Film No Touching at All (2014): Nikmatnya Cinta Terlarang

Film No Touching at All (2014) mengisahkan Toshiaki Shima (diperankan Kousuke Yonehara) yang sering menyendiri. Ia bahkan sampai tidak tahu cara untuk berbasa-basi. Trauma kemudian menuntunnya kepada Yosuke Togawa (diperankan Masashi Taniguchi), rekan kerja dan sekaligus bos di kantornya. Bagi Shima, percintaan antara dua pria adalah niscaya serupa fana. Sementara itu, rasa cinta sering kali malah tumbuh tanpa diminta.

Dalam film, Shima digambarkan sebagai pria pemalu. Hidupnya hanya berkutat di kantor dan kamar. Ia bahkan cenderung untuk menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya, terutama Toga. Kalau ditanya perihal alasannya, ia akan mengelak dan menghindari si penanya. Trauma menjalin hubungan dengan manusia terlebih laki-laki adalah alasannya, karena ia pernah dirundung di kantor lamanya hingga mengundurkan diri.

Di tempat kerja barunya, ia bertemu Toga yang bertolak belakang darinya. Toga digambarkan sebagai pria enerjik, perokok berat, maskulin, easy going.

Sebagaimana film-film bertemakan yaoi, dikotomi antara pria maskulin dan feminin menjadi “penting” untuk dihadirkan dalam menggambarkan suatu hubungan percintaan yang homoseksual.

Sifat Shima yang pemalu itu adalah penanda ia seorang pria feminin dan Toga dengan rokok beratnya itu adalah pria maskulin.

Problematik film No Touching at All tidak hanya menyoal dikotomi tersebut, melainkan juga adanya reproduksi mitos tentang fantasi dan hasrat pria homoseksual terhadap pria heteroseksual.

Toga adalah manifestasi dari mitos itu.

No Touching at All dan Mitos Homoseksual

Review Film No Touching at All
Yosuke Togawa (diperankan Masashi Taniguchi)

Serupa dengan Shima, Toga juga memiliki trauma. Ibu, ayah dan adiknya meninggal dunia ketika terjadi kebakaran di rumahnya. Hanya dia satu-satunya yang selamat dan kala itu ia masih tergolong kanak-kanak. Peristiwa itu terjadi saat musim salju dan sejak itu tidak ada lagi ingatan baik baginya ketika salju turun. Pengalaman hidupnya itu diceritakan ke Shima selepas mereka melakukan persenggamaan untuk pertama kalinya.

Shima juga menghadapi rasa trauma: ia terlibat percintaan dengan rekan kerjanya, tetapi si rekan kerja itu malah menyebar kabar burung bahwa ia digoda oleh Shima yang gay. Semenjak itu, Shima enggan untuk berbagi kisah dengan orang lain. Ia turut merasakan ada yang salah dengan dirinya sebagai seorang homoseksual.

Entah mengapa trauma kerap kali diidentikkan dengan kelompok minoritas LGBTQ+, seolah-olah traumalah yang menuntun seseorang untuk berperilaku katakanlah sebagai homoseksual. Homoseksual tidak pernah hadir apa adanya, selalu dibutuhkan rentetan penjelasan yang kompleks, seperti absennya ibu/ayah.

Kita pun bisa melihat dengan jelas kondisi Shima yang digambarkan penyendiri dan bahkan mengalienisasi dirinya dari siapapun, termasuk Toga. Meskipun tidak secara kentara apakah Shima memiliki orang tua atau tidak, tetapi lewat Toga yang menyukai Shima (dan dia kehilangan orang tuanya), kita bisa melihat bagaimana “trauma” menjadi faktor utama seseorang “berperilaku menyimpang”.

Tidak hanya itu, bahkan tokoh Toga tidak pernah mengakui orientasi seksualnya. Hal ini tergambarkan ketika Toga ingin mempertahankan hubunganya dengan Shima, namun dibalas dingin oleh Shima dengan alasan-alasan yang kelewat tidak logis, yaitu menetapkan orientasi seksual Toga sebagai pria heteroseksual yang hanya sedang mengeksplorasikan hasrat seksualnya. Pemikiran semacam itu berulang kali ditampikan lewat dialog, baik antara Shima dan Toga maupun Shima dan Ryo Onoda (diperankan Sho Tomita), teman dekat Toga.

Ketidakjelasan orientasi seksual Toga (entah bisexual atau homoseksual) itu dimaksudkan agar penonton percaya bahwasanya Toga adalah pria heteroseksual yang kemudian jatuh cinta kepada Shima yang seorang homoseksual.

Ini bermanifestasi menjadi suatu fantasi penonton tentang cinta terlarang yang dalam konteks ini adalah hubungan romantis yang tidak diperbolehkan untuk alasan apapun terkait norma, sosial, dan agama. Salah satunya homoseksual. Ide usang semacam itu banyak direproduksi dalam berbagai produk budaya populer terutama bertemakan boys love/yaoi. Penonton mengonsumsi bentuk cinta semacam itu karena ada label “terlarang” yang melekat, dan maka dari itu menjadi asyik dan mendebarkan untuk dinikmati.

Ini dibuktikan lewat tokoh Toga yang mengklaim bahwa ia adalah tipe Shima. Shima yang menolak pendapat itu kemudian tidak mengelak ketika Toga mulai melucuti pakaiannya dan berakhir dengan persetubuhan yang lewat mata kamera ditampilkan begitu membara.

Secara visual, dikotomi pria maskulin dan feminin juga turut digambarkan pada adegan sensual itu oleh pengarang yang di mana Toga diposisikan sebagai Top (yang melakukan penetrasi) dan Shima yang feminin adalah bottom (yang dipenetrasi).

Bukti dikotomi itu juga terlihat dari pemilihan diksi kawaii yang digunakan Toga untuk mendeskripsikan karakter Shima. Kawaii dalam budaya Jepang bermakna keadaan atau penampilan yang imut. Definisi lainnya adalah identik dengan sifat kekanak-kanakan, menggemaskan, dan polos serta bisa juga untuk mendeskripsikan sesuatu yang mempesona dan imut misalnya gadis muda atau laki-laki muda yang cantik. Di mata Toga, Shima adalah pria yang cantik dan imut serta polos dan rapuh.

Pada akhirnya, mitos-mitos terkait pria homoseksual dan hubungan percintaan gay itu menjadi penting bagi film No Touching at All agar nikmat untuk ditonton.

Leave A Response
Giaji

Giaji

A 20-something who loves writing and watching mostly k-dramas. Apart from tv and movie reviews, I also talk and discuss about cultural and media issues. If you find my blog useful and helpful don't forget to subscribe. Thanks for reading!

Leave a Reply

%d bloggers like this: