penyintas, pelan-pelan film ini juga mampu menusuk batin dan menampar habis-habis penonton: Apa yang sudah saya lakukan saat ini? Pertanyaan ini terus bergeming sebagai bukti kita selaku masyarakat masih belum menyadari betapa mendesak kasus kekerasan terhadap perempuan untuk segera dihentikan.

Ada beberapa catatan penting yang dapat diambil dari Masih Ada Asa. Pertama, Tindak kekerasan seksual dapat terjadi tanpa peduli busana apa yang dikenakan. Ati berpakaian serba tertutup bahkan berhijab namun dirinya tidak lepas dari mangsa predator yang tak punya akal. Kedua, penyintas menerima tindakan yang sama dari ibu mereka, yaitu ditampar ketika mendapati mereka telah diperkosa. Ketiga, akhir kasus yang berbeda dimana Ati tidak mendapatkan keadilan bagi dirinya, karena sang dewan memiliki kekebalan hukum sementara Ros menerima keadilan dengan pelaku dijerat hukuman 3 tahun penjara walau harus menerima ancaman serta iming-iming harta untuk menghentikan kasusnya. Terakhir, keberadaan lembaga TRUK-F sebagai pendamping penyintas dari perlindungan hingga penanganan kasus.

Peran keluarga dan lembaga sosial menjadi penting disini untuk membantu penyintas dalam menghadapi masa trauma serta mendapatkan keadilan. Tanpa dukungan, banyak kisah para penyintas yang berakhir tak lebih dari sekedar angin lalu.

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment