Film Ghibli dan Lima Karakter Perempuan Terfavorit

Apa hal yang paling sering muncul dalam setiap film Ghibli? Menurut saya pribadi, kebanyakan semuanya sarat akan isu terutama masalah lingkungan dan kemanusiaan. Mereka menjadi fenomena yang terus dibicarakan karena permasalahan yang tidak kunjung selesai.

Tentu saja barisan film yang memvisualisasikan seputar fenomena ini teramat banyak, tetapi Ghibli dengan animasinya memberikan sebuah nuansa tersendiri: cerita anak-anak yang penuh warna, ceria namun diam-diam memberikan pesan yang gelap.

Selepas kedatangan saya ke acara Limited Screening ‘Spirited Away’  with special attendence by Studio Ghibli di Plaza Senayan XXI beberapa pekan lalu memberikan sedikit ide untuk membuat tulisan mengenai karakter perempuan yang memberikan saya banyak pesan mengenai tindakan ke-pahlawanan, ke-relaberkorbanan, dan perjuangan. Ketimbang membicarakan keseluruhan cerita dalam setiap film Ghibli yang mungkin akan menghabiskan banyak waktu.

Karakter-karakter ini umumnya disusun berdasarkan urutan tingkat kesukaan saya dengan menjadikannya sebagai urutan peringkat lima besar. Pemilihannya jelas berdasarkan justifikasi subjektif saya selaku penulis.

Now to the top 5 !

#5. Satsuki Kusakabe dan Mei Kusakabe (My Neighbor Totoro, 1988)

05 Satsuki dan Mei

Karakter bersaudari dalam film My Neighbor Totoro menempati urutan terbawah bagi saya. Sebelumnya, alasan utama memberikan tempat untuk dua tokoh dalam satu peringkat ini dikarenakan menurut saya Satsuki dan Mei adalah ‘satu penokohan’: tanpa Satsuki tidak akan ada Mei, begitu pula sebaliknya.

Karakter bersaudari ini memberikan warna sendiri pada film Ghibli tentang ‘kepolosan’ dan rasa ‘tanggung jawab’. Satsuki yang lebih tua memiliki rasa tanggung jawab terhadap Mei, adiknya yang terkadang bisa sangat egois dan tidak terkendali emosinya. Keduanya sama-sama memiliki sifat petualang yang membuat mereka dapat bertemu dengan penjaga hutan, Totoro. Satsuki dan Mei adalah wajah anak kecil ditengah-tengah kerinduan pelukan hangat seorang ibu. Dari semua karakter Ghibli, saya merasa kedua saudari ini adalah karakter paling manusiawi dan realistis.

#4. Sophie Hatter (Howl's Moving Castle, 2004)

04 Sophie

Satu hal penting yang bisa saya katakan mengenai kepribadian Sophie Hatter, yaitu : ‘strong-minded individual’. Bayangkan dalam suatu hari yang tampak biasa saja, dirinya diberikan kutukan menjadi wanita tua, mendadak harus menghadapi kenyataan wajahnya telah dipenuhi keriput, rambutnya beruban, belum lagi suara parau dan tenaga yang telah berubah drastis. Sifat positivis-nya bisa dikatakan terbilang tidak masuk akal karena tanpa kepanikan sedikit-pun selepas bangun tidur dan menyadari perubahan umurnya bukanlah sebuah mimpi belaka, ia bergegas mencari cara untuk mengembalikan dirinya lagi.

Kalau misalnya saya katakan Sophie adalah karakter paling down to earth mungkin akan menimbulkan banyak perdebatan. Tetapi tak-apalah. Sophie menurut saya adalah ikon rendah hati, dia menerima kekurangannya tanpa perlu membicarakan kelebihannya. Menariknya, sisi manusiawinya tetap ada ketika dia marah kepada Howell Jenkins mengenai parasnya yang sama sekali tidaklah cantik dan rupawan dibandingkan Howell dan betapa ingin dia menjadi seorang yang berparas rupawan. Belum lagi tuntutan rasa bersalah apabila dia melakukan kesalahan. Ketimbang melakukan Tindakan Heroik, Sophie lebih cenderung inisiatif dan responsif terhadap tekanan yang datang kepadanya.

#3. Setsuko Yukokawa (Grave of The Fireflies, 1988)

03 Setsuko

Bisa saya katakan, Setsuko Yukokawa adalah karakter yang sebenarnya ingin saya tempatkan di nomor pertama namun apa daya, pertimbangan batin yang keras membuat karakter mungil ini mundur dua nomor di daftar saya. Kemunculannya di Grave of The Fireflies merupakan hal yang sangat penting, dia adalah adik perempuan Seita Yukokawa. Kehidupan kakak-beradik ini dipenuhi perjuangan semenjak ibu mereka meninggal. Berlatar belakang Perang Asia-Pasifik dengan dipenuhi visualisasi peperangan yang memakan banyak korban jiwa membuat Setsuko menjadi ikonik sendiri untuk saya pribadi.

Umurnya masih empat tahun dan selalu mengekor ke kakaknya, Seita. Dia adalah pemanis yang selalu bersemangat dan riang tidak peduli ketika mereka tidak memiliki tempat tinggal sama sekali dan harus hidup luntang-lantung hingga tidur di gubuk terlantar. Setsuko merupakan bukti nyata korban perang yang tidak tahu apa-apa, ketika dia mempertanyakan mengapa kunang-kunangnya mati dan ibunya tiada. Kepolosannya memberikan rasa hangat bahkan dipenghujung kematiannya dikarenakan kekurangan gizi. “Why do fireflies have to die so soon?” – Setsuko to her brother, Seita.

#2. Chihiro Ogino (Spirited Away, 2001)

02 Chihiro

Pengakuan: ternyata saya memang belum bisa pindah ke lain hati dari karakter ini.

Siapa yang tidak mengetahui film terbaik sepanjang masa dari Ghibli ini, Spirited Away yang memenangkan film animasi terbaik dalam ajang kompetisi bergengsi Academy Award. Berbicara mengenai karakter di dalam film fantasimagisrealism ini tentu bisa menimbulkan banyak kegemasan karena masing-masing karakter mempunyai kisahnya sendiri. Chihiro, sebagai tokoh utama adalah seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang terjebak dalam dunia spiritual ketika tanpa sengaja orangtuanya memakan makanan untuk para roh dan dikutuk menjadi babi. Setelah itu, Chihiro harus berjuang keras dengan menjadi pekerja di sebuah pemandian air panas.

Chihiro menurut saya memiliki kepribadian paling rumit (termasuk kisah Spirited Away sendiri). Chihiro harus memberikan namanya kepada sang penyihir, Yubaba dan diberikan nama baru, yaitu ‘Sen’. Pergantian nama tersebut seolah-olah memberikan perubahan kepribadian baginya. Walau dibantu oleh Haku, dia tetap dapat mengingat namanya. Pada awal cerita, Chihiro digambarkan sebagai seorang anak yang memiliki sifat kekanak-kanakan, mudah ketakutan dan gampang mengeluh tetapi lambat laun setelah mengalami banyak kejadian di dunia spiritual dirinya berubah menjadi kepribadian remaja yang dewasa. Chihiro tidak dapat diprediksi sehingga banyak kejutan yang diberikan olehnya sepanjang film berjalan. Dia adalah karakter yang terkadang paling tidak konsisten tetapi memiliki tujuan untuk kembali pulang ke dunianya dan menyelamatkan kedua orangtuanya.

#1. Princess Nausicaä (Nausicaä of The Valley of The Wind, 1984)

01 Princes Nausicaa

Apa yang menjadikan Nausicaä, sang putri dari kerajaan Valley of The Wind ini masuk sebagai urutan pertama dalam daftar saya? Pertama perlu diluruskan, penempatan ini jelas bukan semata-mata karena film Nausicaä of The Valley of The Wind adalah film pertama buatan Ghibli. Nausicaä memang memberikan warna tersendiri walau sebenarnya karakternya nyaris serupa dengan Mononoke, yaitu kepeduliannya terhadap alam. Tetapi Nausicaä lebih menyentuh hati saya karena semangatnya yang tidak sebrutal Mononoke (cheers!).

Nausicaä memiliki kemampuan telepati dengan serangga besar dan tumbuhan yang hidup di hutan. Ketika semua manusia berencana untuk menghancurkan kerumunan serangga untuk kembali sekali lagi menjadi mahluk paling dominan, dia berjuang keras untuk melawan itu semua dan mengharapkan manusia dan serangga dapat hidup bersampingan. Dia mendedikasikan hidupnya untuk banyak orang, keberaniannya bahkan menginsipirasi musuhnya, Kushana. Tidak hanya itu, Ohma – sang serangga besar yang memiliki spora beracun pun takluk pada kerendahan hatinya.

Bagi saya, Nausicaä adalah karakter yang memiliki daya tarik tersendiri dan tidak bisa dijelaskan itu apa. Dari semua karakter Ghibli, dia memiliki kepribadian apa adanya dan ketulusannya memberikan sisi untuk melihat kebaikan seseorang tanpa pandang bulu. Kerelaberkobanannya begitu besar, kecintaannya kepada alam tanpalah syarat. Itu yang membuat saya jatuh cinta pada karakter ini dan menangis tersedu-sedu ketika dirinya terhempas – mengorbankan nyawanya untuk menghentikan perseteruan antara Ohmu dan manusia.

Rasanya menempatkan dia sebagai karakter perempuan yang paling saya segani dan kagumi adalah tepat. Dia mengajarkan saya untuk melihat kebaikan dan menolerir kekejaman, selalu berpikir melakukan perubahan tidak peduli seberapa keras hambatan yang harus dihadapi.

There’s nothing to fear – Nausicaä

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment