Resensi Novel LAUT BERCERITA

Laut Bercerita berkisah kejadian tahun 1998 di mana para aktivis mahasiswa diculik, disiksa dan hilang rimbanya hingga saat ini. Melalui dua tokoh dengan perwatakan yang berbeda, yaitu Biru Laut, mahasiswa sastra inggris UGM yang idealis dan Asmara Jati, adiknya yang pragmatis dan berstatus calon dokter.

Novel sejarah ini berusaha menceritakan kembali bagaimana nasib para aktivis 98 yang dihilangkan dan ditinggalkan.

Biru Laut adalah lelaki yang sensitif dengan diksi dan kalimat yang melahirkan jiwa nasionalis untuk melahirkan kebebasan bagi Indonesia dengan melawan rezim orde baru Soeharto bersama kawan-kawannya di kelompok Winatra dan Wirasena. Sayangnya, perjalanan Laut tidak mulus karena harus melewati sekelumit derita akibat investigasi dari intel milik pemerintah yang penuh teror.

Dua tahun selepas menghilangnya Laut, Jati bersama Tim Komisi Orang Hilang berusaha menemukan jejak-jejak 13 aktivis mahasiswa yang tak kunjung pulang ke rumah. Dalam novel ini tersaji dua kubu, pertama mereka yang menolak kemungkinan yang hilang telah mati dan kedua yang rasionalis berpikir bahwa mereka bisa jadi telah dibunuh oleh aparat. Jati adalah kubu kedua yang merasa tersiksa melihat kedua orang tuanya masih menanti Laut untuk pulang di setiap hari minggu.

Terlepas dari kata “fiksi” yang melekat dalam novel ini, rentetan peristiwa yang terjadi dalam LAUT BERCERITA adalah hasil investigasi penulis sebagai wartawan ketika menelusuri kejadian penculikan Maret 1998 melalui kisah Nezar Patria, salah satu korban penculikan yang dikembalikan.

Maka hasilnya jelas begitu kaya dan detail ketika menggambarkan tragedi ini melalui sudut pandang mahasiswa dan keluarga yang ditinggalkan.

Contohnya, momen penyiksaan yang melibatkan tonjokan, setrum hingga tidur di balok es selama seharian. Belum lagi sesederhana makanan nasi bungkus yang disajikan bagi para tahanan tak berdosa itu. Tak elak rasa ngeri dan nyata membanjiri imaji para pembaca mengenai betapa kejamnya aparat keamanan negara yang seharusnya melindungi warganya.

Leila S. Chudori selaku pengarang juga menyertakan beberapa kejadian serupa, berupa penculikan dan pembunuhan mahasiwa di belahan dunia yang dianggap simpatisan kelompok kiri. Insiden Gwangju yang terjadi pada tahun 1980 di Korea Selatan yang menewaskan ratusan warga dan pelajar merupakan momentum dimana kisah-kisah rezim otoriter macam ini bukan sekedar dongeng belaka.

Berbicara mengenai kualitas penceritaan, saya sebagai penggemar tulisan beliau cukup puas dari segi cerita bukan teknik menulis. Ada beberapa kesan janggal yang saya temukan sepanjang membaca beberapa bab dalam Novel LAUT BERCERITA.

Pertama, gaya tutur dan pemilihan diksi yang monoton dan membosankan tidak seperti 9 dari Nadira yang kerap mencampur adukkan kisah-kisah perwayangan dengan detail. Lalu adegan bercinta antara Laut dan Anjani mengingatkan saya pada adegan persetubuhan Dimas Suryo dan Surti Anandari dalam Pulang. Jadi agak membosankan ketika ada adegan yang seakan repetitif dari novel sebelumnya (sama-sama bercinta di atas meja dapur misalnya).

Pencantuman lagu-lagu seperti Blackbird –The Beatles atau Mother of Dissapeared – U2 pun tak cukup kuat menemani adegan-adegan vital pada cerita malah nyanyian para pelaut solor yang menemani karakter Alex Parson lebih terasa hangat, dekat dan membumi.

Banyaknya jumlah karakter yang tidak tergarap dengan baik pun menjadi kelemahan paling besar dalam novel ini. Nyaris tidak ada yang berkesan bahkan kurang tergambarkan, semisal tokoh Kinan yang cukup menyita perhatian saya sebagai pembaca.

Apa yang mendasarinya sebegitu nekat dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi buruh? Mengapa Naratama bisa selalu kabur dari aksi penangkapan mahasiswa? Alasan apa Kinan bisa begitu mempercayai Naratama?

Walaupun novel ini berpusat pada kisah kakak-adik, Laut dan Jati tapi agak sayang melewatkan karakter yang dominan ini. Belum lagi sosok intel dalam kelompok Winatra dan Wirasena yang kurang bumbu “misteri”-nya.

Novel LAUT BERCERITA mungkin bisa dibilang novel paling “romantis” karangan Leila saat ini. Ceritanya tidak berfokus pada desparasidos (penghilangan orang secara paksa) melainkan karakter-karakter yang terjebak dipusaran tragedi itu.

Sayangnya, Leila malah terjebak untuk menceritakan runtutan peristiwa dengan rinci ketimbang mengeksplorasi jiwa-jiwa karakter yang tertindas melalui diksi yang cantik, elegan dan tegas.

Terlepas dari itu, karakter Kinan, Anjani dan Asmara adalah apresiasi tertinggi karena menggambarkan wanita sebagai tokoh yang kuat dan feminis. Terutama ketika Anjani menggambar mural Ramayana modern dengan sosok Sita menyelamatkan Rama yang diculik. Emansipasi wanita disematkan sebagai keping kecil milik Leila, begitu pula mungkin pilihan-pilihan musik yang senantiasa kerap hadir di dalam novelnya.

Selain itu juga novel ini memberikan angin segar bagi dunia sastra dan novel nge-pop di Indonesia karena masih ada yang mau mengangkat tragedi yang bisa jadi pelan-pelan mulai terlupakan, baik oleh kita dan pemerintah (yang sengaja menutup mata).

Di tengah kecamuk kehadiran novel-novel bergenre drama dan percintaan yang populer dan laku di pasaran, novel LAUT BERCERITA membuktikan masih ada yang menolak lupa.

Leave A Response

Giaji

A 20-something who loves writing and watching mostly k-dramas. Apart from tv and movie reviews, I also talk and discuss about cultural and media issues. If you find my blog useful and helpful don't forget to subscribe. Thanks for reading!

%d bloggers like this: