Resensi Novel Karung Nyawa

resensi novel karung nyawa

Gawat gawat gawat novel Karung Nyawa berhasil membuat saya bergidik ngeri dan melahap habis dua ratus halaman hanya dalam lima jam saja. Sudah lama betul rasanya saya tidak pernah lagi membaca novel horor klenik yang menegangkan.

Novel karangan Haditha ini mengisahkan empat pemuda yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan misterius. Korbannya selalu perempuan tanpa kepala. Lebih mengerikan lagi, mereka ternyata harus dihadapkan dengan legenda Toklu, pemulung pemburu kepala manusia yang disinyalir benar adanya.

Cerita dibuka dengan Johan Oman yang menemukan jasad perempuan tanpa kepala di sungai. Ia saat itu baru berumur 12 tahun. Sejak itu hidupnya tidak lagi pernah sama. Tahun-tahun pun berganti. Johan Oman kini telah menjadi pemuda dewasa. Mendadak di desanya gempar (lagi) karena penemuan mayat perempuan tanpa kepala. Trauma lantas membuatnya tak berani keluar rumah.

Zan Zabil Tom Tomi, si penjaga warnet yang sekaligus teman Johan Oman tiba-tiba bergaya bak detektif dan segera menyelidiki kasus itu. Ulahnya itu membawanya kepada rentetan peristiwa mistik yang menyeret Johan Oman dan pacarnya, Janet Masayu, juga Tarom Gawat, si cenayang sableng.

Crime Klenik dan beberapa kejanggalannya

Novel Karung Nyawa tentu bukan yang pertama dalam menggabungkan genre crime dan horor. Meskipun begitu, bagi saya pengarang sangat ciamik membawakan ceritanya.

Pertama, kita mau tidak mau pasti ingin menebak-nebak teka teki misteri berbagai legenda dan pesugihan di Jawa. Misalnya Pesugihan Bulus Jimbung yang terkenal di Klaten. Konon katanya pelakon pesugihan mesti memiliki usaha terlebih dahulu sebagai jalan agar mendapatkan kekayaan. Ritual tidak memerlukan tumbal tetapi sebagai gantinya si pelakon akan diberikan tanda putih di sekujur tubuhnya.

BACA JUGA  Robert V. Kozinets dan Kajian Netnografi

Haditha mengemas fenomena pesugihan ini sedikit berbeda. Yaitu meskipun tanpa tumbal namun pesugihan akan memakan nyawa si pelakon. Lalu ada juga simpang siur soal ketika si pelakon mati nanti tubuhnya muncul bercak-bercak putih.

Toh, perihal benar salahnya ritual pesugihan ini saya juga tidak tahu menahu. Nah, sebenarnya saya menemukan kejanggalan ketika pengarang menjelaskan tentang pesugihan ini pada salah satu paragraf berbunyi:

“Ada juga yang menerangkan bahwa jasad di pelakon pesugihan Bulus Jimbung, ketika mati nanti, bakal muncul bercak putih-putih. Jabil berpikir, untuk membuktikan itu berarti Bulus Jimbung harus mati dulu. Hmm… pembuktian yang sulit dan merepotkan.

[hal: 119]

Saya sedikit merasa janggal pada paragraf di atas karena seharusnya kata setelah untuk membuktikan itu berarti mestinya nama subjek atau tokoh bukan nama pesugihannya. Jadi harusnya adalah “Bulus Kondang harus mati dulu” bukan Bulus Jimbung. Bulus Kondang adalah tokoh rentenir yang kaya raya dan diduga warga desa menjalani ritual pesugihan Bulus Jimbung.

Kejanggalan lainnya adalah perihal waktu yang tidak disebutkan secara pasti dalam novel ini. Dikisahkan sepanjang cerita, kepolisian tidak berhasil mengidentifikasi para korban karena hilangnya kepala. Perkaranya ini agak aneh mengingat cerita sudah memasuki masa era internet mulai ada di Indonesia.

Bukankah seharusnya sudah ada metode penerapan teknologi DNA dalam identifikasi forensik? 

Terlepas dari kejanggalan atau plot hole itu sisi menarik lainnya dari novel Karung Nyawa adalah adegan aksi-klenik yang sangat menegangkan dan juga sisipan adegan nyeleneh. Misalnya, sosok perempuan penunggu pohon dan tau-tau nongol Beni Pariyo muncul dalam keadaan telanjang bulat.

Ditambah setiap babnya juga relatif singkat (kurang dari 10 halaman) sehingga membuat kita sebagai pembaca tanpa sadar terus membalikkan kertas. Akhir kata, novel Karung Nyawa ini tidak mengecewakan.

BACA JUGA  Review Esai bell hooks, Eating the Other: Desire and Resistance

Apakah ke empat pemuda itu berhasil menjawab semua misteri? Siapa dalang di baliknya? Apakah benar-benar Toklu?

Di akhir cerita Haditha benar-benar menghabisi pembaca, membuat kejutan yang tidak terprediksi, memporak-porandakan setiap tokohnya dan membuat kita sadar tokoh utamanya bukanlah si Johan Oman.

Cerita berakhir ‘gantung’ yang mengidentifikasi ada buku keduanya. Tentu saja saya sangat menantikan kelanjutannya!

Leave A Response

Leave a Reply

Close
%d bloggers like this: