Film Pendek Maryam (2014) – Review

Film pendek Maryam menceritakan Yam, seorang asisten rumah tangga yang dihari natal mesti menjaga Tuan, yaitu pria dengan autisme yang memaksanya ke gereja untuk menghadiri perayaan Misa bersama. Ia tak kuasa menolak keinginan sang Tuan walau batin meronta karena diusik keimanannya. Ditambah Nyonya memintanya untuk tidak menghubungi selama ia pergi liburan. Dari sini kita mulai menyelami bagaimana Maryam sebagai sosok yang mesti tunduk pada orang yang menempati kelas di atasnya, yakni Tuan dan Nyonya.

Tetapi bila hanya sekedar mempersoalkan eksistensi strata sosial dalam Maryam tentu rasanya mustahil mengingat narasi yang disampaikan Sidi Saleh sangat pelik untuk disederhanakan seperti itu. Bisa jadi, relasi kekuasaan yang ada malah berasal dari agama yang seolah-olah menyudutkan Maryam si empunya nama yang erat dengan tokoh di agama-agama samawi, seperti Islam dan Kristen.

Maka gagasan yang paling dekat adalah: Apakah Maryam berbicara bagaimana personalitas orang seringkali dilihat berdasar pada agama? Pertanyaan ini hadir tatkala Yam tidak hanya mengubah model jilbabnya saja namun juga menangis di hadapan Bunda Maria. Apakah ini representasi Yam sebagai hasil konstruksi dalam Islam maupun Kristen?

Bukti lain hadir saat Tuan mempertanyakan mengapa Yam masih saja bekerja padahal sedang mengandung. Keterhimpitan ekonomi selalu menjadi faktor utama, bahkan Yam mengakui janin yang dikandungnya tidak memiliki ayah. Seakan menjadi pernyataan bahwa bisa jadi ia adalah Maryam, wanita yang hamil tanpa laki-laki karena tengah mengandung anak yang suci dari pemberian Tuhan.

Sidi Saleh tampaknya ingin mempersilahkan kita selaku penonton untuk memaknai film pendeknya secara bebas berdasarkan pengalaman masing-masing. Sepertinya tidak pas bila melihat Maryam dari sudut pandang teologis juga, karena film pendek ini lebih berbicara soal antara yang berkuasa dan tidak berkuasa, entah itu diakibatkan sistem sosial ataupun konstruksi agama.

Leave A Response

Being in love with film and book since his whole life, Kukuh Giaji is a super fan of Doctor Who and dream to be the Doctor-companion someday.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment