Film Mokumenter hUSh (2016) – Review

hUSh berusaha mendobrak sistem patriarki melalui perempuan bernama Cinta Ramlan (diperankan Cinta Ramlan) yang menyampaikan kegelisahannya mengenai kesenjangan antar gender, dimana korban selalu saja perempuan. Cinta berusaha mengajak berdiskusi bagaimana wanita kerap kali dipandang rendah bila menyukai hal-hal bersifat cabul padahal semua orang menyukai seks. Lelaki yang berhasil memperawani pacarnya dianggap sebagai simbol maskulinitas sementara perempuan yang tidak lagi perawan dianggap wanita murahan.

Memang agak sulit bagi saya untuk tidak mengkaitkan bagaimana hubungan hUSh dengan kumpulan cerita pendek Djenar yang juga sutradara di film mokumenter ini. Saya sudah membaca semua buku-buku Djenar, maka tak bisa dipersalahkan bila sepanjang menonton hUSh saya langsung teringat oleh satu paragraf dalam kumpulan cerita pendek Djenar berjudul Jangan Main-Main dengan Kelaminmu di kisah Saya di Mata Sebagian Orang dari sudut pandang ‘saya’ berjenis kelamin perempuan:

Sebagian orang menganggap saya munafik.

Sebagian lagi menganggap saya pembual.

Sebagian lagi menganggap saya sok gagah.

Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa.

Sebagian lagi menganggap saya murahan!

hUSh jelas tidak berdasarkan pada kisah pendek ini namun ada satu kesamaan yang pasti: narasi hanya dari satu sudut pandang perempuan yang berusaha berbicara terbuka mengenai gagasan-gagasan dalam pikirannya yang selama ini dibungkam masyarakat atas nama moralitas.

Gagasan ini tidak hanya menyoal terbelunggunya pikiran wanita saja namun lebih jauh lagi ketika pembicaraan masa lalu Cinta yang dilecehkan oleh salah satu anggota keluarganya sejak belia. Terpapar dengan jelas bagaimana pelaku mengambil hati Cinta, sampai merasa nyaman dan tak merasa ada yang salah ketika mereka bermain asmara di ranjang: semua karena ketidaktahuan Cinta soal seks. Dan dengan tegas pun ia bertutur: Ini bukan perkosaan tapi pelecehan. Sampai akhirnya Ia menyadari apa yang dilakukannya merupakan kegiatan seksual, menuntunnya kepada perasaan bersalah berkepanjangan lantas menghakimi dirinya sendiri.

Bukan sekali Djenar bermain-main dengan kisah seperti ini, sebelumnya dalam cerita pendek Menyusu Ayah (karya yang menghantarkannya sebagai penulis fenomenal), Ia menceritakan tokoh fiksi Nayla yang rindu menyusu penis ayahnya, sebagai bukti dirinya telah diperdaya dan dilecehkan sang ayah bahkan sejak balita.

hUSh pada akhirnya tidak berusaha mendikte atau membenarkan segala macam perilaku Cinta, dia hanya berusaha jujur dan mendengarkan tanpa perlu mengadili si pencerita – karena itu lah yang dibutuhkan para penyintas kekerasan seksual.

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment