Robert V. Kozinets dan Kajian Netnografi

Robert Kozinets dan Kajian Netnografi

Memahami kajian netnografi tidak lengkap rasanya jika belum membaca buku karangan Robert V. Kozinets berjudul Netnography: Doing Ethnographic Research Online. Hampir satu dekade buku itu dirilis dan nyatanya masih menjadi rujukan utama bagi para penggiat riset dunia virtual.

Diungkapkan Kozinets, netnografi adalah studi yang berfokus memahami ruang siber yang di dalamnya ada orang-orang yang berinteraksi satu sama lain dan mampu membentuk budaya dan sistem masyarakat tersendiri.

Oleh karena itu, metode risetnya berbasis penelitian observasional di mana peneliti tidak sekedar bergabung pada suatu komunitas virtual namun turut aktif berpartisipasi juga.

Kozinets lewat bukunya itu memaparkan panduan detail mengenai cara melakukan riset daring. Kajian netnografi sendiri telah banyak digunakan misalnya pada riset mengenai etika dan persepsi global terhadap illegal peer-to-peerdan file-sharing hingga aktivitas konsumer dalam dimensi marketing.

Berikut ini beberapa hal yang saya rangkum selepas membaca buku Netnography: Doing Ethnographic Research Online.

Problem Netnografi dan Tanggapan Kozinets

Kozinets memaparkan permasalahan netnografi selalu terletak pada pertanyaan “apa bedanya antara yang Nyata dan Virtual?”. Apakah komunitas virtual sama nyatanya dengan “komunitas”?

Baginya tidak ada pembeda di antara keduanya karena antara “Yang Nyata” dan “Virtual” telah bertubrukan atau dengan kata lain keduanya telah menjadi satu dunia. “Yang virtual” sama nyatanya dengan “Yang Nyata”.

Kozinets memandang komunitas virtual sama dengan “komunitas nyata”. Komunitas menurutnya adalah sekelompok individu yang berbagai interaksi sosial, ikatan sosial, dan ada format interaksi tertentu, lokasi, atau ruang, yang dalam konteks ini adalah yang dimediasi komputer atau ruang virtual.

Aspek Penting Kajian Netnografi

Alih-alih menjelaskan definisi netnografi, Kozinets memaparkan terlebih dahulu mengenai konsep studi ini dan skala penelitiannya. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Lokus penelitian netnografi adalah kolektif bukan individual. Jadi yang diteliti seorang netnografer bukan postingan atau pesan individu di internet.
  2. Kajian Netnografi mendedah kelompok, group atau kumpulan orang di mana posisi level analisisnya adalah “meso” bukan mikro ataupun makro.
  3. Netnografi meneliti interaksi individu yang dihasilkan lewat koneksi internet atau melalui komunikasi yang dimediasi oleh komputer sebagai sumber daya utamanya.
BACA JUGA  Henry Jenkins dan Budaya Konvergensi: Persinggungan Antara Media Lama dan Baru

Metode

Tidak ada metode yang tepat untuk kajian netnografi karena semua itu bergantung pada sifat dan ruang lingkup pertanyaan penelitian. Tentu saja metode yang diterapkan bisa kuantitatif, kualitatif atau menggabungkan keduanya. 

Kozinets menjelaskan bahwa dengan netnografi, peneliti bisa mengumpulkan data lewat daring dan juga menganalisisnya dengan bantuan software yang mendukung.

Beberapa metode di antara lainnya adalah:

  1. Survey. Teknik survei bermanfaat untuk memberikan gambaran awal tentang area komunitas online. Survei dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berbunyi: seberapa banyak orang membaca blog? Berapa banyak yang menggunakan komunitas online? Seberapa sering atau intesitas anggota memeriksa komunitas daring?
  2. Interviews and Journal Methods. Tentu saja yang dimaksud “interview” adalah wawancara online yang dalam penerapannya bisa dengan metode wawancara mendalam. Teknik “online depth interviews” berguna untuk memahami kondisi dan situasi sosial dari anggota komunitas virtual, juga umur, gender, kewarganegaraan, orientasi etnis, dan orientasi seksual mereka. Selain itu, Kozinets juga menghimbau peneliti agar menggunakan format catatan diari jurnal online untuk mempelajari dinamika interaksi antar anggota terkait postingan/unggahan.
  3. Focus Group Discussion. Serupa dengan FGD umumnya, Kozinets menyarankan ketika melakukan FGD online peneliti baiknya membagi kelompok (yang dicontohkan) olehnya terbagi atas 4 group yaitu: [a] The expert group; [b] The dominant talker; [c] The shy participant; dan [d] The rambler.

Social Network Analysis

Analisis Jaringan Sosial adalah metode analitis yang berfokus pada struktur dan pola hubungan di dalam dan di antara para aktor dalam jaringan. Metode ini bersifat struktural di mana unit analisisnya adalah “hubungan” dan apa yang kemudian dianggap menarik dalam hubungan itu adalah “polanya”.

Ada dua unit analisis yang bisa digunakan yaitu [a] Nodes (aktor sosial); dan [b] Ties (hubungan antara aktor). Aktor bisa berbentuk orang, tim, organisasi, ide, maupun pesan. Sementara Tie atau Ikatan bisa digunakan secara bergantian untuk menggambarkan hubungan antar aktor. Contohnya ikatan untuk berbagi informasi, transaksi ekonomi, hubungan seksual atau berbagai ide dan nilai.

BACA JUGA  Review Buku Paula Saukko, Doing Research in Cultural Studies: An Introduction to Classical and New Methodological Approaches

Dijelaskan lebih lanjut oleh Kozinets misalnya Ikatan anggota komunitas daring dapat mencakup berbagai hal seperti berbagi gambar, berbagi tautan blog, bertukar cerita, memberikan kritik dan sebagainya. “Ikatan” ini juga bisa dikategorikan dari segi “Kuat” dan “Lemah”. Ikatan yang kuat misalnya mencakup keintiman, pengungkapan diri, atau layanan bersifat timbal balik. Sementara Ikatan yang lemah lebih sporadis dan tidak teratur, juga memiliki sedikit hubungan emosional. Pada akhirnya, kategori “lemah” dan “kuat” ini sangat bervariasi tergantung konteksnya.

Menggunakan Social Network Analysis pada kajian netnografi akan membantu kita untuk lebih memahami bagaimana suatu jaringan sosial terwujud melalui konektivitas jaringan komputer.

Etika Meneliti

Bagian “etika penelitian” adalah bacaan paling menarik bagi saya. Pasalnya Kozinets berargumen dalam melakukan kajian netnografi meskipun di ruang siber kita sebagai peneliti tetap membutuhkan consent (persetujuan) dari narasumber kita.

Contoh tersederhana adalah para pengguna dengan akun pseudonym yang dinilai Kozinets juga memperlakukan nama pseudonym mereka sama berharganya dengan nama asli. Bahkan terkadang pseudonym mereka mirip dengan nama aslinya.

Oleh karena itu, penting bagi peneliti untuk mengajukan ke narasumber terkait pengungkapan nama mereka. Semua ini tentu bergantung dari nilai dan kontribusi penelitian kepada masyarakat. Bahkan tindakan legal hukum juga bisa dilakukan untuk melindungi tidak hanya narasumber melainkan peneliti juga.

Itulah beberapa hal seputar kajian netnografi dari Robert V. Kozinets.

Sumber:

Kozinets, Robert V. (2010). Netnography: Doing Etnographic Research Online. London: SAGE Publications Ltd.

Leave A Response

Leave a Reply

Close
%d bloggers like this: