Review Drama Korea It’s Okay to Not Be Okay (2020)

Review drama Korea It’s Okay to Not Be Okay_kukuhgiaji

Drama Korea It’s Okay to Not Be Okay (2020) mengisahkan tiga manusia yang dipenuhi luka dan trauma, tetapi berusaha terlihat kuat dan tegar. Tokoh utama perempuannya, Ko Moon-Young (Seo Yea-ji) merupakan penulis buku anak terkenal yang memiliki sifat kasar, arogan, dan egois. Sementara tokoh utama laki-lakinya, Moon Kang-Tae (Kim Soo-Hyun) merupakan perawat muda yang memiliki seorang kakak dengan spektrum autisme (ASD), yaitu Moon Sang-Tae (Oh Jung-Se).

Pada suatu hari, dalam suatu peristiwa yang menggemparkan, Moon-Young bertemu dengan Kang-Tae. Sejak saat itu, Moon-Young terobsesi untuk “memiliki” Kang-Tae dengan cara apapun, salah satunya mendekati dan merajut pertemanan bersama Sang-Tae yang notabene adalah penggemar berat Moon-Young.

Review drama Korea It’s Okay to Not Be Okay (2020)
Dari kiri: Moon-Young (Seo Yea-ji) dan Kang-Tae (Kim Soo-Hyun)

Hal ini bahkan turut membuat Moon-Young kembali ke kampung halamannya, kota Seongjin, dan menjadi relawan di rumah sakit jiwa dimana Kang-Tae juga bekerja. Namun yang tak disangka Moon-Young adalah kakak beradik tersebut lambat laun malah mengubah dirinya dari sosok yang dingin dan serampangan menjadi pribadi yang lebih hangat dan berusaha untuk lebih rasional ketika menghadapi kejadian-kejadian yang tak disukainya.

Drama Korea It’s Okay to Not Be Okay kemudian tidak hanya menceritakan tentang perjalanan cinta antara Moon-Young dan Kang-Tae, tetapi juga proses untuk menerima kekurangan yang dimiliki oleh para ketiga tokoh utama tadi sembari menyajikan ragam cerita pendukung mengenai kehidupan orang dengan depresi dan penyakit mental yang sering disalahpahami oleh orang lain.

It’s Okay to Not Be Okay dan Memahami Orang dengan Gangguan Mental

Meskipun dunia kedokteran dan psikologi sudah berkembang begitu pesat dan maju, tetapi pada kenyataannya anggapan mengenai orang dengan gangguan (baca: kesehatan) mental sering kali masih bernada negatif. Bahkan, dalam kondisi yang lebih ekstrim, orang dengan gangguan mental akan dicap sebagai ‘orang gila’, ‘tak waras’, dan ‘tak berakal’. Tak pelak, orang dengan gangguan mental pun bakal dikucilkan serta diasingkan oleh masyakarat.

Drama Korea It’s Okay to Not Be Okay lalu berupaya untuk menghadirkan betapa peliknya kehidupan orang-orang dengan gangguan jiwa dan berkebutuhan khusus. Hal ini juga langsung terlihat dari latar belakang ketiga tokoh utamanya.

Review drama Korea It’s Okay to Not Be Okay_Seo Yea-ji sebagai Ko Moon-Young_kukuhgiaji
Seo Yea-ji sebagai Ko Moon-Young dalam It’s Okay to Not Be Okay (2020)

Misalnya, Moon-Young, tokoh utama perempuan dalam drama ini memiliki gangguan kepribadian anti sosial sehingga tidak mampu mengenali emosi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya itu, Moon-Young pun tidak memahami konsep antara ranah privat dan publik sehingga sering mengabaikan dan melanggar hak orang lain. Hal ini diakibatkan oleh didikan keras ibunya dan momen mencekam ketika Moon-Young nyaris dibunuh oleh ayahnya sendiri.

Review drama Korea It’s Okay to Not Be Okay_Oh Jung-Se sebagai Moon Sang-Tae_kukuhgiaji
Oh Jung-Se sebagai Moon Sang-Tae dalam drama Korea It’s Okay to Not Be Okay (2020)

Sedangkan, Sang-Tae merupakan tokoh yang hidup dengan gangguan spektrum autisme yang membuatnya sulit untuk memahami emosi serta kesulitan dalam berbicara. Selain itu, Sang-Tae juga mempunyai gejala PTSD (post traumatic stress disordes) akibat menyaksikan pembunuhan terhadap ibunya sendiri. Dampaknya, Sang-Tae selalu ketakutan terhadap kupu-kupu.

Review drama Korea It’s Okay to Not Be Okay_Kim Soo-Hyun sebagai Moon Kang-Tae_kukuhgiaji
Kim Soo-Hyun sebagai Moon Kang-Tae dalam It’s Okay to Not Be Okay (2020)

Sedikit berbeda, tokoh utama pria, Kang-Tae digambarkan sebagai orang yang penuh perhatian, penuh cinta, hingga mampu mengatasi berbagai macam rintangan dan hambatan di sekitarnya, terutama saat terlibat dengan orang-orang seperti Moon-Young dan Sang-Tae. Namun, di balik itu semua, Kang-Tae ternyata menanggung perasaan bersalah seumur hidup karena secara sengaja hampir membunuh Sang-Tae.

Sepanjang cerita berjalan, para tokoh utama tersebut secara perlahan mulai mengenal satu sama lain dengan lebih baik dan sekaligus berjuang untuk mengatasi kekurangan diri mereka. Tujuan mereka jelas untuk menemukan kebahagian.

Adapun hal yang paling menonjol dalam drama Korea It’s Okay to Not Be Okay adalah bagaimana proses penyembuhan ketiga tokoh tersebut berjalan secara bertahap, pelan, dan logis.

Contohnya, Sang-Tae yang diminta oleh psikiaternya, Oh Ji-Wang (Kim Chang-Wan) untuk menggambar kupu-kupu agar bisa mengatasi traumanya ataupun lewat Moon-Young yang memaksanya untuk memahami mimik wajah orang lain agar bisa menggambar wajah orang. Tentu saja, Sang-Tae pun harus berjuang untuk bisa melewati masa-masa sulitnya dibantu dengan orang-orang di sekitarnya.

Begitu pula Kang-Tae yang perlahan mulai berusaha untuk menerima serta memaafkan kesalahan masa lalunya itu. Di sisi lain, Moon-Young berkat Sang-Tae dan Kang-Tae mulai mengenal dan memahami kehangatan dari sebuah keluarga.

Review drama Korea It’s Okay to Not Be Okay_Kim Chang-Wan sebagai 'Psikiater' Oh Ji-Wang_kukuhgiaji
Kim Chang-Wan sebagai ‘Psikiater’ Oh Ji-Wang

Terlepas dari mereka bertiga, ada juga tokoh-tokoh pendukung lain yang memiliki permasalahan serupa dan kesemuanya merupakan pasien rumah sakit jiwa. Ada Kang Eun-Je (Bae Hae-Sun) yang mengalami delusi dan halusinasi menjadi istri dari seorang konglomeret sehingga selalu ingin memakai barang-barang nan mewah. Atau, Kwon Gi Do (Kwak Dong-Yeon) yang mengidap manic disorder dan membuatnya sering bertingkah secara berlebihan sampai-sampai berani telanjang bulat di ruang publik. Serta, Yoo Sun Hae yang mengaku-ngaku sebagai seorang cenayang ternyata memiliki gangguan mental identitas disosiatif atau multiple personality disorcer akibat trauma mendalam dan ekstrim saat masih anak-anak.

Berbagai tokoh pendukung tersebut mempunyai sejarah dan latar belakang berbeda-beda yang katakanlah menjadi penyebab utama dari gangguan mentalnya. Hal tersebut diceritakan secara mendetail dalam drama Korea It’s Okay to Not Be Okay. Dan tak jarang, bisa membuat penonton turut memahami bahwa tak ada satu pun orang di dunia ini yang ingin mengalami gangguan mental.

Apa yang kemudian membuat It’s Okay to Not Be Okay terasa begitu istimewa adalah ketika semua tokoh-tokoh dengan gangguan mental tersebut memiliki kesempatan untuk sembuh dan kembali hidup berdampingan dengan masyarakat. Bahkan, Sang-Tae, sosok dengan autisme pun dihadirkan mampu untuk hidup tanpa bergantung dengan orang lain termasuk adiknya sendiri.

Akan tetapi, kekurangan terbesar di dalam drama It’s Okay to Not Be Okay bagi saya adalah konflik utama yang terkesan klise dan monoton. Apalagi, durasi setiap episodenya sangat panjang lebih dari 60 menit dimana pada episode ke 11 mencapai durasi 85 menit. Walau begitu, drama ini tetap tak boleh dilewatkan mengingat tema yang dihadirkanya sangat tidak biasa.

Drama Korea It’s Okay to Not Be Okay merupakan drama besutan stasiun televisi kabel tvN yang juga disiarkan secara resmi dan eksklusif melalui platform Netflix pada setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 21:00 WIB. Drama ini telah mengakhiri masa tayangnya dengan total sebanyak 16 episode sepanjang bulan Juni sampai Agustus 2020.

Leave A Response
Giaji

Giaji

A 20-something who loves writing and watching mostly k-dramas. Apart from tv and movie reviews, I also talk and discuss about cultural and media issues. If you find my blog useful and helpful don't forget to subscribe. Thanks for reading!

Leave a Reply

%d bloggers like this: