Press "Enter" to skip to content

Review Film Indonesia, POCONG: The Origin (2019)

Dewasa ini, film horor Indonesia kembali marak bergentayangan di bioskop. Hantu lokal jadi primadona meskipun dikemas ala “hollywood”, bergaya barat, dan tampak malu-malu menunjukkan jati diri hantu-hantu dan peristiwa-peristiwa lokal terkait kemunculannya. Untungnya hal ini tidak terjadi pada film POCONG: The Origin berkat tangan dingin Monty Tiwa, yang satu dekade lalu menghasilkan karya emas Keramat (2009), yang saya dapuk sebagai film terseram bahkan hingga saat ini.

Mengisahkan Ananta (Surya Saputra), pembunuh berdarah dingin yang divonis mati dan telah dieksekusi dua kali tapi tak kunjung mati jua. Setelah akhirnya mati, Sasthi (Nadya Arina), anak tunggal Ananta meminta kepada kepala sipir untuk menguburkan jasad ayahnya di kampung kelahiran sang ayah. Sipir bernama Yama (Samuel Rizal) lalu ditugaskan untuk mengantar jasad ditemani Sasthi dan selama perjalanan mereka mengalami gangguan gaib. Sementara itu, di tanah kelahiran Ananta sebuah tragedi mengerikan terjadi dan warga memprotes kedatangan jasad Ananta karena disinyalir memiliki ilmu gaib Banaspati dan akan membawa petaka.

Berbeda dengan kebanyakan film horor, POCONG: The Origin tidak menggunakan formula ‘jump scare’ norak yang dimana-mana selalu ada sosok penampakan mengerikan. Di sudut gang kecil, di sudut kamar mandi, dan/atau di langit-langit kamar yang umum ditemukan hampir di seluruh mayoritas adegan film horor Indonesia. Film ini memiliki dasar cerita solid dan juga berusaha membawa cerita klasik urban yang sering kita dengar sehari-hari sebagai bumbu horornya. Dan ini teruji sangat efektif. Terutama bagi mereka yang pernah mengalami kejadian serupa.

Tenang saja film ini tidak akan memiliki adegan lari-lari dikejar pocong lalu dalam gelap gulita satu persatu karakter mati secara misterius hingga tersisa satu orang. Hampir sebagian besar film ini menceritakan kengerian perjalanan Yama dan Sasthi: dari tiba-tiba mobil mati mendadak hingga suara tawa nyaring mengerikan menggema. Namun POCONG: The Origintidak hanya perkara horor semata melainkan juga hubungan intimasi antara anak dan ayah.

Dengan durasi 91 menit, POCONG: The Origin juga sama sekali tidak membuat lelah menontonnya padahal ruang bercerita dalam film sangat sempit: di jalan dan di dalam mobil sementara adegan puncaknya di tanah kelahiran Ananta tersaji sangat apik meskipun terbilang singkat. Beberapa hal yang cukup menganggu bagi saya adalah seperti penataan soundtrack/scoring yang mood-nya membingungkan ketika adegan di hutan – entah itu bernuansa sedih, seram, atau bahagia? Juga pemilihan judul ‘The Origin‘ tampak masih belum bisa lepas dari pengaruh frasa judul film horor barat.

Terlepas dari catatan di atas akan sangat disayangkan jika kita melewatkan film horor Monty Tiwa ini di tengah-tengah homogen cerita pada film horor Indonesia POCONG: The Origin membawa angin segar.

Trailer Pocong: The Origin (2019)
Leave A Response

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *